**AKU MENEMUKAN TOILET YANG TERSUMBAT. SAAT MEMANGGIL TUKANG LEDENG UNTUK MEMPERBAIKINYA, TERUNGKAPLAH RAHASIA YANG SELAMA INI DISEMBUNYIKAN SUAMIKU—TERNYATA DIA TIDAK SESEDERHANA YANG SELAMA INI KUKIRA.

**
Aku dan suamiku, Marco, bertemu seolah-olah itu adalah takdir. Sejak pertama kali saling melihat, kami langsung jatuh cinta. Karena begitu kuatnya perasaan yang kami rasakan saat itu, kami tidak memperhatikan perbedaan-perbedaan di antara kami. Dibandingkan Marco, penampilanku lebih menonjol. Penghasilanku juga jauh lebih besar darinya. Pada awalnya, orang tuaku menentang hubungan kami, tetapi karena aku bersikeras, mereka akhirnya terpaksa menerima.
Setelah menikah, aku tetap sibuk bekerja—sering lembur dan pulang larut malam. Marco tidak pernah memaksaku untuk segera memiliki anak. Setiap malam, dialah yang membersihkan rumah, memasak, dan menungguku pulang. Saat aku tiba di rumah dalam keadaan sangat lelah, dia sudah menyiapkan air hangat untuk mandi dan menghangatkan makanan yang telah tersaji rapi di meja. Dia bahkan belajar memijat agar tubuhku terasa lebih rileks.
Namun, setelah beberapa waktu, aku mulai menyadari bahwa sikapnya perlahan berubah menjadi dingin. Ketika kutanya alasannya, dia hanya mengatakan bahwa akhir-akhir ini dia sering merasa lelah. Aku mulai curiga—apakah dia menyembunyikan sesuatu dariku? Atau mungkin ada wanita lain? Tapi aku sangat percaya pada suamiku. Bagaimana mungkin dia bisa mengkhianatiku?
Aku sempat merencanakan liburan berdua ke Puncak selama beberapa hari. Namun ketika kuberitahu bahwa aku akan mengambil cuti kerja, dia tiba-tiba mengatakan bahwa dia harus pulang ke kampung halamannya terlebih dahulu. Dia bahkan tidak memberiku kesempatan untuk membantah—dia langsung pergi begitu saja. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya, karena aku tidak ingin memulai pertengkaran.
Keesokan harinya, aku menyadari bahwa toilet di rumah kami tersumbat. Aku pun memanggil tukang ledeng untuk memperbaikinya. Aku merasa heran karena sebelumnya toilet itu tidak pernah bermasalah, dan kami juga tidak melakukan apa pun yang bisa menyebabkan penyumbatan.

Saat tukang ledeng itu bekerja, aku berdiri di sampingnya untuk melihat apa yang sebenarnya menyumbat saluran tersebut. Namun ketika aku melihat benda yang berhasil dia keluarkan dari dalam pipa…
Aku langsung terdiam karena syok.
… benda itu adalah sebuah kantong plastik hitam berlapis-lapis yang diikat sangat rapat.
Tukang ledeng itu mengerutkan kening sambil merobek lapisan plastiknya menggunakan pisau kecil. Bau antiseptik yang pekat langsung menguar, bercampur dengan aroma lembap pipa. Ketika bungkusan itu terbuka sepenuhnya, mataku terbelalak. Di dalamnya terdapat sebuah paspor asing, beberapa cetakan mutasi rekening bank luar negeri atas nama Marco dengan angka yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak—jutaan dolar—dan sebuah alat pelacak GPS berukuran mikro yang sudah rusak karena air.
“Mbak, ini sepertinya sengaja dibuang, tapi karena buru-buru jadi tersangkut di kelokan pipa,” kata tukang ledeng itu heran.
Tanganku gemetar saat mengambil paspor itu. Foto di dalamnya adalah foto suamiku, tetapi namanya bukan Marco. Di sana tertulis: Arthur Sterling.
Belum sempat aku mencerna semua itu, ponselku yang tergeletak di meja ruang tamu bergetar hebat. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan pesan singkat:
“Buka laci paling bawah di ruang kerjanya. Kunci ada di dalam lipatan jas hitam yang biasa dia pakai. Waktumu tidak banyak. Mereka mencarinya.”
Dengan jantung yang berdebar kencang, aku memberikan ongkos lebih kepada tukang ledeng dan memintanya segera pergi. Begitu pintu depan tertutup, aku berlari ke ruang kerja Marco. Aku meraba jas hitamnya, menemukan sebuah kunci kecil, dan membuka laci yang selama ini selalu dikunci.
Di dalam laci itu tidak ada dokumen perusahaan atau barang mewah. Hanya ada sebuah laptop tipis, beberapa kartu identitas dari berbagai negara, dan sebuah surat tulisan tangan yang ditujukan untukku.
“Untuk istriku tercinta,
Jika kamu membaca surat ini, artinya penyamaranku telah terbongkar, atau masa laluku akhirnya berhasil menemukanku. Maafkan aku, Sayang. Aku tidak pernah bermaksud membohongimu tentang cintaku. Cintaku padamu adalah satu-satunya hal yang nyata dalam hidupku.
Nama asliku bukan Marco. Aku adalah mantan kepala analis keamanan data untuk sebuah sindikat korporasi global. Dua tahun lalu, aku melarikan diri setelah menyita aset ilegal mereka senilai ratusan juta dolar untuk diberikan kepada otoritas internasional—dan sebagian kecilnya kusimpan sebagai jaminan hidupku. Aku memalsukan identitas dan bersembunyi di kota ini, berpura-pura menjadi pria biasa yang sederhana demi keselamatan kita berdua.
Sikapku yang mendingin akhir-akhir ini bukan karena aku bosan atau ada wanita lain. Aku mendeteksi bahwa mereka telah melacak keberadaanku. Aku pergi ke ‘kampung halaman’ bukan untuk berlibur, melainkan untuk memancing mereka menjauh dari rumah ini, menjauh darimu. Toilet itu… aku terpaksa membuang sisa alat pelacak dan identitas lamaku di sana saat mendengar suara mobil asing di depan rumah kemarin pagi.
Uang di rekening luar negeri itu kini sudah sepenuhnya atas namamu. Jika dalam tiga hari aku tidak kembali, pergilah ke alamat yang tertera di balik surat ini. Kamu akan aman di sana. Jangan mencariku.”
Air mataku menetes membasahi kertas surat itu. Pria yang setiap malam memijat bahuku yang lelah, yang selalu menyiapkan air hangat dan makanan di meja, ternyata adalah seorang buronan yang sedang mempertaruhkan nyawanya demi melindungiku. Dia tidak pernah inferior di hadapanku; dia hanya memilih untuk menanggalkan seluruh kekuasaan dan bahayanya demi menjadi tempat bersandarku yang damai.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki pelan di halaman depan rumah.
Aku menahan napas, meremas surat di tanganku. Aku tahu, waktu untuk menangis sudah habis. Aku harus memilih: melarikan diri dengan uang itu, atau menggunakan semua aset yang ditinggalkannya untuk menyelamatkan suamiku—pria sederhana yang ternyata adalah pelindung rahasia hidupku.
Aku menatap laptop di atas meja, menyalakannya, dan mengetik kata sandi yang tertulis di akhir surat: Nama pernikahan kami.
“Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi mereka sendirian, Marco,” bisikku lirih, saat layar laptop itu mulai menampilkan peta radar pelacakan yang bergerak aktif.