Posted in

SUAMIKU MENGUSIRKU SETELAH AKU MEMPERTARUHKAN NYAWAKU UNTUK MENYELAMATKAN IBUNYA, HANYA AGAR DIA BISA MEMBAWA MASUK WANITA YANG MENGAKU SEBAGAI PEWARIS KELUARGA KAYA. MEREKA TIDAK TAHU BAHWA JAM TANGAN TUA YANG MEREKA HINA ADALAH KUNCI MENUJU SEBUAH IMPERIUM RAKSASA YANG TAK AKAN PERNAH BISA MEREKA JANGKAU*

*SUAMIKU MENGUSIRKU SETELAH AKU MEMPERTARUHKAN NYAWAKU UNTUK MENYELAMATKAN IBUNYA, HANYA AGAR DIA BISA MEMBAWA MASUK WANITA YANG MENGAKU SEBAGAI PEWARIS KELUARGA KAYA. MEREKA TIDAK TAHU BAHWA JAM TANGAN TUA YANG MEREKA HINA ADALAH KUNCI MENUJU SEBUAH IMPERIUM RAKSASA YANG TAK AKAN PERNAH BISA MEREKA JANGKAU**

“Mulai sekarang, kamu tidak punya hak lagi untuk tinggal di rumah ini!”

Teriak Marco dengan dingin di tengah ruang tamu.

Aku terpaku.

Luka bekas operasiku masih terasa sakit.

Baru tiga bulan yang lalu aku memutuskan menjalani operasi berisiko tinggi demi menyelamatkan nyawa ibunya.

Namun sekarang, pria yang pernah berjanji akan mencintaiku seumur hidup justru melempar koperku keluar rumah.

Di sampingnya berdiri Bianca, seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian mewah.

Dia tersenyum sinis sambil memandangku penuh penghinaan.

“Marco, untuk apa kamu masih berbicara dengannya?”

“Perempuan seperti dia tidak akan pernah cocok dengan dunia tempat kita hidup.”

Aku menatapnya lurus.

“Dan siapa sebenarnya kamu?”

Dia tersenyum tipis.

“Aku adalah wanita yang akan menjadi nyonya rumah ini.”

“Dan aku juga satu-satunya putri dari salah satu keluarga terkaya di negara ini.”

Marco segera menggenggam tangannya.

Tatapan lembut yang diberikannya kepada Bianca adalah sesuatu yang tak pernah kulihat selama pernikahan kami.

“Bianca akan membantu masa depanku.”

“Kamu…”

Dia memandangku dari kepala hingga kaki.

“Hanyalah beban.”

Aku tertawa.

Tawa yang pahit.

Tiga tahun yang lalu.

Ketika bisnisnya hampir bangkrut.

Aku diam-diam berkorban untuk membantunya.

Ketika ibunya membutuhkan operasi darurat.

Aku tidak berpikir dua kali untuk menyelamatkannya.

Tetapi pada akhirnya…

Ternyata nilainya hanya “beban”.

Ibunya turun dari tangga.

Tatapannya kepadaku juga sama dinginnya.

“Anakku benar.”

“Perempuan yang tidak bisa memberikan manfaat apa pun seharusnya tahu kapan harus pergi.”

Aku mengepalkan tangan erat-erat.

Luka di pinggangku terasa nyeri.

Namun kata-kata mereka jauh lebih menyakitkan.

Tiba-tiba Bianca memperhatikan jam tangan tuaku.

“Oh?”

“Jam tangan itu terlihat kuno sekali.”

Itu adalah jam tangan lama yang sudah kupakai sejak kecil.

Kacanya penuh goresan.

Talinya juga sudah memudar.

Dia tertawa mengejek.

“Kelihatannya seperti barang bekas murah.”

“Berikan saja kepadaku untuk dijadikan pajangan.”

Tanpa menunggu jawabanku.

Dia langsung merampas jam itu dari tanganku.

Lalu dengan sengaja membantingnya ke lantai marmer.

**KRAK!**

Kaca jam itu pecah.

Tawa memenuhi seluruh ruang tamu.

Marco bahkan tidak berusaha membelaku.

“Aku akan memberimu uang.”

“Jangan membuat keributan hanya karena barang murahan.”

Perlahan aku mengambil jam tangan itu.

Kacanya memang pecah.

Tetapi di balik bagian yang retak muncul sebuah simbol emas yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Simbol seekor burung misterius.

Aku membersihkannya dengan hati-hati.

Perlahan wajahku menjadi tenang.

Tiga tahun.

Aku telah memberi Marco terlalu banyak kesempatan.

Mungkin sudah waktunya mengakhiri semuanya.

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi.

Aku meninggalkan rumah itu dalam diam.

Di belakangku, mereka masih terus mengejek dan menertawakanku.

Mereka tidak tahu.

Jam tangan itu bukan jam tangan biasa.

Itu adalah satu-satunya kunci milik pewaris sah imperium perhiasan terbesar di Asia.

Dan juga benda yang selama bertahun-tahun dicari oleh begitu banyak orang.

Begitu aku keluar dari gerbang.

Jam tangan itu tiba-tiba bergetar.

Layar tersembunyi di dalamnya menyala.

Sebuah pesan muncul.

**“Pewaris sah telah terverifikasi.”**

**“Otoritas tertinggi sedang diaktifkan.”**

Hanya dalam beberapa detik.

Deretan mobil hitam mewah mulai berdatangan dari ujung jalan.

Konvoinya begitu panjang seolah tidak ada habisnya.

Satu per satu pria berpakaian jas hitam turun dari kendaraan.

Di depan mereka berdiri seorang pria tua berambut perak.

Begitu melihatku, dia langsung membungkuk hormat.

“Nona Isabella.”

“Akhirnya kami menemukan Anda.”

Aku bahkan belum sempat menjawab.

Pintu rumah di belakangku terbuka dengan keras.

Marco dan Bianca berlari keluar.

Begitu melihat pemandangan itu.

Mereka langsung membeku.

Pria tua itu mendekat dan menyerahkan sebuah map tebal kepadaku.

“Kami baru saja menyelesaikan akuisisi seluruh utang keluarga Nona Bianca.”

“Semua aset mereka kini berada di bawah kendali Anda.”

Wajah Bianca langsung pucat.

“Tidak mungkin…”

“Ayahku bilang tidak ada yang mampu membeli perusahaan kami…”

Pria tua itu tersenyum tipis.

“Dulu memang tidak.”

“Tetapi pagi ini, seluruh kekuasaan resmi telah dialihkan kepada pewaris yang sesungguhnya.”

Aku menerima map tersebut.

Saat membuka halaman terakhir.

Aku menemukan sebuah laporan rahasia.

Sebuah dokumen yang mampu menghancurkan dunia Bianca dan Marco hanya dalam semalam.

Aku menatap mereka untuk terakhir kalinya.

Lalu perlahan membuka halaman pertama.

Dan ketika Marco melihat nama yang tertulis di sana…

Warna wajahnya langsung menghilang.

Karena nama yang tertera dalam dokumen itu…

Adalah namanya sendiri.

Karena nama yang tertera dalam dokumen itu… adalah namanya sendiri, tercatat sebagai debitur utama yang seluruh aset dan sertifikat rumah ibunya telah diagunkan ke perusahaan milik keluarga Bianca—yang kini, dalam hitungan detik, telah resmi menjadi milikku.

Marco melangkah mundur hingga tubuhnya membentur tiang gerbang. Napasnya memburu, matanya membelalak menatap lembaran kertas di tanganku.

“I-Isabella… apa artinya ini?” suara Marco bergetar hebat, kesombongan yang beberapa menit lalu ia pamerkan lenyap tanpa bekas. “Bagaimana bisa namaku ada di sana? Perusahaan Bianca yang memegang dokumen rumah ibuku!”

Pria tua berambut perak di sampingku, yang merupakan kepala pelayan sekaligus orang kepercayaan mendiang kakekku, melangkah maju. Suaranya terdengar menggelegar di sela keheningan jalanan.

“Nona Bianca yang Anda agungkan ini, Tuan Marco, telah menipu Anda,” ucap pria tua itu dengan nada dingin yang menusuk. “Keluarganya sudah berada di ambang kebangkrutan total sejak enam bulan lalu. Dia mendekati Anda hanya untuk memanfaatkan sisa aset perusahaan Anda demi menutupi utang-utang judi ayahnya. Dan pagi ini, Imperium Vane—keluarga asli Nona Isabella—telah membeli seluruh saham, utang, dan aset keluarga Bianca. Termasuk surat utang yang Anda tanda tangani ini.”

Aku menatap Bianca. Wanita yang tadinya tertawa anggun dengan pakaian mewahnya itu kini jatuh terduduk di atas aspal. Tas bermereknya terlepas, dan wajahnya dipenuhi keringat dingin.

“Tidak… ini tidak mungkin!” jerit Bianca histeris. “Ayahku bilang kami akan segera mendapat suntikan dana! Jam tangan tua itu… bagaimana mungkin barang rongsokan itu bisa mengendalikan aset triliunan?!”

Aku mengangkat jam tangan tua yang kacanya telah retak akibat ulah Bianca. Di balik pecahan itu, layar digital tersembunyi memancarkan sinar holografik lambang burung Phoenix emas—simbol otoritas tertinggi Imperium Vane yang menguasai jalur perdagangan perhiasan dan perbankan di seluruh Asia. Jam ini bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan sebuah kunci biometrik terenkripsi militer yang hanya bisa diaktifkan oleh darah murni keturunan Vane.

“Kamu menghina jam tangan ini, Bianca,” kataku dengan suara tenang, namun sarat akan penekanan. “Sama seperti kamu dan Marco menghina hidupku. Kamu mengira bisa membeli segalanya dengan kemewahan palsumu, sementara aku memegang kunci dari dunia yang bahkan tak bisa kamu bayangkan dalam mimpi terliarmu.”

Pembalasan yang Sempurna

Marco merangkak mendekatiku, mencoba meraih ujung sepatuku. Air mata penyesalan—atau lebih tepatnya ketakutan akan kemiskinan—mulai mengalir di pipinya.

“Bella, maafkan aku! Aku khilaf!” ratap Marco, suaranya parau. “Aku tidak tahu kalau kamu adalah putri keluarga Vane! Ibuku… ibuku sakit, Bella. Kamu sudah menyelamatkannya dengan operasimu, tolong jangan usir kami dari rumah itu! Aku mencintaimu, Bella, bukan Bianca! Dia yang merayuku!”

Di ambang pintu rumah, ibu Marco yang tadi memandangku penuh penghinaan, kini berdiri dengan tubuh gemetar saking syoknya. Wajahnya yang pucat menatap konvoi puluhan mobil mewah yang mengepung rumahnya.

Aku menarik kakiku mundur, menolak disentuh oleh pria yang telah membuangku seperti sampah setelah aku mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Luka di pinggangku akibat operasi donor organ tiga bulan lalu tiba-tiba tidak terasa sakit lagi. Rasa sakit itu telah digantikan oleh kebebasan yang mutlak.

“Tiga tahun lalu, saat kamu hampir bangkrut, aku diam-diam meminta kakekku mengalirkan dana bantuan tanpa memberitahumu identitasku, karena aku ingin kamu mencintaiku apa adanya,” kataku, menatap Marco dengan pandangan kosong. “Tiga bulan lalu, aku memberikan sebagian dari organ tubuhku agar ibumu bisa hidup. Aku memberikan segalanya untuk keluarga ini. Tapi hari ini, kamu melempar koperku dan menghancurkan satu-satunya peninggalan ibuku.”

Aku menoleh ke arah kepala pelayan pribadiku. “Laksanakan prosedur pengosongan aset. Sita rumah ini, sita perusahaan Marco, dan bekukan seluruh rekening mereka untuk membayar utang yang jatuh tempo hari ini. Jangan sisakan satu peso pun.”

“Baik, Nona Isabella. Perintah Anda adalah hukum bagi kami,” jawab pria tua itu dengan hormat.

Akhir dari Sebuah Ilusi

Petugas berjas hitam segera bergerak maju membawa dokumen penyitaan resmi. Marco berteriak histeris, sementara Bianca menangis meraung-raung saat menyadari bahwa seluruh status sosial dan kekayaannya telah lenyap dalam sekejap mata. Mereka yang tadinya merasa berada di puncak dunia, kini terhempas ke dasar jurang terdalam akibat keserakahan dan kesombongan mereka sendiri.

Aku membalikkan badan, melangkah menuju mobil Rolls-Royce hitam yang pintunya telah dibukakan untukku. Sebelum masuk, aku membuang sisa pecahan kaca jam tangan itu ke arah mereka.

“Nikmatilah dunia baru kalian,” bisikku pelan.

Pintu mobil tertutup rapat, meredam suara tangisan dan penyesalan sia-sia di luar sana. Kendaraan mewah itu perlahan bergerak membelah jalanan, membawaku kembali ke tempat yang seharusnya—menuju takhta imperium raksasa yang selama ini menantiku. Aku telah selesai menjadi pelayan bagi orang-orang yang tidak tahu bersyukur. Kini, saatnya sang ratu memimpin jalannya sendiri.