Posted in

Aku sengaja mem b l o k i r semua akses

r ek e ni ng atas namaku yang dipegang oleh suami. Ia panik ketika hendak

memb ay ar. ta g iha n pesta sahabatnya itu

Rasain suruh siapa pakai u a n gku

Rumah ini terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan yang menyala, melainkan karena kehangatan yang telah mati di dalamnya.

Sejak insiden pengembalian u a ng sepuluh juta itu, Mas Irham memilih untuk ti d ur di sofa ruang tamu. Ia merajuk, mencoba menghukumku dengan aksi diam, seolah-olah akulah penjahat di sini karena telah mempertahankan hakku.

Pukul dua dini hari. Tenggorokanku terasa kering dan perih. Aku meraih botol minum di nakas, tapi kosong. Dengan helaan napas berat, aku memutuskan turun ke dapur.

Langkah kakiku yang tertutup sandal rumah bulu nyaris tak bersuara di atas lantai marmer. Namun, ketika aku sampai di bordes tangga lantai atas, langkahku terhenti. Samar-samar, aku mendengar suara isakan halus dan bisikan pria yang sangat kukenal.

Di bawah sana, di remang cahaya lampu ruang tamu, aku melihat pemandangan yang membuat

d a r ahku berdesir hebat.

Sintia bersandar di d a

d a Mas Irham, sementara tangan suamiku mengusap bahunya dengan penuh kasih. Mereka berpelukan mesra, melampaui batas yang katanya hanya “sahabat”.

Tak ada wanita yang kuat melihat pemandangan ini. Walau ia telah menyakiti hati, tapi cinta itu masih ada.

“Istrimu itu selalu bermuka masam padaku, Mas. Aku merasa seperti parasit di sini. Lebih baik aku pergi saja membawa bayiku, daripada terus-menerus diti n d as Ayu,” isak Sintia, suaranya terdengar begitu rapuh dan menderita.

Padahal hari ini aku bahkan tidak menyapanya. Aku menganggapnya tidak ada. Ternyata diamku pun dijadikan bahan aduan.

Jam segini Mas Irham baru pulang. Ia tak menyapaku atau menghampiri di kamar. Pakaiannya juga masih kemeja tadi pagi. Sintia menyambut pulang dengan drama yang dibuatnya.

“Jangan bicara begitu, Sin. Kamu punya aku. Ayu memang sudah berubah sejak dia tahu soal uang itu. Dia jadi sombong dan kasar.” Suara Mas Irham terdengar rendah dan penuh kebe n ci an padaku. “Jangan pergi. Aku sudah memutuskan, aku akan mencarikan rumah kecil untukmu dan bayimu. Kamu butuh tempat yang tenang, tanpa gangguan dia. Serahkan semua kepadaku. Sebentar lagi aku diangkat jadi wakil direktur utama. Kamu sabar aja dulu sampai 40 hari.”

Aku mematung. Membelikan rumah? Dari mana u a n gnya? Gaji Mas Irham tidak akan cukup untuk u an g muka rumah sekalipun jika bukan karena aku yang menanggung biaya hidup keluarga ini. U a n g yang ia berikan hanya untuk urusan dapur saja. Kadang tak cukup dan aku harus menanggungnya. Belum kr ed it an motor papa mertua yang diambil dari jatah u a n g belanja. Listrik yang semakin melambung tinggi.

“Tapi Irham, aku ingin nujuh hari anakku dirayakan di sini. Aku ingin dia disambut dengan meriah. Aku ingin orang-orang tahu kalau a n a k ini disayangi,” pinta Sintia lagi sambil mendongak, menatap Mas Irham.

“Iya, Sin. Apapun untukmu. Kita buat acara tujuh harian yang meriah di sini. Aku yang akan atur semuanya. Kamu jangan khawatir.”

Tanganku mengepal kuat hingga kuku-kuku ini memutih. Di rumah ini? Mereka ingin berpesta di atas l u ka hatiku? Tanpa izin, tanpa etika, mereka memperlakukan rumahku seperti markas kemenangan mereka.

Baik. Jika itu yang kalian inginkan. Aku akan memberikan “pesta” yang tidak akan pernah kalian lupakan seumur hidup.

Hari yang dinantikan tiba. Rumah sudah didekorasi dengan bunga-bunga segar dan tenda mewah di halaman depan. Mas Irham tampak sangat sibuk, ia memakai baju koko terbaiknya, tersenyum lebar menyalami tamu-tamu yang datang sebagian besar adalah teman kantor dan kerabat jauhnya. Ibu mertuaku pun sibuk memamerkan “cucu” dari sahabat anaknya itu kepada tamu, seolah-olah itu adalah keturunannya sendiri.

Aku? Aku sengaja berdiam diri di

ka ma r lantai atas. Aku membiarkan mereka merasa menang. Aku membiarkan mereka merasa bahwa aku telah menyerah dan terpojok di

ka ma r ku sendiri.

Dari jendela, aku melihat katering mewah ditata. Aku tahu persis, ta gi h an katering ini pasti akan datang padaku nanti, atau Mas Irham kembali menc u ri u a ng di r e ke n ing bersama.

“Ayu, kamu tidak turun? Malu dilihat orang, kamu itu tuan rumah!” Ibu mertua tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Wajahnya penuh bedak tebal, tampak bangga. “Cepat turun banyak yang cari kamu tadi. Jangan bikin malu Ibu.”

Oh iya, ada teman sosialitanya Ibu juga pantas saja ia malu dan menghampiriku padahal beberapa hari ini tak pernah menganggu.

“Nanti, Bu. Ayu sedang menyiapkan kejutan,” jawabku singkat tanpa menoleh.

“Jangan bikin malu Irham ya! Ini acara penting,” ketusnya lalu pergi begitu saja.

Acara inti dimulai. Doa-doa dipanjatkan untuk Arham. Sintia duduk di kursi pelaminan mini dengan menggendong bayinya, tampak seperti ratu di istana orang lain. Mas Irham berdiri di sampingnya, memberikan sambutan tentang betapa pentingnya menjaga silaturahmi dan membantu sesama yang kesulitan.

“Terima kasih untuk para tamu yang sudah hadir di acara tujuh harian bayi Sintia. Kami sudah menganggap Sintia seperti keluarga sendiri,” ucapan Mas Irham disambut tepuk tangan riuh.

Saat itulah, aku melangkah keluar dari ka m ar. Aku berdiri tepat di balkon lantai atas yang menghadap langsung ke ruang utama tempat semua tamu berkumpul.

Prok! Prok! Prok!

Suara tepuk tanganku yang nyaring dan ritmis memecah suasana. Semua mata mendongak ke atas. Mas Irham membeku, wajahnya mendadak tegang melihat penampilanku. Aku memakai gaun sutra hitam, gaun yang biasa kupakai untuk menghadiri jamuan bisnis bersama almarhum Papa dengan riasan wajah yang tajam dan berkelas.

“Wah, luar biasa sekali sambutannya, Mas.” Suaraku menggema, dibantu oleh keheningan yang mendadak tercipta.

“Ayu, turun sekarang! Jangan berulah!” teriak Ibu mertua dengan nada rendah yang penuh ancaman.

Aku tertawa kecil, melangkah turun satu demi satu anak tangga dengan anggun. Para tamu mulai berbisik-bisik.

“Itu istrinya, ya?” “Kok pakai baju hitam ke acara bayi?”

Aku berhenti di tengah tangga, posisi yang membuatku terlihat lebih tinggi dari siapapun di ruangan itu. Aku menatap Sintia yang kini mulai gelisah di kursinya.

“Pesta yang sangat meriah. Katering kelas atas, dekorasi bunga impor, bahkan suvenirnya pun mahal.” Aku memandang para tamu satu per satu.

“Tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya, dan mungkin di hati Anda sekalian.”

“Ayu! Cukup!” Mas Irham hendak menghampiriku, tapi aku mengangkat tangan, memberinya isyarat untuk berhenti.

“Pertanyaan saya adalah. Sebenarnya, Sintia ini siapa di sini? Hingga dia bisa merayakan pesta semewah ini di rumah saya dan bertingkah seolah dia adalah nyonya besar di rumah ini?”

Wajah Mas Irham berubah merah padam, lalu pucat pasi. Para tamu langsung riuh dengan bisikan yang lebih keras. Sintia menunduk, air matanya mulai luruh se n ja t a andalannya.