Setelah mendengar permintaan itu, Maya tidak langsung menjawab.
Ia menatap Junjun selama beberapa detik.
Anak itu masih memeluk erat kelinci usangnya, tetapi untuk pertama kalinya, bahunya tidak lagi tegang seperti sebelumnya.
Di benak Maya, suara sistem kembali terdengar.
【Kesukaan Junjun: sepatu lembut.】
【Tidak suka orang memaksa memegang tangannya.】
【Tidak suka suara keras.】
【Paling suka kelinci.】
Maya mengangkat alisnya.
Ternyata sistem ini benar-benar bisa membaca isi hati anak-anak.
Direktur Joey yang berdiri di samping segera memberi isyarat kepada kru.
Tak lama kemudian, seorang staf membawa beberapa pasang sepatu anak.
Maya tidak buru-buru memilih.
Ia meletakkan semua sepatu itu di lantai dan mendorongnya perlahan ke arah Junjun.
“Junjun yang pilih sendiri, ya.”
Layar komentar kembali ramai.
【Dia bahkan membiarkan anak memilih sendiri?】
【Biasanya tamu lain langsung memakaikan apa saja.】
【Kenapa aku merasa Maya justru lebih menghormati anak itu daripada orang dewasa lain?】
【Tunggu… bukankah ini cuma acara pengasuhan anak? Kenapa aku mulai terharu?】
Junjun menatap deretan sepatu itu.
Lalu perlahan menunjuk sepasang sepatu olahraga berwarna putih dengan sol yang empuk.
Maya mengangguk.
“Pilihan bagus.”
Ia membantu Junjun mengenakannya.
Begitu berdiri, anak itu menggerakkan kedua kakinya beberapa kali.
Tidak sakit lagi.
Di dalam hati kecilnya terdengar suara yang sangat pelan.
【Nyaman.】
【Tidak sakit lagi.】
【Senang.】
Sudut bibir Maya sedikit terangkat.
Untuk pertama kalinya sejak acara dimulai, Junjun mengangkat kepala dan menatapnya cukup lama.
Kemudian…
Dengan suara yang hampir tidak terdengar, ia berkata,
“Terima kasih.”
—
Seluruh studio kontrol mendadak hening.
Para kru saling memandang.
Direktur Joey bahkan mengira dirinya salah dengar.
Junjun bicara?
Anak yang terkenal hampir tidak pernah berbicara kepada orang asing itu…
Baru satu jam bersama Maya, sudah mengucapkan terima kasih?
Komentar langsung meledak.
【ASTAGA DIA BICARA!!!】
【JUNJUN BICARA!!!】
【Bukannya katanya anak ini hampir tidak pernah membuka mulut?】
【Aku merinding.】
【Maya sebenarnya siapa?】
【Tunggu… aku mulai suka dia.】
—
Namun Maya tidak menunjukkan ekspresi berlebihan.
Ia hanya tersenyum tipis.
“Sama-sama.”
Kemudian ia mengulurkan tangan.
“Boleh aku mengajakmu jalan-jalan?”
Junjun menunduk.
Seolah sedang berpikir keras.
Lalu suara kecil itu kembali muncul di kepala Maya.
【Mau.】
【Tapi malu.】
【Kalau pegangan tangan dulu mungkin tidak apa-apa.】
Maya hampir tertawa.
Anak ini ternyata jauh lebih jujur di dalam hati dibandingkan di luar.
Ia tidak memaksa.
Hanya membuka telapak tangannya seperti sebelumnya.
Beberapa detik kemudian…
Sebuah tangan kecil dengan hati-hati menyentuh ujung jarinya.
Lalu menggenggamnya perlahan.
Komentar di layar langsung berubah arah.
【AKU MELELEH.】
【Kenapa manis sekali?】
【Bukankah tadi semua orang bilang Maya akan membuat anak itu menangis?】
【Aku minta maaf, Maya. Aku menilaimu terlalu cepat.】
【Dia benar-benar mendengarkan anak itu.】
—
Saat Maya membawa Junjun keluar dari kamar, sistem kembali berbunyi.
【Misi Pemula Selesai.】
【Kepercayaan Junjun +20.】
【Hadiah: Kemampuan Membaca Pikiran Anak Lv.1.】
【Fitur baru terbuka: Emosi Anak.】
Maya berkedip.
Sebelum sempat bertanya lebih lanjut, suara hati Junjun kembali terdengar.
【Tangan Teteh Maya hangat.】
【Tidak seperti orang-orang sebelumnya.】
【Mungkin…】
Anak itu berhenti berpikir sejenak.
Kemudian suara kecilnya terdengar lagi.
【Mungkin Teteh Maya orang baik.】
Langkah Maya terhenti sesaat.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki acara itu, ia benar-benar tersenyum.
Karena ia tahu…
Mungkin acara ini tidak akan menjadi mimpi buruk seperti yang dibayangkan semua orang.
Dan mungkin…
Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Junjun tidak tahu.
Hanya dalam waktu satu hari, namanya sudah menjadi topik paling ramai di internet.
Namun ia tahu satu hal.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, ia tidak menangis sebelum tidur.
—
Setelah memandikan Junjun dan membacakan dongeng, Maya mematikan lampu kamar.
Saat hendak pergi, ujung bajunya tiba-tiba ditarik.
Ia menoleh.
Junjun sedang duduk di atas ranjang, memeluk kelinci usangnya erat-erat.
Anak kecil itu menunduk cukup lama sebelum akhirnya berbisik:
“Besok… Kak Maya masih ada?”
Maya terdiam.
Suara sistem muncul lagi.
【Takut.】
【Takut besok orang ini juga pergi.】
【Semua orang selalu pergi.】
【Kalau terlalu berharap, nanti akan sedih lagi.】
Dadanya terasa sesak.
Anak berusia tiga setengah tahun seharusnya memikirkan mainan dan permen.
Bukan belajar menghadapi perpisahan berkali-kali.
Maya berjalan kembali ke sisi ranjang.
Lalu berjongkok hingga sejajar dengan matanya.
“Aku masih di sini besok.”
“Lusa juga?”
“Iya.”
“Kalau minggu depan?”
“Iya.”
Junjun terdiam.
Matanya perlahan memerah.
“Kalau nanti Kak Maya terkenal lalu pergi?”
Maya tertawa pelan.
“Kalau aku terkenal, aku tetap akan datang menemui Junjun.”
Anak itu menggigit bibirnya.
Lalu perlahan mengulurkan jari kelingkingnya.
“Aku pernah lihat di televisi.”
“Kalau orang dewasa janji, harus pakai ini.”
Maya menatap jari kecil itu.
Lalu mengaitkan kelingkingnya tanpa ragu.
“Janji.”
“Janji.”
—
Begitu pintu kamar tertutup, Junjun memeluk kelincinya dan berbaring.
Suara kecilnya kembali terdengar di kepala Maya.
【Hari ini menyenangkan.】
【Kak Maya tidak memaksa.】
【Tidak marah.】
【Tidak bilang Junjun nakal.】
【Kalau bisa…】
Suara itu berhenti cukup lama.
Lalu terdengar lagi, sangat pelan.
【Kalau bisa, semoga Kak Maya jadi mama.】
Langkah Maya membeku.
Ia berdiri sendirian di koridor yang sepi.
Tidak ada kamera.
Tidak ada kru.
Tidak ada penonton.
Tetapi untuk pertama kalinya, matanya memerah.
—
Sementara itu, di ruang kontrol.
Data siaran langsung baru saja diperbarui.
Semua staf tercengang.
Jumlah penonton melonjak tiga kali lipat.
Kata kunci paling populer malam itu bukan nama aktor terkenal.
Bukan pula drama atau skandal.
Melainkan:
#MayaDanJunjun
#AnakYangTidakMauBicaraAkhirnyaTersenyum
#TernyataMayaTidakSepertiYangDikira
Direktur Joey menatap layar dengan linglung.
Sore tadi, ia masih berharap Maya menjadi bahan tertawaan seluruh negeri.
Namun sekarang.
Justru Maya yang menjadi kejutan terbesar musim ini.
—
Di kamar kecilnya, Maya membuka ponsel.
Ribuan komentar terus berdatangan.
Ada yang meminta maaf.
Ada yang mengaku salah menilainya.
Ada yang mengatakan mereka menangis melihat Junjun.
Maya membaca semuanya dengan tenang.
Kemudian mematikan layar.
Karena ia tahu.
Popularitas.
Peringkat.
Trending.
Semuanya tidak penting.
Yang penting adalah seorang anak kecil yang akhirnya berani mempercayai seseorang lagi.
Dan seorang wanita yang selama ini hidup sendirian, tiba-tiba menemukan alasan untuk melindungi seseorang.
Di luar jendela, langit malam dipenuhi bintang.
Di dalam kamar, Junjun sudah tertidur sambil memeluk kelincinya.
Dengan senyum kecil yang belum pernah terlihat selama bertahun-tahun.
Dan tanpa disadari siapa pun.
Takdir keduanya baru saja mulai berputar ke arah yang berbeda.
Karena bagi dunia, ini hanyalah sebuah acara reality show.
Tetapi bagi Maya dan Junjun—
ini adalah awal dari sebuah keluarga.