Posted in

AKU MEMUJI CEO BARU KAMI DI SEBUAH GRUP CHAT RAHASIA

AKU MEMUJI CEO BARU KAMI DI SEBUAH GRUP CHAT RAHASIA

Sampai suatu hari, dia meletakkan ponselnya di hadapanku.

Lalu menunjukkan semua pesan yang kukirim selama tiga bulan terakhir…

Pada hari perusahaan kami mendapatkan CEO baru.

Seluruh kantor seperti kehilangan akal.

Bukan karena dia sangat hebat.

Melainkan karena dia sangat tampan.

Tinggi.

Berwibawa.

Dingin dan karismatik.

Saat dia memasuki ruang rapat, seluruh lantai kantor langsung hening.

Aku duduk di barisan paling belakang.

Awalnya aku berniat mendengarkan rapat dengan serius.

Tetapi lima menit kemudian, aku sudah lupa alasan mengapa aku berada di sana.

Pria yang berdiri di depan hanya mengenakan kemeja putih sederhana.

Lengan bajunya sedikit digulung.

Memperlihatkan pergelangan tangan yang kokoh.

Suaranya dalam.

Tatapannya tajam.

Dan yang paling penting, hidungnya sangat mancung.

Aku tidak bisa berhenti memandanginya.

Diam-diam aku mengambil foto.

Lalu langsung mengirimkannya ke sebuah chat pribadi yang hanya berisi aku dan teman online-ku.

“Ya ampun.”

“Pria ini tampan banget.”

Setelah mengirim pesan itu, aku kembali mengetik.

“Rasanya produktivitasku bisa naik dua kali lipat kalau setiap hari melihat dia.”

Beberapa detik kemudian.

Dia membalas dengan tanda tanya.

Aku semakin bersemangat.

“Kamu nggak akan mengerti.”

“Dia tipe pria yang cuma berdiri diam saja sudah bikin jantung berdebar.”

Di seberang sana hening.

Aku mengirim foto lain.

Kali ini foto profil sampingnya.

“Lihat hidungnya.”

“Dan garis rahangnya.”

“Seratus persen sesuai tipe idealku.”

Akhirnya dia membalas.

“Benarkah?”

Aku tersenyum.

Tanpa menyadari.

Bahwa di depan ruang rapat.

CEO baru itu sempat mengarahkan pandangannya kepadaku.

Sore harinya.

Saat aku sedang memasukkan data.

Muncul sebuah pengumuman.

Seluruh karyawan diwajibkan mengikuti pelatihan online yang akan dipimpin langsung olehnya.

Aku menghela napas.

Membuka laptop.

Dan wajah tampannya langsung muncul di layar.

Aku kembali membuka chat.

“Tolong aku.”

“Aku nggak bisa fokus.”

Teman online-ku mengirim stiker tertawa.

Aku melanjutkan.

“Gimana bisa kerja dengan benar kalau CEO setampan ini?”

“Rasanya dia nggak punya kekurangan sama sekali.”

Dia membalas cepat.

“Mungkin ada.”

Aku mengernyit.

“Kok bisa?”

Satu menit kemudian.

Pesan baru muncul.

“Mungkin kepribadiannya buruk.”

Aku langsung membantah.

“Nggak mungkin.”

“Kalau kepribadiannya buruk, dunia ini terlalu tidak adil.”

Dia hanya membalas dengan tiga titik.

Aku tertawa kecil.

Tanpa tahu.

Bahwa di balik layar sana.

Orang yang membaca setiap pesanku hanya bisa menggelengkan kepala.

Seminggu kemudian.

Bencana datang.

Saat membawa dokumen ke lantai eksekutif.

Aku menabrak seseorang di tikungan koridor.

Kertas-kertas berserakan.

Dan minuman yang kubawa tumpah tepat ke pakaian orang itu.

Aku membeku.

Saat mendongak.

Jantungku hampir berhenti berdetak.

Itu CEO.

Minuman menetes di polo hitam yang dikenakannya.

Suasana langsung hening.

Dengan tubuh gemetar aku berkata,

“M-Maaf, Pak…”

Para karyawan yang melihat kejadian itu juga ikut pucat.

Semua orang tahu CEO baru sangat tegas.

Aku pikir karierku tamat.

Namun dia hanya membungkuk.

Membantuku memungut dokumen.

Lalu berkata dengan tenang,

“Lain kali lebih hati-hati.”

Setelah itu dia pergi.

Meninggalkanku yang masih terpaku.

Malam itu.

Aku langsung mengadu kepada teman online-ku.

“Aku tamat.”

“Besok pasti aku dipecat.”

Dia bertanya.

“Kenapa?”

Aku menceritakan semuanya.

Termasuk minuman yang kutumpahkan.

Beberapa menit berlalu.

Pesan baru muncul.

“Kalau dia tidak marah.”

“Mungkin kamu tidak perlu khawatir.”

Aku berguling-guling di atas tempat tidur.

“Nggak.”

“Tatapan matanya menyeramkan.”

Dia membalas.

“Mungkin dia sedang menahan tawa.”

Aku langsung membuka mata lebar-lebar.

“Kamu sebenarnya membela siapa?”

Dia tidak membalas lagi.

Keesokan harinya.

Aku dipanggil ke kantor CEO.

Sepanjang perjalanan ke atas.

Aku sudah membayangkan berbagai skenario buruk.

Bahkan surat pengunduran diri pun sudah siap kususun.

Sekretaris mempersilahkanku masuk.

Dia duduk di balik meja besar.

Sinar matahari menyoroti wajahnya yang tegas.

Dia menatapku.

“Duduk.”

Dengan gugup aku duduk.

Telapak tanganku penuh keringat.

Dia membuka laci.

Mengeluarkan sebuah ponsel.

Lalu meletakkannya di hadapanku.

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”

Aku mengangguk.

Perlahan dia membuka layar.

Dan dalam sekejap.

Duniaku seakan berhenti berputar.

Karena yang muncul adalah chat antara aku dan teman online-ku.

Semuanya ada di sana.

“Dia tampan banget.”

“Dia sesuai tipe idealku.”

“Aku ingin memandanginya sepanjang hari.”

“Kalau kepribadiannya buruk, dunia ini tidak adil.”

Aku membeku.

Lututku terasa lemas.

Dan pikiranku kosong.

Pria di hadapanku bersandar santai di kursinya.

Senyuman tipis muncul di bibirnya.

Lalu dia berkata perlahan,

“Kalau begitu…”

“Bagaimana kamu menjelaskan bahwa selama tiga bulan terakhir kamu terus mendekatiku menggunakan akun anonim?”

Wajahku terasa membeku, seluruh darah di tubuhku seolah merosot ke kaki. Mataku bergantian menatap layar ponsel itu dan wajah sang CEO yang kini melipat kedua tangannya di atas meja.

“P-Pak… ini…” Suaraku bergetar hebat, bahkan hampir tidak keluar.

“Akun anonim dengan nama ‘KucingOren99’ ini,” dia mengetuk layar ponselnya dengan jari telunjuknya yang kokoh. “Pemiliknya selalu mengirimkan pesan random tentang anime, rekomendasi kopi, sampai curhatan pekerjaan selama tiga bulan terakhir kepada akun pribasiku yang juga anonim.”

Dia menatapku lekat-lekat, kilatan jenaka kini terlihat jelas di sepasang matanya yang biasanya dingin.

“Aku tidak pernah tahu siapa orang di balik akun itu. Sampai seminggu lalu, saat rapat perdana, akun yang sama tiba-tiba mengirimkan foto rahasia diriku dari barisan belakang ruangan. Lengkap dengan pujian tentang… apa tadi? Garis rahang dan hidung mancung?”

Aku langsung menundukkan kepala sedalam-dalamnya, berharap lantai kantor ini tiba-tiba terbuka dan menelanku hidup-hidup. Jadi… teman online tempatku berbagi cerita, tempatku mengeluh, dan tempatku memuja CEO baru ini secara terang-terangan… adalah pria itu sendiri?!

“Lalu kemarin,” dia melanjutkan, suaranya terdengar semakin mendekat karena dia kini condong ke depan mejanya. “Kamu menabrakku di koridor. Dan beberapa jam kemudian, KucingOren99 mengirim pesan bahwa dia takut dipecat karena menumpahkan minuman ke baju CEO-nya.”

“Maaf, Pak! Saya benar-benar tidak tahu kalau itu Anda!” kataku panik, refleks berdiri dari kursi dan membungkuk panik. “Saya siap menerima sanksi, atau… atau saya akan mengundurkan diri sekarang juga!”

Keheningan melanda ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti satu abad. Hingga akhirnya, sebuah suara tawa rendah—suara yang sama dengan yang kudengar di ruang rapat—terdengar.

Aku mendongak perlahan. CEO dingin yang ditakuti seluruh kantor itu kini sedang tersenyum lebar, menghapus seluruh kesan angkuh dari wajahnya.

“Siapa yang bilang mau memecatmu?” tanyanya sambil menyandarkan kembali punggungnya ke kursi eksekutif. “Aku hanya ingin mengonfirmasi identitas teman online-ku.”

Dia mengambil kembali ponselnya, mengetik sesuatu di sana, dan sedetik kemudian, ponsel di dalam saku rok kerjaku bergetar.

Dengan tangan gemetar, aku membukanya. Sebuah pesan masuk dari akun temanku itu.

[Teman Online]: Jadi, produktivitasmu benar-benar akan naik dua kali lipat kalau melihatku setiap hari?

Wajahku langsung memanas, pasti sudah semerah tomat matang.

“Saya… saya akan bekerja lebih keras, Pak,” cicitku, benar-benar mati kutu.

CEO tampan itu terkekeh pelan, lalu merapikan beberapa dokumen di mejanya sebelum kembali menatapku dengan tatapan tegas, namun kali ini terasa jauh lebih hangat.

“Bagus. Karena sebagai CEO, aku akan menagih janji produktivitas itu. Dan sebagai teman online-mu…” dia menjeda kalimatnya, senyum tipis kembali terukir di bibirnya. “…aku rasa kita perlu mengobrol lebih banyak. Bukan di grup chat rahasia, tapi sambil minum kopi setelah jam kantor selesai. Bagaimana?”

Aku hanya bisa mengangguk pelan dengan jantung yang berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya. Bencana yang kutakutkan sejak semalam, entah bagaimana, justru berubah menjadi awal dari sebuah cerita yang baru.