Ketika aku akhirnya tiba di Jakarta malam itu, waktu sudah menunjukkan hampir pukul sebelas.

Ponselku yang baru dinyalakan langsung dibanjiri puluhan panggilan tak terjawab.

Semuanya dari suamiku, Arga.

Ada juga belasan pesan.

Awalnya bernada dingin.

“Kamu di mana?”

“Kenapa HP kamu mati?”

“Sudah sampai belum?”

Namun semakin ke bawah, nada pesannya mulai berubah.

“Nadia, jawab aku.”

“Aku cuma sedang kesal.”

“Jangan berlebihan.”

Aku membaca semuanya tanpa ekspresi.

Lalu masuk ke dalam taksi dan pulang.

Rumah kami gelap.

Hanya lampu ruang tamu yang masih menyala.

Begitu aku membuka pintu, Arga langsung berdiri dari sofa.

“Akhirnya kamu pulang juga!”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya menyeret koper melewatinya.

“Nadia, aku bicara sama kamu!”

Langkahku berhenti.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menikah, aku menatapnya tanpa rasa takut.

“Ada apa?”

Seolah tidak menyangka aku akan bersikap sedingin itu, Arga terlihat terdiam beberapa detik.

“Aku cuma turun lebih dulu dari kereta karena marah.”

“Lalu?”

“Aku pikir kamu akan bangun.”

“Lalu?”

“Aku kira kamu akan meneleponku.”

Aku tertawa pelan.

Tawa yang membuat wajahnya langsung berubah.

“Arga.”

“Ketika aku tertidur, kamu meninggalkanku sendirian di kereta.”

“Aku melewati empat stasiun.”

“Aku menghabiskan berjam-jam sendirian di kota yang tidak kukenal.”

“Dan sekarang alasanmu adalah karena kamu pikir aku akan bangun?”

Ruangan menjadi sunyi.

Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki jawaban.


Keesokan harinya aku mengajukan cuti.

Lalu pergi ke kantor pengacara.

Saat menerima surat gugatan cerai tiga hari kemudian, Arga akhirnya panik.

Ia datang ke kantorku.

Menungguku di parkiran.

Menungguku di depan apartemen.

Bahkan menelepon teman-temanku.

Namun aku tidak berubah pikiran.

Karena masalahnya bukan kereta itu.

Bukan hotel itu.

Bukan perjalanan itu.

Kereta hanya menjadi pemberhentian terakhir dari perjalanan yang sudah lama rusak.

Aku lelah menjadi orang yang selalu meminta maaf.

Lelah menebak-nebak suasana hatinya.

Lelah hidup dalam hukuman diam yang tidak pernah berakhir.

Lelah merasa bersalah atas segala sesuatu.


Sidang perceraian berlangsung tiga bulan kemudian.

Hari itu hujan turun cukup deras.

Arga duduk di seberangku.

Matanya merah.

Jauh berbeda dari pria yang dulu selalu merasa aku pasti akan kembali.

Hakim bertanya untuk terakhir kalinya.

“Apakah masih ada kemungkinan untuk berdamai?”

Arga langsung menjawab,

“Ada.”

Lalu ia menoleh ke arahku.

Dengan suara yang bergetar.

“Aku akan berubah.”

“Aku janji.”

“Aku akan memperbaiki semuanya.”

Aku memandang pria yang pernah sangat kucintai.

Dulu, satu kalimat seperti itu pasti sudah cukup membuatku menangis.

Namun sekarang tidak lagi.

Karena aku akhirnya memahami satu hal.

Orang yang benar-benar ingin berubah tidak akan menunggu sampai kehilanganmu terlebih dahulu.

Aku menggeleng pelan.

“Terlambat.”

Hanya satu kata.

Namun kata itu mengakhiri semuanya.


Setahun kemudian.

Aku sedang duduk di sebuah kereta cepat menuju Yogyakarta.

Kali ini aku bepergian sendirian.

Di kursi sebelahku ada seorang nenek yang tersenyum ramah.

Di depan ada pasangan muda yang sibuk mengambil foto.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Aku merasa damai.

Tidak ada yang mengabaikanku.

Tidak ada yang menghukumku dengan diam.

Tidak ada yang membuatku merasa harus bekerja keras demi mendapatkan cinta.

Saat kereta melaju melewati hamparan sawah yang hijau, ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang masih sangat kukenal.

Dari Arga.

“Aku masih merindukanmu.”

Aku menatap pesan itu beberapa detik.

Lalu tersenyum.

Bukan karena masih mencintainya.

Tetapi karena akhirnya aku sadar bahwa aku telah berhasil melewati semuanya.

Aku menghapus pesan itu.

Kemudian menatap kembali pemandangan di luar jendela.

Kereta terus melaju ke depan.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama…

Aku juga demikian.

Epilog

Tiga tahun kemudian.

Aku berdiri di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta dengan secangkir kopi hangat di tangan.

Di layar keberangkatan, penerbanganku menuju Seoul akan berangkat dalam empat puluh menit.

Perusahaanku baru saja membuka cabang baru, dan kali ini aku pergi bukan untuk melarikan diri dari sesuatu.

Aku pergi karena memilih masa depan yang kuinginkan.

Ponselku bergetar.

Sebuah notifikasi muncul dari media sosial.

Sarah menandai aku dalam sebuah foto reuni kampus.

Aku tersenyum kecil.

Di foto itu, semua orang tampak lebih dewasa.

Lebih tenang.

Lebih bijaksana.

Aku menggulir sedikit ke bawah.

Lalu berhenti.

Seseorang mengirim pesan pribadi.

Arga.

Pesan terakhir darinya sudah hampir dua tahun yang lalu.

Aku sempat ragu sebelum membukanya.

Namun rasa penasaran menang.

Di layar tertulis:

“Aku dengar bisnismu berkembang sangat baik. Selamat.”

“Aku hanya ingin bilang… terima kasih.”

“Karena setelah kehilanganmu, aku akhirnya sadar betapa buruknya cara aku memperlakukan orang yang paling mencintaiku.”

“Aku tidak mengharapkan apa pun. Aku hanya berharap kamu bahagia.”

Aku membaca pesan itu sekali lagi.

Lalu menatap langit malam di balik dinding kaca bandara.

Anehnya, tidak ada rasa sakit.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada penyesalan.

Hanya ketenangan.

Aku membalas dengan satu kalimat sederhana:

“Aku juga berharap kamu menemukan kebahagiaanmu.”

Setelah itu, aku menutup percakapan tersebut.

Untuk selamanya.

Bukan karena aku masih terluka.

Tetapi karena beberapa bab dalam hidup memang diciptakan untuk selesai.

Bukan untuk diulang.

Panggilan boarding terdengar melalui pengeras suara.

Aku berdiri dan menarik koperku.

Saat berjalan menuju gerbang keberangkatan, aku melihat bayanganku sendiri di dinding kaca.

Wanita itu tampak berbeda dari wanita yang pernah tertidur di dalam kereta dan terbangun dalam keadaan ditinggalkan.

Dulu ia selalu takut kehilangan orang lain.

Kini ia tahu bahwa kehilangan dirinya sendiri jauh lebih menakutkan.

Dan karena itulah, ia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi lagi.

Aku melangkah masuk ke lorong menuju pesawat.

Lampu-lampu kota Jakarta perlahan mengecil di belakangku.

Di depan sana, masih ada begitu banyak tempat yang belum kukunjungi.

Begitu banyak mimpi yang belum kuraih.

Begitu banyak kebahagiaan yang menunggu untuk ditemukan.

Dan kali ini…

Aku tidak membutuhkan siapa pun untuk menyelamatkanku.

Karena aku sudah berhasil menyelamatkan diriku sendiri.

Pesawat mulai bergerak di landasan.

Aku menutup mata, tersenyum pelan.

Lalu membiarkan masa lalu tetap tinggal di belakang.

Sementara hidupku terus terbang menuju arah yang baru.