Posted in

SAAT KAKAK IPARKU MENUMPAHKAN MAKANAN YANG KUSIAPKAN UNTUK DIRIKU, TIGA HARI KEMUDIAN DIA BERLUTUT DI DEPAN RUMAH KAMI SAMBIL MENANGIS DAN MEMOHON AMPUN

SAAT KAKAK IPARKU MENUMPAHKAN MAKANAN YANG KUSIAPKAN UNTUK DIRIKU, TIGA HARI KEMUDIAN DIA BERLUTUT DI DEPAN RUMAH KAMI SAMBIL MENANGIS DAN MEMOHON AMPUN

Hari ketika kakak perempuan suamiku datang membawa koper untuk tinggal sementara di rumah kami, aku sedang berada di dapur menyiapkan makan siang.

Saat itu usia kehamilanku sudah lebih dari lima bulan.

Dokter berkali-kali memperingatkan bahwa kondisi bayiku tidak stabil dan aku harus banyak beristirahat serta menghindari segala bentuk stres.

Namun sejak menikah, aku selalu berusaha menjalankan peranku sebagai menantu dengan sebaik mungkin.

Aku tidak pernah menyangka bahwa orang pertama yang ingin mencelakai anak dalam kandunganku justru adalah keluarga suamiku sendiri.

Dia masuk ke rumah dengan wajah masam.

Begitu melihat semangkuk sup hangat di atas meja, dia langsung tersenyum sinis.

“Enak sekali hidupmu.”

“Waktu aku hamil dulu, setiap pagi aku masih bekerja di sawah dan sore harinya masih harus memasak untuk seluruh keluarga.”

“Sedangkan kamu? Setiap hari dilayani seperti ratu.”

Aku berusaha menahan diri.

Demi anakku.

Demi kedamaian keluarga.

Dan karena suamiku selalu berkata:

“Kakakku memang emosian. Jangan ditanggapi.”

Namun semakin aku mengalah, semakin buruk sikapnya.

Dalam beberapa hari berikutnya, dia mulai bertingkah seolah rumah itu miliknya.

Kamar yang selama berbulan-bulan kusiapkan untuk bayi kami dia kuasai begitu saja.

Perlengkapan bayiku disingkirkan ke sudut ruangan.

Bahkan pakaian bayi yang sudah kucuci dan kulipat rapi dilempar sembarangan olehnya.

Setiap kali aku protes, jawabannya selalu sama.

“Ini rumah adik laki-lakiku.”

“Aku bisa melakukan apa pun yang kuinginkan.”

Yang paling menyakitkan adalah suamiku tidak pernah benar-benar membelaku.

Dia selalu memilih menjadi penengah.

Selalu memintaku mengalah.

Selalu berkata bahwa masalah tidak perlu dibesar-besarkan karena kami masih keluarga.

Hingga akhirnya hari itu tiba.

Mertuaku sedang keluar rumah.

Hanya aku dan kakak iparku yang berada di dalam rumah.

Aku sedang memanaskan sup khusus yang direkomendasikan dokter untuk diminum setiap hari selama kehamilan.

Aku baru saja menuangkannya ke mangkuk ketika dia mendekat.

Matanya penuh rasa kesal.

“Kamu benar-benar makan makanan seperti itu setiap hari?”

“Boros sekali.”

Aku tidak ingin berdebat.

Karena itu aku menjawab dengan tenang:

“Ini anjuran dokter.”

Namun dia langsung marah.

“Jangan menakut-nakutiku dengan dokter itu!”

“Kalau semua ibu hamil selemah kamu, tidak akan ada bayi yang lahir di dunia ini.”

Begitu selesai berbicara, dia tiba-tiba meraih panci sup itu.

Aku terkejut dan langsung berlari mendekat.

“Apa yang kamu lakukan?!”

Namun semuanya sudah terlambat.

Seluruh isi panci tumpah ke lantai.

Sup panas menyembur ke segala arah.

Sebagian mengenai kakiku.

Sebagian lagi mengenai perutku.

Karena rasa sakit yang luar biasa, aku langsung berlutut.

Aku memegangi perutku erat-erat.

Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku.

“Sakit…”

“Tolong bawa aku ke rumah sakit…”

Namun dia hanya berdiri di sana.

Tidak sedikit pun berniat membantu.

Sebaliknya, dia berkata dengan nada dingin:

“Sudah selesai aktingmu?”

“Kamu selalu menjadikan bayi itu sebagai alasan.”

Aku tidak akan pernah melupakan tatapan matanya saat itu.

Dingin.

Tanpa belas kasihan.

Seolah hidupku dan hidup anakku sama sekali tidak berharga.

Malam itu aku dilarikan ke ruang gawat darurat.

Di luar ruang perawatan, suamiku hanya duduk diam.

Dia tidak mengatakan sepatah kata pun untuk menyalahkan kakaknya.

Tidak membela aku maupun anak kami.

Ketika dokter keluar dengan wajah serius, aku melihat tubuh suamiku gemetar.

Namun kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya justru lebih menyakitkan.

“Bisakah kita melupakan saja masalah ini…”

“Kita tetap keluarga…”

Pada saat itulah hatiku benar-benar membeku.

Aku akhirnya memahami bahwa ada pernikahan yang tidak hancur karena perselingkuhan.

Melainkan karena kekecewaan yang terus berulang.

Tiga hari setelah aku keluar dari rumah sakit,

aku kembali ke rumah sambil menarik koper.

Aku sudah menyiapkan berkas-berkas perceraian dalam pikiranku.

Aku yakin hari itu aku akan pergi untuk selamanya.

Namun begitu melangkah masuk ke dalam rumah…

Aku terdiam.

Tangisan yang memilukan memenuhi ruang tamu.

Kakak iparku tergeletak di lantai.

Wajahnya pucat.

Tubuhnya basah oleh keringat.

Kaki kanannya bengkak parah.

Di sampingnya berserakan pecahan kaca.

Sementara ibu mertuaku duduk di sofa.

Ekspresinya sangat dingin.

Di tangannya masih tergenggam tongkat kayu yang berlumuran darah.

Saat melihatku masuk,

dia perlahan mengangkat kepala.

Dan kalimat yang diucapkannya membuat seluruh rumah menjadi sunyi.

“Kesalahan yang dia lakukan sendiri…”

“Harus dia tanggung sendiri akibatnya.”

Tepat pada saat itu…

Terdengar suara benturan keras dari pintu depan.

BRAK!

Sekelompok orang berseragam masuk ke dalam rumah.

Pria yang berada di depan mengeluarkan map tebal berisi dokumen.

Tatapannya tajam mengarah kepada kakak iparku.

“Akhirnya kami menemukanmu.”

“Kau pikir kami tidak akan bisa menemukanmu hanya karena bersembunyi di sini?”

Mendengar itu…

Wajah kakak iparku langsung pucat pasi.

Sementara ibu mertuaku perlahan memejamkan mata, seolah ketakutan yang selama ini disimpannya akhirnya terbukti.

Aku terpaku di tempat.

Karena saat itulah aku menyadari…

Terkadang kenyataan jauh lebih mengerikan daripada apa pun yang bisa kubayangkan.

Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir dari cerita tersebut:

BAGIAN 2 (TAMAT)

Pria berseragam itu melangkah maju, lencananya berkilat di bawah lampu ruang tamu. “Saudari Maya (nama kakak ipar), Anda ditangkap atas dugaan penggelapan dana korporasi sebesar dua miliar rupiah dan pemalsuan dokumen agunan sertifikat tanah milik orang tua Anda sendiri.”

DEG. Jantungku mencelos mendengarnya. Aku menatap ibu mertuaku yang masih duduk kaku di sofa, matanya terpejam erat dengan air mata yang mengalir melewati kerutan di wajahnya. Tongkat kayu di tangannya gemetar.

Sekarang semuanya menjadi masuk akal.

Alasan mengapa kakak iparku tiba-tiba datang membawa koper besar, alasan mengapa dia bertingkah seperti pemilik rumah dan begitu sensitif melihat kenyamanan hidupku—itu bukan sekadar rasa iri. Dia sedang melarikan diri dari hukum, dan dia sengaja melampiaskan stres serta ketakutannya kepadaku, menantu yang dia anggap lemah. Lebih parah lagi, dia telah menipu ibunya sendiri, menjaminkan rumah masa tua mertuaku demi menutupi utang-utangnya yang menumpuk.

“Ibu… tolong Maya, Ibu! Jangan biarkan mereka bawa Maya!” teriak kakak iparku, merangkak di lantai dengan kaki kanannya yang bengkak akibat hantaman tongkat kayu ibunya sendiri.

Mertuaku membuka mata, menatap putrinya dengan pandangan yang kosong sekaligus penuh murka. “Aku memukul kakimu bukan karena aku benci kamu, Maya. Aku memukulmu karena aku mengutuk diriku sendiri yang telah melahirkan seorang iblis! Kamu tidak hanya menghancurkan hari tua ibumu, kamu bahkan tega mencelakai cucuku yang belum lahir demi melampiaskan frustrasimu!”

Ibu mertuaku bangkit berdiri, lalu berjalan tertatih mendekatiku. Wanita tua yang biasanya kaku itu tiba-tiba memegang kedua tanganku. Tangannya terasa dingin dan gemetar.

“Nisa… maafkan Ibu,” bisiknya dengan suara serak. “Ibu baru tahu hari ini. Ibu baru tahu dia mencuri sertifikat rumah di kampung, dan Ibu baru tahu apa yang dia lakukan padamu tiga hari lalu saat Ibu sedang pergi. Ibu tidak akan melindunginya lagi. Biar dia membusuk di penjara.”

Saat polisi memborgol tangan kakak iparku dan menyeretnya keluar, dia melihatku. Wajah sombong yang tiga hari lalu menumpahkan sup panas ke tubuhku kini lenyap tanpa sisa. Dia berlutut di dekat kakiku, menangis histeris.

“Nisa, tolong aku! Tolong suruh adikmu menarik laporan ini! Aku tahu dia punya kenalan pengacara, tolong Nisa! Aku bisa mati di penjara!” ratapnya, air matanya membasahi lantai.

Aku mundur satu langkah, melepaskan gamis yang sempat dia pegang. Aku menatapnya dengan tatapan sedingin es. “Tiga hari lalu, saat aku berlutut kesakitan memegangi perutku di lantai dapur, aku memohon padamu untuk membawaku ke rumah sakit. Apa yang kamu lakukan? Kamu menyebutku sedang berakting.”

Aku menarik napas dalam-dalam, mengelus perutku yang untungnya, berkat mukjizat Tuhan dan kesigapan dokter malam itu, bayiku masih bisa terselamatkan meskipun aku harus menjalani tirah baring (bedrest) total.

“Kenyataan bahwa hukum menangkapmu hari ini adalah balasan untuk semua keserakahanmu. Dan kenyataan bahwa kakimu bengkak karena pukulan ibumu sendiri adalah bayaran untuk setiap tetes sup panas yang mengenai anakku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu,” kataku, tegas dan tanpa keraguan.

Kakak iparku berteriak histeris saat polisi akhirnya menariknya masuk ke dalam mobil patroli. Tetangga sekitar keluar, menyaksikan kehancurannya dengan bisik-bisik yang memojokkan.

Setelah rumah kembali sepi, suamiku masuk dengan wajah tertunduk. Dia baru saja kembali dari menebus obatku di apotek, dan dia menyaksikan seluruh kejadian penangkapan kakaknya dari luar. Dia menatapku, lalu menatap ibunya yang menangis di sofa.

“Nisa… maafkan aku,” suamiku berlutut di depanku, mencoba meraih tanganku. “Aku tahu aku salah. Selama ini aku selalu memintamu mengalah karena aku tidak tahu dia sejahat ini… Aku hanya ingin menjaga kedamaian keluarga…”

Aku menarik tanganku dari genggamannya. Rasa kecewa yang sudah mengkristal di dalam dadaku tidak bisa mencair begitu saja hanya dengan kata maaf.

“Kedamaian keluarga yang kamu bela adalah kedamaian yang dibangun di atas penderitaanku dan anakmu,” kataku dengan suara yang sangat tenang, namun menusuk. “Kamu bukan penengah, Mas. Kamu hanya seorang pengecut yang takut menghadapi konflik, hingga membiarkan istrimu yang sedang hamil terancam bahaya di rumahnya sendiri.”

Aku meletakkan map dokumen yang sejak tadi kubawa di atas meja, tepat di depan wajahnya.

“Ini berkas perceraian kita. Aku tidak akan pergi dari rumah ini, karena ini juga rumahku. Kamar bayi yang sempat diacak-acak kakakmu akan tetap menjadi kamar anakku. Tapi kamu… silakan keluar dari kamar utama mulai malam ini.”

Suamiku menatap surat itu dengan mata membelalak, air matanya mulai jatuh. “Nisa, tolong jangan ceraikan aku… aku akan berubah, aku janji! Aku akan melindungi kalian!”

“Buktikan padaku, Mas. Kata-katamu sudah tidak ada nilainya lagi,” jawabku sambil membalikkan badan, berjalan menuju kamarku sendiri. “Proses hukum kakakmu akan berjalan, dan proses perpisahan kita juga akan dimulai. Jika dalam waktu proses cerai ini kamu bisa membuktikan bahwa kamu benar-benar seorang suami dan ayah yang punya tulang punggung, mungkin aku akan mempertimbangkannya demi anak kita. Tapi jika tidak… bersiaplah menjadi orang asing setelah anak ini lahir.”

Aku menutup pintu kamar dengan rapat, mengunci dunia luar yang penuh kepalsuan itu. Tiga hari lalu aku mengira hidupku telah hancur bersama tumpahan sup panas di lantai dapur. Namun hari ini, di atas lutut kakak iparku yang memohon ampun, aku menyadari satu hal: keadilan mungkin datang terlambat, tetapi dia tidak pernah lupa jalan untuk pulang.