Posted in

Aku menjatuhkan ta lak tepat setelah istriku operasi caesar dan ra himnya diangkat karena penda rahan hebat saat melahirkan putri kembar kami.

Kupikir hidupnya akan han cur setelah kutinggalkan di rumah sa kit tanpa ua ng sepeser pun. Namun, aku shock setengah ma ti saat mengetahui bahwa dia malah…

Mendengar pengakuanku, dokter Hanan terdiam mematung. Rahangnya mengeras. Pria berjas putih itu tidak menyela, membiarkan tangisanku pecah menumpahkan rasa sa kit yang kusimpan sendirian.

“Bu Naura,” panggil dokter Hanan setelah isakanku mulai mereda. Beliau menyodorkan sekotak tisu. “Ibu tidak perlu memikirkan tempat tinggal malam ini. Istri saya baru saja mengirim pesan. Dia punya kenalan yang menye wakan ka mar kos khusus putri, tempatnya aman, bersih, dan lokasinya sangat dekat dengan rumah sa kit tempat an ak-an ak Ibu dirawat.”

Bi bir ini bergetar, tak menyangka akan mendapat perto longan secepat ini. “T-tapi Dok, bia yanya … ua ng saya sangat terbatas.”

“Istri saya yang akan menalanginya dulu untuk bulan pertama. Anggap saja pin jaman lunak, Ibu bisa menggantinya kapan-kapan jika sudah punya penghasilan,” sela dokter Hanan dengan senyum menenangkan. “Sekarang, fokus Ibu hanyalah memulihkan lu ka fisik ini dan menjaga kewarasan demi dua malaikat kecil Ibu di ruang NICU.”

Kebaikan dokter itu seperti embun yang menetes di atas tanah gersang. Air mata syukur kembali jatuh membasahi pipi. Di saat orang yang berjanji sehidup sema ti membuangku ke jalanan, orang asing justru mengulurkan tangan tanpa pamrih.

Dua hari kemudian.

Ka mar kos 3×4 meter ini sekarang jadi rumah baruku. Dindingnya putih bersih, tapi sayangnya berada di lantai dua, jadi aku harus sering naik-turun tangga. Mau bagaimana lagi, ini satu-satunya ka mar yang tersisa.

Suara ritmis dari mesin pompa ASI yang dipin jamkan oleh dokter Hanan berdengung pelan memecah keheningan pagi.

Sambil bersandar pada bantal yang kutumpuk di dinding, mata ini menatap tetesan cairan putih kehidupan yang perlahan memenuhi botol kaca kecil.

“Bertahanlah, Nak. Bunda akan segera datang membawa makanan untuk kalian,” bisikku pelan, mengusap botol kaca yang sudah terisi penuh.

Menjelang siang, langkah kaki ini kembali kuseret menyusuri trotoar menuju rumah sa kit. Udara Jakarta terasa terik, tapi semangat di da da tak sedikit pun surut. Tas cooler kecil berisi botol-botol A SI tersampir erat di bahu.

Menyusuri lorong rumah sa kit beraroma khas antiseptik kini sudah menjadi rutinitas harian yang paling kunanti. Namun, saat kakiku berbelok di dekat area taman indoor rumah sa kit, sayup-sayup terdengar suara isak tangis an ak kecil.

Langkahku melambat. Di sudut koridor yang sepi, tak jauh dari deretan pot tanaman hias, seorang bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun sedang berjongkok. Dia menyembunyikan wajahnya di lipatan lu tut, ba hu mungilnya berguncang hebat karena menangis.

Naluri keibuanku seketika tergerak. Tanpa ragu, kaki ini melangkah mendekati bocah tersebut.

“Hei, Sayang … kenapa menangis di sini sendirian?” sapaku selembut mungkin, ikut berjongkok dengan hati-hati agar jahitan di pe rutku tidak tertekan.

Bocah itu mendongak. Wajahnya yang tampan tampak memerah, mata bulatnya dibanjiri air mata. Pakaian yang dikenakannya adalah kemeja rapi dan celana bahan berkualitas tinggi, menandakan dia bukan sembarang an ak yang tersesat.

“Hiks … Rayyan cari Ayah … Ayah hilang ….” isaknya tersengal-sengal, mengusap mata dengan pung gung tangan mungilnya.

Sebuah senyum teduh kuberikan untuk menenangkannya. Tangan kananku terulur, dengan lembut menghapus jejak air mata di pipi gembilnya.

“Ayah nggak hilang, Sayang. Mungkin Ayah sedang ke toilet atau mengurus sesuatu. Nama kamu Rayyan?”

Bocah itu mengangguk pelan. “Iya. Tadi Rayyan kejar kupu-kupu di taman, terus pas balik, Ayah udah nggak ada.”

“Ya sudah, Rayyan jangan menangis lagi, ya. An ak laki-laki harus kuat,” bujukku halus. Aku merogoh saku gamis, mengeluarkan sebutir permen su su yang selalu kubawa untuk mengusir mual. “Ini buat Rayyan. Tante temani Rayyan tunggu di sini sampai Ayah datang, ya? Atau kita minta to long satpam di depan untuk panggil Ayah lewat speaker?”

Rayyan menerima permen itu dengan ragu, tapi tangisannya perlahan mereda. Dia menatapku lekat-lekat, mata bulatnya memancarkan kepolosan yang membuat hatiku menghangat.

“RAYYAN!”

Sebuah teriakan bariton yang berat, dalam, dan dipenuhi kepanikan yang luar biasa menggema di sepanjang lorong.

Kutolehkan kepala ke arah sumber suara.

Seorang pria jangkung berlari tergesa-gesa menghampiri kami. Jas kerjanya yang berwarna navy tampak sedikit berantakan, dasinya sudah dilonggarkan, dan wajahnya memancarkan teror ketakutan seorang ayah yang kehilangan an aknya.

“Ayah!” seru Rayyan riang, langsung berhambur berdiri.

Pria itu langsung berlutut, merengkuh tu buh mungil Rayyan ke dalam pe lukan yang sangat erat. Dia memejamkan mata, menghembuskan napas lega yang panjang seolah-olah nyawanya baru saja dikembalikan.

“Ya Allah, Rayyan. Kamu bikin Ayah jan tungan. Ayah bilang jangan jauh-jauh dari ruang dokter, Sayang,” ucap pria itu, suaranya bergetar. Dia menci umi puncak kepala putranya berkali-kali.

Melihat pemandangan itu, da daku berdesir aneh. Ada rasa hangat sekaligus iri yang menyelinap. Begitu besarnya cinta seorang ayah pada an aknya. Sangat berbanding terbalik dengan Mas Adit yang bahkan tidak sudi melirik dua ba yi perempuannya di ruang NICU.

Setelah memastikan an aknya aman, pria itu akhirnya berdiri. Dia menatapku yang perlahan ikut bangkit dari posisi jongkok.

Akan tetapi, tepat saat pandangan kami berserobok, pria itu mendadak mematung. Matanya yang ta jam membelalak, menatap lurus ke wajahku dengan sorot ketidakpercayaan.

“Terima kasih banyak, Bu, sudah menemani dan menjaga an ak saya.” Suara pria itu terdengar parau dan tertahan, matanya
sama sekali tak berkedip menatapku. “Tadi saya sedang menyelesaikan urusan di apotek dan dia tiba-tiba berlari keluar.”

“Iya, sama-sama, Pak,” jawabku canggung, sedikit salah tingkah ditatap sebegitu
intens oleh pria asing yang penampilannya meneriakkan keme wahan. “Kalau begitu
saya duluan ya. Da-da, Rayyan ….”

Baru saja aku hendak berbalik badan, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa
dari arah lorong.

“Al! Gimana, Rayyan ketemu?!”

Aku refleks menoleh. Mataku membelalak menatap pria berjas putih bersih yang setengah berlari menghampiri kami. Dia adalah dokter Hanan, dokter kandu ngan yang telah menyelamatkan nyawaku beberapa hari yang lalu.

“Lho, Bu Naura? Sedang antar A SI untuk si kembar?”