SUDAH TIGA TAHUN KAMI MENIKAH, TAPI SETIAP MALAM SUAMIKU TIDUR DI KAMAR IBUNYA — DILIPUTI CEMBURU, AKU MENGIKUTINYA SUATU MALAM, NAMUN AKU BERLUTUT SAMBIL MENANGIS SAAT MENGETAHUI KENYATAAN MENGERIKAN YANG TERSEMBUNYI**
Namaku Jasmine.
Aku cantik, memiliki pekerjaan yang baik, dan menikah dengan pria impianku—Dave.
Namun ada satu masalah besar dalam rumah tangga kami. Selama tiga tahun, aku merasa harus berbagi suamiku dengan seseorang. Bukan wanita lain, melainkan ibunya sendiri.
Ibu Rosa baru berusia enam puluh tahun. Beliau masih sehat, masih bisa berjalan, dan masih mampu memasak sendiri. Tetapi setiap malam tepat pukul sebelas, Dave selalu berpamitan kepadaku.
“Jas, aku tidur di kamar Mama malam ini,” katanya sambil mengecup keningku.
Pada awalnya aku mencoba memahami.
Menurut Dave, ibunya menderita insomnia dan membutuhkan seseorang untuk menemaninya di malam hari.
Namun satu tahun berlalu.
Kemudian dua tahun.
Lalu tiga tahun.
Tetap saja sama.
Kami tidak pernah memiliki privasi. Hampir tidak pernah menikmati kebersamaan sebagai pasangan suami istri di malam hari.
Aku merasa hanya menjadi istrinya di atas kertas, sementara orang yang selalu menjadi prioritas utama tetaplah ibunya.
Teman-temanku mulai curiga.
“Itu aneh sekali, Jas. Ibunya sudah tua, tapi masih harus ditemani tidur setiap malam?”
“Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak kamu ketahui.”
“Dave terlalu bergantung pada ibunya. Aku sih tidak akan tahan.”
Perkataan mereka perlahan meracuni pikiranku.
Mungkinkah Dave tidak benar-benar mencintaiku karena terlalu terikat dengan ibunya?
Aku membenci pikiran-pikiran itu, tetapi tidak bisa menghentikannya.
Aku mulai bersikap dingin kepada Ibu Rosa.
Aku jarang menyapanya di pagi hari.
Aku meletakkan makanan di meja dengan wajah masam.
Di dalam hati, aku menganggapnya sebagai sainganku dalam mendapatkan perhatian suamiku.
Suatu malam, tepat pada hari ulang tahun pernikahan kami.
Aku memasak makan malam istimewa.
Aku mengenakan pakaian tidur yang paling indah.
Aku berharap malam itu akan berbeda.
Aku berharap Dave akhirnya memilih tidur di sampingku.
Tetapi ketika jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam, Dave berdiri dari kursinya.
“Selamat hari jadi pernikahan kita, Sayang,” katanya pelan. “Tapi aku harus ke kamar Mama sekarang. Dia sedang menungguku.”
Kesabaranku akhirnya habis.
“Dave!” teriakku. “Ini hari jadi pernikahan kita! Apa ibumu lebih penting daripada istrimu? Sudah tiga tahun, Dave! Aku lelah! Kalau kamu memang tidak ingin tidur di kamar ini, mungkin lebih baik kita bercerai saja!”
Dave hanya menundukkan kepala.
Wajahnya tampak sangat lelah.
“Maaf, Jas. Kamu tidak mengerti. Tidurlah.”
Lalu ia keluar dari kamar dan menutup pintu.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku dipenuhi kemarahan dan rasa penasaran.
Aku ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi di kamar itu.
Mengapa Dave selalu melarangku masuk setiap malam?
Mengapa ada rahasia yang tidak boleh aku ketahui?
Beberapa menit kemudian, aku bangkit dari tempat tidur dan mengikutinya secara diam-diam.

Jantungku berdegup kencang saat berjalan menyusuri lorong rumah.
Aku berdiri di depan pintu kamar Ibu Rosa.
Pintu itu sedikit terbuka.
Dengan tangan gemetar, aku mengintip ke dalam…
SUDAH TIGA TAHUN KAMI MENIKAH, TAPI SETIAP MALAM SUAMIKU TIDUR DI KAMAR IBUNYA — DILIPUTI CEMBURU, AKU MENGIKUTINYA SUATU MALAM, NAMUN AKU BERLUTUT SAMBIL MENANGIS SAAT MENGETAHUI KENYATAAN MENGERIKAN YANG TERSEMBUNYI
Aku membeku di ambang pintu.
Di dalam kamar, lampu tidur menyala redup. Dave duduk di sisi ranjang sambil menggenggam tangan ibunya.
Tubuh Ibu Rosa tampak jauh lebih kurus dari yang kulihat setiap pagi. Wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat, seperti seseorang yang menahan rasa sakit agar tidak terdengar oleh orang lain.
Di meja samping ranjang, ada botol-botol obat, alat suntik kecil, dan sebuah map rumah sakit.
Dave membelai rambut ibunya pelan.
“Mama, Jasmine marah lagi malam ini,” bisiknya dengan suara pecah. “Aku tahu dia terluka. Tapi aku belum sanggup memberitahunya.”
Ibu Rosa tersenyum lemah. “Jangan salahkan dia, Nak. Dia hanya ingin dicintai sepenuhnya oleh suaminya.”
Air mataku langsung jatuh.
Aku mendorong pintu perlahan hingga terbuka lebih lebar.
Dave menoleh kaget. “Jasmine?”
Aku melangkah masuk dengan kaki gemetar. “Apa… apa yang terjadi?”
Dave menunduk lama sekali sebelum akhirnya membuka map di meja.
Di sana tertulis jelas nama Ibu Rosa dan diagnosis yang membuat dunia seakan runtuh di kepalaku:
Stadium akhir kanker pankreas.
Aku terduduk di lantai.
“Bukan insomnia?” suaraku hampir tak terdengar.
Dave menggeleng pelan. “Dokter bilang waktunya tidak banyak. Mama sering kesakitan di malam hari, kadang sesak, kadang muntah darah. Beliau tidak ingin kamu tahu karena tidak mau rumah ini dipenuhi kesedihan.”
Aku menatap Ibu Rosa dengan mata kabur oleh air mata.
Beliau mengulurkan tangan kurusnya ke arahku. “Maafkan Mama, Jasmine. Mama tidak pernah ingin merebut Dave darimu. Mama hanya takut tidur sendirian karena setiap malam Mama merasa mungkin itu malam terakhir Mama.”
Dadaku terasa sesak seperti diremas.
Tiga tahun.
Tiga tahun aku hidup dalam cemburu, curiga, dan kebencian kecil yang kupelihara diam-diam. Sementara di balik pintu kamar ini, seorang ibu sedang berjuang melawan kematian, dan suamiku sedang mencoba menjadi anak yang baik tanpa melukai istrinya.
Aku berlutut di samping ranjang dan menangis sejadi-jadinya.
“Maafkan aku, Mama… maafkan aku…”
Ibu Rosa mengusap kepalaku pelan dengan tangan yang dingin. “Kamu tidak salah, Nak. Hanya saja kami terlalu lama menyimpan rahasia.”
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak kembali ke kamar sendiri.
Aku duduk di sisi lain ranjang, menggenggam tangan Ibu Rosa bersama Dave sampai subuh datang.
Sejak malam itu, semuanya berubah.
Aku mulai menemani Ibu Rosa ke rumah sakit. Aku memasakkan makanan yang bisa beliau telan. Aku menyisir rambutnya yang mulai rontok satu per satu. Dan setiap malam, kami bertiga duduk bersama, bercerita tentang hal-hal sederhana agar beliau tidak merasa takut menghadapi gelap.
Beberapa bulan kemudian, pada suatu pagi yang tenang, Ibu Rosa pergi untuk selamanya.
Beliau meninggal dalam tidur, dengan tangan kanan menggenggam tangan Dave dan tangan kirinya menggenggam tanganku.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, beliau sempat berbisik lirih,
“Jaga satu sama lain. Jangan pernah biarkan salah paham memisahkan kalian.”
Setelah pemakaman, rumah kami terasa sangat sunyi.
Malam pertama tanpa Ibu Rosa, Dave berdiri lama di depan kamar ibunya sebelum akhirnya menoleh kepadaku.
“Jas… bolehkah aku tidur di kamar kita malam ini?”
Aku tidak menjawab dengan kata-kata.
Aku hanya memeluknya erat dan menangis di dadanya.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah tiga tahun pernikahan kami, Dave tidur di sampingku.
Dan di tengah kesunyian kamar, aku akhirnya mengerti bahwa cinta tidak selalu terlihat seperti yang kita bayangkan.
Kadang cinta hadir dalam bentuk seorang anak yang setia menemani ibunya sampai akhir hayat.
Dan kadang, cinta juga berarti belajar meminta maaf sebelum semuanya terlambat.