Posted in

SELAMA BERTAHUN-TAHUN AKU MERAWAT BAYI DARI KELUARGA-KELUARGA TERKAYA DI MANILA, TAPI ANAKKU SENDIRI MENYEBUT CARAKU “KUNO” — HINGGA CUCUKU TERBARING DINGIN DI DALAM BOKS BAYI DAN DIA BERLUTUT DI DEPAN KAMARKU SAMBIL MENANGIS*

*SELAMA BERTAHUN-TAHUN AKU MERAWAT BAYI DARI KELUARGA-KELUARGA TERKAYA DI MANILA, TAPI ANAKKU SENDIRI MENYEBUT CARAKU “KUNO” — HINGGA CUCUKU TERBARING DINGIN DI DALAM BOKS BAYI DAN DIA BERLUTUT DI DEPAN KAMARKU SAMBIL MENANGIS**

**Bagian 1**

Aku sebenarnya sudah memiliki kontrak sebagai spesialis perawatan bayi baru lahir untuk sebuah keluarga yang tinggal di BGC. Bayarannya mencapai **Rp80 juta** untuk satu bulan.

Mereka sudah memesan jasaku jauh-jauh hari.

Aku mendapat kamar pribadi.

Ada sopir yang menjemput dan mengantarku.

Tugasku hanya merawat bayi yang baru lahir dan membantu ibunya pulih setelah melahirkan.

Namun seminggu sebelum aku mulai bekerja, putriku, Carmela, menelepon.

Suaranya terdengar lemah dari seberang telepon.

“Ma… aku sudah melahirkan.”

Hanya satu kalimat.

Tetapi aku langsung membatalkan kontrak itu.

Agenku sampai bertanya tiga kali.

“Bu Amelia, apakah Anda yakin? Tidak mudah mendapatkan tarif setinggi ini lagi.”

Aku menatap foto cucuku yang baru lahir.

Kulitnya masih kemerahan.

Matanya terpejam.

Berbaring di pelukan putriku.

Aku menjawab:

“Uang bisa dicari lagi. Tapi ini pertama kalinya anakku melahirkan. Aku tidak boleh tidak berada di sisinya.”

Namaku Amelia Ramos.

Usiaku lima puluh tiga tahun.

Di Manila, orang-orang mengenalku sebagai spesialis perawatan bayi baru lahir.

Tetapi dalam bahasa yang lebih sederhana, aku hanyalah seorang pengasuh bayi yang berpengalaman merawat bayi baru lahir dan ibu pascamelahirkan.

Sudah delapan belas tahun aku melakukan pekerjaan ini.

Dari rumah-rumah sederhana di Cavite hingga mansion mewah di Makati yang memiliki kolam renang pribadi, semuanya pernah kumasuki.

Aku pernah merawat bayi prematur.

Bayi dengan penyakit kuning.

Bayi yang sulit menyusu.

Bayi yang menangis sepanjang malam.

Ibu yang mengalami saluran ASI tersumbat.

Ibu yang hampir tidak pernah tidur.

Ibu yang gemetar karena kelelahan dan depresi setelah melahirkan.

Aku tidak mengatakan bahwa aku yang terbaik.

Tetapi hanya dari satu tangisan bayi, dari melihat apakah bibirnya kering atau lembap, apakah tangannya menggenggam erat atau mulai melemas, aku biasanya sudah tahu jika ada sesuatu yang tidak beres.

Namun aku tidak pernah menyangka bahwa di rumah anakku sendiri, delapan belas tahun pengalaman bisa dikalahkan oleh sebuah aplikasi di ponsel.

Ketika aku menarik koper menuju apartemen Carmela di Pasig, hujan turun deras.

Dari lobi, gedung tinggi itu berkilauan di tengah kota seperti kotak kaca raksasa.

Petugas keamanan tersenyum ketika melihatku.

“Nenek datang mengunjungi bayinya?”

Aku tersenyum kembali.

Dadaku terasa hangat.

Aku pikir mulai hari itu aku bisa menebus semua kekurangan yang pernah kualami sebagai ibu.

Carmela baru berusia sepuluh tahun ketika suamiku meninggal akibat kecelakaan di lokasi konstruksi.

Dia meninggalkanku bukan hanya sebagai janda, tetapi juga dengan tumpukan utang.

Aku tidak punya pilihan selain menitipkan Carmela kepada kakakku di Laguna sementara aku pergi ke Manila untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Pada masa-masa itu, setiap kali menerima gaji, aku hanya menyisakan sedikit uang untuk ongkos dan makan.

Semua sisanya kukirim kepada Carmela agar dia bisa bersekolah di sekolah swasta.

Aku selalu merasa berutang kepada anakku.

Aku berutang atas malam-malam ketika dia demam dan aku tidak ada di sampingnya.

Aku berutang atas rapat sekolah yang harus dia hadiri sendirian.

Aku bahkan berutang pada hari kelulusannya, karena ketika dia naik ke panggung menerima ijazah, aku sedang menggendong anak orang lain di rumah majikanku.

Karena itulah sekarang aku ingin menebus semuanya.

Aku membawa koper besar.

Termometer.

Buku catatan jadwal menyusui.

Kain muslin.

Minyak pijat bayi yang lembut.

Popok untuk bayi baru lahir.

Aku bahkan membeli bahan-bahan untuk membuat sup ayam dengan pepaya untuk Carmela.

Tetapi belum sampai sepuluh menit aku berada di apartemen itu, menantuku Darren sudah mengernyitkan dahi.

Dia berdiri di depan pintu kamar sambil memegang ponsel.

Memandangku dari atas sampai bawah.

“Apakah Ibu sudah mencuci tangan?”

Aku terdiam.

“Sudah. Aku juga sudah memakai hand sanitizer di lobi.”

Dia langsung menyodorkan botol sanitizer lagi.

“Itu belum cukup. Menurut BabyNest AI, orang tua lebih sering membawa bakteri dari luar melalui pakaian mereka. Silakan gunakan lagi dan ganti pelindung pakaian sebelum mendekati Miko.”

Miko adalah nama cucuku.

Aku menatap bayi yang sedang tidur di dalam boks.

Kulitnya tampak agak kekuningan.

Bibirnya kering.

Tangisannya tidak kuat. Kecil dan terputus-putus, seperti bayi yang kelelahan.

Aku langsung merasa khawatir.

Aku hendak berbicara ketika Darren menutup tirai.

“Jangan buka tirai. Kata aplikasinya, cahaya yang terlalu terang bisa merusak ritme tidur bayi.”

Aku bertanya:

“Sudah berapa kali dia buang air kecil hari ini?”

Carmela bersandar di tempat tidur dengan wajah pucat.

Dia menoleh kepada Darren.

Darren membuka ponselnya, menggulir layar, lalu menjawab:

“Tiga kali. Masih normal.”

Aku mengerutkan dahi.

“Untuk bayi baru lahir, tiga popok basah dalam sehari itu sedikit. Dan bibirnya juga kering. Kita harus memastikan apakah dia benar-benar mendapatkan cukup ASI.”

Darren tertawa.

Tawa yang membuat hatiku dingin.

“Bu, zaman sekarang bukan lagi menebak-nebak hanya dengan melihat. BabyNest AI punya pelacak data. Menurut aplikasi, tiga kali masih dalam batas yang dapat diterima.”

Aku menjawab dengan tenang:

“Aplikasi hanya bekerja berdasarkan data yang kalian masukkan. Kalau datanya salah, hasilnya juga salah. Besok sebaiknya kita bawa bayi ke dokter anak atau pusat kesehatan untuk memeriksa penyakit kuningnya.”

Wajah Darren langsung berubah.

“Ibu baru datang, sudah mau membawa bayi ke dokter? Jangan membuat Carmela panik.”

Carmela menghela napas.

“Ma, aku tahu Ibu berpengalaman. Tapi Darren juga sudah banyak belajar. Cara mengasuh anak sekarang sudah berbeda. Tidak semua bayi kuning berarti masalah besar.”

Rasanya seperti ada jarum menusuk dadaku.

Aku memilih diam.

Malam harinya, aku memasak bubur encer dengan jahe agar tubuh Carmela hangat.

Belum sempat kusajikan ke mangkuk, Darren sudah masuk ke dapur.

“Itu apa?”

“Bubur jahe. Anakku baru melahirkan. Tubuhnya mudah kedinginan. Dia perlu makanan hangat.”

Dia langsung meringis.

“Menurut BabyNest AI, jahe bisa mengubah aroma ASI dan membuat bayi menolak menyusu.”

Aku meletakkan sendok sayur.

“Hampir seharian istrimu tidak makan apa-apa. Kalau ibu tidak makan dan tidak tidur, dari mana ASI akan keluar?”

Darren mengambil panci itu.

Lalu menuangkan seluruh bubur ke wastafel.

Di belakangnya berdiri Carmela.

Menunduk.

Diam.

Aku menatap bubur panas yang mengalir ke saluran pembuangan.

Tanganku gemetar.

Bukan karena sayang pada buburnya.

Tetapi karena aku melihat anakku sendiri.

Dia tahu aku sedang dihina.

Tetapi dia memilih untuk diam.

Tengah malam, aku mendengar Miko menangis.

Itu bukan tangisan bayi yang hanya rewel.

Tangisan itu serak.

Terputus-putus.

Seperti tenggorokan kecilnya sudah terlalu lelah untuk menangis.

Aku langsung bangun dan berjalan menuju kamar mereka.

Pintunya terkunci.

Aku mengetuk perlahan.

“Carmela, buka pintunya. Biar Mama lihat sebentar keadaan bayi.”

Dari dalam terdengar suara dingin Darren.

“Bu, kembali saja ke kamar. Menurut BabyNest AI, bayi tidak boleh digendong setiap kali menangis. Dia harus belajar menenangkan dirinya sendiri.”

Aku berusaha menahan amarah.

“Darren, Miko tidak sedang mencari perhatian. Tangisannya sudah melemah. Buka pintunya.”

Dia tidak membuka pintu.

Beberapa saat kemudian terdengar suara Carmela.

“Mungkin Mama hanya ingin memeriksa sebentar…”

Namun Darren langsung memotongnya.

“Kamu mau rutinitas yang sudah kita buat rusak? Jadwalnya sudah diatur aplikasi. Kalau kita terus mengikuti cara lama, anak kita tidak akan belajar mandiri.”

Aku berdiri di depan pintu.

Punggungku terasa dingin.

Tangisan bayi itu masih terdengar.

Lalu perlahan semakin pelan.

Semakin pelan.

Sampai akhirnya kamar itu mendadak sunyi.

Aku tidak merasa lega.

Justru rasa takutku semakin besar.

Aku mengetuk pintu dengan keras.

“Darren! Buka sekarang juga!”

Tidak ada jawaban.

Aku hampir mengambil ponsel untuk menelepon petugas keamanan ketika pintu akhirnya terbuka.

Carmela berdiri di sana.

Wajahnya pucat pasi.

Di pelukannya ada Miko.

Tubuh bayi itu terasa sangat lemas di balik selimut.

Bibir kecilnya tampak pucat.

Carmela menatapku.

Suaranya pecah oleh ketakutan.

“Ma… kenapa dia tidak bangun meskipun sudah kupanggil berkali-kali?”

Bagian 2

Mendengar kalimat itu, seluruh bulu kudukku berdiri. Dorongan kepanikan yang biasa kuhadapi di ruang bersalin langsung mengambil alih tubuhku. Aku merebut Miko dari pelukan Carmela tanpa memedulikan Darren yang masih berdiri memegang ponselnya dengan wajah linglung.

Tubuh cucuku terasa sangat dingin, ringkih, dan terkulai lemas seperti boneka kain. Kulitnya yang kemarin kemerahan kini berubah menjadi kuning pekat hingga ke area dada, dan bibir mungilnya kering mengelupas.

“Nyalakan lampu! Sekarang!” bentakku, suaraku menggelegar memecah keheningan apartemen.

Darren yang tampak tersentak langsung menekan sakelar lampu. Di bawah cahaya terang, aku menepuk-nepuk telapak kaki kecil Miko. Tidak ada respons. Biasanya, bayi baru lahir akan menggeliat atau menangis pelan jika distimulus. Miko hanya memberikan lenguhan sangat tipis, matanya terpejam rapat, dan napasnya pendek-pendek.

“Dia mengalami dehidrasi berat dan koma karena kadar bilirubin yang terlalu tinggi!” kataku, tanganku bergerak cepat memeriksa popoknya. Kering. Sama sekali tidak ada air seni sejak terakhir kali diisi. “Aplikasi sialanmu itu tidak tahu kalau istrimu kekurangan produksi ASI dan anakmu sedang sekarat karena penyakit kuning!”

“T-Tapi… menurut BabyNest AI, fase tidur bayi baru lahir memang bisa sangat dalam—” Darren mencoba membela diri, meskipun jarinya yang memegang ponsel kini gemetar hebat.

“Diam kamu!” teriakku, menatapnya dengan kemarahan yang tak lagi bisa kubendung. “Anak ini tidak sedang tidur! Dia tidak punya tenaga lagi untuk bangun! Cari kunci mobil atau panggil taksi sekarang juga! Kita ke Medical City!”

Carmela langsung menjerit histeris. Dia jatuh terduduk di lantai, menjambak rambutnya sendiri sambil menangis meraung-raung. “Miko… Ma, tolong Miko, Ma! Ini salahku… aku tidak mendengarkan Ibu!”

Perjalanan di Ambang Maut

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit di tengah guyuran hujan badai kota Pasig, aku tidak berhenti memeluk Miko di kursi belakang taksi. Aku menempelkan tubuhnya ke dadaku, mencoba membagikan kehangatan tubuhku yang juga mulai mendingin karena ketakutan. Di depanku, Darren terus-menerus melihat layar ponselnya, bukan lagi melihat aplikasi pengasuhan, melainkan melacak rute tercepat menuju ruang gawat darurat.

Begitu taksi berhenti di depan drop-off rumah sakit, aku langsung berlari menerobos pintu kaca tanpa menunggu menatuku.

“Bayi baru lahir, usia lima hari! Letargi total, curiga dehidrasi berat dan hiperbilirubinemia!” teriakku kepada perawat jaga.

Para petugas medis yang mengenali seragam khusus dan cara bicaraku yang taktis langsung bertindak cepat. Miko direbut dari gendonganku dan dilarikan ke ruang inkubator darurat. Dokter anak yang bertugas malam itu segera memeriksa mata dan kulit Miko, lalu menoleh ke arah kami dengan wajah sangat serius.

“Ibunya ke mana? Apakah bayi ini diberi minum? Ini kasus dehidrasi paling buruk yang saya lihat minggu ini. Kadar bilirubinnya pasti sangat tinggi hingga menyerang sistem sarafnya. Sedikit saja terlambat, bayi ini bisa mengalami kerusakan otak permanen atau… tidak tertolong.”

Mendengar penjelasan dokter, Darren ambruk di koridor rumah sakit. Ponsel mahal yang selama ini menjadi “tuhannya” dalam mengasuh anak jatuh tercampak di lantai marmer, layarnya retak, menampilkan notifikasi dari aplikasi BabyNest: “Jadwal tidur bayi Anda berjalan dengan sempurna.”

Sebuah ironi yang menjijikkan.

Penyesalan di Depan Kamar

Tiga hari berikutnya adalah neraka yang berjalan lambat bagi keluarga kami. Miko harus dipasang selang infus di tali pusarnya karena pembuluh darah di tangannya terlalu kecil dan kolaps. Matanya ditutup kain hitam, dan tubuh kecilnya yang telanjang diletakkan di bawah sinar biru fototerapi yang menyengat.

Carmela dan Darren dilarang masuk ke ruang NICU kecuali untuk mengantarkan sisa ASI yang berhasil diperas dengan susah payah oleh anakku.

Pada malam ketiga, saat jam besuk telah usai dan koridor rumah sakit mulai sepi, aku duduk di kursi tunggu sambil memandangi botol minyak pijat bayi dan kain muslin yang kubawa dari rumah. Pundakku terasa sangat lelah.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang terseret.

Itu Darren dan Carmela.

Menatuku yang biasanya angkuh, yang selalu memandangku rendah dari atas ke bawah seolah aku hanyalah pembantu tua berpendidikan rendah, tiba-tiba menjatuhkan dirinya di atas lantai rumah sakit, tepat di depan lututku.

Dia bersujud, memegang ujung sandalku yang basah karena sisa air hujan, dan menangis tersedu-sedu hingga pundaknya berguncang hebat.

“Ibu… maafkan saya,” ratap Darren, suaranya serak dan dipenuhi penyesalan yang teramat dalam. “Saya bodoh. Saya mengira teknologi dan teori di internet bisa menggantikan segalanya. Saya hampir membunuh anak saya sendiri karena kesombongan saya. Tolong jangan pergi, Bu… bimbing kami. Kami tidak tahu apa-apa tanpa Ibu.”

Carmela ikut berlutut di samping suaminya, memeluk kakiku sambil menangis. “Ma… maafkan aku karena telah diam saat Darren menghina Ibu. Maaf karena menyebut cara Ibu kuno. Aku hampir kehilangan Miko karena kebodohanku…”

Akhir dari Sebuah Kesombongan

Aku menatap mereka berdua yang bersujud di bawah kakiku. Tidak ada rasa puas atau menang dalam hatiku. Yang ada hanyalah rasa iba seorang ibu melihat anak-anaknya yang baru saja ditampar oleh kenyataan hidup yang keras.

Aku membungkuk, lalu perlahan menarik tubuh Darren dan Carmela agar berdiri. Aku menghapus air mata di pipi putriku.

“Teknologi itu bagus untuk mencatat data,” kataku dengan suara tenang namun tegas. “Tapi mesin tidak punya insting. Aplikasi tidak bisa merasakan hangatnya kulit bayi, tidak bisa mencium bau napasnya, dan tidak bisa mendengar frekuensi tangisannya yang membutuhkan pertolongan. Pengalaman delapan belas tahunku merawat anak-anak orang kaya di Manila bukan dibeli dari aplikasi unduhan, melainkan dibayar dengan malam-malam tanpa tidur dan kepekaan hati.”

Aku menggenggam tangan mereka berdua.

“Mulai besok, buang semua aplikasi pelacak itu. Gunakan mata kalian, gunakan tangan kalian, dan yang terpenting… gunakan hati kalian untuk membaca anak kalian sendiri. Ibu akan tinggal di sini sampai Miko benar-benar sehat.”

Dua minggu kemudian, Miko akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Kadar bilirubinnya telah normal, dan berat badannya mulai naik karena kini Carmela menyusuinya dengan teknik perlekatan yang benar—yang kuajarkan sendiri dengan sabar di apartemen mereka.

Kini, tidak ada lagi tirai yang tertutup rapat. Setiap pagi, jendela apartemen dibuka lebar agar sinar matahari pagi bisa masuk dan menghangatkan tubuh cucuku. Dan setiap kali Miko mulai merengek kecil, Darren tidak lagi buru-buru membuka ponselnya. Pria itu akan langsung menggendong anaknya, mencium pipinya, lalu menoleh kepadaku sambil tersenyum penuh hormat:

“Bu, kelihatannya Miko sudah haus. Tolong lihat, apakah posisi gendonganku sudah benar?”

Aku tersenyum dari meja dapur sambil mengaduk sup ayam pepaya hangat untuk Carmela. Di rumah ini, teknologi telah kembali ke tempatnya sebagai alat bantu, sementara ketulusan dan pengalaman seorang ibu kembali memegang kendali yang sesungguhnya.