Posted in

AKU MENGEMBALIKAN PASANGAN LIVE-IN KU KEPADA IBUNYA KARENA SEMUA MASAKAN DAN BAJU YANG DIA SETRIKA SELALU HANGUS, TAPI DI DETIK TERAKHIR AKU MENGETAHUI ADA ALASAN YANG JAUH LEBIH BERAT MENGAPA DIA SELALU MELAMUN DAN TIDAK FOKUS**

AKU MENGEMBALIKAN PASANGAN LIVE-IN KU KEPADA IBUNYA KARENA SEMUA MASAKAN DAN BAJU YANG DIA SETRIKA SELALU HANGUS, TAPI DI DETIK TERAKHIR AKU MENGETAHUI ADA ALASAN YANG JAUH LEBIH BERAT MENGAPA DIA SELALU MELAMUN DAN TIDAK FOKUS**

Kalau ada penghargaan untuk pria yang paling banyak makan arang demi cinta, mungkin akulah juara nasionalnya.

Kalau ada Guinness World Record untuk jumlah seragam kerja yang terbakar saat pemiliknya masih hidup, namaku juga pasti masuk daftar.

Dan kalau ada sertifikat RT untuk kategori “orang yang paling lama bertahan dengan pacar yang menjadikan cinta sebagai bahaya kebakaran,” ketua RT seharusnya menandatangani sertifikat itu untukku terlebih dahulu.

Namaku Paolo Mercado, usia dua puluh sembilan tahun, supervisor gudang di sebuah perusahaan peralatan elektronik di Pasig.

Aku bukan tipe pria yang pilih-pilih soal pasangan. Aku tidak mencari wanita yang memasak sempurna, juga tidak membutuhkan pacar yang jago memasak seperti chef hotel. Yang kuinginkan sederhana saja: kalau dibilang telur goreng, setidaknya bentuknya masih seperti telur saat sampai di piring. Bukan fosil. Bukan ubin kamar mandi. Dan bukan barang bukti kasus pembakaran.

Dulu pacarku bernama Liza Dela Peña.

Dia cantik, baik hati, manja, dan setiap kali tersenyum rasanya seperti ada musik latar yang ikut berbunyi. Saat aku masih mendekatinya, aku benar-benar yakin dialah jawaban atas semua lelah dalam hidupku.

“Paolo,” katanya waktu itu, “kalau nanti kita tinggal bersama, aku akan merawatmu.”

Aku memang laki-laki. Tapi aku mengaku, aku langsung luluh mendengar kalimat itu.

Karena itulah, setelah satu tahun berpacaran, kami memutuskan untuk tinggal bersama di apartemen kecil milikku di Mandaluyong. Memang bukan apartemen mewah, tapi cukup nyaman. Ada dapur kecil, satu kamar tidur, satu kipas angin yang bunyinya seperti bajaj tua, dan sebuah setrika warisan ibuku yang masih sangat kuat meski sudah bertahun-tahun dipakai.

Kupikir, itulah awal kehidupan sederhana kami.

Aku bekerja. Sementara dia mengurus rumah sambil mencari pekerjaan baru. Itulah kesepakatan kami. Tidak ada paksaan. Bahkan dia terlihat sangat senang.

“Sayang, besok aku akan membuatkan sarapan untukmu,” katanya pada malam pertama kami tinggal bersama.

Aku langsung berbunga-bunga.

Keesokan paginya, aku terbangun karena mencium bau seperti karet terbakar di jalan raya.

Pikiran pertamaku: ada kebakaran di rumah tetangga.

Aku berlari keluar kamar sambil masih memegang handuk, rambut acak-acakan, jantung berdebar kencang.

Saat sampai di dapur, aku melihat Liza tersenyum lebar sambil memegang wajan. Ada noda hitam seperti arang di pipinya.

“Selamat pagi, Sayang!” katanya. “Aku bikin nasi goreng.”

Aku menatap wajannya.

Itu bukan nasi goreng.

Itu lebih mirip abu buku harian tua yang habis dibakar.

Ada juga sosis yang warnanya begitu hitam sampai aku tidak yakin itu masih sosis atau potongan kayu bekas dibakar di tempat barbeque.

“Sayang,” kataku hati-hati, “kenapa warnanya agak… gelap?”

Dia tersenyum bangga.

“Itu karena rasa bawang putih. Aku bikin ekstra garing.”

Ekstra garing?

Kalau sosis itu diketuk, ada bunyinya.

Tok. Tok. Tok.

Seperti mengetuk pintu.

Karena aku mencintainya, aku tetap memakannya.

Gigitan pertama langsung membuatku merasa seperti mengunyah pasir. Nasi gorengnya menghasilkan suara renyah yang sama sekali tidak seharusnya ada. Air mataku sampai keluar, bukan karena terharu, tetapi karena rasanya seperti ada debu masuk ke tenggorokan.

“Enak?” tanyanya.

Aku menatap wajahnya. Dia terlihat sangat bahagia. Bagaimana mungkin aku tega menghancurkan kepercayaan diri seseorang yang sedang sebahagia itu?

“Ya,” jawabku. “Unik.”

Dan itulah kesalahanku….

Karena kata “unik” yang kuucapkan pagi itu, seolah menjadi lampu hijau bagi Liza untuk mengubah dapur kami menjadi laboratorium uji coba bahaya kebakaran.

Bulan pertama, aku masih mencoba bertahan dengan stok sabar yang melimpah. Tapi memasuki bulan ketiga, apartemenku sudah tidak seperti rumah, melainkan seperti zona pascabencana.

Setiap kali Liza memasak sup, airnya akan menyusut habis sampai pancinya gosong dan melekat ke kompor. Kalau dia merebus telur, telurnya akan meledak karena dia lupa mematikan api lalu ditinggal melamun di ruang tamu.

Dan puncaknya adalah soal pakaian.

Suatu malam, aku ada janji temu penting dengan manajer regional perusahaan. Aku meminta Liza menyetrika kemeja putih andalanku. Ketika aku sedang bersiap-siap di kamar mandi, tercium lagi bau menyengat yang sudah sangat akrab di hidungku.

Aku keluar dan menemukan setrikaan masih menempel di atas kemejaku, sementara Liza berdiri mematung di samping meja setrika, menatap kosong ke luar jendela.

Ketika kuangkat setrikanya, kemeja putih itu sudah berlubang besar dengan pinggiran hitam legam berbentuk persis seperti cetakan setrika.

“Liza! Kamu ini kenapa sih?!” bentakku, akhirnya kehilangan kesabaran. “Baju kerjaku habis semua kamu rusak! Makanan selalu gosong! Kamu sebenarnya niat tidak tinggal bersamaku?!”

Liza tersentak. Dia menatapku dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca, tapi tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya menunduk, meminta maaf dengan suara cicitan, lalu masuk ke kamar.

Malam itu, egoku menang. Aku merasa dimanfaatkan. Aku merasa dia sengaja bertingkah ceroboh agar tidak perlu melakukan pekerjaan rumah tangga lagi. Aku merasa dia hanyalah wanita manja yang tidak siap hidup susah bersamaku.

Keesokan harinya, aku mengambil keputusan tegas. Aku mengepak semua pakaian Liza ke dalam koper. Aku akan mengembalikannya kepada ibunya di Cavite. Hubungan live-in ini harus berakhir.

Perjalanan Pulang yang Sunyi

Di dalam mobil menuju Cavite, suasana terasa sangat mencekam. Liza hanya duduk diam di kursi penumpang, memeluk tas kecilnya rapat-rapat. Dia terus menatap keluar jendela, mengabaikan panggilanku atau usahaku untuk membahas masalah kami.

Dia tidak menangis, tidak protes, dan tidak memohon agar aku membatalkan keputusan ini. Sikap diamnya justru membuatku semakin kesal. Lihatlah, pikirku, dia bahkan tidak peduli kalau hubungan ini hancur.

Dua jam kemudian, kami tiba di rumah ibunya. Sebuah rumah sederhana dengan halaman kecil yang dipenuhi tanaman hias.

Ibu Liza, Aling Maria, menyambut kami di teras dengan wajah terkejut melihat koper besar yang kuturunkan dari bagasi.

“Paolo, Liza? Ada apa ini? Kenapa bawa koper?” tanya Aling Maria bingung.

Aku menarik napas panjang, mencoba meredam emosiku agar tetap terdengar sopan. “Maaf, Ibu. Saya mengembalikan Liza. Saya rasa kami sudah tidak cocok lagi untuk tinggal bersama.”

Aling Maria mengerutkan kening. “Tidak cocok bagaimana, Paolo?”

“Liza tidak pernah fokus, Bu. Semua masakan yang dia buat selalu hangus sampai panci-panci saya rusak. Baju-baju kerja saya semuanya bolong kena setrika karena dia selalu meninggalkan pekerjaan rumah tangga untuk melamun. Saya lelah pulang kerja dalam keadaan lapar dan stres, sementara rumah berantakan,” ujarku jujur tanpa berniat menutupi apa pun.

Aku mengira Aling Maria akan marah atau membela anaknya. Namun, respons wanita tua itu justru di luar dugaanku.

Wajah Aling Maria mendadak memucat. Dia menatap Liza, lalu beralih menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Liza…” bisik Aling Maria, suaranya bergetar hebat. “Kamu… kamu belum memberitahu Paolo?”

Liza menggeleng pelan, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh membasahi pipinya. “Aku tidak mau membebani Paolo, Bu. Paolo sudah terlalu lelah bekerja di gudang,” jawab Liza lirih.

Alasan yang Jauh Lebih Berat

Aku mengerutkan kening, merasa ada yang tidak beres di sini. “Memberitahu apa, Bu? Ada apa sebenarnya?”

Aling Maria memegang pundakku, air matanya kini ikut mengalir. “Paolo… Liza bukan melamun karena malas atau tidak niat mengurusmu. Dia tidak fokus karena pikirannya sedang berjuang melawan rasa takut yang luar biasa.”

Aling Maria mengajakku duduk di kursi teras, sementara Liza masuk ke dalam rumah untuk menenangkan diri. Di sanalah, Aling Maria membuka sebuah rahasia yang seketika membuat seluruh badanku lemas dan duniaku seolah runtuh.

“Dua bulan yang lalu, tepat sebelum kalian memutuskan tinggal bersama, Liza melakukan pemeriksaan kesehatan untuk syarat melamar kerja baru,” kata Aling Maria dengan suara parau.

“Dokter menemukan ada tumor ganas yang berkembang di otak bagian belakangnya, Paolo. Tumor itu menekan saraf penglihatannya secara perlahan.”

Jantungku rasanya berhenti berdetak. “A… apa?”

“Gejala awalnya adalah absent seizure—kejang sesaat yang membuat penderitanya mendadak mematung, kehilangan kesadaran selama beberapa detik hingga menit, dan pandangannya tiba-tiba menjadi buram atau gelap total,” lanjut Aling Maria, terisak.

“Setiap kali Liza memasak atau menyetrika, di tengah-tengah kegiatannya, dunianya tiba-tiba menjadi gelap dan otaknya mengalami ‘blank’. Itu sebabnya dia tidak sadar kompornya menyala terlalu lama atau setrikaannya membakar bajumu. Dia tidak sedang melamun, Paolo… dia sedang mengalami serangan saraf akibat tumor itu.”

Bagai dihantam godam raksasa, dadaku mendadak terasa luar biasa sesak.

Aku teringat kembali momen-momen itu. Noda hitam di pipinya saat membuat nasi goreng gosong… dia bukan sedang tersenyum bangga karena masakannya, dia tersenyum untuk menutupi rasa takutnya karena beberapa detik sebelumnya pandangannya sempat hilang.

Dan malam ketika kemeja putihku terbakar, dia berdiri mematung menatap jendela… dia bukan sedang mengabaikan pekerjaannya, dia sedang berada dalam kondisi medis yang membuatnya tidak bisa bergerak maupun merespons teriakanku.

Penyesalan di Detik Terakhir

“Kenapa dia tidak bilang padaku, Bu?” tanyaku, air mataku kini menetes deras, membasahi tanganku yang gemetar.

“Dia tahu biaya operasinya hampir Rp200 juta, Paolo. Dia tahu kamu sedang menabung keras untuk masa depan kalian. Liza sengaja memilih tinggal bersamamu agar bisa menghabiskan sisa waktu yang dia miliki untuk merawatmu, sebelum tumor itu benar-benar merenggut fungsi tubuhnya. Dia ingin membuat kenangan manis, tapi penyakit itu merusak segalanya.”

Aku tidak sanggup mendengar lebih banyak lagi. Rasa bersalah dan penyesalan yang teramat sangat menyerang seluruh kesadaranku. Pria macam apa aku ini? Pria yang disebutnya “jawaban atas segala lelah,” justru mengusirnya dan mencapnya sebagai benalu di saat dia sedang bertaruh nyawa.

Aku berdiri, mengabaikan koper yang tergeletak di teras, dan langsung berlari masuk ke dalam rumah.

Di dalam kamar tua miliknya, aku menemukan Liza sedang duduk di tepi ranjang, menangis tanpa suara sambil memegangi kepalanya yang pasti terasa sangat sakit.

Aku langsung berlutut di depannya, meraih kedua tangannya yang kasar akibat terkena uap panas kompor, dan memeluknya erat-erat.

“Maafkan aku, Liza… maafkan aku…” tangisku pecah di pundaknya. “Aku bodoh. Aku egois. Aku tidak tahu apa-apa…”

Liza terkejut, namun perlahan tangannya yang gemetar balas memeluk punggungku. “Maafkan aku juga, Paolo. Aku hanya ingin menjadi istri yang baik untukmu sebelum aku tidak bisa melihat wajahmu lagi…”

“Kamu adalah istri terbaik, Liza. Mulai hari ini, kita tidak akan kembali ke apartemen itu. Kita akan ke rumah sakit sekarang juga,” kataku tegas sambil menghapus air matanya. “Soal biaya, soal apa pun, biar aku yang urus. Aku tidak peduli jika harus menjual semua yang kupunya, asal aku tidak kehilangan kamu.”

Sore itu, di rumah kecil di Cavite, koper yang sempat kuturunkan kembali masuk ke dalam bagasi mobil. Namun kali ini, tujuannya bukan untuk memisahkan kami, melainkan untuk memulai perjuangan baru bersama-sama. Aku bersumpah, tidak akan ada lagi makanan gosong atau kemeja terbakar yang bisa membuatku melepaskan tangan wanita yang telah mengorbankan sisa hidupnya hanya untuk bersamaku.