Posted in

PADA MALAM SAAT KEHAMILANKU MEMASUKI BULAN KETUJUH, AKU TERBANGUN KARENA KRAM HEBAT DI KAKI. DAN PADA MALAM ITU JUGA, AKU MENGETAHUI BAHWA SUAMIKU MEMILIKI WANITA LAIN—DAN WANITA ITU ADALAH SAHABAT TERBAIKKU SENDIRI YANG TUMBUH BESAR BERSAMAKU.

PADA MALAM SAAT KEHAMILANKU MEMASUKI BULAN KETUJUH, AKU TERBANGUN KARENA KRAM HEBAT DI KAKI. DAN PADA MALAM ITU JUGA, AKU MENGETAHUI BAHWA SUAMIKU MEMILIKI WANITA LAIN—DAN WANITA ITU ADALAH SAHABAT TERBAIKKU SENDIRI YANG TUMBUH BESAR BERSAMAKU.

Tengah malam itu, kakiku terasa sangat sakit hingga aku mengerang pelan sambil menoleh. Christian masih tertidur lelap. Tiba-tiba, ponselnya yang berada di samping bantal menyala.

Awalnya, aku hanya ingin melihat jam berapa saat itu.

Namun ketika layar terbuka, nama Bianca berada di urutan paling atas daftar chat yang dipasang pin.

Sahabat terbaikku.

Tidak ada pengakuan cinta yang manis.

Tidak ada emoji hati atau kata-kata yang terang-terangan romantis.

Hanya percakapan penuh perhatian yang terdengar tulus, tetapi terasa begitu palsu.

“Perutnya sudah semakin besar, pasti sulit tidur malam. Jaga dia baik-baik, ya.”

“Bagaimana hasil pemeriksaan hari ini? Ingatkan dia supaya jangan terlalu banyak berjalan.”

Aku terus menggulir ke bawah.

Tiba-tiba jari-jariku membeku.

“Setelah dia melahirkan, kita tidak perlu lagi bersembunyi seperti ini.”

Aku menatap pesan itu lama sekali.

Begitu lama hingga tanpa kusadari kram di kakiku menghilang, tetapi kedua tanganku tetap terasa dingin membeku.

Aku tidak menangis.

Aku juga tidak membangunkan Christian saat itu.

Hal pertama yang kulakukan adalah menurunkan kecerahan layar ponselnya hingga paling redup, lalu mengambil ponselku sendiri dan memotret setiap halaman percakapan mereka.

Jam pengiriman, foto profil, nama kontak, bahkan durasi pesan suara mereka… semuanya kuabadikan dengan jelas.

Setelah itu, aku mengembalikan ponselnya ke posisi semula.

Bahkan tampilan chat yang dipasang pin pun kubuat persis seperti sebelum dia tidur.

Lalu aku berbaring sambil menatap langit-langit kamar hingga pagi tiba.

Keesokan harinya, hal pertama yang dilakukan Christian setelah bangun adalah meletakkan tangannya di atas perutku.

“Apakah bayi menendangmu semalam sampai kamu terbangun?”

Aku menoleh dan menatapnya.

Tatapannya masih selembut biasanya, dan suaranya sedikit serak karena baru bangun tidur.

Seandainya aku tidak melihat pesan-pesan itu dengan mataku sendiri, mungkin aku masih akan menganggapnya sebagai suami yang sempurna.

Aku mengalihkan pandangan dan menjawab pelan.

“Cuma kram kaki.”

Dia langsung bangkit, pergi ke dapur untuk menghangatkan susu bagiku, lalu membawakan tablet kalsium saat kembali ke kamar.

“Kamu kurang kalsium. Hari ini aku akan pulang lebih awal supaya bisa menemanimu ke dokter kandungan.”

Aku menatap gelas susu hangat yang dia sodorkan.

Rasanya begitu ironis.

Pria yang semalam berbicara dengan Bianca tentang kehidupan mereka setelah aku melahirkan, kini merawatku dengan penuh perhatian seolah tidak terjadi apa-apa.

Ternyata orang yang pandai berpura-pura memang bisa menyembunyikan segalanya tanpa meninggalkan jejak.

Namaku Mara, usia dua puluh delapan tahun, anak tunggal, dan lulusan universitas.

Sebelum menikah, aku bekerja sebagai penulis naskah iklan komersial untuk berbagai merek, sehingga aku selalu memiliki tabungan sendiri.

Orang tuaku adalah tipe orang tua yang sangat menyayangi anak perempuan satu-satunya.

Mereka tidak pernah membiarkanku hidup susah, tetapi juga tidak membesarkanku menjadi seseorang yang bergantung pada orang lain.

Sejak kecil, hanya dua hal yang selalu mereka ajarkan:

Pendidikan dan karier harus dibangun dengan usaha sendiri.

Seorang perempuan harus selalu memiliki uangnya sendiri.

Karena itu, selain tabungan yang kumiliki sebelum menikah, aku juga memiliki sebuah apartemen kecil di Jakarta yang uang mukanya dibayarkan oleh orang tuaku.

Apartemen itu selalu disewakan, dan uang sewanya sebesar sekitar **Rp4.500.000 per bulan** langsung masuk ke rekening pribadiku.

Aku mengenal Christian melalui perkenalan teman.

Dia berpakaian rapi, pendiam, dan memiliki pekerjaan yang stabil di sebuah perusahaan besar di kawasan bisnis Jakarta.

Di mata orang lain, dia adalah pria bertanggung jawab, dapat diandalkan, dan sosok yang ideal untuk dinikahi.

Kami berpacaran selama dua tahun, lalu telah menikah lebih dari dua tahun.

Sebelum aku hamil, aku benar-benar percaya bahwa kehidupan rumah tanggaku begitu tenang dan bahagia.

Sementara itu, Bianca adalah sahabatku sejak kecil.

Kami tinggal di lingkungan yang sama dan bersekolah bersama sejak SD hingga SMA.

Dulu keluarganya tidak terlalu berada, sehingga ibuku sering mengundangnya makan di rumah, ikut merayakan Natal dan Tahun Baru bersama kami, bahkan membelikannya pakaian.

Saat aku kuliah di Jakarta, ibuku masih berpesan agar aku menjaga Bianca karena khawatir dia merasa kesepian.

Setelah lulus, kami berdua sama-sama bekerja di kota ini.

Bianca bekerja sebagai staf administrasi dengan gaji pas-pasan. Dia pendiam, lembut, dan selalu berbicara pelan. Dari sudut mana pun, dia terlihat seperti perempuan yang tidak mungkin menyakiti siapa pun.

Pada hari pernikahanku, dia menjadi pendamping pengantin kehormatan.

Saat mengetahui aku hamil, dia adalah orang pertama yang datang membawa makanan bergizi dan vitamin ke rumahku.

Di bulan-bulan terakhir kehamilan ketika aku sering sulit tidur, dia bahkan sering mengirim pesan:

“Hei, apakah si kecil rewel semalam sampai kamu tidak bisa tidur nyenyak?”

Dulu aku mengira itu adalah bentuk perhatian.

Kini aku mengerti.

Ada orang yang sebenarnya tidak pernah benar-benar peduli padamu.

Mereka hanya mengawasimu dengan sangat teliti.

Mengamati kapan kamu bahagia.

Kapan kamu lemah.

Dan kapan mereka memiliki kesempatan untuk merebut semua yang kamu miliki.

Setelah mengetahui hubungan mereka, aku tidak membuat keributan.

Aku juga tidak bertengkar.

Aku berpura-pura tidak tahu apa-apa.

Karena anakku masih berada di dalam kandungan.

Karena aku tahu bahwa pada tahap akhir kehamilan, aku tidak boleh mengalami guncangan emosi yang berlebihan.

Dan karena aku tidak ingin membuat ular yang bersembunyi menjadi waspada.

Jika hubungan mereka sudah sampai sejauh ini, pasti bukan sekadar bertukar pesan.

Yang kuinginkan bukan menarik rambut mereka di depan banyak orang.

Yang kuinginkan adalah bukti.

Aset.

Hak asuh anakku.

Dan jalan keluar yang bersih untuk diriku sendiri.

Sejak hari itu, aku mulai memperhatikan semua hal yang berkaitan dengan Christian.

Saat dia mandi, aku memeriksa ponselnya.

Saat dia tidur, aku membuka tabletnya.

Saat dia memasak di dapur dan meninggalkan jam tangannya di meja, aku juga melihat riwayat transaksinya.

Perlahan-lahan, aku mencadangkan semua tangkapan layar percakapan, riwayat transfer bank, pesanan transportasi online, kuitansi hotel, foto yang sudah dihapus, hingga data yang tersinkronisasi di penyimpanan cloud.

Keesokan harinya, aku menyimpan semuanya dalam drive terenkripsi yang dulu kugunakan untuk kontrak pekerjaan lepas.

Aku juga mencetak beberapa salinan dan menyelipkannya di dalam buku catatan nutrisi kehamilanku.

Bianca bergerak sangat hati-hati.

Dia dan Christian jarang mengirim pesan yang vulgar atau terlalu jelas.

Sebagian besar waktu, dia menggunakan alasan “mengkhawatirkanku” untuk mengatakan hal-hal yang membuat mual.

Contohnya:

“Bagaimana suasana hati Mara hari ini? Dia tidak susah tidur lagi, kan?”

Christian menjawab:

“Iya, semalam dia kram kaki. Sudah lama kesakitan menjelang subuh.”

Bianca langsung membalas:

“Sabarlah menghadapi dia. Memang berat menjadi ibu hamil.”

Beberapa saat kemudian, dia mengirim pesan lagi:

“Tapi setiap kali aku membayangkan kamu sedang memeluknya saat tidur sekarang, hatiku tetap sakit.”

Berikut adalah kelanjutan dan naskah akhir dari kisah Mara:

Membaca pesan terakhir Bianca membuat jemariku bergetar, bukan karena sedih, melainkan karena rasa jijik yang luar biasa. Perempuan yang ibuku beri makan, yang kubukakan pintu rumahku, ternyata mengincar tempat tidurku.

Namun, emosi adalah kemewahan yang tidak bisa kumiliki saat ini. Kandunganku memasuki bulan kedelapan, lalu kesembilan. Di depan Christian dan Bianca, aku tetap menjadi Mara yang lembut, yang menerima kunjungan Bianca dengan senyuman, dan menerima usapan Christian di perutku tanpa sekerat pun kecurigaan.

Di balik layar, aku bergerak dalam senyap.

Pertama, aku menemui pengacara keluarga secara rahasia. Semua bukti digital, mutasi rekening Christian yang menunjukkan aliran dana “bantuan kos” bulanan untuk Bianca, hingga manifes perjalanan akhir pekan mereka yang disamarkan sebagai dinas luar kota, telah berpindah ke tangan hukum.

Kedua, aku memindahkan seluruh tabungan pribasiku dan bersiap memutus akses Christian dari rekening bersama setelah persalinan. Apartemenku di Jakarta kubersihkan masa sewanya; penyewa lama selesai kontrak bertepatan dengan bulan kesembilan kehamilanku. Tempat itu kusiapkan sebagai benteng baruku.

Dua minggu sebelum Hari Perkiraan Lahir (HPL), aku melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat melalui operasi caesar. Christian menangis haru di samping ranjangku. Bianca datang sore harinya, membawa sekeranjang buah dan menatap bayiku dengan binar mata yang membuat bulu kudukku berdiri.

“Dia mirip sekali dengan Christian, Mara,” bisik Bianca lembut.

“Ya,” jawabku, tersenyum datar. “Sangat mirip ayahnya.”

Aku membiarkan mereka menikmati ilusi kemenangan mereka selama tepat satu bulan. Selama masa nifas, aku mengumpulkan sisa kekuatan fisikku. Christian mengira aku sibuk dengan bayiku, sementara Bianca mengira waktu “kebebasan” mereka sudah di depan mata.

Hingga malam itu tiba. Malam peringatan satu bulan usia putraku.

Kami mengundang orang tuaku, serta Bianca, untuk makan malam perayaan kecil di rumah. Christian baru saja menuangkan sirup ke gelas ketika aku meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di tengah meja makan.

“Apa ini, Sayang? Hadiah untuk jagoan kita?” tanya Christian sambil tersenyum.

“Buka saja,” kataku tenang.

Christian membuka amplop itu. Wajahnya yang semula cerah langsung memucat dalam hitungan detik. Lembar demi lembar transkrip obrolan cloud, foto-foto manifes hotel, hingga cetakan pesan terakhir Bianca: “Tapi setiap kali aku membayangkan kamu sedang memeluknya saat tidur sekarang, hatiku tetap sakit,” terpampang nyata di atas meja.

Ibuku mengambil salah satu lembar yang tercecer, membacanya, dan langsung menatap Bianca dengan tatapan menghina yang belum pernah kulihat seumur hidupku. “Bianca… ini balasanmu setelah semua makanan yang masuk ke perutmu di rumahku?”

Bianca gemetar, wajahnya kehilangan warna. Dia menoleh pada Christian, mencari perlindungan, namun Christian sendiri sedang sibuk berlutut di lantai, mencoba meraih kakiku.

“Mara! Ini khilaf, aku bersumpah demi anak kita, aku tidak pernah berniat meninggalkanmu! Bianca yang terus mendekatiku!” Christian mulai memohon dengan suara serak, air mata buaya mengalir di pipinya.

Aku menarik kakiku menjauh, menatapnya dari atas dengan dingin.

“Jangan sebut anakku dengan mulut yang sama yang kamu gunakan untuk merancang hidup baru bersama perempuan ini,” kataku, suaraku stabil tanpa ada satu pun nada histeris. “Gugatan cerai sudah didaftarkan sore ini. Hak asuh anak mutlak jatuh ke tanganku, atau semua berkas ini—beserta bukti transfer uang perusahaan yang kamu selewengkan untuk membiayai kos Bianca—akan sampai ke meja atasanmu besok pagi.”

Christian tercekik kata-katanya sendiri. Dia tahu kariernya di kawasan bisnis Jakarta akan hancur dalam semalam jika aku bertindak lebih jauh.

Aku menoleh ke arah Bianca, yang kini menunduk sambil menangis tanpa suara. “Kamu bilang kamu sakit hati melihat dia memelukku? Mulai malam ini, ambil dia. Bawa pria penipu ini bersamamu. Mari kita lihat seberapa lama cinta tulus kalian bertahan tanpa uang sepeser pun, tanpa jabatan stabil, dan dengan bayang-bayang nama baik yang sudah membusuk.”

Malam itu juga, dengan bantuan ayah dan ibuku, aku mengemas seluruh barang-barangku dan bayiku. Aku tidak meninggalkan air mata di rumah itu.

Enam Bulan Kemudian

Aku duduk di balkon apartemen kecilku di Jakarta, menyesap teh hangat sambil melihat putraku yang tertidur pulas di boks bayinya. Angin malam berembus sejuk, membawa rasa lega yang tak ternilai harganya.

Proses perceraian berjalan cepat dan bersih. Christian kehilangan hak asuh dan diwajibkan membayar nafkah anak yang cukup besar, meskipun dia kini harus turun jabatan karena desas-desus perselingkuhannya mulai bocor di kantor. Kudengar dari teman lama, hubungannya dengan Bianca hancur berantakan dalam waktu tiga bulan setelah perceraian kami; mereka tidak siap menghadapi realitas tanpa fasilitas dan uang, dan saling menyalahkan atas kehancuran hidup masing-masing.

Sementara aku? Aku memiliki tabunganku, apartemenku, dan yang terpenting, harga diriku. Aku mulai mengambil beberapa proyek naskah iklan dari rumah sambil merawat anakku.

Orang tuaku benar. Seorang perempuan harus selalu berpendidikan, memiliki uangnya sendiri, dan tidak boleh menggantungkan hidup pada siapa pun. Kram kaki di malam bulan ketujuh itu bukanlah awal dari kehancuranku, melainkan alarm yang membangunkanku untuk menyelamatkan diriku dan putraku dari masa depan yang semu.

Namaku Mara. Aku dua puluh delapan tahun, seorang ibu tunggal, dan aku pemenang dari ceritaku sendiri.