Posted in

SUAMIKU YANG SEORANG CEO MEMPERMALUKANKU DI DEPAN SELURUH PERUSAHAAN DEMI MEMBELA SELINGKUHANNYA. TAPI KEESOKAN HARINYA, DIA BARU MENYADARI BAHWA DIA SENDIRILAH YANG MERUNTUHKAN IMPERIUNYA.

SUAMIKU YANG SEORANG CEO MEMPERMALUKANKU DI DEPAN SELURUH PERUSAHAAN DEMI MEMBELA SELINGKUHANNYA. TAPI KEESOKAN HARINYA, DIA BARU MENYADARI BAHWA DIA SENDIRILAH YANG MERUNTUHKAN IMPERIUNYA.

Rapat darurat berlangsung di lantai paling atas gedung perusahaan.

Lebih dari dua puluh manajer senior hadir di sana.

Suasana ruang rapat terasa sangat tegang.

Aku berdiri di tengah ruangan, sementara wanita yang paling diistimewakan oleh suamiku menangis di sampingnya.

Rambutnya berantakan.

Dokumen-dokumen berserakan di lantai.

Melihat pemandangan itu, siapa pun pasti mengira akulah yang bersalah.

Pria yang duduk di ujung meja menatapku dengan dingin.

Dia adalah suamiku.

Pria yang telah menemaniku selama delapan tahun dalam suka dan duka.

“Berlututlah dan minta maaf.”

Suaranya dingin tanpa sedikit pun emosi.

Seluruh ruangan langsung terdiam.

Aku pikir aku salah dengar.

Tetapi dia mengulanginya.

“Aku tidak ingin mengatakan itu untuk ketiga kalinya.”

Aku tertawa.

“Aku? Berlutut?”

“Kalau kamu memang salah, kamu harus meminta maaf.”

Wanita itu segera memegang lengan bajunya.

“Sudahlah, Pak… saya baik-baik saja…”

Dia berkata baik-baik saja, tetapi air matanya terus mengalir.

Melihat penampilannya yang menyedihkan, orang-orang di sekitarku semakin menghakimiku.

Tidak ada yang mengetahui kebenarannya.

Dan tidak ada yang ingin mengetahuinya.

Yang mereka lihat hanyalah aku mengungkap berbagai kesalahan dalam proyek yang ditangani wanita itu.

Lalu dia menangis.

Itu saja sudah cukup untuk membuat semua orang menyalahkanku.

Suamiku berdiri.

“Jangan buang waktu.”

“Berlututlah.”

Aku menatapnya lama.

Dia bukan lagi pria yang dulu pernah makan mi instan bersamaku di kamar kontrakan kecil kami.

Sekarang dia adalah seorang CEO.

Orang yang sangat berkuasa.

Seseorang yang bisa menentukan nasib siapa saja di perusahaan ini.

Bahkan nasib istrinya sendiri.

Akhirnya aku mengangguk.

“Baik.”

Semua orang mengira aku akan menuruti perintahnya.

Namun sebaliknya, aku melepas kartu identitas perusahaan dari leherku dan meletakkannya di atas meja.

Lalu aku mengeluarkan sebuah map hitam dari dalam tas.

“Tidak penting apakah aku berlutut atau tidak.”

“Tapi mulai hari ini, semua hubunganku dengan perusahaan ini berakhir.”

Setelah mengatakan itu, aku berbalik dan keluar dari ruang rapat.

Tidak ada yang menghentikanku.

Bahkan beberapa orang diam-diam tersenyum mengejek.

Di mata mereka, aku hanyalah seorang istri pencemburu yang sedang membuat keributan.

Tak seorang pun memahami apa yang akan terjadi.

Termasuk suamiku.

Malam itu, dia bahkan mengajak wanita tersebut makan malam.

Dan mengantarnya pulang sendiri.

Sebelum turun dari mobil, wanita itu tersipu malu dan berkata pelan:

“Jangan salahkan istrimu.”

“Mungkin dia hanya terbawa emosi.”

Suamiku tersenyum dingin.

“Nanti dia juga sadar bahwa dia yang salah.”

“Besok semuanya akan kembali normal.”

Namun keesokan harinya…

Begitu dia tiba di kantor, teleponnya langsung berdering tanpa henti.

Panggilan pertama berasal dari pabrik produksi.

Salah satu lini produksi terpenting tiba-tiba berhenti beroperasi.

Panggilan kedua datang dari mitra strategis perusahaan.

Mereka menunda penandatanganan kontrak kerja sama.

Panggilan ketiga berasal dari bank.

Pendanaan yang selama ini telah disetujui mendadak ditangguhkan.

Belum sampai satu jam.

Seluruh dewan direksi sudah berkumpul di ruang rapat.

Semua wajah terlihat pucat.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Dia membanting meja dengan keras.

Tak seorang pun menjawab.

Sampai akhirnya seorang eksekutif yang gemetar meletakkan sebuah map di hadapannya.

“Pak…”

“Orang yang selama ini mengelola teknologi inti, rantai pasok, dan seluruh kemitraan strategis perusahaan…”

“Secara resmi telah menarik semua dukungannya sejak tengah malam tadi.”

Keningnya berkerut.

“Siapa orang itu?”

Ruangan langsung sunyi.

Udara terasa begitu berat.

Beberapa detik berlalu sebelum eksekutif itu akhirnya menjawab.

“Istri Anda, Pak.”

“Dan beliau juga merupakan pihak yang sesungguhnya mengendalikan lebih dari separuh sistem yang menjalankan perusahaan ini.”

Pulpen di tangannya terjatuh.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun…

Wajahnya benar-benar pucat.

Tepat pada saat itu, pintu ruang rapat terbuka dengan keras.

Seorang karyawan berlari masuk.

Napasnya terengah-engah.

“Pak!”

“Ada kabar buruk!”

“Pesaing terbesar kita baru saja mengumumkan pemimpin eksekutif baru mereka!”

Karyawan itu menelan ludah.

Lalu menatap langsung ke arahnya.

“Itu adalah istri Anda, Pak…”

Semua orang langsung berdiri dari kursi masing-masing.

Sementara suamiku membeku di tempat.

Karena di layar besar di depan mereka…

Sedang ditayangkan konferensi pers langsung dari wanita yang kemarin dipaksanya untuk berlutut.

Dan di belakang wanita itu…

Berdiri seluruh mitra terbesar yang selama ini mendukung perusahaannya.

Ponsel di atas meja ruang rapat masih berdering, namun suamiku—Rian—tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengangkatnya. Layar proyektor besar di depannya menampilkan wajahku yang tenang, sangat kontras dengan penampilanku yang kacau kemarin saat dia memojokanku demi membela selingkuhannya, sekretaris barunya yang bernama s-s-si Amel itu.

Di layar, aku mengenakan setelan jas formal hitam yang elegan. Di samping kanan dan kiriku, duduk tiga investor terkaya di negeri ini—orang-orang yang selama ini menganggap Rian bahkan tidak layak untuk menjabat tangan mereka, orang-orang yang hanya mau berbicara jika aku yang mengundang.

“Mulai hari ini,” suaraku menggema dari peleras suara proyektor, terdengar dingin dan berwibawa melalui siaran langsung televisi bisnis, “Saya secara resmi mengambil alih posisi CEO di Apex Corp, kompetitor utama kalian. Dan seluruh hak paten teknologi sistem rantai pasok yang selama ini digunakan oleh perusahaan lama saya… telah resmi dicabut karena pelanggaran kontrak.”

Penyesalan yang Terlambat

“B-Bagaimana mungkin…?” Rian bergumam, suaranya bergetar hebat.

Ia menatap map hitam yang kutinggalkan di meja kemarin. Dengan tangan gemetar, ia membuka map tersebut. Isinya bukan surat perceraian biasa. Itu adalah dokumen kepemilikan mutlak atas kode sumber algoritma logistik, lisensi pabrik, dan surat pembatalan sepihak atas seluruh agunan bank yang menggunakan nama keluarga besarku.

Selama delapan tahun ini, aku sengaja berada di balik layar. Aku membiarkannya menikmati lampu sorot sebagai CEO sukses, membiarkannya dipuji sebagai jenius bisnis, sementara akulah yang menambal semua lubang, membangun sistem, dan mengamankan modal. Aku melakukannya karena aku mencintainya. Aku mengira kami adalah tim.

Namun, dia lupa daratan. Dia mengira mi instan di kontrakan dulu adalah hasil usahanya sendiri, dan dia mengira kemewahan hari ini adalah mutlak miliknya.

“Pak Rian! Saham kita anjlok tiga puluh persen dalam lima menit!” terjerit manajer keuangan.

“Pak! Pihak bank menuntut pelunasan seluruh utang jatuh tempo dalam waktu dua puluh empat jam!”

Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka lagi. Kali ini Amel masuk dengan wajah yang tidak lagi menggemaskan atau memelas. Rambutnya rapi, tetapi matanya penuh ketakutan.

“R-Rian… rekening operasional kantorku dibekukan. Aku tidak bisa mencairkan bonus proyek kemarin,” rengek Amel, mencoba memegang lengan Rian seperti yang dilakukannya kemarin.

“DIAM!” bentak Rian, menepis tangan Amel dengan kasar hingga wanita itu tersungkur ke lantai.

Kemarin, air mata Amel adalah permata bagi Rian. Hari ini, air mata itu terlihat seperti kutukan. Rian akhirnya sadar, wanita yang dibelanya mati-matian ini tidak memiliki apa-apa selain air mata palsu, sementara wanita yang diusirnya adalah pondasi dari seluruh hidupnya.

Kehancuran Sang CEO

Rian meraih ponselnya, dengan panik mengetik nomor teleponku.

Panggilan pertama ditolak.

Panggilan kedua dialihkan.

Pada percobaan kelima, telepon akhirnya tersambung. Di layar proyektor, semua orang bisa melihatku memberi kode kepada wartawan untuk menjeda konferensi pers sejenak. Aku mengangkat telepon dari panggung.

“Maya! Tolong aku… maafkan aku!” Rian berteriak histeris, melupakan harga dirinya di depan seluruh bawahannya. “Aku khilaf kemarin! Amel yang menjebakku! Tolong jangan tarik investasimu, kita bisa bicarakan ini di rumah!”

Aku mendengarkan suaranya yang memohon melalui ponsel, lalu tersenyum tipis ke arah kamera konferensi pers—tatapan yang langsung mengarah pada Rian yang sedang menonton di ruang rapatnya.

“Rumah yang mana, Rian?” tanyaku dengan tenang. “Rumah yang kemarin kamu kunci untuk makan malam bersamanya? Atau rumah kontrakan kecil kita dulu?”

“Maya, aku mohon… aku suamimu!”

“Kamu pernah menjadi suamiku, Rian. Tapi kemarin, saat kamu memintaku berlutut di depan selingkuhanmu, kamu sendiri yang menghancurkan pria yang bersamaku makan mi instan dulu. Pria yang berdiri di sana sekarang hanyalah seorang CEO arogan yang sedang bangkrut.”

“Maya—”

“Satu hal lagi,” potongku, suaraku berganti menjadi sangat tegas. “Kemarin kamu bilang tidak ingin mengulang perintahmu untuk ketiga kalinya. Sekarang, giliranmu yang mendengarkan. Kemasi barang-barangmu. Kosongkan ruangan itu. Karena gedung yang kamu tempati sekarang… sudah kubeli satu jam yang lalu.”

Klik.

Sambungan telepon terputus.

Bersamaan dengan itu, beberapa petugas keamanan gedung—yang kini sudah berganti seragam di bawah kepemilikan baruku—masuk ke ruang rapat. Mereka tidak lagi membungkuk hormat pada Rian.

“Mohon maaf, Pak Rian. Anda dan Nona Amel diminta untuk segera meninggalkan area gedung ini sekarang juga,” ucap kepala keamanan dengan tegas.

Rian terduduk lemas di kursinya, pulpennya menggelinding ke lantai, persis seperti martabatnya yang kini sudah habis tak bersisa. Di sampingnya, Amel menangis ketakutan menyadari bahwa pria yang ia rebut kini tidak lebih dari seorang pria miskin yang memiliki tumpukan utang.

Rian melihat sekeliling ruangan, berharap ada manajer yang membelanya. Namun, semua orang memalingkan muka, persis seperti apa yang mereka lakukan padaku kemarin. Hari ini, badai yang sesungguhnya telah datang, dan Rian harus menghadapi kedinginan itu sendirian—tanpa ada lagi aku yang bersedia menyelimutinya.