AGEN RAHASIA PEMERINTAH DIREMEHKAN OLEH SEKRETARIS SOMBONG TUNANGANNYA DI PESAWAT: “KURSI INI MILIK SAYA, AMBIL UANGNYA DAN PERGI!”
Ayah menelepon saya di fasilitas militer rahasia tempat saya bekerja. Ia meminta saya pulang ke kampung halaman untuk menjalani perjodohan. Katanya, pria itu berasal dari keluarga terpandang, tampan, dan dikenal sebagai miliarder terkenal di Jakarta. Sebelum saya berangkat, atasan saya bahkan sudah menghubungi maskapai agar identitas saya tetap dirahasiakan.
Saat naik pesawat, saya menemukan kursi First Class saya. Namun sebelum sempat duduk, seorang wanita tiba-tiba mendorong saya dengan keras dari belakang.
Sebelum saya bisa berkata apa pun, wanita itu dengan angkuh melemparkan segepok uang pecahan Rp1.000.000 ke hadapan saya.
“Saya mau kursi ini. Ambil uangnya dan pergi!” bentaknya.
Saya berusaha tetap tenang lalu menjawab, “Jelas saya yang memesan kursi ini lebih dulu. Hak apa yang Anda punya untuk mengusir saya?”
Tatapan wanita itu semakin meremehkan.
“Hak apa? Saya ini sekretaris pribadi CEO Valencia Group! Di Jakarta, bahkan burung yang terbang di langit pun harus patuh pada keluarga Valencia. Mengerti?!”
Saya terdiam beberapa detik. Lalu saya mengeluarkan ponsel dan menelepon calon tunangan yang akan diperkenalkan oleh Ayah.
“Saya baru saja mendengar dari staf perusahaan Anda bahwa keluarga Valencia bisa menutupi langit Jakarta hanya dengan satu tangan. Apa itu benar?” tanya saya.
Kalau bukan karena menghormati Ayah, saya bahkan tidak akan mengangkat telepon ini. Merebut kursi First Class saya bukan masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan uang. Seandainya wanita itu meminta maaf dengan baik, mungkin saya masih bisa memaafkannya.
“Saya sangat sibuk. Katakan saja apa yang ingin Anda sampaikan secepatnya,” jawab pria itu dengan nada kesal dari seberang telepon.
“Sepertinya Anda perlu bertanya kepada sekretaris pribadi Anda tentang apa yang sedang dia lakukan sekarang,” balas saya.
Namun sebelum sempat menyerahkan telepon kepada wanita itu, pria tersebut sudah lebih dulu memutuskan sambungan.

Saya berdiri terpaku karena terkejut. Apakah semua orang kaya memang bersikap seperti ini?
Melihat itu, sekretaris yang merebut kursi saya tertawa terbahak-bahak hingga hampir tak bisa menahan kegembiraannya.
“Saya kira siapa yang begitu berani! Hebat sekali ya kamu. Bahkan Pak Valencia pun tidak mau menjawab panggilanmu!”
Melihat dia tertawa puas, saya hanya tersenyum tipis. Saya perlahan memasukkan kembali ponsel saya ke dalam saku. Sebagai agen rahasia negara, mengontrol emosi adalah pelajaran dasar di minggu pertama pelatihan saya.
“Tertawalah selagi Anda bisa,” ucap saya datar, lalu berbalik berjalan menuju bagian belakang pesawat tanpa memedulikan tatapan mengejeknya. Saya tidak berniat membuat keributan di atas pesawat yang bisa membahayakan penumpang lain. Lagipula, balas dendam terbaik bagi orang sombong bukanlah adu mulut, melainkan kenyataan yang menghantam keras.
Saya langsung menghubungi atasan saya melalui jalur komunikasi satelit terenkripsi milik militer. “Komandan, batalkan protokol penyamaran sipil saya di maskapai ini. Tunjukkan pada Valencia Group siapa yang sebenarnya mereka hadapi.”
“Dimengerti, Agen. Proses sinkronisasi data selesai dalam tiga puluh detik,” jawab Komandan di seberang sana.
Tamparan Kenyataan di Bandara
Dua jam kemudian, pesawat mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Saat melangkah keluar dari garbarata menuju area penjemputan VIP, saya melihat sosok pria tampan berjas mewah yang sangat familiar dari foto yang dikirimkan Ayah—dia adalah Pak Valencia, calon tunangan saya. Di sampingnya, sang sekretaris sombong tadi berjalan dengan manja sambil membawa tas jinjingnya.
Begitu melihat saya, sekretaris itu langsung menunjuk wajah saya dengan heboh. “Pak Valencia! Lihat wanita miskin itu! Tadi di pesawat dia berani menelepon Anda dan mengaku-ngaku kenal, bahkan mencoba mengancam saya!”
Pak Valencia menatap saya dengan dahi berkerut, bersiap untuk memaki. Namun sebelum dia sempat membuka mulut, langkahnya mendadak terhenti.
Secara bersamaan, puluhan pria tegap berjas hitam dengan pin khusus badan intelijen negara muncul dari segala penjuru, langsung mengepung area tersebut. Di tengah-tengah mereka, Direktur Utama Maskapai Penerbangan berjalan tergesa-gesa dengan wajah pucat pasi, didampingi oleh beberapa petinggi militer.
Sang Direktur langsung melewati Pak Valencia dan membungkuk hormat 90 derajat di hadapan saya.
“Selamat datang kembali, Marsekal Muda. Mohon maaf sebesar-besarnya atas kelalaian staf pihak ketiga kami di dalam pesawat tadi. Kami telah memblokir seluruh akses penerbangan untuk Valencia Group per detik ini!”
Kehancuran yang Instan
Mendengar hal itu, ponsel di tangan Pak Valencia berdering keras. Itu dari ayahnya—pemilik asli Valencia Group. Melalui pengeras suara yang tak sengaja tertekan karena tangannya gemetar, terdengar suara teriakan histeris:
“Bodoh! Apa yang kamu dan sekretarismu lakukan?! Pemerintah baru saja mencabut seluruh izin operasional komersial kita, dan semua investor menarik saham mereka dalam hitungan menit! Kita bangkrut, Valencia Group hancur!”
Wajah Pak Valencia langsung memucat seputih kertas. Ponselnya jatuh ke lantai dan hancur. Dia menatap saya dengan mata terbelalak penuh horor. Dia baru menyadari bahwa wanita yang dia putus teleponnya dengan kasar tadi adalah calon tunangan pilihan ayahnya—seorang petinggi militer rahasia yang kekuasaannya jauh di atas segalanya.
Sementara itu, sang sekretaris sombong langsung lemas hingga jatuh terduduk di lantai bandara. Uang satu juta rupiah yang dia banggakan tadi kini tidak ada artinya sama sekali.
Pak Valencia mencoba merangkak mendekati saya, “Ma-maafkan saya… Saya tidak tahu kalau itu Anda! Pernikahan kita—”
“Pernikahan?” saya memotong kalimatnya dengan dingin, sambil memakai kacamata hitam saya. “Keluarga Valencia bilang bisa menutupi langit Jakarta dengan satu tangan, bukan? Sayangnya, saya adalah badai yang bisa meruntuhkan langit kalian.”
Saya melangkah pergi melewati mereka yang meratap histeris, dikawal ketat oleh pasukan militer. Perjodohan ini resmi batal, dan hari ini Jakarta belajar satu hal: jangan pernah meremehkan orang yang memilih untuk tetap diam.