Setelah menikah lagi, mantan suamiku tiba-tiba mengirim sebuah boneka tua yang sudah robek dan lusuh untuk anak perempuan kami.
Begitu melihat benda kotor itu, amarahku langsung memuncak.
“Tiga tahun setelah perceraian, tidak pernah sekalipun dia menanyakan kabar anaknya. Sekarang dia tiba-tiba ingat punya anak perempuan, lalu mengirim sampah seperti ini?”
Aku hampir saja melemparkannya ke tempat sampah.
Namun putriku, Alya, memeluk boneka itu erat-erat dan menolak melepaskannya. Ia menangis sejadi-jadinya hingga terisak kehabisan napas.
“Ini hadiah dari Papa! Jangan dibuang!”
Hatiku pun melunak dan akhirnya aku membiarkannya.
Siapa yang menyangka, tepat tengah malam, aku mendengar suara berisik samar dari kamarnya.
Perlahan aku membuka pintu dan melihat putriku yang baru berusia lima tahun duduk di lantai.
Kedua tangan mungilnya masuk ke bagian perut boneka yang robek, mengeluarkan sesuatu dari dalamnya sedikit demi sedikit.
Di lantai tergeletak selembar kertas yang tampak sudah dilipat berkali-kali.
Di sampingnya ada sebuah benda lain yang dibungkus rapat dengan beberapa lapis plastik bening.
Aku berjongkok dan membuka kertas itu.
Hanya ada satu kalimat.
Tulisan tangan mantan suamiku.
Huruf-hurufnya berantakan dan gemetar, seolah tangannya bergetar hebat saat menulis.
Tubuhku langsung membeku.
Lalu aku melihat benda yang dibungkus plastik itu.
Sebuah flash drive USB.
Dan sebuah fotokopi kartu identitas istrinya yang sekarang.
Boneka itu dikirim melalui jasa pengiriman instan dan biaya kirimnya dibayar dengan sistem COD.
Aku menatap boneka kotor itu. Kapasnya bahkan sudah keluar dari jahitannya.
Rasanya aku hampir tersedak karena marah.
Sejak perceraian kami, Arga menghilang begitu saja dari kehidupan kami.
Nafkah?
Tidak pernah mengirim bahkan satu rupiah pun.
Telepon?
Tidak pernah sekalipun menelepon.
Sekarang seluruh Jakarta tahu bahwa dia menikahi seorang pewaris konglomerat kaya raya.
Dari sekian banyak cara untuk mengingat bahwa dia masih punya anak, kenapa harus mengirim sampah seperti ini?
“Alya, sini sebentar.”
Aku menahan emosiku dan berusaha berbicara setenang mungkin.
Putriku yang berusia lima tahun berlari mendekat lalu mendongak kepadaku.
“Mama, itu apa?”
“Sampah.”
Kataku sambil memegang salah satu kaki boneka itu dan bersiap membuangnya ke tempat sampah dekat pintu.
Mata Alya langsung membelalak.
Seperti anak singa kecil yang marah, ia menerjang dan memeluk boneka itu erat-erat seakan sedang menjaga harta paling berharga di dunia.
“Jangan dibuang!”
Wajah kecilnya memerah sementara air mata mengalir tanpa henti.
“Ini hadiah dari Papa! Papa yang kasih!”
Dadaku terasa nyeri.
Sudah tiga tahun berlalu.
Bagi Alya, kata “Papa” hanyalah kenangan yang samar.
Bahkan wajah Arga pun hampir tidak ia ingat lagi.
Namun darah tetaplah darah.
Ada ikatan yang sulit dijelaskan.
“Mama, tolong jangan dibuang…”
Alya menangis hingga suaranya serak dan tubuh mungilnya gemetar.
Aku menghela napas panjang.
Pada akhirnya, aku menyerah.
“Baiklah. Tidak akan Mama buang.”
Aku berjongkok dan menghapus air matanya.
“Tapi boneka ini kotor sekali. Bagaimana kalau kita cuci dulu?”
Alya ragu-ragu sesaat.
Namun ia malah memeluk boneka itu semakin erat lalu menggeleng.
“Tidak usah. Papa memang seperti itu.”
Aku terdiam.
Apa maksudnya?
Aku tidak mengerti, tetapi tidak memaksanya menjelaskan.
Aku membiarkannya membawa boneka itu ke kamar.
Saat makan malam, Alya bahkan menaruh boneka itu di samping kursinya dan menyiapkan piring serta sendok kecil untuknya.
“Ayo makan, Boneka.”
Melihat pemandangan itu, suasana hatiku berubah menjadi rumit.
Arga, sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?
Apakah ini caramu membuktikan bahwa kau masih seorang ayah?
Atau kau hanya ingin mengacaukan hidup damai kami lagi?
Aku mengirim pesan kepadanya.
“Apa maksud semua ini?”
Setengah jam kemudian barulah dia membalas.
“Alya suka hadiahnya?”
Aku tersenyum sinis dan segera mengetik balasan.
“Arga, kalau masih punya rasa malu, jangan ganggu aku dan anakku lagi. Sekarang kau sudah menjadi menantu kesayangan keluarga Hartono. Pasti banyak yang akan memberimu penerus. Jadi kenapa masih datang mengganggu kami yang sudah kau tinggalkan?”
Pesan terkirim.
Tidak ada balasan lagi.
Aku pun tidak mau membuang waktu memikirkannya.
Aku membereskan meja makan, memandikan Alya, lalu menidurkannya.
Bahkan saat tidur pun, ia masih memeluk boneka itu erat-erat.
Melihat wajahnya yang tertidur, aku tiba-tiba merasa sedih.
Sudahlah.
Itu hanya boneka.
Kalau dia menyukainya, biarkan saja.
Aku menutup pintu kamarnya dan kembali ke kamarku sendiri.
Tengah malam, saat aku masih setengah tertidur, aku mendengar suara aneh dari kamar sebelah.
Kresek…
Kresek…
Seperti suara tikus yang sedang menggerogoti sesuatu.
Namun rumahku tidak pernah ada tikus.
Dadaku langsung sesak.
Aku bangun dari tempat tidur.
Suara itu berasal dari kamar Alya.
Jantungku berdegup kencang saat aku berjalan tanpa alas kaki menuju kamarnya.
Pintu kamar Alya sedikit terbuka.
Cahaya kuning dari lampu tidurnya memancar keluar.
Perlahan aku mendorong pintu.
Pemandangan yang kulihat membuat bulu kudukku meremang.
Alya belum tidur.
Tubuh kecilnya duduk di lantai yang dingin.
Boneka rusak itu berada di pangkuannya.
Kedua tangannya masuk ke bagian perut boneka yang robek, perlahan-lahan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
Aku sempat mengira sedang berhalusinasi.
Alya baru berusia lima tahun.
Biasanya bahkan mengganti pakaian boneka Barbie saja masih kesulitan.
Namun saat ini gerakannya begitu cepat dan terampil, seolah ia telah berlatih berkali-kali.
Napasaku tercekat.
Di lantai sudah tergeletak selembar kertas kusut yang berkali-kali dilipat.
Di sampingnya ada benda yang dibungkus berlapis-lapis plastik bening.
“Alya?”
Panggilku pelan.
Tubuh kecilnya langsung membeku seperti kelinci yang ketakutan.
Ia menoleh ke arahku.
Matanya dipenuhi rasa takut.
Secara refleks ia berusaha menyembunyikan benda yang dipegangnya ke belakang tubuh.
“Mama…”
Panggilnya lirih.
Hatiku langsung melemah.
Aku cepat-cepat menghampiri dan memeluknya.
“Kenapa belum tidur? Duduk di lantai dingin seperti ini bisa sakit.”
Tangan kecilnya sangat dingin.
Seluruh tubuhnya gemetar.
“Mama… aku kangen Papa…”
Pandanganku jatuh ke benda-benda di lantai.
“Itu apa?”
Aku tidak bertanya dengan nada marah.
Aku bertanya dengan lembut.
Alya menggigit bibirnya lalu menjawab pelan.
“Itu yang disembunyikan Papa di dalam perut boneka. Papa bilang aku harus mengambilnya diam-diam dan tidak boleh menunjukkannya kepada orang jahat.”
Orang jahat?
Siapa?
Perasaan bahaya yang sangat kuat tiba-tiba muncul di dalam hatiku.
Aku membaringkan Alya ke tempat tidur dan menyelimutinya dengan rapi.
“Anak baik, tidur dulu ya. Mama yang akan menyimpan semua ini.”
Alya sangat mempercayaiku.
Ia mengangguk berkali-kali lalu segera tertidur.
Aku duduk di lantai dan mengambil kertas kusut itu.
Perlahan aku membukanya.
Hanya ada satu kalimat.
Tulisan tangan mantan suamiku, Arga.
Tulisan itu miring dan berantakan, seolah ditulis saat tangannya gemetar hebat.
Kalimat itu terasa seperti pisau dingin yang menusuk jantungku.
Tertulis:
【Selamatkan aku. Jangan percaya padanya.】
Darahku seakan membeku saat itu juga.
Padanya?
Siapa?
Apakah yang dimaksud adalah Jessica Hartono, wanita kaya yang baru saja dinikahinya?
Pikiran yang gila sekaligus menakutkan mulai bermunculan di benakku.
Aku berusaha menenangkan diri lalu mengambil benda yang dibungkus plastik itu.
Satu lapis.
Dua lapis.
Tiga lapis.
Aku membuka semuanya satu per satu.
Akhirnya benda di dalamnya terlihat.
Sebuah flash drive USB berwarna hitam.
Dan sebuah fotokopi kartu identitas.
Wanita dalam foto itu memiliki wajah lembut dan senyum manis.
Tak lain adalah Jessica Hartono, istri baru Arga.
Pikiranku langsung kosong.
Apa sebenarnya yang terjadi pada Arga?
Mengapa dia menggunakan cara seperti ini untuk mengirim semua benda ini kepadaku?
Mengapa dia tidak melapor ke polisi?
Pertanyaan demi pertanyaan datang seperti gelombang besar yang hendak menelanku.
Aku menggenggam flash drive dingin itu erat-erat.
Namun rasanya panas seperti besi membara.
Rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi di dalamnya?
Apakah ini rahasia yang bisa menyelamatkan nyawa Arga?
Atau justru…

Tanganku gemetar saat menggenggam USB itu.
Di luar jendela, langit malam Jakarta begitu sunyi. Namun di dalam dadaku, badai seolah sedang mengamuk.
Aku tidak berani menunggu sampai pagi.
Setelah memastikan Tala tertidur lelap, aku membawa laptop ke ruang kerja dan memasukkan USB itu.
Awalnya hanya ada beberapa folder biasa.
Lalu aku menemukan sebuah file video.
Jari-jariku terasa dingin ketika mengkliknya.
Layar menjadi gelap beberapa detik.
Kemudian wajah Danilo muncul.
Aku hampir menjatuhkan laptop.
Wajahnya jauh lebih kurus dibanding terakhir kali kulihat. Ada memar samar di sudut bibirnya. Matanya dipenuhi ketakutan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Jika kamu melihat video ini, berarti aku mungkin sudah tidak punya jalan keluar lagi.”
Suaranya serak.
Dadaku langsung sesak.
“Aku tahu aku tidak pantas meminta bantuanmu. Aku telah meninggalkanmu dan Tala. Aku adalah suami dan ayah yang gagal.”
Ia menunduk beberapa saat.
“Tapi satu-satunya orang yang masih bisa kupercaya hanyalah kalian.”
Video berlanjut.
Ternyata selama ini keluarga Soriano tidak seperti yang terlihat dari luar.
Di balik bisnis miliaran rupiah mereka, terdapat jaringan pencucian uang, pemalsuan dokumen, dan berbagai transaksi ilegal.
Danilo mengetahui semuanya setelah menikahi Isabel.
Awalnya ia mengira ia sedang menikahi seorang pewaris kaya raya.
Namun kenyataannya, ia masuk ke dalam sebuah sangkar emas.
Ketika mencoba pergi, mereka tidak mengizinkannya.
Ketika mencoba melapor, semua jalannya ditutup.
Bahkan ponselnya selalu diawasi.
Karena itulah ia tidak bisa menghubungiku secara langsung.
Dan karena itulah ia memilih menyembunyikan semua bukti di dalam boneka tua yang hanya akan diberikan kepada Tala.
Pada akhir video, Danilo menatap kamera dengan mata merah.
“Maafkan aku.”
“Aku tidak meminta kamu memaafkanku sebagai suami.”
“Aku juga tidak berharap Tala memaafkanku sebagai ayah.”
“Aku hanya berharap kalian berdua bisa hidup dengan aman.”
Air mataku jatuh tanpa kusadari.
Lalu video itu berhenti.
Aku duduk membeku selama beberapa menit.
Di dalam USB itu terdapat ratusan dokumen, rekaman transaksi, video pengawasan, dan bukti-bukti lain.
Semuanya cukup untuk menghancurkan keluarga Soriano.
Keesokan paginya, aku langsung menemui pengacara terpercaya dan menyerahkan seluruh isi USB kepada pihak berwenang.
Penyelidikan besar dimulai.
Dua minggu kemudian, berita itu mengguncang seluruh Indonesia.
Keluarga Soriano jatuh dalam semalam.
Aset mereka dibekukan.
Beberapa petinggi perusahaan ditangkap.
Isabel Soriano menghilang tanpa jejak.
Namun…
Tidak ada seorang pun yang menemukan Danilo.
Hidup ataupun mati.
Seolah-olah ia lenyap dari dunia.
Enam bulan kemudian.
Aku dan Tala sedang berjalan di sebuah taman di Bandung.
Musim kemarau membuat udara terasa hangat.
Tala berlari membawa es krim di tangannya.
Tiba-tiba ia berhenti.
“Mama.”
Aku menoleh.
“Ada apa?”
Ia menunjuk ke arah langit yang mulai memerah oleh senja.
“Papa sudah aman sekarang, kan?”
Langkahku terhenti.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Setelah sekian lama, aku berjongkok dan memeluknya.
“Iya.”
Suaraku bergetar.
“Papa sudah aman.”
Tala tersenyum puas.
Lalu kembali berlari mengejar kupu-kupu.
Aku tetap berdiri di sana.
Memandang matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tidak lagi membenci Danilo.
Karena pada akhirnya aku mengerti satu hal.
Seorang pria bisa menjadi suami yang buruk.
Bisa menjadi ayah yang gagal.
Bisa membuat kesalahan yang tak terhitung banyaknya.
Namun pada saat paling gelap dalam hidupnya…
Ia tetap memilih mempertaruhkan nyawanya demi melindungi anaknya.
Angin sore berembus pelan.
Aku mengeluarkan kertas lusuh yang selama ini kusimpan di dompetku.
Tulisan tangan Danilo masih ada di sana.
“Tolong selamatkan aku. Jangan percaya padanya.”
Aku tersenyum tipis.
Kemudian melipatnya kembali dengan hati-hati.
“Danilo…”
“Di mana pun kamu berada sekarang…”
“Aku harap akhirnya kamu menemukan kebebasan yang selama ini kamu cari.”
Di kejauhan, suara tawa Tala terdengar begitu jernih.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai…
Aku