Posted in

Rumah besar itu kini terasa begitu hampa bagi Arka. Sebulan telah berlalu sejak kepergian Shena, namun aroma vanila lembut dari tubuh wanita itu seolah masih tertinggal di sudut-sudut ruangan, mengejek Arka yang kini hidup dalam kesunyian.

Tidak ada lagi suara denting spatula di dapur setiap jam lima pagi. Tidak ada lagi kemeja yang tersusun rapi berdasarkan gradasi warna di lemari. Yang ada hanyalah kesunyian yang mencekik.

Kondisi Arka semakin memburuk saat orang tuanya mengetahui tentang kepergian Shena. Tedi sangat marah, bahkan sempat terkena serangan jantung ringan saat tahu Arka mengusir Shena demi Vania.

“Kamu bodoh, Arka! Kamu lupa bagaimana Vania mempermalukan keluarga kita dua tahun lalu dan kamu masih memilih Vania dibandingkan Shena yang sudah jadi istri kamu selama ini??” teriak Tedi waktu itu.

Ibunya bahkan tidak mau bicara padanya selama berminggu-minggu, hanya melayangkan tatapan kecewa yang lebih menyakitkan daripada makian apa pun.

Keberadaan Vania di dekat itu pun tidak membawa kebahagiaan yang Arka bayangkan. Alih-alih mendapatkan kedamaian, hubungan mereka justru penuh dengan pertengkaran. Arka sangat yakin bahwa Vania berdusta sementara Vania sangat marah lantaran Arka tidak jadi menikahinya.

“Mas, kenapa kamu masih memikirkan Shena?” Vania berteriak sambil membanting tas mahalnya ke sofa ruang kerja Arka.

Arka yang sedang bekerjanya menaikkan tatapannya dingin. “Itu bukan urusan kamu, Vania.”

“Bukan urusan aku? Aku calon istri kamu, Mas! Kita harusnya bahagia sekarang. Shena sudah pergi dengan uang yang aku kasih, dia pasti sudah senang-senang dengan pria lain di luar sana!”

Mendengar kata uang, Arka langsung berdiri. Matanya berkilat tajam. “Berhenti membohongi aku, Vania. Aku sudah mengecek semua aset pribadi aku. Aku tahu Shena pergi tanpa membawa apa pun selain pakaiannya!”

“Shena itu bermuka dua, Mas. Tentu aja dia nggak mau ketahuan bawa harta kamu karena dia juga udah dapat uang dari aku! Kamu jangan terlalu membela pelacur itu!”

“Cukup!” Arka berseru, suaranya menggelegar. “Jangan pernah sebut Shena dengan kata itu lagi. Semakin kamu bicara, semakin aku sadar kalau setiap kata yang keluar dari mulut kamu itu beracun. Kita tidak akan menikah Vania, aku batal menceraikannya Shena dan aku akan terus mencari Shena. Kamu bisa pergi.”

“Tapi … Mas!” teriak Vania tak terima.

Arka tak peduli. Ia menelepon asistennya untuk membawa keluar Vania dari ruangannya. Vania memberontak tak terima dan melayangkan segudang umpatan.

Napas Arka memburu. Ia menatap pigura berisi foto pernikahannya dengan Shena. Ia akan menemukan Shena apa pun yang terjadi.

Tujuh Tahun Kemudian…

Waktu mungkin berlalu, namun kehampaan di hati Arka tidak pernah benar-benar hilang. Di usia yang kini menginjak 35 tahun, Arka tumbuh menjadi pria yang jauh lebih dingin, kaku, dan gila kerja. Ia tidak pernah menikahi Vania. Hubungan mereka hancur hanya beberapa bulan setelah kepergian Shena karena Arka tidak bisa lagi menoleransi kebohongan Vania.

Pagi itu, Arka baru saja mendatangi lokasi penting guna meninjau proyek mall barunya. Ia berjalan dengan langkah tegap, dikelilingi oleh asisten dan beberapa pengawal pribadi yang menjaga jarak.

“Tuan Arka, jadwal pertemuan dengan investor akan dimulai dua jam lagi di restoran hotel Sunny,” lapor asisten barunya.

Arka hanya mengangguk singkat. Pikirannya melayang pada dokumen-dokumen kontrak. Ia berjalan cepat melewati deretan food court yang sangat ramai.

“Kakak! Tungguin! Es krim Keira mau tumpah!”

Sebuah teriakan melengking terdengar, diikuti oleh suara tawa anak-anak yang ceria. Arka tidak sempat menghindar ketika dua sosok mungil berlarian ke arahnya tanpa melihat jalan.

Brakk!

“Aduhh!”

Dua anak kecil itu menabrak kaki panjang Arka dengan cukup keras. Salah satu dari mereka terjatuh di lantai marmer, membuat es krim cokelat yang ia pegang mengotori celana dan sepatu kulit mahal Arka.

“Astaga!” Pengawal Arka segera bergerak maju ingin mengamankan situasi, namun Arka mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka tetap di tempat.

Arka menunduk. Di depannya, seorang anak laki-laki berusia sekitar enam atau tujuh tahun sedang membantu seorang anak perempuan yang jatuh. Keduanya memiliki wajah yang sangat mirip—kembar. Si anak laki-laki memiliki sorot mata yang tajam dan alis yang tegas, sementara si anak perempuan memiliki mata bulat yang jernih dengan bulu mata lentik.

Si anak laki-laki mendongak menatap Arka. Alih-alih takut, ia justru berdiri tegak di depan adiknya, seolah ingin melindunginya.

“Maaf, Om. Kami nggak sengaja. Nanti mamaku yang ganti sepatunya. Kenzie sama Keira baru kejar-kejaran, maaf, Om,” ucap anak itu dengan suara yang tenang namun tegas.

Arka terpaku. Ia seperti sedang melihat cermin. Anak laki-laki di depannya ini memiliki struktur wajah yang hampir identik dengan foto masa kecil Arka yang selalu disimpan ibunya. Bentuk bibirnya, garis rahangnya, hingga tatapan matanya yang sedikit dingin dan angkuh—semuanya sangat familiar.

“Kamu ….” Suara Arka tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdegup dengan frekuensi yang tidak wajar.

“Om marah, ya?” tanya si anak perempuan, Keira, dengan bibir yang mulai melengkung sedih karena es krimnya sudah hancur di sepatu Arka. “Jangan marahin Kak Kenzie. Keira yang lari-lari tadi.”

Arka mengalihkan tatapannya pada anak perempuan yang wajahnya serupa dengan si anak laki-laki—dan dirinya. Dengan jantung berdebar, berlutut di depan kedua anak itu, mengabaikan noda es krim cokelat di celananya. Ia menatap Kenzie dan Keira secara bergantian. Perasaan aneh mendadak menjalar di seluruh tubuhnya—sebuah dorongan protektif dan getaran emosional yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

“Siapa nama kalian?” tanya Arka, suaranya bergetar.

“Aku Kenzie, dan ini adikku Keira,” jawab anak laki-laki itu. “Om siapa? Om marah, ya?”

Arka tidak bisa menjawab. Ia merasa anak-anak ini sangat mirip dengannya. Apakah itu hanya kebetulan atau mungkin …..

“Kenzie! Keira! Ya Tuhan, kalian ke mana saja?”

Sebuah suara wanita yang sangat familiar terdengar dari kejauhan. Suara yang selama tujuh tahun ini hanya bisa Arka dengar dalam mimpinya. Arka menoleh dengan gerakan lambat, seolah takut jika ia bergerak terlalu cepat, bayangan ini akan hilang.

Di sana, beberapa meter dari mereka, berdiri seorang wanita dengan blus dan celana panjang serta ditutupi apron. Rambutnya yang diikat tinggi bergoyang ketika ia berjalan mendekat.

“Mama!” Keira berlari ke arah wanita itu.

Wanita itu berjongkok memeluk Keira, lalu matanya beralih ke arah Kenzie yang masih berdiri di depan Arka. Saat wanita itu mendongak dan menatap siapa yang ada di depan anaknya, wajahnya seketika pucat pasi. Ini tidak mungkin!!!

“Shena…” bisik Arka lirih.