Posted in

“Dan kamu, Yuda…” Aku melangkah turun dari podium kecil, membiarkan bunyi sepatuku menggema di keheningan ruangan yang mencekam.

“Kamu pikir aku tidak tahu dari mana asal uang untuk apartemen mewah itu? ‘Penggelapan di divisi keuangan’—ah, sebuah pengakuan yang sangat bagus di depan seluruh keluarga besarmu. Dan juga…” Aku menunjuk ke arah pintu masuk restoran yang mendadak terbuka, “…di depan para petugas dari Kejaksaan Negeri yang sudah menunggumu sejak tadi.”

Dua pria berjas rapi dengan lencana resmi melangkah masuk. Wajah Yuda yang tadinya merah padam karena amarah, seketika berubah pucat pasi seolah seluruh darah telah tersedot dari tubuhnya.

“Intan… apa-apaan ini?! Kamu mau menghancurkan suamimu sendiri?!” teriak Ibu mertuaku, mencoba bangkit dengan sisa-sisa tenaganya, menatapku penuh kebencian. “Kamu menantu yang tidak tahu diuntung! Kamu cuma perempuan miskin yang kami tampung!”

Aku menghentikan langkahku tepat di hadapan Yuda dan Bella yang kini bersimpuh di lantai, gemetar ketakutan. Senyumku semakin melebar, namun mataku sedingin es.

“Perempuan miskin yang kalian tampung?” Aku terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar begitu asing di telinga mereka yang selama ini mengenalku sebagai istri penurut dan pendiam.

Aku merogoh tas tanganku, mengeluarkan sebuah kartu identitas titanium berwarna hitam dengan logo yang sangat mereka kenal, lalu melemparkannya tepat ke hadapan Yuda. Kartu itu mendarat dengan denting halus.

Yuda melihat kartu itu. Matanya membelalak lebar saat membaca nama dan jabatan yang tertera di sana.

PT. Arkananta Megah Perkasa

Chief Executive Officer & Pemilik Saham Mayoritas

Aurelia Intan Arkananta

“K-kamu… Arkananta?” suara Yuda tercekat di tenggorokan. “Pemilik holding company yang baru saja mengakuisisi perusahaan tempatku bekerja? Pemilik utama yang selama ini menolak bertemu denganku secara personal?”

“Benar, Mas,” bisikku tepat di telinganya. “Aku sengaja menggunakan nama ibuku yang sederhana, ‘Intan’, saat menikahimu, untuk melihat seberapa tulus cintamu. Tapi ternyata, yang kupelihara adalah seekor ular.”

Aku berdiri tegak, merapikan blazerku yang tak sedikit pun kusut.

“Perusahaan tempatmu bekerja, apartemen yang kamu beli dengan uang korupsi, bahkan restoran tempat kita merayakan acara keluarga ini… semuanya adalah milikku. Aku yang membiarkanmu bermain-main dengan Bella selama ini, mengumpulkan setiap bukti penggelapanmu, hingga hari ini tiba.”

Petugas kejaksaan mendekat, langsung memborgol kedua tangan Yuda. Bella berteriak histeris, mencoba merangkak mundur, namun dua petugas keamanan restoran—yang sebenarnya adalah pengawal pribadiku—langsung menahannya.

“Bella, kamu dipecat secara tidak hormat dan tuntutan pidana atas manipulasi laporan keuangan sudah menantimu besok pagi. Dan untukmu, Mas Yuda… surat cerai kita sudah dikirim ke meja kerjamu. Nikmati sisa masa mudamu di balik jeruji besi.”

Aku berbalik, berjalan pergi tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Di belakangku, terdengar teriakan histeris Bella, tangisan histeris ibu mertuaku, dan suara Yuda yang memanggil-manggil namaku penuh penyesalan.

Malam ini, drama mereka telah usai, dan aku baru saja memulai babak baru sebagai diriku yang sebenarnya.