Bab 1: Adopsi dan Komentar-Komentar Misterius

Gajiku hanya Rp5.000.000 per bulan ketika aku memutuskan untuk mengadopsi seorang anak. Namun tiba-tiba, komentar-komentar aneh muncul di depan mataku, mengatakan bahwa aku tanpa sengaja menemukan sepasang anak kembar pewaris keluarga terkaya di Indonesia.

Aku berdiri di koridor sebuah panti asuhan bernama Rumah Harapan di Jakarta, memandangi deretan ranjang kecil yang tersusun rapi.

Di belakangku, Bu Rina, kepala panti asuhan, terus berbicara tanpa henti tentang kondisi masing-masing anak.

“Nadia, membesarkan anak sendirian itu tidak mudah. Saranku, pilih anak yang usianya sedikit lebih besar supaya tidak terlalu merepotkan.”

Aku tidak menjawab dan terus berjalan.

Saat tiba di ruangan paling ujung, langkahku mendadak terhenti.

Di sudut ruangan itu ada sepasang anak kembar—seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, terlihat berusia sekitar empat atau lima tahun.

Anak laki-laki itu memiliki wajah tampan dan lembut. Ia duduk diam sambil membaca buku.

Sementara anak perempuan itu tengkurap di dekat jendela. Sinar matahari sore menyinari wajahnya. Bulu matanya panjang dan lentik, membuatnya tampak seperti boneka porselen.

Aku berpikir dalam hati, anak-anak ini sangat cantik dan tampan.

Saat aku hendak memecah keheningan dan bertanya kepada Bu Rina tentang mereka, tiba-tiba beberapa tulisan transparan muncul di depan mataku.

[Kakek kandung si kembar adalah Hartono Wijaya, orang terkaya di Indonesia, dengan kekayaan lebih dari Rp1.300 triliun.]

Aku langsung membeku.

Apa ini?

Aku mengedipkan mata beberapa kali.

Tulisan itu tidak hilang.

Sebaliknya, baris-baris baru terus bermunculan.

[Si kembar sengaja dibuang ke panti asuhan oleh cabang kedua keluarga Wijaya untuk merebut hak warisan mereka.]

[Ayah kandung mereka dijebak dan dipenjara tiga tahun lalu. Ibu mereka meninggal karena komplikasi saat melahirkan.]

[Jika kamu mengadopsi mereka, cabang kedua keluarga Wijaya akan menemukanmu dalam waktu tiga bulan.]

Tubuhku langsung merinding.

Apa ini?

Komentar langsung?

Jendela pop-up?

Aku menoleh ke arah Bu Rina.

Tidak ada apa pun di atas kepalanya.

Lalu aku kembali melihat si kembar.

Anak laki-laki itu mengangkat kepala.

Sepasang mata hitamnya yang jernih menatapku dengan tenang.

Komentar baru kembali muncul.

[IQ anak laki-laki ini mencapai 162, mengungguli 99,9% anak seusianya di Indonesia.]

[Anak perempuan ini memiliki perfect pitch sejak lahir dan akan menjadi pianis kelas dunia di masa depan.]

Aku menarik napas panjang.

Bu Rina menyadari tatapanku lalu menarik lenganku pelan.

“Yang dua itu? Sebaiknya jangan dipilih.”

“Kenapa?”

“Mereka sudah berada di sini lebih dari setahun. Ada beberapa keluarga yang pernah mengadopsi mereka, tapi pada akhirnya selalu mengembalikan mereka.”

“Mengembalikan?”

“Anak laki-lakinya terlalu pendiam. Dalam sehari dia bahkan tidak mengucapkan tiga kalimat. Sedangkan anak perempuannya terlalu sensitif. Hampir setiap malam dia mimpi buruk dan menangis tanpa henti.”

Suara Bu Rina mengecil.

“Lagipula asal-usul mereka tidak jelas. Saat dibawa ke sini, mereka tidak memiliki nama. Hanya ada secarik kertas.”

“Apa isi kertas itu?”

“Hanya empat kata.”

‘Tolong jaga mereka.’

Komentar itu kembali muncul.

[Kertas itu ditulis oleh nenek dari pihak ibu sebelum meninggal.]

[Semua tabungan terakhirnya disembunyikan di dalam popok bayi mereka, tetapi dicuri oleh mantan kepala panti.]

Aku mengepalkan tangan erat-erat.

“Aku ingin mengadopsi mereka.”

Bu Rina menatapku dengan kaget.

“Kamu yakin, Nadia? Kamu akan membesarkan dua anak sekaligus. Berapa penghasilanmu setiap bulan?”

“Aku sudah yakin.”

Aku berjongkok hingga sejajar dengan anak laki-laki itu.

“Halo, namaku Nadia.”

Dia menatapku selama tiga detik tanpa bicara.

Sementara itu, anak perempuan itu menoleh dari jendela dan memiringkan kepala.

“Apakah kamu akan mengadopsi kami?”

“Iya.”

“Dulu juga ada yang bilang begitu. Tapi akhirnya kami dikembalikan lagi ke sini.”

Suaranya begitu tenang.

Terlalu dewasa untuk anak berusia empat tahun.

Komentar muncul lagi.

[Dia sudah tiga kali dikembalikan. Dia tidak lagi percaya pada janji siapa pun.]

Dadaku terasa sakit.

“Aku tidak akan mengembalikan kalian.”

“Bagaimana kamu bisa membuktikannya?”

Aku terdiam.

Seorang anak berusia empat tahun sedang bertanya bagaimana aku bisa membuktikan sebuah janji.

“Aku tidak bisa membuktikannya sekarang,” jawabku jujur.

“Tapi kamu boleh mencoba mempercayaiku.”

Anak perempuan itu menatapku lama.

Lalu perlahan mengulurkan jari kelingkingnya.

“Janji kelingking?”

Aku mengaitkan jari kelingkingku dengan miliknya.

“Janji.”

Sangat kecil.

Sangat lembut.

Perlahan, anak laki-laki itu menutup bukunya dan berdiri.

Dia berjalan mendekat lalu mengulurkan jari kelingkingnya juga.

Aku mengaitkan jari yang satunya lagi dengan miliknya.

Komentar terakhir melintas di depan mataku.

[Mulai saat ini, takdirmu telah terikat erat dengan keluarga Wijaya.]

Aku tidak peduli dengan keluarga Wijaya ataupun siapa pun.

Yang aku tahu hanyalah satu hal.

Aku pasti akan membawa pulang kedua anak ini.

Bab 2: Awal Baru dan Tenggat Tiga Bulan

Saat mengurus dokumen adopsi, Bu Rina masih terus menasihatiku.

“Nadia, apartemen yang kamu sewa hanya enam puluh meter persegi. Apa cukup untuk kalian bertiga?”

“Kami akan berdesakan dulu. Tidak masalah.”

“Kamu hanya seorang desainer grafis di sebuah agensi periklanan. Gaji bersihmu sekitar Rp5.000.000 per bulan. Susu, biaya sekolah, kebutuhan sehari-hari—”

“Aku akan mengambil pekerjaan freelance.”

Bu Rina membuka mulutnya seolah ingin membantah.

Namun akhirnya hanya menghela napas dan menyerahkan formulir kepadaku.

“Tandatangani saja.”

Saat aku mengisi kolom terakhir, secara resmi aku menjadi wali dari kedua anak itu.

“Mereka belum punya nama. Kamu harus memberi nama.”

Aku berpikir sejenak.

Lalu menatap anak laki-laki itu.

“Namamu Daniel.”

Tidak ada reaksi.

Kemudian aku menatap anak perempuan itu.

“Namamu Dahlia.”

“Dahlia…”

Dia mengulanginya pelan.

Lalu tiba-tiba tersenyum hingga memperlihatkan dua gigi taring kecilnya.

Komentar muncul tepat waktu.

[Sudah delapan bulan dia tidak pernah tersenyum.]

Saat kami keluar dari gerbang panti asuhan, sebuah van hitam terparkir di seberang jalan.

Seorang pria paruh baya berjas sedang bersandar di pintu mobil sambil berbicara melalui telepon.

Ketika melihatku menggandeng kedua anak itu, pandangannya sempat berhenti pada wajah si kembar.

Komentar langsung muncul.

[Pria ini dikirim oleh Edward Wijaya dari cabang kedua keluarga Wijaya.]

[Setiap tiga bulan dia datang ke panti untuk memastikan si kembar masih berada di sini.]

[Saat ini dia sedang melapor bahwa belum ada yang mengadopsi mereka.]

Aku tidak berhenti berjalan.

Aku menggenggam tangan Daniel dan Dahlia lalu menuju halte bus.

Pria itu sempat menoleh dua kali ke arah kami, tetapi tidak mendekat.

Komentar berikutnya muncul.

[Dia tidak menyadari bahwa kamu telah mengadopsi mereka.]

[Baginya, kamu hanya relawan biasa.]

[Kamu masih memiliki waktu aman sekitar tiga bulan.]

Saat wawancara di taman kanak-kanak hampir selesai, kepala sekolah tersenyum kepada Danilo dan Dalia.

“Anak-anak ini sangat cerdas. Kami akan senang menerima mereka.”

Aku menghela napas lega.

Namun tepat ketika aku hendak mengucapkan terima kasih, sederet tulisan transparan kembali muncul di depan mataku.

[Perhatian. Hitung mundur tiga bulan dipercepat.]

[Jaringan keluarga Lu telah menemukan petunjuk keberadaan si kembar.]

[Jarak mereka denganmu: 17 kilometer.]

Darahku seketika terasa dingin.

Aku langsung menggenggam tangan Danilo dan Dalia.

“Mama?”

Dalia menatapku bingung.

“Tidak apa-apa,” jawabku sambil memaksakan senyum.

Tetapi aku tahu.

Badai yang sebenarnya akhirnya datang.

Malam itu, setelah kedua anak tertidur, aku duduk sendirian di ruang tamu sambil memandangi komentar-komentar misterius yang terus muncul.

Lalu sebuah kalimat baru perlahan muncul.

[Apakah kamu menyesal mengadopsi mereka?]

Aku terdiam beberapa saat.

Kemudian tersenyum.

“Tidak.”

Aku mengetik jawaban itu ke layar laptop yang sedang kubuka, seolah-olah bisa membalas suara tak terlihat tersebut.

“Aku mungkin hanya seorang desainer grafis dengan gaji tiga juta rupiah per bulan.”

“Aku tidak punya kekuasaan.”

“Aku tidak punya keluarga kaya.”

“Aku bahkan tidak tahu bagaimana masa depan kami.”

“Tapi sejak hari aku menggandeng tangan mereka keluar dari panti asuhan, mereka sudah menjadi anak-anakku.”

Komentar berikutnya muncul.

[Probabilitas menghadapi bahaya: 89%.]

Aku tertawa kecil.

“Kalau begitu aku akan melindungi mereka dengan sisa 11% yang kumiliki.”

Untuk pertama kalinya sejak komentar-komentar itu muncul, layar di depanku menjadi sunyi.

Tidak ada tulisan baru.

Tidak ada peringatan.

Tidak ada ramalan.

Hanya keheningan.

Saat itulah terdengar langkah kaki kecil.

Aku menoleh.

Danilo berdiri di pintu kamar dengan piyama biru kebesarannya.

“Mama.”

Itu pertama kalinya dia memanggilku demikian.

Aku membeku.

Anak laki-laki yang hampir tidak pernah berbicara itu menatapku dengan mata hitamnya yang tenang.

Lalu berkata pelan,

“Aku akan tumbuh besar dengan cepat.”

“Aku akan melindungi Mama dan Dalia.”

Dadaku langsung terasa sesak.

Sebelum sempat menjawab, Dalia yang rupanya ikut terbangun berlari keluar sambil memeluk pinggangku.

“Aku juga!”

“Kalau ada orang jahat datang, kita lawan bersama!”

Aku memeluk mereka berdua erat-erat.

Di luar jendela, lampu kota Jakarta masih berkilauan.

Hidupku memang tidak menjadi lebih mudah setelah mengadopsi mereka.

Tagihan tetap harus dibayar.

Pekerjaan tetap harus dilakukan.

Dan mungkin suatu hari nanti, keluarga Lu benar-benar akan datang mencari mereka.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup sendirian, rumah kecil seluas enam puluh meter persegi itu terasa hangat.

Karena rumah bukanlah tempat yang paling mewah.

Rumah adalah tempat di mana seseorang memilih untuk tinggal bersamamu, apa pun yang terjadi.

Dan sejak malam itu, kami bertiga menjadi sebuah keluarga yang sesungguhnya.

Sementara di suatu tempat yang jauh, takdir keluarga Lu perlahan mulai bergerak.

Namun kali ini, si kembar tidak lagi sendirian.

Karena mereka telah memiliki seorang ibu yang mungkin tidak kaya, tidak kuat, dan tidak istimewa.

Tetapi akan mempertaruhkan segalanya demi mereka.

Dan itu adalah sesuatu yang bahkan uang miliaran rupiah pun tidak akan pernah bisa beli.