Sebelum Ibu Meninggal, Beliau Mengatakan Bahwa Aku Ternyata Memiliki Tiga Kakak Laki-Laki Kandung**
Karena itu, aku menggendong karung tua bermotif ular di punggungku dan pergi ke Jakarta untuk mencari mereka.
Namun sesampainya di sana, aku baru mengetahui bahwa…
Kakak tertuaku adalah seorang jenius di dunia keuangan.
Kakak keduaku adalah seorang aktor terkenal.
Sedangkan kakak ketigaku adalah seorang jenius eSports.
—
Baru menjelang akhir hidupnya, Ibu memberitahuku bahwa aku memiliki tiga kakak laki-laki kandung.
“Vina, saat Ibu mengandungmu, ayahmu memiliki wanita lain.”
“Dulu Ibu sebenarnya ingin membawa kalian berempat pergi bersama, tetapi Ibu tidak punya pekerjaan dan tidak mampu melawan keluarga mereka dalam perebutan hak asuh.”
“Untungnya mereka lebih menginginkan anak laki-laki, jadi Ibu berhasil membawamu pergi dari sana.”
“Vina… sepertinya waktu Ibu sudah tidak lama lagi. Carilah kakak-kakakmu.”
Setelah mengurus pemakaman Ibu, aku mengangkat karungku dan berangkat ke kota.
Tetapi Jakarta sangatlah besar.
Mobil di mana-mana, dan jumlah orangnya bahkan lebih banyak daripada semut di pegunungan tempat tinggalku.
Aku sama sekali tidak tahu harus mulai mencari tiga kakak yang bahkan belum pernah kulihat seumur hidupku.
Pada akhirnya, aku hanya bisa mengikuti nasihat yang dulu diajarkan guru-guruku:
**Kalau ada masalah, mintalah bantuan polisi.**
Karena itu, aku membawa kartu keluarga kami ke kantor polisi.
Aku membacakan nama ketiga kakakku yang ditinggalkan Ibu.
Tak kusangka para polisi memandangku dengan ekspresi aneh.
Namun mereka tetap membantuku dengan sangat cepat.
“Kami sudah berhasil menghubungi kakak tertuamu. Dia sedang dalam perjalanan untuk menjemputmu.”
Aku berdiri diam di depan kantor polisi sambil menunggu.
Di sana ada seorang pria lain yang juga tampaknya sedang menunggu seseorang.
Usianya mungkin tak jauh berbeda denganku.
Rambutnya cepak nyaris botak, kedua lengannya penuh tato, dan penampilannya terlihat seperti preman.
Dia yang lebih dulu mengajakku bicara.
“Mbak, lagi nunggu dijemput keluarga juga?”
“Kebetulan kita sama.”
“Aku baru bikin sedikit masalah. Aku menghajar seseorang sampai masuk rumah sakit.”
“Mereka minta ganti rugi, tapi keluargaku punya uang. Pasti bisa beres.”
Aku tidak mengerti kenapa dia menceritakan semua itu kepadaku, jadi aku hanya tersenyum sopan.
Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depannya.
Dia bersiul sambil menoleh ke arahku.
“Lihat itu?”
“Itu mobil keluarga kami. Range Rover.”
“Harganya lebih dari empat miliar rupiah.”
“Kalau keluargamu naik mobil apa, Mbak?”
Aku menjawab dengan jujur.
“Aku tidak tahu.”
Aku bahkan belum tahu wajah kakak tertuaku seperti apa, jadi bagaimana mungkin aku tahu mobil apa yang dia pakai?
Pria itu melirik karung tua yang kubawa.
Seolah memahami sesuatu, dia tersenyum penuh arti.
“Jadi keluargamu tidak punya mobil, ya? Tidak apa-apa kok.”
“Nanti setelah keluargamu datang, aku antar kalian sekalian.”
“Tenang saja, aku bukan orang jahat. Aku cuma ingin kenalan.”
“Boleh minta Facebook-mu?”
Sambil berbicara, dia mengeluarkan ponselnya.
Barulah aku mengerti.
Ternyata dia sedang mencoba mendekatiku!
Aku baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab ketika sebuah mobil lain tiba.
Pria bertato itu langsung menoleh.
“Gila! Rolls-Royce!”
Matanya langsung berbinar.
“Lagi pula itu edisi terbatas!”
Aku penasaran dan bertanya,
“Memangnya lebih mahal?”
“Tentu saja!”
“Mungkin harganya puluhan miliar rupiah!”
“Aku tidak tahu orang super kaya mana yang—”

Dia belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika mobil itu berhenti tepat di depanku.
Pintu penumpang terbuka.
Seorang pria muda yang sangat tampan turun dari dalam mobil.
Dia menatapku beberapa saat, lalu bertanya dengan sopan,
“Apakah kamu… Vina?”
Aku terpaku, lalu mengangguk pelan sambil mengeratkan pegangan pada tali karung tuaku.
Pria itu mengembuskan napas lega. Matanya yang tajam mendadak melunak, memancarkan rasa bersalah sekaligus kerinduan yang mendalam. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar, ia langsung melangkah maju dan memelukku erat.
“Maafkan Kakak… Kakak terlambat menemukanmu dan Ibu,” bisiknya dengan suara serak menahan tangis.
Pria bertato di sampingku seketika membeku. Ponsel yang dipegangnya hampir saja jatuh ke aspal. Wajahnya yang tadi penuh kesombongan kini pucat pasi saat menyadari siapa pria tampan di depannya. Dialah Reyhan Dirgantara, sang jenius keuangan yang wajahnya kerap menghiasi sampul majalah bisnis internasional.
Belum sempat pria bertato itu mencerna apa yang terjadi, sebuah mobil sport mewah berwarna merah menyala berhenti tepat di belakang Rolls-Royce tersebut dengan suara derit ban yang nyaring.
Pintu mobil terbuka ke atas, dan seorang pria dengan kacamata hitam serta jaket bermerek turun dengan tergesa-gesa. Begitu melepas kacamata hitamnya, aku terpana. Wajahnya sangat familier—dia adalah aktor papan atas yang posternya sering kulihat di toko kelontong desa, kakak keduaku, Devon.
“Reyhan! Kamu curang ya, kenapa tidak menungguku?!” seru Devon kesal, namun pandangannya langsung beralih padaku. Matanya berkaca-kaca. “Vina… kamu benar-benar mirip dengan Ibu.”
Di saat yang sama, sebuah van hitam besar dengan logo tim eSports terkenal juga ikut menepi. Seorang pemuda berambut agak berantakan dengan jaket tim bertuliskan “Zack” melompat turun sambil memegang sebuah boneka beruang besar. Dia adalah kakak ketigaku, sang juara dunia gaming.
“Vina! Ini hadiah untukmu!” teriak Zack tanpa canggung, langsung menyodorkan boneka itu padaku lalu merangkul pundakku dengan akrab. “Mulai sekarang, tidak akan ada yang berani merundungmu di Jakarta!”
Aku berdiri di sana, dikelilingi oleh tiga pria hebat yang ternyata adalah darah dagingku sendiri. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah juga. Rasa lelah setelah perjalanan jauh dari kampung halaman seketika menguap, digantikan oleh kehangatan yang luar biasa. Ibu tidak berbohong. Beliau menitipkanku pada tangan yang tepat.
Sebelum masuk ke dalam mobil, aku sempat menoleh ke arah pria bertato yang masih melongo di dekat Range Rover-nya. Aku tersenyum tipis dan berkata, “Maaf, aku tidak punya Facebook. Dan sepertinya aku tidak butuh tumpangan.”
Reyhan dengan lembut mengambil karung tua dari punggungku, mengoperasikannya kepada asistennya seolah itu adalah barang paling berharga di dunia.
“Ayo pulang, Vina,” ujar Kak Reyhan sambil membukakan pintu Rolls-Royce untukku. “Rumah baru dan kehidupan barumu sudah menunggu.”
Sambil melangkah masuk, aku menatap langit Jakarta yang mulai senja. Dalam hati aku berbisik, “Ibu, Vina sudah menemukan mereka. Ibu tidak perlu khawatir lagi di sana.”