“Papa!”
Suara cempreng Maya penuh kegembiraan, putrinya itu berlari keluar dari teras, rambut kuncir kudanya bergoyang mengikuti gerakannya. Anak kecil itu mengenakan daster merah motif bunga, sandal jepit, dan wajahnya belepotan cokelat. Ia memeluk kaki Ardi erat-erat.
Ardi tersenyum, berlutut, membawa putrinya ke dalam pelukan, dan menghirup aroma matahari dan cokelat di rambut Maya. Aroma yang menenangkan. “Papa kangen, Sayang.”
“Iya, Maya juga kangen Papa. Kenapa Papa lama banget enggak ke sini. Minggu lalu, Om Biru yang temani Maya berdua mama di acara TPQ, tahu! Om Biru kemarin dari sini juga, antar Mama pulang kuliah bawain brownies bikinan Nenek Runi. Enak banget lo, Pa … browniesnya. Maya suka!” cerita Maya dengan senyum bahagia.
Kalimat itu menusuk ulu hati Ardi seperti sembilu. “Iya … maafkan Papa, ya. Papa janji lebih sering ke sini.”
Ardi mencium pipi anaknya berkali-kali. Tawa Maya pecah. Dan di balik tawa itu, rasa bersalah yang selama ini ia tekan di dasar kesadaran, perlahan meluap ke permukaan, menyesakkan dadanya hingga sulit bernapas.
Lina berdiri di ambang pintu, diam mematung. Ia mengenakan daster panjang motif daun yang dipadukan dengan kardigan rajut longgar berwarna krem, mencoba menutupi perutnya yang kini kian menonjol saat diperhatikan.
Wajahnya tanpa makeup, tapi justru terlihat lebih teduh. Ia menatap pemandangan di depannya dengan hati yang campur aduk.
Ada rasa hangat melihat Maya bahagia dalam pelukan ayahnya. Itu fitrah. Ia tahu Ardi tidak akan datang sejauh ini, membolos dari kantor, hanya untuk bermain boneka dengan Maya. Lina tahu, pasti ada yang ingin disampaikan oleh mantan suaminya itu.
Apakah Bu Ratna sudah bercerita dirinya saat ini, sedang mengandung bayi dari mantan suaminya itu. Beberapa pertanyaan muncul di kepalanya, dan ia sedang memikirkan jawaban atas pertanyaan Ardi nantinya.
Tatapan mereka bertemu. Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti. Tidak ada kata, hanya dialog mata yang sunyi. Mata Ardi penuh tanya dan sesal. Mata Lina tenang, tapi tak tertembus. Hingga akhirnya, Lina memutus keheningan.
“Masuklah, Mas,” ucapnya singkat. Suaranya datar, tanpa emosi berlebih.
Di ruang tengah dengan pendingin kipas angin, suasana canggung menyelimuti udara. Aroma brownies panggang dari dapur bercampur dengan bau minyak kayu putih. Maya sibuk bercerita tentang teman-temannya di sekolah, tentang Bu Guru yang galak, tentang Wian yang suka jahil, tapi kedua orang dewasa di dekatnya hanya saling melempar pandang, tersenyum kaku satu sama lain.

Hingga akhirnya, Maya duduk di pangkuan Ardi sambil berbisik, “Pa, katanya mama … sebentar lagi, Maya mau punya adik. InsyaAllah adiknya cowok. Pas Maya tanya siapa namanya, Mama bilang namanya masih belum ada. Tapi, Mama bilang, suruh panggil Adik Sholeh, Adik Ganteng, Adik Baik.”
“Hah?!” Ardi kaget seketika menatap wajah Lina lantas ke arah perut mantan istrinya itu. “Kamu hamil, Lin?! Anaknya Biru? Kalian bisa-bisanya melakukan hal hina seperti itu.”
“Kamu belum pernah merasakan kolak sandal, kah Mas! Ngomong sembarangan! Memangnya aku wanita murahan seperti calon istrimu itu, hah?!”
“Buktinya kamu bisa hamil. Kalau tidak ada yang menyentuhmu. Bagaimana ceritanya?!” sentak Ardi enggak kalah sengit. “Jangan katakan kalian sudah nikah diam-diam di belakangku.”
“Heh, mau kita nikah terang-terangan. Diam-diam. Enggak aja urusan sama kamu, Mas. Aku janda, Mas Biru bujangan.” Ucapan Lina dengan dada naik turun penuh emosi. Salahnya juga, tidak melarang Maya untuk jangan bercerita ke papanya kemarin malam.
“Papa kenapa marahin mama. Nanti mama sedih, kasihan Dedek Gantengnya, Papa?!” ucap sembari memukul dada papanya.
“Sebentar dedek ganteng?! Kok sudah tahu kalau dedeknya ganteng, Sayang?”
“Papa gimana, sih. Kan, tadi Maya sudah bilang mama belum dapat namanya. Makanya kita panggil Adik Sholeh, Adik Ganteng, Adik Baik. Bilangnya mama, InsyaAllah 3 bulan lagi, adiknya lahir, Papa ….”
“Apa?! Tiga bulan lagi …. ” kedua mata Ardi membulat sempurna. “Usia kandunganmu sekarang berapa, Lin?” tanya Ardi terbata.
“Tiga hari lalu saat USG, dokter mengatakan 26 mmg. Kalau kamu bisa hitung mundur, tentu sekarang kamu sudah tahu siapa pria yang membuatku hamil saat itu.”
Ardi menatap tak percaya ke tatapan mata mantan yang serasa ingin menerkam dirinya saat ini. “Berarti an—” telunjuk Ardi mengarah pada perut Lina, lantas berbalik ke dadanya, “Nakku, Lin ….”
“Bukan, anak SETAN!” jawab Lina menatap Ardi tajam. Seolah tersadar dengan ucapannya yang keliru, Lina buru-buru menepuk mulutnya berkali-kali seraya mengucapkan istighfar.
“Astagfirullahaladzim, maafkan mama, Nak …” Lina mengelus perutnya berulang kali.