SAAT IBU MERTUAKU MEMBAGIKAN TIGA RUKO KEPADA PARA MENANTUNYA, AKU SATU-SATUNYA YANG TIDAK MENDAPAT APA PUN—KEESOKAN HARINYA, AKU MEMBATALKAN PENGOBATANNYA DI SWISS SENILAI Rp18 MILIAR
Suamiku mengira aku akan menunduk malu saat ibu mertuaku tidak memberiku satu pun ruko.
Seluruh keluarganya mengira aku akan diam saja karena aku “hanya seorang menantu.”
Mereka tidak tahu, uang yang digunakan untuk menyelamatkan nyawa wanita tua yang selalu merendahkanku itu… berasal dariku.
“Sayang, ada kabar baik!”
Adrian Mercado hampir berteriak saat masuk ke ruang tamu, ponsel masih di tangannya dan wajahnya tak mampu menyembunyikan kegembiraannya.
Saat itu aku sedang di dapur, mengiris bawang untuk makan malam. Pisau di tanganku berhenti sesaat.
“Apa kabarnya?”
Ia mendekat, memelukku dari belakang seperti anak kecil yang tak sabar menyampaikan berita.
“Mama memutuskan untuk menghadiahkan satu unit properti komersial kepada setiap menantu. Ruko di Cavite. Nilainya besar sekali, Sayang. Mama memang luar biasa dermawan.”
Ia tertawa dengan nada bangga.
“Bayangkan, setiap pasangan kami punya properti sendiri. Bisa untuk bisnis atau investasi. Kata Mama, ini adalah berkah keluarga.”
Aku menatapnya. Di matanya terlihat jelas rasa bangga.
Seolah-olah kebaikan ibunya adalah pencapaiannya sendiri.
Seolah-olah ia lupa bahwa selama empat tahun terakhir, akulah yang menanggung sebagian besar pengeluaran keluarga mereka.
Aku yang membayar operasi ayahnya.
Aku yang melunasi utang kakaknya di bank.
Dan aku juga yang diam-diam mengatur fasilitas pengobatan VIP untuk ibunya di Swiss setelah ia didiagnosis menderita penyakit saraf langka.
Namun aku hanya tersenyum.
“Kalau begitu, syukurlah.”
Keesokan harinya, kami pergi ke rumah keluarga besar Mercado di Alabang.
Rumah itu sangat megah, dengan gerbang tinggi, lantai marmer, dan lampu kristal besar di tengah ruang tamu yang seolah sengaja dipasang untuk menunjukkan betapa kayanya keluarga ini.
Kedua saudara Adrian sudah berada di sana.
Marco, anak sulung, bersama istrinya Denise yang gemar memamerkan tas-tas desainer di media sosial.
Paolo, si bungsu, bersama istrinya Camille yang selalu tersenyum di depanku, tetapi diam-diam memanggilku “gadis kampung yang cuma beruntung.”
Dan Adrian, anak tengah, berdiri di sampingku sambil menggenggam tanganku seperti suami yang sangat bangga.
Di tengah ruangan duduk Doña Lourdes Mercado.
Ia mengenakan kalung mutiara, cincin zamrud, dan kebaya modern yang sangat mahal. Wajahnya pucat karena penyakitnya, tetapi tatapannya masih tajam.
Saat melihatku, ia hanya tersenyum tipis.
Senyum seseorang yang sebenarnya tidak pernah menerimamu, tetapi masih menoleransimu karena kamu masih berguna.
“Karena usia saya sudah tua,” katanya sambil memandang semua orang, “saya ingin melihat keluarga ini hidup rukun selagi saya masih ada.”
Semua orang mengangguk.
“Setiap menantu telah memberikan kontribusi bagi keluarga ini. Karena itu, sebagai bentuk penghargaan, saya akan memberikan satu unit ruko kepada masing-masing.”
Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.
Denise tersenyum lebar.
Camille bahkan memegang dadanya seolah baru memenangkan kontes kecantikan.
Aku tetap diam.
Seorang pengacara berjalan maju membawa tiga map merah.
Tiga.
Bukan empat.
Saat itu juga, perasaan dingin menjalar di punggungku.
Nama pertama yang dipanggil adalah Denise.
“Untuk Denise Mercado, istri Marco.”
Dengan mata berkaca-kaca, ia langsung memeluk Doña Lourdes.
“Terima kasih, Mommy. Mommy baik sekali.”
Lalu giliran Camille.
“Untuk Camille Mercado, istri Paolo.”
Ia hampir menjerit kegirangan.
“Mommy, saya janji akan menjaganya baik-baik!”

Yang ketiga diberikan kepada Bibi Nena.
Seluruh ruang tamu mendadak terdiam.
Bibi Nena adalah asisten rumah tangga yang telah bekerja di keluarga Mercado selama dua puluh tahun.
“Untuk Nena,” kata Doña Lourdes, “karena terkadang, pembantu yang setia lebih pantas disebut keluarga dibanding seorang wanita yang bahkan tidak bisa memberiku cucu.”
Kata-kata Doña Lourdes bagaikan petir di siang bolong. Seluruh ruangan mendadak hening, berganti dengan bisik-bisik kepuasan dari Denise dan Camille.
Aku menoleh ke arah Adrian, berharap suamiku akan membelaku setelah semua pengorbanan yang kulakukan untuk keluarganya. Namun, ia justru menundukkan kepala, membuang muka, dan melepaskan genggaman tangannya dariku. Ia terlalu pengecut untuk menentang ibunya demi ruko tersebut.
“Mommy benar,” celetuk Camille sambil tersenyum sinis. “Menantu yang tidak berguna untuk apa diberi aset? Hanya menghabiskan uang keluarga Mercado saja.”
Aku tidak menangis. Aku justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat pengacara keluarga yang berdiri di sudut ruangan tiba-tiba berkeringat dingin. Pengacara itu tahu siapa aku sebenarnya—pemilik tunggal dari Heirloom Medical Group, yayasan medis internasional yang mendanai seluruh pengobatan VIP Doña Lourdes.
“Terima kasih atas penilaiannya, Ibu,” ucapku tenang sambil berdiri dari kursi. “Saya harap ruko-ruko itu bisa membawa berkah bagi kalian semua.”
Tanpa menunggu jawaban, aku berbalik dan melangkah keluar dari rumah megah itu. Adrian tidak mengejarku. Dia terlalu sibuk meratapi nasibnya yang tidak mendapat bagian properti.
Balasan di Pagi Hari
Keesokan harinya, tepat pukul 08.00 pagi, aku duduk di kantor pribadiku. Di hadapanku, segelas kopi hitam masih mengepul. Aku mengambil ponsel dan menghubungi Direktur Utama Klinik Utama Neurologi di Jenewa, Swiss.
“Batalkan seluruh slot perawatan, terapi genetik khusus, dan jet medis pribadi atas nama Lourdes Mercado. Tarik kembali subsidi Rp18 miliar yang telah dialokasikan dari yayasan saya,” perintahku dingin.
“Baik, Madam. Pembatalan diproses per detik ini. Pihak pasien akan menerima notifikasi dalam lima menit.”
Setelah menutup telepon, aku mengirim pesan singkat ke grup obrolan keluarga Mercado:
“Selamat menikmati ruko baru kalian. Semoga ruko-ruko itu cukup berharga untuk dijual demi membayar biaya rumah sakit.”
Kepanikan di Alabang
Tidak butuh waktu lama. Hanya dalam waktu lima belas menit, gerbang rumahku digedor dengan brutal. Saat kubuka, Adrian berdiri di sana dengan wajah pucat pasi, napasnya terengah-engah, dan matanya merah karena panik. Di belakangnya, Marco, Paolo, Denise, dan Camille menyusul dengan wajah yang kehilangan semua keangkuhannya.
“Sayang! Apa yang kamu lakukan?!” teriak Adrian histeris sambil menyodorkan ponselnya ke wajahku. “Pihak rumah sakit Swiss baru saja membatalkan jadwal keberangkatan Mama besok pagi! Mereka bilang seluruh biaya operasional Rp18 miliar dibatalkan oleh sponsor utama! Dan sponsor utama itu… adalah perusahaan atas namamu?!”
Denise dan Camille menatapku dengan tubuh gemetar.
“Kamu… kamu cuma gadis kampung, bagaimana mungkin kamu punya uang sebanyak itu?!” jerit Camille, suaranya melengking karena syok.
Aku bersandar di pintu, menatap mereka satu per satu dengan pandangan meremehkan.
“Gadis kampung yang kalian remehkan ini adalah pemilik Heirloom Medical Group,” jawabku datar. “Selama ini, akulah yang membayar semua kemewahan yang kalian nikmati secara diam-diam karena aku menghargai Adrian. Operasi ayahmu, utang kakakmu, dan nyawa ibumu… semuanya dibayar dengan uangku.”
Aku menatap Adrian yang kini jatuh berlutut di hadapanku.
“Tapi kemarin, ibumu bilang pembantu yang setia lebih pantas disebut keluarga dibanding aku. Dan kamu, Adrian… kamu diam saja saat ibumu menginjak-injak harga diriku.”
“Sayang, aku mohon! Mama bisa mati tanpa pengobatan di Swiss itu! Tolong selamatkan Mama!” ratap Adrian sambil mencoba memegang kakiku, air matanya mengalir deras.
Marco dan Paolo juga ikut memohon, “Tolong, ipar… kami salah. Kami akan mengembalikan ruko itu padamu! Tiga-tiganya untukmu!”
“Ruko Cavite?” Aku tertawa kecil, suara tawa yang terdengar begitu dingin di telinga mereka. “Kalian pikir aku butuh ruko murah itu? Biaya pengobatan ibumu satu bulan saja bisa membeli sepuluh ruko seperti itu.”
Aku mundur satu langkah dan bersiap menutup pintu.
“Jual saja ruko-ruko kebanggaan kalian itu untuk membayar biaya medisnya. Tapi bersiaplah kecewa, karena tanpa jaminan dan nama besarku, tidak ada satu pun rumah sakit di Swiss yang sudi menerima pasien dari keluarga Mercado.”
“Dan Adrian,” tambahku sebelum pintu tertutup rapat. “Surat cerai akan dikirim oleh pengacaraku siang ini. Nikmati kemiskinan baru kalian.”
BRAAK!
Pintu tertutup rapat. Di luar, terdengar suara tangisan histori dan saling salah-menyalahkan di antara mereka. Kemewahan keluarga Mercado runtuh dalam satu malam, menyisakan penyesalan terdalam karena telah meremehkan orang yang selama ini menjadi malaikat pelindung mereka.