AKU PULANG LEBIH AWAL UNTUK MEMBERI KEJUTAN PADA ISTRIKU YANG SEDANG HAMIL. TAPI SAAT MELIHAT APA YANG TERJADI PADANYA DI DALAM RUMAH KAMI SENDIRI, AKU MERASA SEPERTI MATI DALAM KEADAAN HIDUP.
Namaku Miguel, usia tiga puluh dua tahun.
Selama bertahun-tahun, aku berpikir bahwa ukuran cinta adalah seberapa keras seseorang bekerja demi keluarganya.
Sebagai manajer regional di sebuah bank besar di Makati, hampir tidak ada waktu yang tersisa untuk diriku sendiri.
Rapat.
Perjalanan dinas.
Makan malam dengan klien.
Panggilan darurat.
Berulang.
Setiap hari.
Berulang lagi.
Aku terus mengatakan pada diriku sendiri bahwa semua itu kulakukan demi masa depan kami.
Demi istriku.
Demi anak kami yang akan lahir.
Sementara itu, istriku, Angela, yang sedang hamil tujuh bulan anak pertama kami, hampir selalu sendirian di rumah.
Dia tidak punya orang tua.
Tidak punya saudara.
Akulah satu-satunya keluarga yang dia miliki.
Banyak kali teman-temanku berkata:
— “Bro, tidak baik wanita hamil selalu sendirian.”
Karena itu aku mempekerjakan seorang asisten rumah tangga.
Namanya Lorna.
Referensinya sangat bagus.
Bicaranya sopan.
Terlihat dapat dipercaya.
Setiap minggu aku memberinya uang untuk belanja kebutuhan rumah, vitamin, susu, buah-buahan, dan semua yang dibutuhkan Angela.
Aku bahkan berkali-kali mengingatkannya:
— “Yang paling penting, jaga istriku baik-baik.”
Dia selalu menjawab dengan senyum:
— “Jangan khawatir, Pak. Saya menganggapnya seperti kakak saya sendiri.”
Aku tidak tahu bahwa para pembohong terbaik sering kali adalah mereka yang terlihat paling baik hati.
Lalu datanglah hari yang mengubah segalanya.
Hari itu hari Jumat.
Tiba-tiba rapat terakhirku dibatalkan.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku bisa pulang lebih awal.
Aku sangat senang.
Aku membeli satu buket besar mawar putih.
Aku mampir ke toko perlengkapan bayi di BGC.
Membeli pakaian bayi kecil.
Kaos kaki.
Dan sebuah boneka teddy bear yang lucu.
Saat menyetir pulang menuju Quezon City, aku tidak bisa berhenti tersenyum.
Aku membayangkan betapa bahagianya Angela saat melihatku.
Aku tidak tahu bahwa mimpi buruk sedang menungguku.
Pintu rumah sedikit terbuka.
Aku masuk dengan diam-diam.
Buket bunga masih ada di tanganku.
Aku ingin memberinya kejutan.
Tapi kemudian aku mendengar sesuatu.
Tangisan pelan.
Pecah.
Dan menghancurkan hati.
Itu bukan tangisan biasa.
Terdengar seperti seseorang yang sudah kehilangan semua harapan.
Aku segera berjalan menuju ruang tamu.
Dan dalam sekejap…
duniaku runtuh.
Bunga-bunga itu jatuh dari tanganku.
Seolah waktu berhenti.
Angela berlutut di tengah lantai.
Dia hampir tidak mampu berdiri karena perutnya yang besar.
Pakaiannya basah kuyup oleh air kotor berwarna abu-abu.
Berbau seperti kain lap tua.
Lengan dan kakinya memerah.
Jelas terlihat dia sudah menggosok kulitnya selama berjam-jam.
Saking kerasnya menggosok, kulitnya mulai lecet.
Dan sambil menangis…
dia terus menggosok dirinya sendiri.
— “Sedikit lagi…”
— “Aku pasti bisa bersih…”
— “Aku tidak akan kotor lagi…”
— “Maafkan aku…”
— “Maafkan aku…”
Rasanya seperti ada seseorang yang meremas jantungku perlahan-lahan.
Lalu aku melihat Lorna.
Duduk santai di kursi recliner favoritku.
Kakinya disilangkan.
Memakan anggur dan ceri impor yang kubeli khusus untuk Angela.
Menonton sinetron.
Seolah dia adalah ratu di rumah kami sendiri.
Dan saat istriku yang sedang hamil menderita di lantai…
dia malah tersenyum.
— “Gosok lebih keras,” katanya dingin.
— “Lihat dirimu sendiri.”
— “Kulitmu makin hitam.”
— “Tubuhmu makin gemuk.”
— “Kamu terlihat jorok.”
— “Kalau aku jadi suamimu, aku juga tidak akan mau pulang untukmu.”
Angela gemetar.
Tapi dia tidak berhenti.
— “Tolong…” katanya sambil menangis.
— “Jangan bilang pada Miguel…”
— “Aku tidak ingin menambah bebannya…”
— “Aku akan memperbaiki diriku…”
— “Aku akan berubah…”
— “Tolong…”
Pada saat itu…
ada sesuatu yang mati di dalam diriku.
Dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya lahir.
Amarah.
Bukan amarah biasa.
Melainkan amarah seorang pria yang melihat wanita yang paling dicintainya dihancurkan.
Aku perlahan keluar dari balik dinding.
Mereka belum menyadari kehadiranku.
Aku hanya menatap Angela.
Dan saat itulah aku menyadari sesuatu yang lebih mengerikan.
Ada memar di lengannya.
Ada goresan di lehernya.
Dan ada bekas luka tipis di tangannya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Tiba-tiba aku teringat beberapa bulan terakhir.
Tubuhnya yang semakin kurus.
Kesunyiannya yang semakin sering.
Senyum palsunya setiap kali aku bertanya.
Dan jawabannya yang selalu sama:
— “Aku baik-baik saja.”
Ternyata tidak.
Sama sekali tidak.
Dan saat aku menatap memar di tubuh istriku…
aku melihat ponsel Lorna yang tergeletak di atas meja.
Layar itu tiba-tiba menyala.
Ada pesan baru masuk.
Dan nama yang muncul di notifikasi membuat jantungku berhenti berdetak.
Karena orang yang sedang mengirim pesan kepadanya bukan orang asing.
Bukan pula teman.

Melainkan seseorang yang sangat kupercaya.
Seseorang yang tidak pernah sedikit pun kucurigai.
Dan pesan yang kulihat hanya terdiri dari enam kata:
“Teruskan saja. Dia hampir menyerah.”
Layar ponsel itu berkedip, menampilkan nama pengirim yang membuat seluruh isi dadaku terasa hancur berkeping-keping: Ibuku.
Wanita yang melahirkanku. Wanita yang selalu mengeluh bahwa Angela “tidak cukup baik” untukku karena latar belakangnya yang yatim piatu. Wanita yang pura-pura bersikap manis saat aku merekrut Lorna atas rekomendasinya.
“Teruskan saja. Dia hampir menyerah.”
Dua kalimat itu adalah bukti konret dari sebuah konspirasi kejam untuk menghancurkan mental istriku, agar dia pergi meninggalkanku, atau lebih buruk lagi—kehilangan bayinya.
Udara di dalam ruangan terasa membeku. Suara gesekan kain lap di lantai dan tawa pelan Lorna dari televisi mendadak senyap, tergantikan oleh gemuruh darah yang berdesir hebat di telingaku. Aku melangkah maju. Langkah kakiku berat, namun pasti.
Brak!
Aku menendang meja kopi di dekatku hingga retak. Lorna tersentak, buah anggur di tangannya terlepas dan menggelinding di lantai. Wajahnya seketika pucat pasi, kehilangan seluruh warna kulitnya saat matanya berbenturan dengan tatapanku.
“T-Tuan Miguel…” bisiknya, suaranya bergetar hebat. Dia mencoba berdiri, namun lututnya lemas.
“Miguel…?” Angela mendongak. Matanya yang sembap dan merah menatapku penuh ketakutan, bukan kebahagiaan. Dia justru mencoba menutupi memar di lengannya dengan pakaiannya yang basah. “M-Miguel, ini bukan seperti yang kamu lihat… Aku… aku cuma sedang membersihkan lantai… Jangan marah pada Lorna…”
Melihat Angela yang begitu tertekan dan masih berusaha melindungiku dari beban pikiran, air mataku luruh. Aku mengabaikan Lorna. Aku langsung berlutut di lantai yang basah, tidak peduli setelan jas mahalku kotor oleh air abu-abu itu. Aku menarik Angela ke dalam pelukanku, mendekapnya begitu erat seolah-olah jika aku melepaskannya, dia akan lenyap.
“Maafkan aku, Angela… Maafkan aku,” bisikku berulang kali, suaraku tercekat oleh tangis yang membakar tenggorokan. “Aku di sini. Suamimu di sini. Tidak akan ada lagi yang menyakitimu.”
Angela menangis histeris di dadaku. Tubuhnya yang rapuh bergetar hebat, menumpahkan seluruh rasa sakit, ketakutan, dan siksaan yang dipendamnya sendirian selama berbulan-bulan di rumah ini.
Setelah Angela agak tenang, aku membantunya duduk di sofa yang bersih, menyelimutinya, dan mengecup keningnya lama. Sambil menggenggam tangannya, aku berbalik menatap Lorna yang kini menyudut di dinding, gemetar ketakutan.
Aku mengambil ponsel Lorna dari meja. Aku mengetik balasan untuk ibuku menggunakan ponsel itu:
“Permainan selesai. Aku tahu semuanya. Jangan pernah temui aku, istriku, dan anakku lagi. Ibu sudah kehilangan seorang putra.”
Aku mengirim pesan itu, lalu melempar ponsel tersebut tepat di bawah kaki Lorna hingga layarnya hancur berantakan.
“Keluar,” kataku. Suaraku sangat rendah, namun sarat dengan ancaman yang mematikan.
“T-Tuan, saya hanya melakukan apa yang diperintahkan—”
“KELUAR SEBELUM AKU MELAKUKAN SESUATU YANG AKAN MEMBUATMU MEMBUSUK DI PENJARA SEUMUR HIDUP!” bentakku, guntur amarahku menggelegar memenuhi rumah.
Lorna tidak berani menjawab lagi. Dia berlari tunggang-langgang keluar dari rumah, meninggalkan tas dan barang-barangnya, ketakutan setengah mati melihat monster yang baru saja bangkit dari dalam diriku.
Malam itu, aku tidak kembali ke kantor. Bahkan, keesokan harinya aku mengajukan surat pengunduran diri dari posisi manajer regional. Persetan dengan karier, persetan dengan uang ratusan juta, persetan dengan pembuktian diri. Semua itu tidak ada artinya jika harga yang harus kubayar adalah kewarasan dan keselamatan wanita yang kucintai.
Aku membawa Angela pindah jauh dari kota itu, ke sebuah rumah kecil yang tenang di dekat pantai, tempat di mana ibuku atau siapa pun tidak akan bisa menemukan kami.
Dua bulan kemudian, Angela melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Prosesnya tidak mudah, trauma fisik dan psikologisnya membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Namun, setiap malam saat aku terbangun dan melihat Angela tidur dengan tenang sambil mendekap putri kami, aku tahu aku telah mengambil keputusan yang benar.
Aku memang pernah merasa mati dalam keadaan hidup saat melihat penderitaannya. Namun kini, melihat senyum tulus yang perlahan kembali di wajah istriku, aku tahu… kami telah lahir kembali.