MALAM SEBELUM PERNIKAHAN KAMI, AKU MENJUAL RUMAH YANG KUBAYAR DENGAN CICILAN DAN PENUH PERJUANGAN, LALU TERBANG JAUH KE LUAR NEGERI. SEMENTARA ITU, TUNANGANKU BENAR-BENAR KEHILANGAN AKALNYA.
Pada hari kedua setelah aku pulang ke kampung halamanku di Iloilo untuk mengunjungi makam kedua orang tuaku, tanpa sengaja aku melihat sebuah video yang memperlihatkan tunanganku sedang mencoba gaun pengantin bersama seorang mahasiswi miskin yang selama ini kami biayai pendidikannya.
Aku dan Chloe sudah saling mengenal selama sepuluh tahun.
Pada hari aku menerima lamaran Ethan, Chloe bahkan menangis dan berkata bahwa ia akan menganggapku seperti kakak kandungnya sendiri dan akan menjagaku seumur hidup.
Namun sekarang…
Gadis yang kubesarkan dan kurawat selama bertahun-tahun itu sedang mengenakan gaun pengantin yang aku rancang sendiri, sambil mencium pria yang akan menjadi suamiku.
Setelah beberapa menit terdiam, aku menelepon tunanganku.
“Aku dengar dari manajer butik pengantin kalau gaun utama pernikahan sudah kamu ambil. Apa kamu sedang menyiapkan kejutan untukku?”
Di seberang sana hening selama beberapa detik, lalu ia tertawa ringan seolah tidak terjadi apa-apa.
“Oh iya. Gaunnya agak berat, jadi aku minta asistenku membawanya ke laundry khusus terlebih dahulu.”
“Tinggallah beberapa hari lagi di kampung halamanmu. Jangan terburu-buru pulang. Aku masih menyiapkan kejutan untukmu.”
Aku tersenyum dan menjawab, “Baik.”
Begitu telepon ditutup, aku dengan tenang mengganti tiket penerbanganku ke tujuan luar negeri.
Mungkin memang lebih baik begini.
Lagipula, gaun itu… aku juga sudah tidak ingin memakainya lagi.
**1**
“Nona, penerbangan Anda ke Paris sudah berhasil dijadwalkan ulang. Ini boarding pass yang baru.”
“Terima kasih.”
Aku menerima secarik kertas tipis dari petugas bandara.
Ujung jariku terasa sangat dingin saat menyentuhnya, sampai terasa nyeri.
Ponsel di saku jaketku tiba-tiba bergetar.
Di layar muncul tiga kata:
**Ethan San Jose**
Aku menatap nama itu selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat telepon.
“Clara, apakah kamu mengganti tiketmu?”
Suara Ethan di seberang sana tetap tenang seperti biasanya.
“Ya.”
“Kenapa tiba-tiba menggantinya? Bukankah tadi siang kamu bilang akan terbang pulang hari ini?”
Aku mendengar suara kertas yang sedang dibolak-balik di latar belakang. Sepertinya ia masih sibuk mengurus dokumen pekerjaannya.
“Ada beberapa urusan yang masih harus kuselesaikan di kampung.”
Aku memandang keramaian di lobi bandara sambil menjawab pelan.
“Kalau begitu bagus.”
Ethan tertawa kecil.
“Udara di Iloilo memang menyenangkan. Tinggallah beberapa hari lagi untuk beristirahat.”
Ia berhenti sejenak, lalu suaranya menjadi lebih lembut.
“Oh ya, Chloe ingin merayakan ulang tahunnya yang ke-18 sebelum lulus kuliah di restoran yang ada di pulau resor yang sudah kita pesan.”
“Kamu sedang tidak di sini, jadi untuk sementara aku akan membantunya mempersiapkan semuanya.”
Tanpa sadar aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Kalian akan menggunakan lokasi pernikahan kita?”
“Ya.”
Nada suara Ethan terdengar sangat santai.
“Kasihan juga anak itu. Kita sudah membiayai sekolahnya selama bertahun-tahun. Dia sudah seperti anak kita sendiri.”
“Aku berpikir untuk menggunakan lokasi pernikahan kita sebagai tempat latihan pesta ulang tahunnya. Setidaknya biarlah impiannya menjadi seorang putri bisa terwujud.”
“Sayang sekali kalau tempat itu dibiarkan kosong. Kamu selalu berhati baik, jadi aku yakin kamu tidak akan keberatan, bukan?”
Aku tidak menjawab.

Dari seberang telepon, terdengar suara Chloe yang manja dan sengaja diperdengarkan kepadaku.
“Kak Ethan, setelan jas itu sangat cocok untukmu. Kamu terlihat seperti pengantinku yang sebenarnya.”
Ethan segera menutup mikrofon teleponnya. Suaranya menjadi samar, tetapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
“Jangan bercanda seperti itu. Jas ini akan kupakai saat hari pernikahanku.”
Kemudian ia kembali berbicara kepadaku.
“Clara, apakah kamu masih mendengarkan?”
“Ya.”
“Baiklah, kita lakukan seperti itu. Istirahatlah yang cukup di kampung. Jangan buru-buru pulang. Aku sedang menyiapkan kejutan untukmu.”
“Baik.”
Aku menutup telepon.
Lalu aku berjalan ke tempat sampah bandara, merobek tiket lama yang seharusnya membawaku kembali ke sisinya menjadi dua bagian.
Kemudian membuangnya ke dalam tempat sampah.
Masih ada lima jam sebelum penerbanganku ke Paris.
Sambil menarik koper, aku masuk ke sebuah kedai mi di dalam bandara.
“Satu mangkuk mi daging sapi, tanpa daun ketumbar.”

Ketika pesanan diantar, permukaan kuahnya masih dipenuhi daun ketumbar hijau segar.
Aku tidak marah.
Aku hanya mengambil sumpit, menunduk, lalu memunguti satu per satu daun ketumbar itu dalam diam.
Sama seperti daun ketumbar yang kupisahkan satu demi satu dari mangkuk mi, aku juga mulai memilah sisa-sisa hidupku di Manila. Menghapus Ethan dan Chloe dari masa depanku ternyata tidak sesulit yang kukira.
Ethan mengira aku adalah Clara yang penurut, yang selalu mengalah demi “kebaikan bersama.” Dia lupa bahwa sebelum aku menjadi tunangannya, aku adalah seorang manajer proyek yang terbiasa berpikir logis dan taktis.
Sambil menghabiskan mi dalam diam, aku membuka laptop.
Hal pertama yang kulakukan adalah menghubungi agen properti. Rumah dua lantai di Quezon City yang kubeli dengan tetesan keringatku sendiri—rumah yang rencananya akan kami tempati setelah menikah—sudah kuiklankan sejak seminggu lalu dengan harga di bawah pasar karena aku butuh uang tunai secepatnya. Kebetulan, hari ini ada pembeli tunas yang siap melunasi seluruh sisa cicilan dan membayar sisa hakku.
Aku menandatangani dokumen pengalihan hak milik secara digital, mentransfer seluruh dana ke rekening bank internasional, dan menyisakan saldo minimal di rekening Filipinaku.
Selanjutnya, aku mengirim pesan singkat kepada pemilik resor di pulau tempat pernikahan kami akan digelar:
“Sore, Pak. Ini Clara. Saya ingin membatalkan seluruh pesanan katering, dekorasi, dan sewa tempat untuk pernikahan tanggal 15 besok. Uang muka yang hangus tidak apa-apa. Tolong kosongkan lokasi pada hari itu. Terima kasih.”
Pemilik resor sempat bingung, mengingat Ethan baru saja mengonfirmasi penggunaan tempat untuk “pesta ulang tahun Chloe.” Namun, karena seluruh kontrak dan pembayaran atas namaku, dia tidak punya pilihan selain mematuhinya.
Aku menutup laptop. Jam di dinding bandara menunjukkan pukul 9 malam. Penerbanganku menuju Paris akan segera lepas landas. Aku mematikan kartu SIM lamaku, mematahkan wadahnya, dan membuangnya ke tempat sampah sebelum melewati gerbang pemeriksaan imigrasi.
Hari Pernikahan (Tiga Hari Kemudian)
Di sebuah pulau resor mewah di dekat Batangas, atmosfer mendadak berubah mencekam.
Chloe, yang mengenakan gaun pengantin rancanganku dengan senyum kemenangan, berdiri di lobi resor bersama Ethan. Mereka membawa rombongan teman-teman kuliah Chloe, bersiap untuk mengadakan “latihan pesta ulang tahun” yang sebenarnya adalah gladi resik pernikahan mereka di belakangku.
Namun, alih-alih disambut dengan dekorasi bunga putih dan karpet merah, mereka hanya mendapati lobi resor yang kosong melompong. Kursi-kursi ditumpuk, dan lampu gantung utama bahkan tidak dinyalakan.
“Apa-apaan ini?!” Ethan membentak manajer resor dengan wajah merah padam. “Saya sudah bilang kita akan memakai tempat ini hari ini! Di mana kateringnya? Di mana dekorasinya?!”
Manajer resor menatap Ethan dengan pandangan dingin, lalu menyerahkan selembar surat pembatalan resmi.
“Maaf, Tuan San Jose. Ibu Clara telah membatalkan seluruh rangkaian acara sejak tiga hari yang lalu. Seluruh biaya yang belum lunas sudah ditarik, dan hak sewa tempat ini sudah berakhir. Kami mohon Anda dan rombongan Anda segera meninggalkan area resor karena tempat ini akan digunakan untuk acara lain.”
Ethan membeku. “Membatalkan? Tidak mungkin! Dia sedang berada di Iloilo!”
Ethan segera merogoh saku jasnya dan mencoba menghubungi nomor teleponku.
“Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi…”
Jantung Ethan mulai berdetak tidak karuan. Rasa panik yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mendadak menyerang. Ia langsung menelepon ke kantor agen properti yang mengurus rumah kami.
“Halo? Saya Ethan, tunangan Clara. Saya ingin menanyakan tentang renovasi rumah kami di Quezon City—”
“Oh, Tuan San Jose?” suara agen di seberang terdengar heran. “Ibu Clara sudah menjual rumah itu tiga hari yang lalu. Pembeli baru bahkan sudah mulai memindahkan barang-barang mereka pagi ini. Apakah Ibu Clara tidak memberi tahu Anda?”
Ponsel di tangan Ethan hampir saja terjatuh. Rumah itu sudah dijual. Pernikahan dibatalkan. Clara… menghilang.
Tiba-tiba, Chloe mendekat sambil merengek, memegang lengan jas Ethan dengan manja. “Kak Ethan, ada apa? Kenapa tempatnya sepi sekali? Bagaimana dengan pesta ulang tahunku? Teman-temanku sudah datang semua…”
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Ethan menghempaskan tangan Chloe dengan kasar hingga gadis itu terhuyung ke belakang.
“Diam kamu, Chloe!” bentak Ethan, napasnya memburu. Matanya beralih menatap gaun pengantin yang dikenakan Chloe—gaun yang seharusnya dipakai oleh Clara. Detik itu juga, Ethan menyadari sesuatu yang mengerikan.
Clara sudah tahu semuanya.
Clara tidak sedang beristirahat di Iloilo. Clara telah mengemas seluruh hidupnya, menjual semua yang ia miliki, dan meninggalkan mereka tanpa menyisakan apa pun selain abu dari pengkhianatan mereka sendiri.
Ethan terduduk di lantai lobi resor yang dingin, menjambak rambutnya sendiri seperti orang yang kehilangan akal. Dia baru saja kehilangan wanita yang mencintainya dengan tulus selama sepuluh tahun, demi seorang gadis egois yang bahkan tidak bisa membiayai hidupnya sendiri.
Satu Tahun Kemudian
Menara Eiffel terlihat samar di balik jendela apartemen studionya yang hangat di Paris.
Aku menyesap kopi hitamku, menikmati aroma musim gugur yang menenangkan. Di atas meja kerja, beberapa sketsa rancangan busana teranyar milikku berserakan, siap dikirim ke rumah mode tempatku bekerja sekarang. Di Prancis, aku tidak lagi dikenal sebagai Clara yang malang; aku adalah Clara, seorang perancang busana yang mandiri dan dihargai.
Beberapa bulan lalu, seorang teman lama dari Manila mengirimkan kabar.
Hubungan Ethan dan Chloe hancur berantakan sesaat setelah aku pergi. Ethan harus membayar ganti rugi yang besar karena pembatalan sepihak kontrak kerja sama yang menggunakan nama rumah kami sebagai jaminan. Pria itu kini hidup terpuruk, menyewa apartemen sempit di pinggiran kota, dan setiap hari dihantui oleh rasa bersalah yang membuatnya hampir gila. Sementara Chloe dikeluarkan dari kampusnya karena tidak ada lagi yang membayar biaya semesternya, dan ia harus kembali ke kampung halamannya dengan nama yang sudah tercoreng.
Aku tersenyum kecil melihat pesan itu, lalu menghapusnya tanpa minat.
Mereka mengira telah merebut kebahagiaanku saat memakai gaun dan tempat pernikahanku. Namun mereka lupa, kebahagiaan dan kesuksesan itu melekat pada diriku, bukan pada benda-benda itu. Dengan meninggalkan mereka, aku tidak kehilangan apa pun. Merekalah yang kehilangan satu-satunya orang yang tulus di hidup mereka.
Aku menutup laptop, memakai syal hangatku, dan melangkah keluar menuju jalanan Paris yang indah. Udara dingin menyentuh wajahku, tetapi kali ini, hatiku terasa sangat hangat.