MEREKA MENYEBUT DUA ANAK ITU GELANDANGAN DI RUMAH SAKIT, TANPA MENYADARI BAHWA SEBUAH TABLET AKAN MENGUNGKAP SIAPA SEBENARNYA YANG MENCURI KEHIDUPAN ORANG-ORANG DI DALAM YAYASAN.**
## BAGIAN 1
Ketika Don tiba-tiba roboh pada suatu pagi Senin yang dingin dan mendung di sebuah taman umum, tidak seorang pun menyangka bahwa salah satu tokoh paling berpengaruh di sektor kesehatan swasta negara itu akan tergeletak di atas rumput, mulutnya terbuka, berjuang mati-matian mencari udara seperti orang biasa pada umumnya.
Ia mengenakan setelan jas biru tua, jam tangan mewah, dan sepatu mahal. Namun pada saat itu, semua itu sama sekali tidak berguna.
Tangannya mencengkeram dada.
Ia mencoba berteriak, tetapi yang keluar hanyalah erangan pelan.
Sepasang suami istri melewatinya dan terus berjalan.
Seorang pemuda mengeluarkan ponselnya, merekam video sambil tertawa.
“Lihat tuh. Orang kaya juga bisa tumbang seperti orang mabuk.”
Don ingin mengatakan bahwa ia tidak mabuk. Bahwa rasa sakit menjalar seperti api di lengan kirinya. Bahwa jantungnya terasa seperti sedang terkoyak perlahan.
Tetapi lidahnya sudah tidak mau menurut.
Di usia 61 tahun, ia adalah pemilik beberapa rumah sakit swasta, laboratorium, dan klinik di berbagai wilayah negara. Ia juga pendiri sebuah yayasan amal yang dinamai sesuai mendiang istrinya, yang meninggal dunia delapan bulan lalu.
Nama keluarganya terpampang di berbagai plakat, muncul di majalah bisnis, dan selalu disebut dalam acara-acara amal mewah tempat semua orang tersenyum di depan kamera.
Namun di sana, tanpa sopir, tanpa pengawal, dan tanpa orang-orang yang selalu berkata, “Baik, Pak,” ia menyadari satu kenyataan pahit:
Uang tidak bisa meminta pertolongan untukmu.
Beberapa saat kemudian, dua anak perempuan berlari di jalur batu taman.
Mereka adalah anak kembar.
Mungkin berusia sekitar delapan tahun.
Rambut mereka keriting dan diikat seadanya. Pakaian mereka terlalu tipis untuk cuaca sedingin itu, sementara sandal yang mereka kenakan sudah sangat usang; salah satunya bahkan hampir putus.
Salah satu anak membawa kantong plastik berisi tiga potong roti yang sudah mengeras.
Yang satu lagi membawa botol air kecil yang hampir kosong.
“Pak! Pak! Jangan tidur!” teriak anak yang lebih berani sambil berlutut di sampingnya.
“Kak, dingin sekali…” kata saudara kembarnya sambil gemetar.
“Kalau begitu pegang tangannya. Mama bilang, tolong dulu orang lain sebelum bertanya siapa mereka.”
Anak itu melepas sweter lamanya dan meletakkannya di dada Don, seolah kain penuh lubang itu mampu menahan maut.
Sementara itu, saudara kembarnya mengambil ponsel yang terjatuh di rumput dan langsung menelepon layanan darurat.
“Ada seorang pria yang tidak bisa bernapas. Kami ada di taman dekat danau. Kami tidak akan pergi. Tolong cepat datang.”
Don mendengar semuanya seperti dari bawah air.
Tak lama kemudian, ia merasakan dua tetes air menyentuh bibirnya.
Anak itu memberinya minum dari persediaan air mereka yang sedikit, berhati-hati agar tidak ada setetes pun yang terbuang.
Yang satu lagi menggosok jari-jarinya dengan tangan kecil yang memerah karena kedinginan.
“Siapa nama kalian?” bisiknya lemah.
“Saya Kakak.”
“Dan saya Adik. Kami saudara kembar.”
Dari kejauhan terdengar suara sirene ambulans.
Sebelum kehilangan kesadaran, Don merasakan genggaman kecil yang erat di tangannya.
“Jangan meninggal ya, Pak,” kata anak itu dengan suara bergetar. “Kami masih ingin meminta bantuan kepada Bapak.”
Ketika Don terbangun di sebuah rumah sakit swasta, cahaya langit-langit putih menyilaukan matanya.
Seorang perawat sedang merapikan infusnya.
“Bapak mengalami serangan jantung ringan. Kalau terlambat beberapa menit saja, mungkin Bapak tidak akan selamat.”
Ia menarik napas dengan susah payah.
“Di mana dua anak itu?”
Perawat itu menunduk.
“Mereka menunggu di resepsionis sampai Bapak dibawa ke ruang operasi. Tapi petugas keamanan mengusir mereka karena dianggap mengganggu pasien lain.”
Rasa sakit itu bahkan lebih menusuk daripada nyeri di dadanya.
Dua anak yang kelaparan telah menyelamatkan nyawanya.
Namun mereka diperlakukan seolah tidak berharga di rumah sakit yang bahkan memakai nama mendiang istrinya.
Saat itu juga, keponakan satu-satunya masuk ke kamar.
Ia adalah direktur yayasan sekaligus pewaris tidak resmi sebagian besar kerajaan bisnis keluarga.
Penampilannya rapi.
Di satu tangan ia membawa buket bunga mahal, sementara tangan lainnya memegang ponsel.
“Paman, kami semua sangat khawatir. Media sudah mulai bertanya-tanya. Kita harus mengendalikan situasi ini sebelum menjadi masalah besar.”
“Aku harus menemukan dua anak itu.”
Keponakannya menghela napas panjang, jelas merasa kesal.
“Bukan sekarang. Anak-anak jalanan seperti itu biasanya muncul kalau mencium bau uang.”
Perlahan Don menoleh.
“Mereka tidak datang karena uang. Mereka datang ketika semua orang lain menjauh.”
Keponakannya tersenyum sinis.

“Paman terlalu mudah percaya. Bisa saja mereka disuruh ibunya.”
Don tidak menjawab.
Namun pada saat itu, dari pintu yang sedikit terbuka, terdengar suara kecil.
“Kami bukan pencuri, Pak. Kami hanya ingin menyelamatkan mama kami.”
Dua anak kecil itu berdiri di ambang pintu, tubuh mereka yang kurus gemetar di bawah tatapan tajam keponakan Don. Di tangan si Kakak, sebuah tablet tua dengan layar yang retak seribu digenggamnya erat-erat, seolah benda itu adalah satu-satunya pelampung di tengah badai.
“Berani-beraninya kalian menyelinap masuk! Satpam! Usir gelandangan ini!” bentak keponakan Don, wajahnya merah padam karena amarah yang dipaksakan untuk menjaga wibawa.
Namun, sebelum petugas keamanan sempat menyentuh mereka, Don mengangkat tangannya dengan lemah namun tegas. “Biarkan mereka masuk. Jika bukan karena mereka, kalian hari ini sedang merencanakan pemakamanku, bukan warisanku.”
Si Kakak melangkah maju, air mata menggenang di matanya yang polos. “Kami tidak butuh uang Bapak. Kami hanya ingin Mama kembali. Mama dibawa ke rumah sakit ini seminggu yang lalu karena sakit keras, tapi kemarin… kemarin mereka memindahkan Mama ke gudang belakang dan bilang Mama sudah meninggal. Tapi kami tahu Mama masih hidup! Tablet ini… ini punya Mama. Mama bekerja di kantor administrasi yayasan Bapak sebelum sakit.”
Keponakan Don tiba-tiba pucat. Matanya tertuju pada tablet tua itu, dan untuk sesaat, ketakutan murni melintas di wajahnya yang perlahan berkeringat dingin. “Jangan dengarkan dongeng anak jalanan ini, Paman. Mereka hanya meracau!”
“Diam!” bentak Don, suaranya parau namun penuh otoritas. Ia menatap si Kakak. “Berikan tablet itu padaku, Nak.”
Dengan tangan gemetar, anak itu menyerahkan tablet tersebut. Di layarnya, sebuah aplikasi enkripsi yang gagal ditutup menampilkan ratusan baris data keuangan. Don, yang mendirikan yayasan tersebut dengan transparansi mutlak demi mendiang istrinya, langsung mengenali apa yang ada di hadapannya.
Itu bukan sekadar catatan medis. Itu adalah buku kas ganda dari yayasan amalnya.
Selama bertahun-tahun, yayasan tersebut menerima jutaan dolar dana bantuan internasional yang ditujukan untuk membiayai pengobatan gratis bagi masyarakat miskin. Namun, tablet itu mengungkap kenyataan yang mengerikan: dana tersebut tidak pernah sampai ke pasien. Sang keponakan, bersama dengan jajaran direksi kepercayaan yang ditunjuknya, telah memalsukan status kematian ratusan pasien miskin—termasuk ibu dari anak kembar ini—untuk menghentikan perawatan mereka, lalu mengantongi sisa dana subsidi tersebut ke rekening pribadi di luar negeri.
Mereka telah “mencuri” kehidupan orang-orang yang paling rapuh demi mendanai gaya hidup mewah mereka sendiri. Ibu dari anak kembar itu sengaja disembunyikan dan dinyatakan meninggal karena ia telah mengunduh data-data busuk ini untuk melaporkannya langsung kepada Don.
“Paman… ini konspirasi. Mereka menjebakku!” keponakan Don terbata-bata, melangkah mundur saat Don menatapnya dengan pandangan sedingin es.
“Kau…” suara Don bergetar, bukan karena sakit jantung, melainkan karena murka yang teramat sangat. “Kau menggunakan nama mendiang bibimu untuk membunuh orang secara perlahan. Kau menyebut anak-anak ini gelandangan, padahal kaulah monster yang sebenarnya.”
Don langsung menekan tombol darurat di samping ranjangnya, bukan untuk memanggil dokter, melainkan kepala keamanan internal tertingginya yang berada di luar lingkaran yayasan.
“Panggil polisi. Blokir semua rekening yayasan, dan geledah seluruh area fasilitas belakang rumah sakit sekarang juga. Temukan ibu dari anak-anak ini,” perintah Don tanpa ampun.
Hanya dalam hitungan jam, badai besar runtuh menimpa kerajaan medis yang korup itu. Keponakan Don digelandang keluar dari rumah sakit dengan tangan diborgol di hadapan kamera media yang sedari tadi menunggu di luar. Ibu dari si kembar ditemukan di sebuah bangsal isolasi tersembunyi dalam kondisi lemah, namun berkat intervensi medis langsung yang diawasi oleh Don sendiri, nyawanya berhasil diselamatkan.
Satu bulan kemudian, taman umum itu kembali sejuk, namun kali ini matahari bersinar cerah.
Don berdiri di sana, tidak lagi mengenakan setelan jas mewah yang kaku, melainkan pakaian kasual yang nyaman. Di kedua sisinya, Kakak dan Adik berjalan sambil menggandeng tangannya erat, sementara ibu mereka berjalan perlahan di belakang mereka, tampak jauh lebih sehat.
Rumah sakit dan yayasan itu kini telah dibersihkan total dari para koruptor yang mencuri kehidupan orang lain. Dan di lobi utama rumah sakit yang baru direnovasi, sebuah plakat perunggu besar dipasang. Bukan lagi foto Don dengan senyum korporatnya, melainkan sebuah lukisan abstrak dua anak kecil yang memegang botol air, dengan tulisan yang mengingatkan setiap orang kaya yang angkuh:
“Kemanusiaan tidak diukur dari apa yang ada di dompetmu, melainkan dari apa yang kau lakukan ketika seseorang berjuang untuk bernapas.”
Don menatap kedua anak itu dan tersenyum. Mereka yang sempat disebut gelandangan, pada akhirnya, adalah malaikat yang tidak hanya menyelamatkan nyawanya, tetapi juga menyelamatkan jiwa dari yayasan yang hampir kehilangan arah kemanusiaannya.