Posted in

“Ayo, Shena, aku antarkan kamu,” ujar Arka.

“Apa?” Shena mengu s ap pipinya yang basah. Ia tak punya waktu beradu argumen dengan Arka karena pria itu sudah mendorong bahunya dan membawanya ke pintu penumpang di sebelah kemudi.

“Duduk, aku yang nyetir. Di rumah sakit mana?” tanya Arka.

Shena tak menjawab karena situasi ini sangat canggung.

“Shena!” panggil Arka lagi. “Ibu kamu pasti baik-baik saja. Kita ke sana sekarang juga, oke, tapi kamu harus tenang!”

Shena mengangguk dan dalam waktu sekejap, mobilnya pun melunjur menuju jalanan. Ia menyebutkan nama rumah sakit tempat ibunya dirawat.

“Kamu ninggalin mobil kamu begitu aja di tengah jalan, Mas!” Shena baru sadar. “Kamu bisa kena ti lang nanti.”

Arka tersenyum miring. “Aku senang kamu perhatian sama aku.”

“Siapa yang perhatian?” sembur Shena. Ia melipat kedua tangannya di depan da da. Ia sudah jauh lebih tenang meskipun tangannya masih gemetar membayangkan ibunya kena stroke ringan. “Aku cuma nggak mau kena masalah. Mobil kamu miring nggak jelas di tengah jalan, tahu!”

Arka merogoh ponselnya, ia menepikan mobil Shena sebentar untuk menelepon Martin. “Urus mobil aku sekarang juga. Aku harus ke luar kota, jadi urusan kantor tolong kamu tangani dulu. Aku kirimkan lokasi mobilnya.”

Setelah mematikan ponselnya, Arka kembali melajukan mobil membelah keheningan malam. Suasana di dalam kabin terasa begitu padat, hanya deru mesin dan detak jarum jam yang samar-sarang mengisi kekosongan di antara mereka.

Shena masih setia memandang ke luar jendela, memperhatikan lampu-lampu jalanan yang kabur oleh kecepatan mobil. Kedua tangannya masih bertaut erat di depan dada, menahan kecamuk badai kecemasan yang belum juga reda.

“Minum dulu,” ucap Arka memecah keheningan, sambil menyodorkan sebotol air mineral yang ia ambil dari dashboard.

Shena menoleh ragu, namun tenggorokannya yang terasa kering akhirnya mengalahkan gengsinya. “Terima kasih,” bisiknya pelan setelah meneguk air itu sedikit.

“Jangan berpikiran yang aneh-aneh,” kata Arka tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya. Suaranya kali ini terdengar lebih lembut, kehilangan nada sombong atau jahil yang biasanya selalu sukses memancing emosi Shena. “Ibu kamu itu wanita yang kuat. Stroke ringan bisa ditangani kalau cepat dibawa ke rumah sakit. Dan kita akan sampai sebentar lagi.”

Mendengar kalimat itu, pertahanan Shena runtuh juga. Setitik air mata kembali lolos melintasi pipinya. Selama ini, Arka selalu menjadi sosok menyebalkan yang ingin ia hindari, namun malam ini, entah mengapa kehadiran pria itu memberikan rasa aman yang tidak bisa ia pungkiri.

“Kenapa kamu lakukan ini, Mas?” tanya Shena lirih, nyaris berbisik. “Kamu bahkan rela ninggalin mobil dan urusan kantor kamu gitu aja.”

Arka terdiam sesaat. Jari-jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme pelan. Ia melirik Shena sekilas, melihat gurat kelelahan dan kerapuhan yang jarang sekali ditunjukkan oleh wanita keras kepala di sampingnya ini.

“Karena saat melihat kamu panik seperti tadi, hal lain jadi nggak penting lagi,” jawab Arka jujur, nadanya begitu serius hingga membuat jantung Shena berdesir aneh. “Sudah kubilang, kan? Kamu nggak perlu menghadapi semuanya sendirian, Shena.”

Shena tertegun, kehilangan kata-kata. Ia kembali memalingkan wajahnya ke jendela, menyembunyikan rona tipis yang mendadak muncul di pipinya yang masih basah. Di tengah rasa takut akan kondisi ibunya, ada sebuah rasa baru yang perlahan mulai menyusup ke dalam hatinya—sebuah rasa yang selama ini selalu ia sangkal keberadaannya.