Tepat pukul dua belas malam setiap hari, suara palu dan bor mulai menghantam dinding tanpa henti.
Putriku sudah kurang tidur karena belajar hingga larut malam. Kini setiap malam ia terbangun karena kebisingan itu. Tubuhnya semakin lemah, wajahnya semakin pucat, dan tingkat stresnya terus meningkat.
Aku mendatangi tetangga itu dan meminta dengan sopan agar renovasi dilakukan pada siang hari.
Namun pria di rumah itu malah membentakku.
“Siang hari kami bekerja! Apa kamu kira semua orang sama seperti kalian berdua, ibu dan anak yang cuma diam di rumah tanpa kerja?”
“Bahkan kami juga tidak tahu uang yang kalian pakai hidup itu dari mana. Bersih atau tidak!”
Tubuhku gemetar karena marah.
Aku langsung menghubungi polisi dan melaporkan adanya pekerjaan konstruksi di luar jam yang diperbolehkan.
Polisi datang.
Mereka berjanji akan berhenti.
Namun begitu polisi pergi, mereka sengaja kembali memukul dinding setelah putriku tertidur.
Awalnya aku ingin mengajak tetangga lain untuk melapor bersama-sama.
Tetapi kemudian aku baru tahu bahwa hampir seluruh penghuni dari lantai atas sampai lantai bawah berasal dari kampung yang sama dengan keluarga itu.
Mereka bahkan membela keluarga tersebut dan menganggap akulah yang tidak tahu diri.
“Dindingnya sudah dibongkar. Kalau tidak segera diperbaiki, bagaimana mereka mau tinggal di sana?”
“Masa karena anakmu mau ujian, kamu melarang orang lain memperbaiki rumah mereka?”
“Sifatmu buruk sekali. Anakmu pasti tidak akan diterima di universitas bagus mana pun.”
Karena tekanan dari para tetangga yang tidak masuk akal itu, aku terpaksa mengeluarkan belasan juta rupiah untuk menyewa hotel agar putriku bisa belajar dengan tenang.
Meski nilainya sempat menurun karena kurang tidur dan stres berkepanjangan, pada akhirnya ia tetap berhasil diterima di Universitas Indonesia (UI), salah satu universitas terbaik di Indonesia.
Tiga tahun kemudian.
Tiba-tiba tetangga itu mengirim pesan di grup WhatsApp kompleks perumahan kami.
“Sebentar lagi anak kembarku mengikuti UTBK.”
“Mohon semua warga tidak membuat kebisingan setelah pukul sepuluh malam.”
“Kalau sampai ada yang menghalangi anak-anakku masuk UI atau ITB, jangan salahkan aku kalau aku bertindak!”
Aku langsung tertawa keras.
Tiga tahun telah berlalu.
Dan akhirnya…
Hari yang kutunggu-tunggu itu datang juga.
1
Setelah Bu Ratna mengirim pesan di grup kompleks, seperti biasanya ia meminta semua orang membalas dengan satu kata:
“Siap.”
Mungkin karena takut berurusan dengan keluarganya.
Satu per satu penghuni kompleks membalas seperti robot.
Aku tidak membalas.
Sebaliknya, aku menghubungi sebuah nomor yang sudah kusimpan selama tiga tahun.
Begitu panggilan tersambung, aku langsung mendengar suara berat dan kasar milik Budi.
Ia sedang memaki seseorang.
“Kalau berani gonggong sekali lagi, aku suruh anak-anak buahku datang ke rumahmu!”
Setelah selesai memarahi orang itu, barulah ia bertanya kepadaku.
“Ada apa, Bu Maya?”
Aku tersenyum.
“Rumahku sudah bisa kamu sewa sekarang.”
“Bersihkan saja dan segera pindah.”
Di seberang sana, Budi terdiam beberapa detik.
“Harganya masih sama seperti kesepakatan dulu?”
“Iya.”
“Bahkan kalau kalian bisa pindah dalam tiga hari, aku potong lagi sewanya sebesar Rp500.000 per bulan.”
Budi langsung menjawab tanpa ragu.
“Besok kami pindah.”
“Aku akan langsung mulai berkemas.”
Telepon terputus.
Senyumku semakin lebar.
Bu Ratna selama ini berani bertindak seenaknya hanya karena para tetangga terlalu baik dan terlalu sabar.
Aku benar-benar ingin melihat apakah ia masih bisa bertingkah ketika istri Budi mulai berteriak histeris setiap malam karena penyakit yang dideritanya.
Aku mengeluarkan kontrak sewa yang sudah kusiapkan sejak lama.
Besok, setelah semua ditandatangani, aku bisa pergi dengan tenang.
Agar proses pindahan lebih cepat, aku hanya membawa pakaian dan barang-barang pribadiku.
Seluruh perabotan rumah kutinggalkan.
Biarlah mereka menggunakannya.
Setelah semuanya selesai, aku mengirim pesan kepada putriku yang sedang kuliah di Jakarta.
“Rumah kita sudah disewakan. Saat liburan nanti, langsung saja pulang ke rumah Nenek di Bandung.”
Putriku sempat terdiam beberapa saat.
Lalu ia langsung mengerti apa yang sedang terjadi.
“Bu, kenapa Ibu masih mau membalas orang seperti Bu Ratna?”
Membalas?
Ini bukan sekadar membalas.
Ini adalah kemarahan yang telah kupendam selama tiga tahun.
Sejak keluarga Bu Ratna pindah ke kompleks ini, ia selalu ikut campur urusan warga dan pengurus lingkungan.
Awalnya aku heran mengapa semua orang membiarkannya.
Belakangan aku baru tahu.
Setidaknya ada sepuluh keluarga di blok kami yang berasal dari daerah yang sama dengannya.
Keluarga Bu Ratna terkenal suka membuat keributan.
Jika ada yang berani melawan mereka, Bu Ratna dan ibu mertuanya akan duduk di depan rumah orang itu sambil menangis, berteriak, dan membuat drama berhari-hari.
Karena tidak ingin hidup mereka terganggu, para tetangga terus mengalah.
Sampai akhirnya mereka ikut membiarkan ketidakadilan itu terjadi.
Tiga tahun yang lalu.
Ketika aku memohon agar mereka tidak merenovasi rumah pada malam hari karena putriku akan menghadapi ujian masuk universitas.
Bu Ratna langsung menulis di grup WhatsApp.
“Memangnya kami berisik di mana?”
“Kenapa cuma kamu yang komplain?”
“Kalau memang suara renovasi mengganggu, kenapa tetangga atas dan bawah tidak ada yang mengeluh?”
Lalu ia menambahkan fitnah yang lebih kejam.
“Mungkin karena setiap malam kamu membawa laki-laki berbeda ke rumahmu dan membuat suara aneh-aneh.”
“Aku cuma takut anak-anakku mendengar hal buruk, makanya aku buru-buru memasang peredam suara di dinding.”
“Masih berani mengeluh lagi!”
Ia bukan hanya menolak mengakui kesalahannya.
Ia bahkan menghancurkan reputasiku dengan fitnah yang tidak masuk akal.
Pengurus lingkungan juga memilih menghindar setiap kali melihatnya.
Tidak ada satu orang pun yang mau membantuku.
Akhirnya aku terpaksa memanggil polisi.
Aku mencari saksi untuk membuktikan bahwa tidak ada pria asing yang datang ke rumahku dan bahwa suara renovasi mereka memang sangat keras.
Tetapi saat polisi bertanya kepada para tetangga…
Mereka yang juga kurang tidur karena kebisingan itu malah berkata:
“Kami tidak mendengar suara apa pun.”
“Renovasi? Sepertinya biasa saja.”
“Kami tidak tahu soal laki-laki yang datang ke rumah Bu Maya.”
Saat itu aku akhirnya mengerti.
Terkadang yang paling menyakitkan bukanlah kejahatan seseorang.
Melainkan ketika begitu banyak orang memilih diam dan membiarkan kejahatan itu terjadi.

Malam berikutnya, keluarga Budi pindah ke rumah yang kusewakan.
Sejak hari pertama, seluruh kompleks langsung berubah menjadi kacau.
Tepat pukul satu dini hari, istri Budi yang sedang kambuh penyakitnya mulai berteriak histeris.
Tangisannya menggema dari lantai bawah hingga lantai atas.
Kadang ia menangis.
Kadang tertawa.
Kadang memukul-mukul pintu sambil memanggil nama orang yang bahkan sudah lama meninggal.
Selama tiga malam berturut-turut, lampu rumah Bu Ratna menyala sampai pagi.
Mata hitam di bawah kelopak matanya semakin jelas setiap hari.
Di grup WhatsApp kompleks, ia mulai mengeluh.
“Tolonglah, ini sudah keterlaluan!”
“Kami tidak bisa tidur!”
Namun kali ini tidak ada seorang pun yang membelanya.
Sebaliknya, seseorang membalas:
“Bukankah dulu Bu Ratna bilang renovasi rumah sampai tengah malam itu bukan masalah besar?”
Orang lain menimpali:
“Benar. Kalau demi masa depan anak sendiri harus tahan sedikit, kan?”
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Bu Ratna merasakan apa yang dulu dirasakan orang lain.
Seminggu kemudian.
Ia mulai mengetuk pintu rumah Budi.
Nada bicaranya jauh lebih sopan daripada dulu.
“Pak Budi… bisakah istrinya dibawa berobat lagi? Anak-anak saya mau ujian.”
Budi tersenyum dingin.
“Waktu anak Bu Maya mau ujian, Ibu juga bilang begitu?”
Wajah Bu Ratna langsung pucat.
Ia tidak bisa menjawab.
Karena seluruh kompleks tahu jawabannya.
Dua bulan kemudian, hasil UTBK diumumkan.
Kedua anak kembar Bu Ratna gagal masuk universitas impian mereka.
Malam itu terdengar suara tangisan dari rumah mereka.
Namun tidak ada lagi yang merasa iba.
Karena semua orang masih ingat bagaimana dulu mereka tertawa saat seorang gadis muda kehilangan waktu tidurnya menjelang ujian.
Beberapa hari setelah pengumuman itu, Bu Ratna tiba-tiba datang mencariku.
Rambutnya sudah dipenuhi uban.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibanding tiga tahun lalu.
Ia berdiri lama di depan pagar rumah ibuku di Bandung.
Lalu akhirnya berkata pelan:
“Bu Maya… aku salah.”
“Aku minta maaf atas semua yang kulakukan dulu.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum.
Bukan senyum kemenangan.
Bukan juga senyum kebencian.
Hanya senyum seorang ibu yang akhirnya melihat keadilan datang, meski terlambat.
“Bu Ratna.”
“Dulu saat anakku menangis karena tidak bisa tidur dan ketakutan menghadapi ujian, aku juga pernah meminta maafmu.”
“Tapi saat itu yang kau berikan hanyalah ejekan.”
Matanya langsung memerah.
Air mata mulai mengalir.
Namun kali ini aku tidak merasakan apa-apa.
Karena ada luka yang bisa sembuh.
Dan ada luka yang tetap meninggalkan bekas selamanya.
Aku masuk ke dalam rumah dan menutup pintu perlahan.
Dari jendela, aku melihat Bu Ratna berdiri sendirian cukup lama sebelum akhirnya pergi.
Aku tidak pernah bertanya lagi tentang keluarganya.
Dan aku juga tidak peduli.
Karena saat musim panas tahun berikutnya, putriku lulus dengan predikat terbaik di fakultasnya.
Saat berdiri di aula wisuda, ia memelukku erat dan berbisik:
“Ma, terima kasih karena dulu Mama selalu melindungiku.”
Aku menahan air mata dan membalas pelukannya.
Saat melihat senyum bahagianya, aku akhirnya sadar.
Balas dendam terbaik bukanlah melihat musuh menderita.
Melainkan melihat anak kita tumbuh menjadi orang yang berhasil, sementara mereka harus hidup dengan akibat dari pilihan buruk mereka sendiri.
Dan pada saat itu juga, kemarahan yang kusimpan selama tiga tahun akhirnya benar-benar menghilang.