Posted in

ANAK PEMBANTU MELUNJAK,MENGIRA DIA NYONYA RUMAH #5

Malam yang dinantikan tiba. Rumah mewah berarsitektur modern klasik milik Ibu Masya tampak gemerlap. Lampu kristal di ruang tengah berpendar mewah, memantulkan cahaya pada lantai marmer yang mengilat sempurna. Di halaman belakang, dekat kolam renang, beberapa meja bundar dengan taplak putih bersih telah ditata rapi. Para pelayan katering sibuk mondar-mandir mengantarkan hidangan kelas atas untuk menyambut kolega bisnis Ibu Masya.

​Di dalam kamar, Embun berdiri di depan cermin besar. Dia mengenakan gamis brokat berwarna navy yang anggun dengan riasan wajah natural namun mempertegas aura anggunnya sebagai nyonya muda. Syakir berjalan mendekat, mengenakan kemeja batik sutra yang senada. Lelaki itu memeluk pinggang istrinya dari belakang, menatap pantulan mereka di cermin.

​”Kamu cantik sekali malam ini, Sayang,” bisik Syakir, mengecup pelipis Embun.

​”Terima kasih, Mas. Kamu sudah siap untuk malam ini? Perkembangan emosi Mina pasti sudah di ubun-ubun sejak kejadian tadi pagi. Dia tidak akan melewatkan malam ini,” ujar Embun sambil merapikan kerah kemeja suaminya.

​Syakir mengangguk lambat. Tatapannya berubah dingin saat mengingat laporan dari satpam depan rumah setengah jam yang lalu. Mina ternyata sudah kembali ke rumah sejak sore, namun dia tidak masuk melalui pintu belakang bersama ibunya. Gadis itu menyelinap masuk dan langsung mengunci diri di kamar tamu lantai bawah—kamar yang sebenarnya dilarang untuk dia gunakan tanpa izin.

​”Satpam melihat dia membawa gaun pesta yang cukup mewah. Entah dari mana dia mendapatkan uang untuk membelinya,” kata Syakir dengan nada jengah.

​”Biarkan saja, Mas. Semakin tinggi dia melompat, semakin keras bunyinya saat dia jatuh nanti,” sahut Embun tenang.

​Sementara itu, di kamar tamu lantai bawah, Mina sedang mematut diri di depan kaca. Dia mengenakan gaun malam berwarna merah menyala yang sangat kontras, berpotongan agak rendah di bagian dada—sengaja untuk menarik perhatian. Riasan wajahnya tebal, sangat tidak cocok untuk acara makan malam semi-formal kolega bisnis. Dia tersenyum puas melihat penampilannya.

​”Kamu pikir kamu bisa mengesampingkan aku, Embun?” gumam Mina dengan mata berkilat penuh ambisi jahat. “Malam ini, di depan semua rekan bisnis Ibu Masya, aku akan tunjukkan siapa yang lebih pantas berdiri di samping Syakir.”

​Mina mengambil sebuah flashdisk dari dalam tasnya. Di dalam flashdisk itu, dia sudah menyiapkan sebuah rencana busuk. Dia telah mengedit beberapa foto Embun saat bersama kurir ekspedisi kemarin, memotong bagian wajah sang kurir agar terlihat samar, dan menambahkan teks provokatif yang menuduh Embun melakukan perselingkuhan. Dia berencana memasukkan flashdisk itu ke laptop operator yang terhubung ke proyektor besar di area halaman belakang, yang biasanya digunakan untuk presentasi bisnis Ibu Masya.

​Narti tiba-tiba mengetuk pintu kamar tamu dan masuk dengan wajah cemas. Saat melihat penampilan anaknya, wanita tua itu hampir menjatuhkan nampan gelas yang dibawanya.

​”Mina! Astagfirullah… kamu mau ke mana pakai baju seperti itu? Ini acara bisnis Ibu Masya, Nduk! Kamu harusnya bantu Ibu di dapur belakang!”

​Mina mendengus, menyambar tas kecilnya tanpa memandang ibunya. “Bantu di dapur? Ogah! Aku ini berpendidikan, Mak. Aku bukan pembantu sepertimu. Aku pantas duduk di depan bersama Syakir dan Ibu Masya!”

​Tanpa memedulikan tangisan lirih ibunya, Mina melangkah keluar dengan angkuh. Kakinya yang mengenakan high heels berbunyi nyaring di atas lantai marmer, menuju langsung ke arah kerumunan tamu yang mulai berdatangan di halaman belakang.