SEHARI SEBELUM AKU MELAHIRKAN, SUAMIKU MENINGGALKANKU UNTUK MENGANTAR IBUNYA PULANG KE KAMPUNG — SAAT MEREKA KEMBALI, RUMAH SUDAH KOSONG, NOMOR MEREKA DIBLOKIR, DAN ADA KENYATAAN YANG JAUH LEBIH MENYAKITKAN MENUNGGU MEREKA
Sehari sebelum hari perkiraan lahirku, suamiku meninggalkanku sendirian di rumah meskipun aku bisa melahirkan kapan saja.
Bukan karena ada keadaan darurat.
Bukan karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.
Melainkan karena ibu mertuaku bermimpi bahwa mendiang suaminya datang dalam mimpi dan meminta agar makamnya di Bulacan dikunjungi.
“Aku tidak terbiasa bepergian sendirian,” kata Mama Celia sambil memegang tas kecilnya. “Aku bisa mabuk perjalanan kalau naik bus sendiri. Adrian, antar Mama ke sana. Sebentar saja.”
Saat itu aku duduk di sofa sambil memegang majalah, tetapi sudah beberapa menit jariku tidak bergerak membalik halaman.
Suamiku, Adrian, menoleh ke arahku.
Selama empat tahun pernikahan kami, dia selalu dikenal sebagai pria yang tenang dan lembut. Saat aku kelelahan selama kehamilan, dialah orang pertama yang mengambilkan air minum dan membetulkan bantal di belakang punggungku.
Namun hari itu, matanya berbeda.
Dingin.
Seolah menunggu aku menolak agar dia punya alasan untuk marah.
“Sayang,” katanya, “aku tahu besok adalah tanggal perkiraan lahirmu. Tapi keluargaku juga penting. Kamu sudah dewasa. Ada pengasuh yang menemanimu. Kamu pasti bisa menjaga dirimu sendiri semalam, kan?”
Ibu mertuaku tersenyum tipis.
Ada kepuasan aneh di wajahnya, seolah-olah kami sedang mengikuti sebuah perlombaan dan akhirnya dia berhasil membuktikan bahwa dirinya tetap wanita paling penting dalam hidup putranya.
Aku menatap Adrian.
“Baiklah,” jawabku. “Antarkan Mama.”
Mereka saling berpandangan.
Hanya sesaat.
Namun aku sempat menangkap senyum kecil di bibir ibu mertuaku.
“Kalau begitu,” lanjut Adrian, “mungkin aku akan tinggal dua hari di sana. Rumah di kampung juga perlu dibersihkan. Sebentar lagi juga peringatan wafat Papa.”
Besok adalah hari perkiraan lahirku.
Malam itu kontraksi bisa saja mulai terjadi.
Aku bisa saja membutuhkan pertolongan darurat kapan pun.
Tetapi suamiku, yang selama berbulan-bulan mengaku tidak sabar menunggu kelahiran anak kami, justru memilih pergi selama dua hari.
Aku menarik napas panjang.
“Kalau Mama membutuhkanmu, tinggallah di sana.”
Aku berpura-pura terluka.
Berpura-pura sedih.
Berpura-pura menahan tangis.
Ibu mertuaku langsung angkat bicara.
“Astaga, Mara. Jangan berlebihan. Melahirkan itu hal biasa. Waktu aku melahirkan Adrian dulu, aku hampir tidak punya bantuan siapa pun. Setelah melahirkan, aku bahkan memasak bubur sendiri.”
Dia berdiri lalu menepuk bahu putranya.
“Kamu sudah memesan kamar VIP di rumah sakit. Ada pengasuh juga. Apa lagi yang kurang?”
Aku tidak menjawab.
Adrian berjalan menuju kamar tamu untuk mengambil barang-barang mereka.
Tetapi aku tahu koper mereka sebenarnya sudah siap sejak lama.
Aku melihatnya dua hari sebelumnya, tersimpan rapi di belakang lemari.
Kepergian mereka bukan keputusan mendadak.
Semuanya sudah direncanakan.
Begitu pintu tertutup, Bu Nena, asisten rumah tangga yang sudah bekerja bersamaku selama lebih dari lima tahun, menghela napas panjang.
“Nak,” katanya, “ini tidak benar. Saya memang tidak mau ikut campur urusan rumah tangga kalian, tapi kenapa mereka harus pergi sekarang? Makam itu bisa dikunjungi kapan saja.”
Aku tersenyum tipis.
“Mungkin Papa Ramon hanya ingin menunjukkan siapa yang paling berkuasa di keluarga mereka.”
Bu Nena tidak tertawa.
Wajahnya justru semakin khawatir.
Sebelum mengenal Adrian, aku tinggal sendirian di sebuah townhouse sewaan di Quezon City. Aku memiliki bisnis distribusi produk perawatan kulit secara online yang cukup stabil. Aku tidak kaya, tetapi penghasilanku lebih dari cukup untuk hidup nyaman.
Setelah menikah, Adrian pindah tinggal bersamaku.
Ketika aku hamil, ibu mertuaku ikut tinggal dengan alasan ingin merawatku.
Sejak saat itu, Bu Nena berkali-kali memperingatkanku.
“Pak Adrian baik kalau Ibu melihatnya,” katanya suatu kali. “Tapi dia berbeda saat bersama ibunya. Wajahnya memang tampan seperti artis. Tapi kadang-kadang, bantal yang paling indah ternyata kosong di dalamnya.”
Saat itu aku tidak mendengarkannya.
Atau mungkin aku memang tidak ingin mengakui bahwa dia benar.
Aku mengambil ponsel dan menelepon sahabatku.
“Bianca,” kataku, “mereka sudah pergi.”
“Aku sedang menuju ke sana,” jawabnya cepat. “Barang-barangmu juga sudah siap. Aku sudah berbicara dengan pengacara.”
Setelah menutup telepon, aku membuka percakapan pribadi dengan detektif yang kupekerjakan tiga minggu lalu.
Beberapa foto dan video langsung masuk.
Foto pertama menunjukkan Adrian dan ibunya turun dari mobil di area parkir sebuah apartemen di Mandaluyong.
Mereka tidak pergi ke Bulacan.
Dalam video berikutnya, mereka disambut oleh seorang wanita yang mengenakan gaun longgar.
Wanita itu memeluk Adrian.
Lalu dengan lembut mengusap perutnya yang sudah membesar.
Dia juga sedang hamil sekitar enam atau tujuh bulan.
Aku langsung mengenalinya.
Kyla.
Mantan pacar Adrian sebelum mengenalku.
Beberapa detik kemudian, detektif itu mengirim rekaman suara.
Aku menekan tombol putar.
Suara pertama yang terdengar adalah suara ibu mertuaku.
“Yakin Mara tidak akan curiga?”
Adrian tertawa.
“Tidak. Begitu dia mulai melahirkan, dia tidak akan punya waktu untuk berpikir. Asal dia menandatangani surat kuasa saat di rumah sakit, kita bisa mendapatkan akses ke rekening bisnis dan tabungannya.”
Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Dan setelah bayi lahir dan kita bawa pulang, baru kita beri tahu dia tentang Kyla.”
Jari-jariku langsung terasa dingin.
Namun itu belum bagian yang paling menyakitkan.
Di akhir rekaman, ibu mertuaku tertawa pelan lalu berkata:

“Lebih baik begitu. Lagi pula, setelah Mara melahirkan bayi itu, kita sudah tidak membutuhkan apa pun lagi darinya.”
Saat mendengar kalimat itu…
Aku akhirnya menyadari bahwa mereka tidak hanya merencanakan pengkhianatan.
BAGIAN 2 (TAMAT)
Mereka tidak hanya merencanakan pengkhianatan, mereka sedang merencanakan perampokan legal atas seluruh hidupku. Mereka ingin mengambil bayiku, menguras sisa harta dari bisnisku, dan menendangku keluar setelah posisiku digantikan oleh Kyla.
Rasa sakit yang menghujam dadaku begitu hebat hingga aku sempat kesulitan bernapas. Namun, air mata yang keluar dari mataku bukanlah air mata kelemahan, melainkan air mata yang membakar habis seluruh sisa cintaku pada Adrian.
“Mara,” Bianca, sahabatku, tiba di rumah bersama seorang pria paruh baya berjas rapi yang merupakan pengacaraku. “Semua armada truk pindahan sudah siap di luar. Kita harus bergerak cepat sebelum kontraksimu memuncak.”
Dalam waktu kurang dari empat jam, dengan bantuan Bu Nena dan tim Bianca, townhouse yang selama ini kubayar dengan uangku sendiri dikosongkan total. Semua perabotan mahal, pajangan, hingga helai pakaian terakhirku diangkut tanpa sisa. Aku sengaja tidak memutus kontrak sewa townhouse itu karena kontraknya masih tersisa satu bulan lagi atas namaku. Aku ingin mereka kembali ke sebuah rumah yang benar-benar mati.
Malam itu juga, aku masuk ke rumah sakit swasta terbaik di Manila—bukan rumah sakit VIP pilihan Adrian yang penuh dengan dokter rekomendasinya. Aku melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat melalui operasi sesar darurat. Saat tangis pertamanya pecah di ruang bersalin, aku berbisik di telinganya, “Kita aman, Nak. Hanya ada Ibu dan kamu.”
Dua hari kemudian, tepat seperti perkiraanku, Adrian dan ibunya kembali.
Mobil mereka berhenti di depan townhouse. Adrian turun dengan senyum kemenangan, bersiap memainkan perannya sebagai suami yang merasa bersalah karena meninggalkan istrinya yang melahirkan. Namun, saat dia memutar kunci dan membuka pintu depan… senyum itu membeku.
Rumah itu kosong melompong. Tidak ada sofa, tidak ada televisi, bahkan lampu gantung di ruang tamu pun sudah dilepas. Yang tersisa hanyalah debu dan gema langkah kaki mereka sendiri.
“Mara?! Bu Nena?!” Adrian berteriak, suaranya panik menggema di ruangan yang kosong.
Mama Celia berlari ke kamar tamu dan kamar utama. Kosong. Lemari pakaian terbuka lebar tanpa sehelai benang pun tertinggal.
Adrian segera merogoh ponselnya, mencoba meneleponku. Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Dia mencoba menelepon Bu Nena. Sama. Diblokir. Dia mencoba menghubungi Bianca, namun hanya nada sibuk yang dia dapatkan. Mereka telah terputus total dari duniaku.
Saat Adrian terduduk lemas di lantai ruang tengah yang dingin, dia menyadari ada sebuah amplop cokelat besar yang sengaja ditinggalkan di atas lantai di tengah ruangan.
Adrian merangkak, membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat tiga hal:
- Dokumen gugatan cerai atas tuduhan perzinahan dan konspirasi penipuan.
- Salinan cetak foto-foto bukti perselingkuhannya dengan Kyla di Mandaluyong yang diambil oleh detektifku.
- Flashdisk berisi rekaman suara percakapan busuk mereka tentang rencana merampas bisnis dan bayiku.
Namun, kejutan terbesar dan kenyataan yang jauh lebih menyakitkan baru saja dimulai.
Bersamaan dengan runtuhnya dunia Adrian di dalam rumah kosong itu, ponsel Mama Celia berdering. Itu telepon dari Kyla. Dengan suara histeris dan tangis yang memekakkan telinga, Kyla berteriak di seberang telepon.
“Adrian! Mama! Tolong aku! Pemilik apartemen dan polisi datang ke sini! Mereka mengusirku keluar dan menyita semua barang-barang!”
Adrian merebut ponsel ibunya. “Kyla! Apa yang terjadi?! Apartemen itu sudah kubayar sewa setahun penuh!”
“Ternyata pemilik apartemen itu adalah salah satu distributor utama bisnis kosmetik Mara!” jerit Kyla di sela tangisnya. “Mara mengetahui semuanya! Dia membatalkan kontrak sewa atas nama perusahaan, dan dia juga sudah membekukan semua rekening operasional bisnis yang sempat kamu pegang sebagai manajer! Adrian… semua ATM-mu diblokir! Aku tidak punya tempat tinggal sekarang!”
Wajah Adrian mendadak seputih kertas. Tubuhnya luruh ke lantai.
Selama ini, Adrian merasa percaya diri karena dia memegang posisi manajer di perusahaan distribusiku. Dia berpikir bahwa aset dan aliran dana bisnis itu berada di bawah kendalinya. Dia tidak pernah menyangka bahwa secara hukum, seluruh hak paten, rekening utama, dan kepemilikan bisnis itu 100% mutlak atas namaku dan tidak bisa diganggu gugat tanpa tanda tanganku.
Bukan itu saja. Di lembar terakhir dokumen dalam amplop cokelat tersebut, terdapat sepucuk surat kecil tertulis dengan tulisan tanganku:
“Adrian, kamar VIP rumah sakit yang kamu pesan sudah kubatalkan atas nama penipuan. Semua fasilitas kartu kredit tambahan yang kugunakan untuk membiayai hidupmu dan ibumu sudah dinonaktifkan sejak dua hari lalu. Jangan pernah repot-repot mencari anakku, karena namamu tidak akan pernah tercantum dalam akta kelahirannya. Nikmatilah hidup barumu bersama Kyla tanpa satu sen pun uangku.”
Mama Celia berteriak histeris, memaki-maki namaku sambil memukul-mukul lantai rumah yang kosong. Wanita tua yang tadinya merasa paling berkuasa itu kini menyadari bahwa keserakahan putranya telah menyeret mereka ke dalam kehancuran total. Mereka harus menghadapi gugatan hukum, kehilangan sumber mata pencaharian, terusir dari apartemen mewah, dan menanggung hidup Kyla yang sedang hamil tua tanpa sepeser uang pun di kantong.
Dari balik jendela ruang rawat pasca-melahirkan yang hangat, aku menatap bayiku yang sedang tertidur pulas. Aku telah kehilangan seorang suami yang ternyata hanyalah sebuah kepalsuan, tetapi aku menyelamatkan masa depan anakku dan harga diriku sebagai seorang ibu.
Keadilan telah dijatuhkan, dan mereka harus membayar setiap detik air mata yang sempat mereka jatuhkan di atas penderitaanku.