Posted in

“Bagaimana? Pilih mence raikan dia sekarang, atau kariermu han cur dan aku akan menga dukan semua kebo honganmu ini pada papaku?” tanya Gita dengan te gas.

Mas Reno seperti mendapatkan angin segar. Mendengar jabatan impiannya masih bisa diselamatkan oleh istri sirinya, terlihat sekali rasa pa niknya menguap seketika.

Pria parasit itu langsung menegakkan punggungnya, menatapku dengan sorot mata dingin dan penuh keberanian yang terkesan dipak sakan.

“Kamu dengar sendiri, kan, Nina?” ucap Mas Reno dengan nada som bong yang kembali muncul. “Aku tidak butuh surat polig ami ini lagi. Sekarang juga, di depan ibuku dan Gita … aku menjatuhkan ta lak padamu. Kita ce rai!”

Mama Ani langsung terkekeh pu as. “Bagus, Reno! Usir perem puan kurang a jar ini sekarang juga biar dia jadi gelanda ngan bersama ibunya yang penya kitan itu!”

Melihat kekompakan tiga orang pi cik di hadapanku, aku justru menepuk kedua tanganku perlahan. Suara tepukan tunggal itu menggema, memotong euforia kemenangan semu mereka.

“Luar biasa. Kerja sama yang sangat kompak antara suami pengkhianat, mertua matre, dan adik ma du yang ambisius,” ucapku teramat tenang, melangkah maju hingga berdiri tepat di hadapan mereka bertiga.

Kutatap istri baru suamiku itu dengan senyuman miring yang mematikan. “Gita, silakan bawa pria parasit ini dan jadikan dia suamimu secara sah. Aku sama sekali tidak minat mempertahankan sam pah. Tapi …”

Aku menjeda kalimatku, sengaja mengedarkan pandangan ke sekeliling ru mah ini.

“… tapi sepertinya kamu sal ah paham, adik ma du. Talak dari Mas Reno adalah hal yang paling kunantikan.”

Kutun juk pintu utama ru mah dengan jari telunjukku yang lurus dan tegas.

“Karena ru mah ini dan mo bil di depan mutlak milikku secara hu kum, maka malam ini juga … kalian bertigalah yang harus angkat kaki dari sini! Silakan angkat barang-barang kalian sekarang, atau aku akan menelepon po lisi atas tuduhan masuk tanpa izin dan membuat keri butan di ru mahku!”

Detik itu juga, senyum kemenangan di wajah Mas Reno, Gita, dan Mama Ani langsung lenyap tak tersisa, digantikan oleh kepanikan baru yang jauh lebih menge rikan!

“N-Nina … kamu gi la, ya?!” pekik Mas Reno, suaranya melengking tinggi, mencoba menutupi geta ran keta kutan yang menja lar di sekujur tu buhnya. “Ini sudah hampir jam sembilan malam! Kamu mau mengu sir kami, hah?!”

Aku hanya menanggapi rasa paniknya dengan mengangkat kedua bahu acuh tak acuh. “Itu bukan urusanku, Mas. Mau kalian tidur di kolong jembatan, di ho tel melati, atau di emperan toko sekalipun, aku tidak peduli. Yang jelas, angkat kaki dari ru mahku. Sekarang!”

“Nina! Kamu keterlaluan, ya!” Mama Ani ikut menje rit, wajah tu anya mendadak merah padam dengan napas membu ru. “Reno ini masih suamimu! Berani-beraninya kamu mengu sir mertua dan suamimu sendiri seperti bina tang!”

“Mertua? Suami?” Aku terkekeh sumbang, menatap wanita tu a bermuka tembok itu dengan pandangan mere mehkan. “Bukannya baru saja a nak kesay anganmu itu menja tuhkan ta lak padaku? Di depan saksi ma du sirinya pula. Jadi, secara agama, hubungan kita sudah selesai. Kalian tidak lebih dari segerombolan orang asing yang menyu sup ke ru mahku.”

Gita yang sejak tadi diam dengan wajah pias, kini mulai panik sendiri.

“Mas Reno, lakukan sesuatu! Jangan diam saja seperti itu!” ben tak Gita sembari menghentakkan kakinya ke lantai, menyenggol lengan Mas Reno dengan ka sar.

Perempuan bergaun brokat itu menatapku se ngit dengan napas membu ru. Gengsinya yang setinggi langit menolak untuk terlihat mende rita ataupun kalah di depanku.

“Kamu jangan pura-pura bo doh! Sudah jelas gu buk ini milik mantan istrimu. Untuk apa kita masih bertahan di sini?!” ci bir Gita ke tus, membu ang muka dengan gestur jij ik.

Gita kembali menepis lengan suaminya yang hendak menenangkan, lalu bersedekap da da dengan ang kuh. “Kamu kan pasti punya banyak u ang hasil kerjamu sebagai manajer selama ini. Ayo, kita pergi sekarang juga!”

“Pergi ke mana, Sa yang? Malam-malam begini—”

“Untuk sementara, kita se wa apar temen saja sampai kita menikah resmi dan kamu diangkat jadi General Manager oleh papaku!” po tong Gita tak sabaran, memo tong kalimat Mas Reno dengan nada mendikte.

Mama Ani yang mendengar celetukan Gita seketika langsung mengulas senyum cerah. Wanita tu a itu mendadak ikut menegakkan punggungnya dengan ang kuh, seolah baru saja mendapatkan kekuatan baru untuk mengin jak kembali har ga diriku.

“Benar itu, Gita sa yang! Ayo kita pergi dari ru mah si gem bel ini!” seru Mama Ani berapi-api.

Wanita tua itu melirikku dengan tatapan yang sarat akan kebencian mendalam, lalu beralih menge lus pundak menantu barunya. “Reno ini an ak yang hebat, u ang tabunjannya pasti sudah banyak!”

Mama Ani terkekeh si nis, sengaja mengeraskan suaranya. “Lagipula, sejak awal menikah sampai dia bekerja sekarang, Reno kan tidak pernah memberi perempuan man dul ini naf kah sepeser pun! Jadi u ang hasil kerjanya mutlak masih utuh di reke ning!”

“Nah, benar, kan! Ayo, Mas! Buka aplikasi m-banking kamu sekarang!” cecar Gita makin mendesak. “Kita pesan apar temen malam ini juga! Aku tidak su di berlama-lama di sini!”

Mendengar desakan bertubi-tubi dari ibu dan istri barunya, Mas Reno seketika mematung. Bagai dihan tam petir di malam hari, wajah pria itu mendadak berubah menjadi abu-abu.

Gita dan Mama Ani terus mendesak dengan wajah penuh keang kuhan. Namun, sepasang mataku justru menangkap gelagat yang teramat aneh dari Mas Reno. Raut wajah pria itu mendadak te gang, seolah seluruh pasokan udara di paru-parunya ditar ik pak sa.

Ada apa dengan pria para sit ini? Bukankah seharusnya dia senang karena dibela oleh ibu dan istri barunya? Kenapa dia justru terlihat seperti seorang terdakwa yang sedang menunggu vonis hukuman ma ti?

“S-Sa yang … Mama … t-tunggu dulu …,” ucap Mas Reno dengan terbata-bata.

Jemarinya tampak geme tar saat merogoh ponsel di saku celananya. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bercucuran deras membasahi dahi dan pelipisnya.

Melihat kepanikan yang coba ia sembunyikan, aku langsung menyunggingkan senyum miring. Aku tidak tahu apa yang sedang dia sembunyikan di dalam reke ningnya itu, tapi yang pasti, kebo hongan yang dia tumpuk selama ini sebentar lagi akan run tuh bersama seluruh har ga di rinya.

“Kenapa diam saja, Mas? Ayo buka m-banking-nya. Aku juga penasaran, berapa banyak ua ng yang kamu sembunyikan dariku sejak awal kita menikah hingga akhirnya berce rai,” sindirku taj am.

“S-saldo aku … m-banking-nya sedang gangguan. Tidak bisa dibuka,” alibi Mas Reno asal.

Ia memperlihatkan layar ponselnya yang sepertinya sengaja dima tikan sepihak demi menyem bunyikan sesuatu. Wajahnya kini sudah benar-benar seputih kertas.

Gita mendeng kus tidak sabar, meram pas ponsel itu dengan ka sar. “Alasan! Sini, biar aku yang cek!”

Belum sempat Gita membuka kunci ponsel Reno, ketukan ke ras di pintu utama yang terbuka lebar seketika memo tong perdebatan mereka.

Seorang pria paruh baya dan seorang lagi sepertinya seumuran Reno, mengenakan setelan jas hitam formal yang rapi melangkah masuk dengan aura yang begitu intimidatif.

Pria yang berdiri di paling depan memiliki perawakan tegap dengan rambut klimis beruban, membawa sebuah tas koper kulit premium berlogo firma hukum papan atas ibu kota.

“Selamat malam, Shanina Purnomo Sari,” sapa pria paruh baya itu dengan suara bariton yang berat dan berwibawa. Beliau mengangguk ramah ke arahku.

Aku langsung mengulas senyum lebar, menyambut kedatangan sosok yang paling kutunggu. “Selamat malam, Om Joni. Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu malam-malam begini.”

Mas Reno seketika mematung, jakunnya naik turun saat melihat wajah pria paruh baya tersebut. “Joni Rahardi? Pengacara korporat legendaris itu?”