KETIGA ANAK YANG SAMA-SAMA MENJADI SUKSES, TETAPI SAAT ORANG TUA MEREKA MENUA, TAK SATU PUN YANG MAU MERAWAT MEREKA**
Hari ketika kami diusir oleh anak-anak kami sendiri adalah hari pertama aku menyadari bahwa ada orang tua yang meninggal bukan karena penyakit—melainkan karena hati yang terlalu terluka.
Namaku Rosa Villanueva, tujuh puluh tahun.
Suamiku, Ramon, berusia tujuh puluh tiga tahun.
Selama lebih dari empat puluh tahun, kami bekerja keras demi keluarga kami di rumah kecil kami di Calamba, Laguna.
Kami bukan orang kaya.
Kami tidak pernah bekerja di luar negeri.
Kami tidak pernah memiliki bisnis besar.
Tetapi kami memiliki tiga anak.
Dan mereka adalah seluruh hidup kami.
Michael, anak sulung kami, menjadi dokter di Manila.
Angela, anak kedua kami, menjadi pengacara.
Dan Kevin, si bungsu, menjadi pengusaha sukses di Makati.
Mereka semua berhasil.
Mereka semua memiliki rumah yang indah.
Mobil-mobil mewah.
Dan kehidupan yang nyaman.
Dan semua itu lahir dari pengorbanan yang kami lakukan.
Kami menjual sawah kecil kami agar Michael bisa kuliah kedokteran.
Kami menggadaikan rumah demi biaya sekolah hukum Angela.
Kami meminjam uang dari hampir semua orang yang kami kenal untuk membantu Kevin membangun usahanya.
Kami tidak pernah mengeluh.
Karena bagi kami, itu adalah hal yang wajar.
Kami adalah orang tua.
Kami mencintai anak-anak kami.
Namun seiring bertambahnya usia, tubuh kami juga perlahan melemah.
Ramon menderita diabetes.
Penglihatannya mulai kabur.
Sementara aku mengalami radang sendi.
Terkadang aku bahkan sulit menggerakkan tanganku dengan baik.
Lalu tibalah hari ketika kami tidak lagi mampu hidup hanya berdua.
Karena itu kami menghubungi anak-anak kami.
Mereka sepakat untuk berkumpul di rumah Michael di Quezon City.
Di sanalah, putra kami yang seorang dokter mengucapkan kalimat pertama yang menghancurkan hatiku.
“Ma, Pa, kalian tahu sendiri betapa sibuknya aku di rumah sakit.”
Kami hanya diam mendengarkan.
Kemudian Angela berbicara.
“Aku masih menangani banyak kasus. Aku tidak sanggup merawat orang tua lanjut usia.”
**Orang tua lanjut usia.**
Bukan lagi “Mama.”
Bukan lagi “Papa.”
Melainkan hanya **orang tua lanjut usia**.
Seperti orang asing.
Lalu Kevin berbicara.
“Kita bisa menyewa perawat saja.”
Michael dan Angela langsung mengangguk setuju.
Seolah-olah mereka sudah lama membicarakannya.
Seolah-olah mereka sudah lama mempersiapkannya.
Bukan mempersiapkan bagaimana cara merawat kami.
Tetapi mempersiapkan bagaimana cara menyerahkan tanggung jawab itu kepada orang lain.
Dalam perjalanan pulang, Ramon menangis dalam diam.
Dan itu adalah pertama kalinya selama lebih dari empat puluh tahun pernikahan kami aku melihatnya menangis.
Sebulan kemudian, kondisinya semakin memburuk.
Ia mulai kesulitan bernapas.
Sering merasa pusing.

Kadang aku menemukannya duduk di kursi tua sambil menatap foto-foto anak-anak kami saat masih kecil.
“Apakah ini salah kita?” tanyanya suatu hari.
“Bukan,” jawabku pelan.
“Kita hanya terlalu mencintai mereka hingga lupa menyisakan sedikit untuk diri kita sendiri.”
Seminggu setelah percakapan itu, Ramon pergi untuk selamanya. Ia meninggal dalam tidurnya, dengan raut wajah yang begitu lelah. Ketika aku menelepon ketiga anakku, mereka datang dengan mobil-mobil mewah mereka. Mereka menangis, mengadakan pemakaman yang megah, dan membeli peti mati termahal di Calamba.
Tetangga memuji mereka, mengatakan betapa berbaktinya anak-anak Rosa dan Ramon. Namun, aku hanya bisa menatap semua kemewahan itu dengan hati yang kosong. Saat Ayah mereka butuh obat, mereka menghitung setiap peso. Saat Ayah mereka sudah tiada, mereka jor-joran memamerkan kekayaan berkedok duka.
Setelah pemakaman selesai, kami berkumpul kembali di ruang tamu rumah tua kami. Belum kering tanah makam Ramon, Angela sudah membuka tas kerjanya dan mengeluarkan selembar dokumen.
“Ma,” kata Angela dengan suara dingin seorang pengacara. “Rumah ini sudah terlalu tua dan rawan banjir. Sebaiknya kita jual saja. Uangnya bisa kami gunakan untuk memasukkan Mama ke panti jompo terbaik di Tagaytay. Di sana fasilitasnya lengkap.”
Michael mengangguk medis. “Benar, Ma. Di sana ada dokter yang berjaga 24 jam. Lebih aman untuk radang sendimu daripada Mama tinggal sendiri di sini.”
Kevin, si bungsu yang dulu paling manja, bahkan tidak menatap mataku. Ia sibuk dengan ponselnya sambil bergumam, “Aku yang akan bayar biaya bulanannya, Ma. Jadi Mama tidak perlu khawatir.”
Mereka tidak sedang berdiskusi denganku. Mereka sedang mengusirku secara legal dan halus. Mereka tidak ingin tangan mereka yang terhormat dikotori oleh urusan merawat seorang wanita tua yang sudah ringkih.
Aku memandang ketiga wajah anak yang dulu kususui, kuyanyikan lagu tidur, dan kuperjuangkan masa depannya hingga aku dan Ramon rela kelaparan.
“Tidak perlu,” kataku pelan, namun tegas.
Mereka bertiga tertegun, menatapku serempak.
“Mama tidak akan pergi ke panti jompo. Dan rumah ini tidak akan pernah dijual,” lanjutku sambil berdiri, menahan rasa sakit di lututku. “Rumah ini atas nama mendiang ayahmu dan aku. Selama aku masih bernapas, ini adalah rumahku.”
“Tapi Ma, siapa yang mau merawat Mama?” bentak Michael mulai tidak sabar.
Tepat saat itu, pintu depan rumah diketuk. Seorang wanita paruh baya masuk membawa rantang makanan. Dialah Maria, anak perempuan dari mendiang tetangga sebelah rumah kami. Maria bukanlah dokter, pengacara, ataupun pengusaha. Dia hanya seorang janda yang bekerja sebagai penjahit rumahan.
“Permisi, Tiya Rosa… ini saya bawakan sup hangat untuk makan malam,” kata Maria dengan senyum tulus. Selama beberapa bulan terakhir, saat anak-anakku sibuk dengan dunia mereka, Marialah yang sering datang menyapu halaman dan menemaniku mengobrol.
Aku menatap ketiga anakku yang kini menatap Maria dengan pandangan merendahkan.
“Kalian bertanya siapa yang akan merawatku?” aku tersenyum pahit. “Tuhan selalu mengirimkan malaikat-Nya. Dan terkadang, malaikat itu bukanlah darah daging kita sendiri.”
Aku berjalan ke arah meja, mengambil sebuah map yang sudah kusiapkan sejak Ramon masih hidup. Aku meletakkannya di depan Angela.
“Ini surat warisan. Rumah dan sisa tanah kecil di belakang sudah resmi kubalik nama atas nama Maria, dengan syarat dia boleh tinggal di sini dan menemaniku sampai ajalku tiba. Setelah aku mati, rumah ini sepenuhnya milik dia.”
“Ma! Mama gila?!” Kevin berdiri dengan wajah memerah. “Kami ini anak-anak kandung Mama! Bagaimana bisa Mama memberikan aset keluarga kepada orang asing?!”
“Orang asing?” air mataku akhirnya menetes, namun suaraku tidak bergetar. “Saat ayahmu sekarat dan merindukan kalian, kalian di mana? Saat kami butuh pelukan, kalian menyebut kami ‘orang tua lanjut usia’. Di mata kalian, kami adalah beban. Di mata Maria, aku adalah seorang ibu yang kesepian.”
Aku menunjuk ke arah pintu keluar.
“Bawa kembali mobil-mobil mewah kalian ke Manila. Kejar uang dan status kalian sampai kalian puas. Anggap saja mulai hari ini, orang tua lanjut usia yang kalian bicarakan itu sudah meninggal bersama suaminya.”
Angela mencoba memprotes, Michael ingin mendebat, namun sorot mataku yang penuh luka dan ketegasan membuat mereka bungkam. Satu per satu, dengan langkah gusar dan penuh amarah, ketiga anak suksesku berjalan keluar dari rumah masa kecil mereka.
Malam itu, Calamba diguyur hujan deras. Aku duduk di kursi tua peninggalan Ramon, menyantap sup hangat yang disuapkan Maria dengan sabar. Hatiku hancur, namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa damai.
Aku tahu, dalam sisa hidupku yang singkat ini, aku mungkin kehilangan anak-anak yang kulahirkan, tetapi aku telah menemukan kembali harga diriku yang sempat mereka injak-injak.