Pagi-pagi sekali, ibu mertuaku, Bu Ratna, datang mengendarai motor listrik tua miliknya. Di keranjang depan motornya ada lima ekor ikan nila segar yang baru ditangkap suaminya dari sungai desa.
“Rizky, ini ikan hasil tangkapan Pak Hadi tadi subuh. Masih segar sekali. Masakkan sup ikan untuk Alya, ya.”
Bu Ratna menyerahkan kantong berisi ikan kepadaku. Lalu dari sakunya, ia mengeluarkan sebungkus kurma merah kering.
“Ini juga. Rebus jadi teh hangat. Bagus untuk pemulihan setelah melahirkan.”
Aku menerimanya dengan penuh rasa terima kasih.
Tak lama kemudian Bu Ratna pulang karena masih banyak pekerjaan di rumah.
Aku mulai membersihkan ikan-ikan itu. Saat hendak memanaskan minyak di dapur, aku melihat Alya berdiri di ambang pintu kamar sambil memandangku.
“Jangan dimasak dulu.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Dalam lima belas menit, ibumu pasti menelepon.”
Aku tertawa.
“Kamu bisa meramal sekarang? Dari mana Ibu tahu kalau Bu Ratna baru saja membawa ikan ke sini?”
Alya tidak menjawab.
Ia hanya menatapku dengan ekspresi tenang.
“Percaya atau tidak, tunggu saja.”
Kupikir itu hanya perasaan sensitif seorang ibu yang baru melahirkan.
Aku tetap menuangkan minyak ke wajan.
Tiga menit kemudian, ponselku berdering.
Aku melihat layar.
Ibu.
Jantungku langsung berdebar.
“Rizky, nanti malam makan di rumah saja ya. Ibu masak sop iga kesukaanmu.”
“Bu, aku sedang menjaga Alya. Aku tidak bisa pergi.”
“Ah, paling cuma sebentar. Memangnya dia tidak bisa ditinggal?”
Aku melirik Alya.
Dia mengangkat satu jari.
Telepon pertama.
Aku merasakan hawa dingin menjalar di punggung.
Setelah beberapa percakapan, Ibu tiba-tiba bertanya,
“Oh ya, tadi ibu mertuamu datang ke rumahmu?”
Aku terdiam.
“Dari mana Ibu tahu?”
“Cuma menebak. Dia bawa apa?”
“Lima ekor ikan nila.”
Di seberang sana hening selama dua detik.
“Lima ekor?”
“Iya.”
“Ooh, ikan nila. Ya sudah, masak saja. Besok Ibu antar sop iga ke sana.”
Telepon ditutup.
Aku masih berdiri terpaku di dapur.
Alya berjalan mendekat lalu duduk.
“Bagaimana? Tepat, kan?”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Ibumu ada di grup WhatsApp warga kompleks. Bu Siska tetangga depan rumah melihat ibuku datang tadi pagi, lalu langsung memberi kabar ke ibumu.”
Aku tercengang.
“Ibumu punya mata-mata di sekitar rumah kita.”
Suara Alya tetap datar.
“Bu Siska satu. Pak Darto pemilik warung depan kompleks satu lagi. Dan masih ada beberapa orang lainnya.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Lalu Alya menatapku.
“Besok ibumu akan datang membawa sop iga. Tapi tujuan utamanya bukan mengantar makanan.”
“Apa?”
“Dia ingin memeriksa apakah ikan dari ibuku benar-benar dimasak atau tidak.”
Aku menggeleng.
“Kamu terlalu curiga.”
“Kita lihat saja besok.”
Keesokan paginya pukul sepuluh.
Bel rumah berbunyi.
Benar saja.
Ibuku berdiri di depan pintu membawa termos makanan besar.
“Ini sop iga. Masih panas.”
Begitu masuk, ia langsung menuju dapur.
Membuka kulkas.
Melihat kompor.
Melirik tempat sampah.
“Mana ikannya? Sudah dimasak?”
“Sudah. Alya memakannya kemarin.”
“Lima ekor sekaligus?”
“Tiga. Dua lagi masih di freezer.”
Ibu langsung membuka freezer dan memeriksanya.
Setelah melihat dua ekor ikan yang tersisa, ia mengangguk.
“Baguslah.”
Lalu ia menurunkan suaranya.
“Ngomong-ngomong, ibu mertuamu itu pelit sekali ya. Anaknya baru melahirkan, cuma dibawakan beberapa ekor ikan.”
Aku menghela napas.
“Bu, itu ikan hasil tangkapan sendiri. Mereka memberi dengan tulus.”
“Tulus? Apa ketulusan bisa bikin kenyang?”
Aku tidak menjawab.
Dari dalam kamar, terdengar suara Alya.
“Ibu sudah datang? Silakan masuk.”
Seketika wajah ibuku berubah ramah.
“Alya, minumlah sop ini. Ibu merebusnya empat jam.”
“Terima kasih, Bu.”
“Ngomong-ngomong, ibumu datang? Dia bawa apa?”
“Beberapa ekor ikan dan kurma merah.”
“Oh.”
Nada suara ibuku terdengar meremehkan.
“Kenapa dia tidak datang merawatmu? Masa anak baru melahirkan ditinggal begitu saja?”
“Ibu saya punya masalah pinggang. Beliau sulit berjalan jauh. Lagi pula Rizky sedang cuti dan merawat saya.”
“Tidak bisa begitu. Seorang ibu seharusnya menjaga anaknya yang baru melahirkan.”
Alya hanya tersenyum.
Setelah ibuku pulang, Alya menatapku.
“Semua yang dia katakan di dapur tadi, aku dengar.”
Aku terdiam.
“Pelit. Ikan murahan. Tidak peduli pada anaknya.”
Alya mengulang satu per satu.
“Itulah pendapat ibumu tentang ibuku.”
Aku tidak bisa membela siapa pun.
Lalu Alya meletakkan mangkuk sopnya.
“Rizky, ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu.”
“Apa?”
“Uang Rp30 juta yang diberikan keluargamu saat pernikahan dulu tidak pernah dipakai ibuku.”
Aku terkejut.
“Beliau bahkan menambahkan Rp15 juta dari tabungannya sendiri sehingga total menjadi Rp45 juta, lalu memberikannya kepada kita sebagai hadiah pernikahan.”
Aku membeku.
“Dan keesokan harinya, ibumu meminta uang itu darimu dengan alasan akan dimasukkan ke deposito atas nama kita berdua.”
Jantungku berdetak keras.
“Aku… memang menyerahkannya.”
“Tapi pernahkah kamu melihat deposito itu?”
Aku tidak bisa menjawab.
Karena aku tidak pernah melihatnya.
Alya menatapku lurus.
“Uang Rp45 juta itu dipakai ibumu untuk membayar biaya sekolah anak kakak perempuanmu.”
Aku merasakan darahku seperti berhenti mengalir.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Karena kakakmu mengunggah ucapan terima kasih di Facebook. Ada tangkapan layar transfer bank sebesar Rp45 juta. Tanggalnya tiga hari setelah kamu menyerahkan uang itu kepada ibumu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Lalu Alya mengucapkan kalimat yang membuatku tidak bisa membantah apa pun.
“Rizky, aku tidak takut jika keluargamu lebih menyayangi orang lain daripada aku.”
Ia menunduk menatap bayi kami yang sedang tidur.
“Aku hanya takut kamu tahu semuanya, tapi memilih berpura-pura tidak tahu.”
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku sadar bahwa masalah terbesar dalam rumah tangga kami bukanlah ibuku.
Bukan pula kakakku.
Melainkan diriku sendiri.
Karena selama ini aku selalu melihat kebenaran, tetapi terlalu takut untuk mengakuinya.

Alona menatapku lama. Bayi kami tertidur tenang dalam pelukannya, sama sekali tidak tahu bahwa orang-orang dewasa di sekelilingnya sedang bertengkar karena uang.
“Aku sudah tahu sejak lama,” jawabnya pelan.
“Lalu kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Karena aku ingin kamu melihatnya sendiri, Mark. Aku tidak ingin menjadi istri yang setiap hari menjelek-jelekkan keluargamu. Aku hanya ingin suamiku bisa membedakan mana kasih sayang dan mana pemanfaatan.”
Aku duduk di tepi ranjang dan menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa selama ini Alona tidak pernah memintaku memilih antara dirinya atau keluargaku.
Yang ia minta hanyalah keadilan.
Malam itu aku membuka rekening tabungan baru atas nama kami berdua. Aku menghitung semua pengeluaran untuk bayi, biaya rumah sakit, susu, popok, dan kebutuhan rumah tangga beberapa bulan ke depan.
Lalu aku mengirim pesan ke grup keluarga.
“Mulai hari ini, semua urusan pinjam-meminjam uang harus dibicarakan secara jelas dan tertulis. Aku tidak akan memberikan pinjaman lagi sebelum urusan Rp30.000.000 yang dulu selesai terlebih dahulu.”
Tak lama kemudian, ponselku dipenuhi pesan marah.
Ibuku menangis.
Kakakku menyebutku berubah.
Ayahku berkata aku tidak lagi memikirkan keluarga.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa bersalah.
Karena akhirnya aku mengerti sesuatu yang sangat sederhana:
Menjadi anak yang baik bukan berarti membiarkan orang tuamu melakukan kesalahan.
Menjadi saudara yang baik bukan berarti terus menjadi dompet mereka.
Dan menjadi suami yang baik berarti melindungi keluarga yang kau bangun sendiri.
Tiga minggu kemudian, sebuah transfer masuk ke rekening kami.
Rp30.000.000.
Pengirimnya adalah kakakku.
Tidak ada permintaan maaf.
Hanya sebuah pesan singkat:
“Aku kembalikan uangnya.”
Aku tersenyum tipis lalu menutup ponsel.
Kadang-kadang, orang tidak berubah karena mereka sadar telah salah.
Mereka berubah karena akhirnya tidak ada lagi orang yang bisa mereka manfaatkan.
Di dekat jendela, matahari sore masuk perlahan ke kamar.
Alona sedang menggendong bayi kami sambil tersenyum.
Aku berjalan mendekat dan memeluk keduanya.
Di luar sana mungkin masih ada konflik, kekecewaan, dan pertengkaran.
Tetapi di dalam rumah kecil kami, akhirnya ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang.
Rasa hormat.
Kepercayaan.
Dan sebuah keluarga yang benar-benar saling menjaga.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa telah pulang ke rumah yang sesungguhnya.