Mereka masuk ke lobi dengan langkah penuh percaya diri. Semua karyawan menoleh, sebagian memberi salam dengan canggung. Arga sendiri sudah menunggu di depan pintu ruangannya, tersenyum lebar menyambut.
Mereka bersikap seolah-olah sebagai keluarga pendiri sekaligus pemilik perusahaan tersebut.
“Ibu, Kakak, Andika… selamat datang,” ujarnya penuh hormat.
Ibu Arga tersenyum puas. “Ga, Ibu ingin kau carikan posisi bagus untuk Andika di perusahaan ini. Dia tidak boleh jadi pengangguran terlalu lama. Kau bisa kan, atur sesuatu untuk adikmu?”
Arga mengangguk tanpa ragu. “Tentu, Bu. Andika akan saya tempatkan di divisi yang strategis. Posisi yang sesuai dengan keluarga kita.”
Kedua kakak Arga ikut menimpali dengan nada congkak.
“Ya iyalah. Masa adik bungsu kita hanya ditempatkan di bawah? Dia anak keluarga besar kita, pantas di posisi penting.”
“Benar. Apalagi dengan jabatanmu sekarang, pasti bisa mengatur. Keluarga kita harus terlihat berkelas.”
Andika hanya tersenyum sombong, memandang sekeliling gedung seperti sudah jadi miliknya.
Tanpa sengaja, ketika mereka hendak masuk ke ruangan Arga, langkah mereka bersinggungan dengan seorang cleaning service yang sedang mengepel lantai lorong.
Itu Anisa.
Dengan seragam biru muda khas cleaning service di perusahaan itu, rambut diikat sederhana, wajah tanpa make up, ia sedang jongkok membersihkan noda kopi. Begitu menoleh, mata mereka bertemu.
Sejenak, keheningan menyelimuti. Lalu tawa meledak.
“Ya ampun!” Ani, kakak pertama Arga menjerit kecil sambil menutup mulutnya. “Bukankah itu… Anisa?!”
“Benar!” Ayu kakak kedua menimpali. “Astaga, lihat dia! Dulu masih bisa pura-pura jadi istri Arga, sekarang sudah turun jadi cleaning service. Hahaha!”
Ibu Arga mendekat, menatap Anisa dari atas kepala hingga kaki dengan sorot penuh j1jik.
“Kau… apa yang kau lakukan di sini? Membersihkan lantai? Hahaha! Memalukan sekali. Ternyata memang tempatmu di sini. Bukan di sisi anakku.”
Andika ikut tertawa keras. “Masya Allah, ternyata benar kata orang-orang. Dia diusir dari rumah, sekarang jadi tukang pel! Hahaha, cocok sekali!”
Anisa terdiam. Tangannya masih memegang kain pel, tu buhnya gemetar. Ia ingin bicara, tapi suara tercekat. Air matanya menggenang, menetes jatuh ke lantai yang baru dibersihkannya.

Kedua kakak Arga semakin brutal.
“Eh, kamu masih berani datang ke kantor ini? Apa kau pikir bisa kembali dekat dengan Arga? Jangan mimpi, Anisa. Kau perempuan murahan. Baju seragammu itu bukti siapa dirimu sebenarnya.”
Yang lain menimpali, “Bahkan cleaning service lain pun lebih terhormat darimu. Kau itu noda keluarga!”
Ibu Arga melipat tangannya di dada, menatap dengan tatapan yang menusuk. “Sudah dari dulu aku bilang, kau tidak pantas dengan Arga. Dan lihatlah sekarang… takdir membuktikan kata-kataku. Kau memang hanya babu!”
Andika, si bungsu, melangkah maju dengan wajah congkak.
“Kalau kau memang cleaning service, ayo bersihkan sepatuku. Kotor terkena lumpur tadi di parkiran.”
Ia mengangkat kaki, menaruh sepatu kotornya tepat di depan Anisa. Semua tertawa.
“Cepat, Nisa! Kau kan memang tukang bersih-bersih sekarang. Jangan cuma diam!” ejek kakak pertama.
Anisa masih diam, kemudian tangannya gemetar meraih kain lap. Ia menunduk, menyeka sepatu Andika yang penuh lumpur, sementara tawa keluarga Arga menggema keras di lorong kantor.
Beberapa karyawan yang lewat berhenti menonton. Ada yang menunduk tidak tega, ada yang menahan tawa, ada juga yang memilih diam pura-pura sibuk.
Setiap usapan kain di sepatu Andika membuat air mata Anisa semakin deras. Tapi ia menahan diri.
Tiba-tiba, Ayu kakak kedua Arga menyenggol bahu Anisa dengan kasar hingga ia hampir terjatuh. “Lihat, dasar lemah! Bahkan jongkok pun tidak becus.”
Ibu Arga menambahkan dengan suara lantang agar semua karyawan mendengar.
“Dengar semua! Perempuan ini pernah jadi pembantu keluarga kami, tapi kami usir karena dia mencuri. Tapi lihatlah sekarang… dia malah bekerja di sini. Hati-hati kalian semua, amankan barang berharga kalian!”
Suasana dipenuhi tawa. Anisa hanya menunduk, air mata membasahi pipinya.
“Ya Allah… aku pemilik gedung ini… aku pewaris perusahaan ini… tapi aku diperlakukan seperti sampah.” batinnya berteriak.
Pak Darma yang kebetulan keluar dari ruang rapat melihat pemandangan itu. Wajahnya langsung menegang, urat di pelipisnya menonjol.
Namun Anisa cepat-cepat menggeleng pelan, memberi isyarat dengan mata basahnya. “Jangan, Pak. Jangan sekarang. Belum waktunya.”
Pak Darma mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan diri dengan susah payah. Ia ingin berteriak pada keluarga Arga, ingin membuka siapa sebenarnya Anisa. Tapi ia tahu, rencana besar ini harus tetap berjalan.
Ibu Arga menoleh pada Arga yang baru keluar dari ruangannya.
“Ga, lihatlah mantan istrimu itu. Sudah cocok kan dengan tempatnya sekarang? Jadi tukang pel!”
Arga hanya menatap dingin, lalu tersenyum tipis. “Sudahlah, Bu. Biarkan saja dia. Dia memang tidak pantas lagi berada di dekat keluarga kita. Jangan ladeni lagi aku enggak mau semua orang di sini tau bahwa dia adalah mantan istriku. Memalukan sekali.”
Tawa keluarga itu kembali pecah.
Anisa menunduk semakin dalam. Air matanya menetes ke lantai, bercampur dengan sisa lumpur sepatu Andika.
Dalam hatinya, ia berbisik lirih, “Baiklah. Tertawalah sekarang. Hin4 aku sepuasnya. Tapi ingat, setiap hinaan kalian adalah utang yang suatu hari harus kalian bayar. Dan saat waktunya tiba… kalian sendiri yang akan menunduk di hadapanku.”
Anisa pun ditinggalkan begitu saja. Gara-gara fitnah barusan, ada semakin banyak orang di perusahaan itu yang menjaga jarak dengannya.
*
Malam itu, di apartemen, Anisa menangis tersedu-sedu sambil memeluk Abraham. Tubuhnya gemetar, suaranya parau.
“Anakku… Ibu sudah dihina, dipermalukan, bahkan diperlakukan seperti binatang di gedung yang sebenarnya milik kita. Tapi Ibu janji… semua ini tidak akan sia-sia. Akan ada hari di mana kebenaran muncul, dan mereka semua tidak bisa berkutik.”
Pak Darma duduk di sampingnya, menepuk bahu Anisa. Matanya merah menahan marah.
“Nduk… kalau aku yang memutuskan, keluarga itu sudah kusingkirkan dari perusahaan ini sejak lama. Tapi kalau kamu masih ingin sabar, aku akan tetap ikut caramu. Tapi ingat, jangan biarkan dirimu hancur. Kau terlalu berharga untuk mereka injak.”
Anisa mengangguk, matanya masih basah. “Aku sanggup, Pak. Karena aku tahu… nanti aku yang akan berdiri di puncak, sementara mereka semua tenggelam dalam rasa malu.”
“Aku akan bertahan sebentar lagi, Pak. Arga mengatakan gugatan cerai darinya sudah diajukan ke Pengadilan Agama. Tinggal menunggu waktu. Setelah kami resmi berpisah aku baru akan menunjukkan kepada mereka siapa jati diriku yang sebenarnya.”
Baca selengkapnya sampai tamat di aplikasi KBM App, klik li_nk di kolom komentar