Posted in

DIA MENDORONGKU KE JURANG BERSALJU DEMI MENDAPATKAN Rp815 MILIAR UANG ASURANSI. NAMUN PADA HARI PEMAKAMANKU SENDIRI, AKU DATANG BERSAMA PEMILIK PERUSAHAAN ASURANSI MILIARDER—AYAH KANDUNGKU YANG SEBENARNYA.**

DIA MENDORONGKU KE JURANG BERSALJU DEMI MENDAPATKAN Rp815 MILIAR UANG ASURANSI. NAMUN PADA HARI PEMAKAMANKU SENDIRI, AKU DATANG BERSAMA PEMILIK PERUSAHAAN ASURANSI MILIARDER—AYAH KANDUNGKU YANG SEBENARNYA.**

Hal paling dingin di dunia bukanlah es di puncak gunung, melainkan hati seseorang yang pernah berjanji akan mencintaimu seumur hidup.

Namaku Isabella. Saat itu aku sedang hamil sembilan bulan dan bersiap menyambut anak pertama kami ketika suamiku, Victor, mengajakku ke sebuah resor ski terpencil di luar negeri untuk menikmati babymoon.

Aku mengira itu adalah liburan romantis.

Namun ketika kami berjalan di dekat tebing curam yang tertutup salju dan es, topengnya akhirnya terlepas.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada teriakan.

Dia hanya menatapku dengan senyum yang membuat bulu kuduk berdiri, lalu mendorongku dengan keras ke tepi jurang.

Aku jatuh ke hamparan salju tebal beberapa meter di bawah. Aku tidak terperosok ke dasar jurang, tetapi terjebak di bagian gunung yang dingin dan gelap.

Saat tubuhku dipenuhi rasa sakit dan aku berusaha melindungi perutku yang besar, aku mendengar tawa terakhir Victor dari atas.

“Maaf, Sayang,” teriaknya dengan suara penuh keserakahan. “Aku lebih membutuhkan uang asuransimu sebesar Rp815 miliar daripada dirimu dan bayi itu. Selamat tinggal.”

Dia meninggalkanku sendirian untuk mati membeku.

Tetapi dia tidak tahu bahwa malam itu bukanlah akhir hidupku.

Malam itu justru menjadi awal dari kesalahan terbesar dalam hidupnya.

MUKJIZAT DAN RAHASIA MASA LALU

Tiga hari.

Selama tiga hari aku bertahan hidup di dalam gua es kecil, memakan salju untuk bertahan dan menggunakan seluruh tenagaku demi menjaga bayi dalam kandunganku tetap hidup.

Sampai akhirnya sebuah tim penyelamat menemukan aku.

Tim itu bukan dikirim oleh suamiku.

Mereka dikirim oleh perusahaan asuransi yang sedang menyelidiki hilangnya diriku yang dianggap mencurigakan.

Aku dibawa ke rumah sakit pribadi, dan di sanalah pengungkapan terbesar dalam hidupku terjadi.

Aku tumbuh sebagai anak yatim piatu tanpa keluarga yang kukenal.

Namun ketika darah dan DNA-ku diperiksa untuk perawatan darurat, hasilnya cocok dengan data dalam basis data global.

Pria yang membiayai operasi penyelamatanku, CEO sekaligus pemilik Vanguardia Insurance Corporation, ternyata adalah Don Alexander Vanguardia.

Dan yang lebih mengejutkan lagi…

Dia adalah ayah kandungku yang selama hampir tiga puluh tahun mencariku setelah aku diculik saat masih bayi.

Saat kami bertemu di ruang ICU, miliarder itu menangis sambil memelukku dan menyentuh perutku dengan gemetar.

Aku menceritakan semua yang dilakukan Victor.

Mata ayahku langsung dipenuhi amarah.

“Dia mengira kau yatim piatu dan tidak memiliki siapa pun yang akan membelamu,” bisik Don Alexander dengan suara dingin yang sarat kekuasaan. “Kita akan memberinya neraka yang lebih dingin daripada salju tempat dia membuangmu.”

PEMAKAMAN PALSU DI DALAM KATEDRAL

Satu minggu setelah kejadian itu, publik diumumkan bahwa aku telah meninggal dunia.

Itulah skenario yang dibuat oleh ayahku.

Victor segera menyelenggarakan pemakaman mewah dan penuh drama di katedral terbesar di kota.

Bunga putih memenuhi seluruh ruangan.

Teman-teman, rekan kerja, dan para kenalan hadir untuk memberikan penghormatan terakhir.

Victor berdiri di depan peti mati mahal yang tertutup rapat.

Dia menyeka air mata palsu dan berpura-pura menjadi suami yang hancur karena kehilangan istrinya.

Namun di balik tangisan itu, tersembunyi senyum kemenangan.

Di barisan depan duduk seorang wanita bernama Valerie, yang diperkenalkan sebagai sepupunya.

Padahal sebenarnya, wanita itu adalah selingkuhannya selama bertahun-tahun.

Mereka berdua saling melempar tatapan rahasia, membayangkan hidup mewah bergelimang harta yang akan segera mereka nikmati setelah mencairkan dana asuransi Rp815 miliar.

Saat pendeta naik ke mimbar untuk membacakan doa penutup, pintu gerbang katedral yang besar tiba-tiba terbuka lebar dengan suara dentuman keras.

Hembusan angin dingin berhembus masuk ke dalam ruangan, membuat lilin-lilin di altar bergoyang hebat. Seluruh pelayat menoleh ke belakang dengan bingung.

Sepatu hak tinggi berbunyi ketat di atas lantai marmer.

Seorang wanita melangkah masuk, mengenakan gaun sutra hitam yang sangat anggun. Di sampingnya, mendampingi dengan protektif, adalah Don Alexander Vanguardia—pria yang wajahnya selalu menghiasi majalah bisnis finansial global, dikelilingi oleh selusin pengawal bertubuh tegap.

Wanita itu membuka penutup wajah hitamnya.

Ketika wajah di balik kain itu terlihat jelas di bawah cahaya katedral, seluruh ruangan mendadak sunyi senyap seolah waktu berhenti berputar.

Wajah Victor langsung kehilangan seluruh warnanya. Matanya melotot hampir keluar dari rongganya, dan tubuhnya gemetar begitu hebat hingga dia harus berpegangan pada tepi peti mati agar tidak tumbang.

“I… Isabella?!” suara Victor tercekat di tenggorokan, terdengar seperti bisikan hantu. “Tidak… tidak mungkin! Kamu sudah mati membeku!”

Kedok yang Telah Hancur

Aku melangkah maju dengan kepala tegak. Di balik gaun hitamku, perutku yang besar masih aman terlindungi. Mukjizat Tuhan dan kehangatan tim penyelamat ayahku telah menjaga detak jantung anakku tetap berdenyut.

“Maaf merusak pestamu, Victor,” kataku, suaraku menggema jernih di langit-langit katedral yang tinggi. “Aku tahu kamu sangat merindukanku. Atau lebih tepatnya… kamu sangat merindukan uang Rp815 miliar milikku?”

Para pelayat mulai berbisik-bisik panik. Valerie, selingkuhan Victor, mencoba menyelinap keluar lewat pintu samping, namun dua pengawal ayahku langsung menghadangnya dengan tatapan dingin.

Victor mencoba menguasai dirinya. Dia memasang wajah panik yang dibuat-buat dan melangkah mendekat, mencoba menyentuh lenganku. “Sayang! Ini mukjizat! Kamu selamat! Aku… aku mencarimu ke mana-mana setelah badai salju itu memisahkan kita!”

“Cukup, bajingan!” sebuh sebuah suara bariton yang menggelegar dari sampingku.

Don Alexander Vanguardia melangkah maju, berdiri di depanku bagai dinding pelindung yang tak tertembus. Tatapan matanya begitu tajam hingga mampu menciutkan nyali pria mana pun.

“Jangan berani-berani mengotorinya dengan tangan kirimu,” desis Don Alexander. “Aku adalah pemilik Vanguardia Insurance, perusahaan yang tanda tangannya kamu tunggu-tunggu untuk mencairkan uang itu. Dan wanita yang kamu dorong ke jurang bersalju demi uang itu… adalah putri kandungku, pewaris tunggal seluruh kekayaan keluarga Vanguardia.”

Neraka yang Lebih Dingin dari Salju

Mendengar kata “putri kandung” dan melihat Don Alexander berdiri di sana, Victor jatuh berlutut di atas marmer katedral. Kebohongannya hancur total. Rencana yang dia susun dengan rapi menguap dalam sekejap di hadapan pria paling berkuasa di industri asuransi tersebut.

“Tuan Vanguardia… tolong… ini salah paham…” ratap Victor, merangkak di lantai, mencoba memohon belas kasihan.

“Kesalahan pahaman macam apa yang membuatmu merekam suara ini, Victor?” tanyaku sambil mengangkat ponselku.

Melalui pengeras suara katedral, suara rekaman satelit dari tim penyelamat diputar. Itu adalah rekaman suara Victor dari atas tebing yang berhasil ditangkap oleh sensor hitam tim Vanguardia malam itu: “Aku lebih membutuhkan uang asuransimu sebesar Rp815 miliar daripada dirimu dan bayi itu. Selamat tinggal.”

Seluruh pelayat di katedral tersentak ngeri. Teman-teman dan rekan kerja yang tadi bersimpati pada Victor kini menatapnya dengan pandangan penuh jijik dan kemarahan.

“Kamu menginginkan uang asuransi, bukan?” kata Ayahku, Don Alexander, sambil tersenyum dingin. “Asuransi Vanguardia tidak pernah gagal membayar klaimnya. Tapi hari ini, klaim yang akan kamu terima bukan dalam bentuk rupiah… melainkan hukuman mati atas percobaan pembunuhan berencana terhadap putri dan cucuku.”

Akhir dari Sang Penghianat

Pintu katedral kembali terbuka, dan kali ini delapan petugas kepolisian federal masuk dengan senjata lengkap. Mereka langsung meringkus Victor dan Valerie di depan seluruh pelayat yang hadir.

Victor berteriak histeris, menangis, dan memohon ampunan saat borgol besi mengunci pergelangan tangannya. Dia diseret keluar dari katedral tempat dia merencanakan perayaan kemenangannya, menuju sel tahanan bawah tanah yang dingin—tempat yang akan menjadi rumah barunya seumur hidup.

Aku berbalik, tidak sudi melihat wajah pria yang pernah kucintai itu lagi.

Don Alexander menggandeng tanganku dengan lembut, memapahku keluar dari katedral menuju mobil limosin yang sudah menunggu. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun hidupku sebagai anak yatim piatu, aku tidak lagi merasa sendirian.

Aku memiliki seorang ayah yang memelukku, kekayaan yang melimpah untuk membesarkan anakku, dan masa depan yang cerah. Badai salju di puncak gunung malam itu memang hampir merenggut nyawaku, tetapi badai itu pula yang menuntunku kembali ke rumah yang sebenarnya—ke pelukan ayah kandungku yang siap meruntuhkan dunia demi melindungiku.