Posted in

Calon Mertuaku Mengunci Pintu dan Tidak Mengizinkanku Masuk Saat Badai Mengamuk. Sementara Seluruh Keluarga Mereka Makan dan Tertawa di Dalam Rumah, Mereka Membiarkanku Menggigil Kedinginan di Teras Selama Berjam-Jam.

Calon Mertuaku Mengunci Pintu dan Tidak Mengizinkanku Masuk Saat Badai Mengamuk. Sementara Seluruh Keluarga Mereka Makan dan Tertawa di Dalam Rumah, Mereka Membiarkanku Menggigil Kedinginan di Teras Selama Berjam-Jam.

Ketika tanganku hampir mati rasa karena dingin yang menusuk, barulah aku mengeluarkan ponsel dan mengirim satu pesan singkat.

Keesokan harinya, pesta pertunangan mewah adik perempuannya dibatalkan tepat di depan semua tamu yang hadir.

“Masih berani juga kamu datang ke sini?”

Teriakan nyaring itu menggema begitu aku baru saja memasuki halaman rumah.

Yang berbicara adalah adik perempuan pacarku.

Hari itu adalah acara penting keluarga mereka.

Sejak pukul empat pagi aku sudah bangun untuk menyiapkan makanan, mengatur dekorasi, menyambut tamu, dan mengurus semua detail acara.

Selama dua tahun berpacaran, aku melakukan segalanya agar mereka menerima aku sebagai bagian dari keluarga.

Aku pikir, jika aku cukup tulus, suatu hari mereka akan menyayangiku seperti keluarga sendiri.

Ternyata aku salah.

Semuanya bermula karena hadiah yang kubawa.

Sebuah jam tangan saku tua warisan almarhum kakekku.

Benda itu memang tidak mahal.

Namun bagiku, itu adalah kenangan paling berharga dari keluargaku.

Aku ingin memberikannya kepada ayah pacarku sebagai tanda hormat.

Tetapi begitu adik perempuannya melihat hadiah itu, ia langsung tertawa keras.

“Apa ini? Barang rongsokan?”

Ia mengangkat kotak hadiah itu di depan semua orang.

“Lihatlah! Ini wanita yang ingin dinikahi kakakku!”

Ruang tamu langsung dipenuhi gelak tawa.

Beberapa kerabat memandangku dengan iba.

Yang lain bahkan tidak berusaha menyembunyikan penghinaan mereka.

Aku berusaha tetap tenang.

“Itu kenang-kenangan keluarga saya.”

“Kenang-kenangan?” Ia tertawa lebih keras. “Apa kamu pikir keluarga kami kekurangan uang sampai harus menerima barang bekas seperti ini?”

Setelah mengatakan itu, tanpa ragu ia melempar jam tangan tersebut ke lantai marmer.

Suara logam yang menghantam lantai terasa seperti menghantam hatiku.

Aku segera memungutnya.

Tanganku gemetar.

Namun yang paling menyakitkan bukanlah jam tangan itu.

Melainkan pria yang berdiri di sampingnya.

Pacarku.

Dia melihat semuanya.

Tetapi tidak mengatakan apa pun.

Tidak sepatah kata pun.

“Kenapa kamu diam saja?”

Aku menatapnya langsung.

Namun ia mengalihkan pandangannya.

“Itu cuma hadiah.”

Duniaku seakan berhenti berputar.

Cuma hadiah?

Hanya segitu nilai hubungan kami selama dua tahun?

Malam-malam ketika aku tidak tidur untuk merawatnya saat sakit.

Saat-saat ketika kami membangun usahanya bersama.

Semua pengorbanan yang kutanggung diam-diam.

Semuanya hanya seharga satu kalimat:

“Itu cuma hadiah.”

Pada saat itu, ibunya mendekat.

Tangannya terlipat di dada sambil menatapku dengan dingin.

“Menurut saya, kamu sebaiknya pergi.”

“Kenapa?”

“Saya tidak ingin para tamu melihat keributan seperti ini.”

Aku tertawa pahit.

“Saya yang dipermalukan di sini.”

“Itulah sebabnya kamu harus pergi.”

jawabnya dingin.

“Jangan merusak kebahagiaan semua orang.”

Aku melihat ke sekeliling.

Tidak ada seorang pun yang membelaku.

Tidak ada.

Bahkan pria yang pernah berjanji akan melindungiku seumur hidup.

Akhirnya aku berbalik dan berjalan menuju gerbang.

Tetapi saat aku hampir keluar, adik perempuannya menghalangiku.

“Kamu pikir bisa pergi begitu saja?”

Ia tiba-tiba merebut tas tanganku.

Lalu menghamburkan seluruh isinya ke tanah.

Semua orang hanya menonton.

Tidak ada yang menghentikannya.

Saat itulah kemarahan yang selama ini kutahan akhirnya meledak.

“Keterlaluan!”

kataku tegas.

“Kamu pikir siapa dirimu?”

Ia menyeringai.

“Aku orang yang akan menghilangkanmu dari kehidupan kakakku.”

Setelah mengatakan itu, ia mendorongku keluar gerbang dengan keras.

BRAK!

Gerbang besi tertutup keras.

Lalu langsung dikunci dari dalam.

Pada saat yang sama, angin kencang mulai menerpa.

Langit menjadi gelap.

Hujan deras turun tanpa ampun.

Aku berdiri di luar.

Air hujan menghantam wajahku.

Di dalam rumah mewah itu, lampu masih menyala terang.

Musik dan tawa terus terdengar.

Tidak ada yang membuka pintu.

Tidak ada yang peduli apakah aku masih hidup atau tidak.

Aku menelepon pacarku.

Sekali.

Dua kali.

Sepuluh kali.

Namun tidak ada jawaban.

Menjelang tengah malam, kakiku hampir tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

Tiba-tiba ponselku bergetar.

Kupikir itu dia.

Ternyata bukan.

Itu dari seseorang yang sudah tiga tahun tidak pernah kuhubungi.

Satu-satunya orang yang pernah berkata kepadaku:

“Jika suatu hari kamu membutuhkan bantuan, hubungi saja aku.”

Aku menatap layar cukup lama.

Lalu membuka pesan itu.

Jemariku gemetar saat mengetik kata-kata tersebut.

“Apakah kamu masih ingat janji yang pernah kamu buat?”

Belum sampai satu menit setelah pesan itu terkirim.

Ponselku langsung berdering.

Bahkan sebelum sempat kuangkat.

Sebuah mobil hitam sudah berhenti di depan gerbang.

Seorang pria turun di tengah derasnya hujan.

Ketika aku akhirnya melihat wajahnya dengan jelas, aku langsung terdiam.

Pada saat yang sama, dari dalam rumah terdengar teriakan adik perempuan pacarku.

“Tidak mungkin! Kenapa semua investor tiba-tiba membatalkan kontrak mereka?”

Pria di hadapanku perlahan mengangkat kepala dan memandang rumah yang kini sedang kacau balau itu.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Lalu ia mengucapkan satu kalimat yang mengguncang seluruh hidupku:

“Sepertinya mereka masih belum tahu siapa dirimu sebenarnya.”

Pria yang memegang payung besar di hadapanku itu adalah Raymond Sanders, pewaris tunggal Sanders Group—konglomerat terbesar yang mendanai hampir seluruh proyek properti dan bisnis keluarga pacarku. Dan yang lebih penting, dia adalah mantan bos sekaligus sahabat lamaku, satu-satunya orang yang tahu bahwa identitas asliku bukanlah gadis miskin biasa, melainkan putri bungsu dari keluarga terkaya di ibu kota yang memilih hidup mandiri.

“Maaf aku terlambat, Elena,” suara Raymond berat, sarat akan penyesalan melihat kondisiku yang basah kuyup dan menggigil.

Ia langsung melepas jas wol mahalnya dan menyelimutikannya ke bahuku. Kehangatan itu perlahan mengusir dingin yang membekukan tubuhku, bersamaan dengan runtuhnya seluruh sisa rasa cintaku pada pacarku, Bagas.

Sementara itu, di dalam rumah mewah keluarga Bagas, kepanikan massal sedang terjadi.

Runtuhnya Sebuah Imperium dalam Semalam

Pintu rumah yang tadinya terkunci rapat mendadak terbuka lebar. Bagas, ibunya, dan adik perempuannya—Selly—berlari keluar ke teras dengan wajah pucat pasi. Selly masih memegang ponselnya dengan tangan gemetar.

“Bagas! Kita hancur! Investor utama menarik seluruh modal untuk proyek hotel kita! Bahkan vendor untuk pesta pertunanganku besok membatalkan semuanya sepihak!” jerit Selly histeris.

Namun, langkah mereka terhenti di teras ketika melihat sebuah mobil Rolls-Royce hitam mengkilap terparkir di depan gerbang mereka, dan seorang pria yang sangat mereka kenal sedang berdiri di sampingku.

“P-Pak Raymond?!” Bagas terbata-bata, matanya terbelalak tak percaya. Ia mengabaikan hujan dan berlari mendekati gerbang. “Pak Raymond, apa yang Anda lakukan di sini? Dan… kenapa Anda bersama Elena?”

Raymond tidak sudi menjawab. Ia hanya menatap Bagas seperti melihat seonggok sampah. Raymond membalikkan tubuhnya menghadapku, lalu membungkuk hormat dengan tangan di dada—sebuah gestur yang biasa dilakukan di kalangan elit tertinggi.

“Nona Muda Elena, mobil Anda sudah siap. Sesuai perintah Anda melalui pesan singkat tadi, seluruh investasi Sanders Group dan aliansinya untuk keluarga ini telah resmi dihentikan detik ini juga.”

Mendengar kata-kata Raymond, ibunya Bagas hampir pingsan di tempat. Selly menjatuhkan ponselnya ke genangan air.

“N-Nona Muda…?” Bagas menatapku dengan tatapan kosong, dadanya naik turun karena syok. “Elena… kamu… siapa sebenarnya kamu?”

Aku menatap Bagas dari balik payung Raymond. Tidak ada lagi air mata. Hanya ada kekosongan yang dingin.

“Dua tahun lalu aku membantumu membangun usahamu menggunakan jaringan rahasia keluargaku, Bagas. Aku melepas kemewahanku demi hidup sederhana bersamamu, karena mengira kamu tulus,” kataku, suaraku terdengar begitu jernih membelah suara hujan. “Tapi malam ini, kalian mengunci pintu dan membiarkanku membeku, sementara kalian tertawa di atas penderitaanku.”

Aku menatap Selly, lalu mengeluarkan jam tangan saku kakekku yang layarnya sudah retak.

“Kamu bilang ini rongsokan? Jam tangan ini adalah simbol dari Keluarga Adiningrat. Jam yang sama yang logonya ada di surat pembatalan investasi kalian malam ini.”

“Elena! Maafkan aku! Aku tidak tahu!” Bagas berlutut di tanah yang basah, mencoba menggapai ujung bajuku melalui celah gerbang. “Aku mencintaimu, Elena! Tolong jangan lakukan ini pada keluargaku!”

“Cinta?” Aku tersenyum sinis. “Saat adikmu membuang barang berhargaku, kamu diam. Saat ibumu mengusirku, kamu memalingkan muka. Cintamu hanya seharga satu kalimat: Itu cuma hadiah.”

Hari Pembalasan

Keesokan harinya, ballroom hotel bintang lima yang seharusnya menjadi tempat pesta pertunangan mewah Selly berubah menjadi tempat eksekusi reputasi mereka.

Keluarga Bagas tetap datang dengan sisa-sisa harapan, berharap para tamu dan calon besan mereka yang merupakan kalangan pejabat tidak mengetahui kebangkrutan mendadak mereka. Namun, begitu pintu ballroom dibuka, suasananya sangat sepi. Tidak ada dekorasi bunga, tidak ada makanan mewah. Yang ada hanyalah puluhan pasang mata jurnalis bisnis dan seluruh kerabat mereka yang menatap mereka dengan pandangan jijik.

Di panggung utama, layar besar menampilkan pengumuman resmi: Keluarga Bagas dinyatakan pailit dan seluruh aset mereka akan disita mulai jam dua siang ini.

Calon suami Selly dan keluarganya langsung melemparkan cincin pertunangan ke lantai, tepat di depan wajah Selly yang menangis meraung-raung.

Di sudut ruangan, aku berdiri dengan gaun haute couture sutra hitam yang anggun, didampingi oleh Raymond dan sepuluh pengawal pribadi.

Bagas yang melihatku mencoba berlari mendekat, namun ia langsung ditahan oleh para pengawal sebelum bisa menyentuh ujung gaunku.

“Elena! Tolong beri aku kesempatan kedua! Aku mohon!” teriak Bagas frustrasi, air matanya bercampur keringat.

Aku berjalan melewatinya tanpa sedetik pun menoleh, mengabaikan ratapan ibunya yang memohon ampun di lantai. Saat aku melangkah keluar dari gedung, matahari bersinar terik, menghapus seluruh sisa badai semalam.

Keluarga mereka telah mengunciku di luar rumah dalam kedinginan. Dan kini, aku memastikan bahwa pintu dunia kelas atas, kehormatan, dan masa depan mereka, telah dikunci rapat-rapat dari dalam—oleh tanganku sendiri.