Posted in

Pacarku yang seorang pilot mengunggah foto dirinya bersama mantan kekasihnya di media sosial saat kami sedang perang dingin.

Pacarku yang seorang pilot mengunggah foto dirinya bersama mantan kekasihnya di media sosial saat kami sedang perang dingin.

Aku tidak marah. Aku tidak bertanya.

Aku hanya diam-diam mengubah rute penerbanganku… lalu menghilang sepenuhnya dari hidupnya.

Hingga malam ketika seluruh kru penerbangan berkumpul untuk makan malam bersama, dia masih berpikir bahwa kapan pun dia menoleh… aku akan tetap menunggunya di tempat yang sama.

Ruang VIP itu ramai, penuh tawa dan candaan.

Beberapa pramugari sengaja menggodaku.

— Kamu masih belum mau berdamai dengan Kapten Rafael? Kamu kan tahu harga dirinya setinggi langit. Bagaimana kalau dia benar-benar balikan dengan mantannya?

Aku hanya menunduk sambil memutar gelas di tanganku.

Aku tersenyum tipis tanpa menjawab.

Suasana langsung menjadi canggung.

Pria yang duduk di ujung meja akhirnya angkat bicara.

— Sudahlah. Jangan dibesar-besarkan. Besok kita masih terbang bersama. Jangan sampai urusan pribadi memengaruhi pekerjaan.

Suaranya begitu tenang.

Seolah dia yakin aku tidak akan pernah pergi.

Aku menatap wajah yang sangat kukenal itu, sementara hatiku semakin dingin.

Tiga tahun lalu, kami bertemu saat pelatihan maskapai.

Saat itu, dia adalah kopilot termuda di perusahaan.

Sedangkan aku adalah satu-satunya peserta wanita yang berhasil lulus simulasi cuaca ekstrem dengan nilai sempurna.

Dari rekan satu tim… kami menjadi sepasang kekasih.

Dari penerbangan malam yang tak terhitung jumlahnya hingga malam-malam ketika kami terjebak badai, kami selalu bersama.

Pernah suatu kali dia berlari di tengah hujan deras hanya untuk membelikanku kue setelah shift malamku berakhir.

Saat aku terkena infeksi virus, dia bahkan hampir tidak tidur selama tiga malam demi menjagaku.

Dan suatu malam, di tengah landasan yang sepi, dia memelukku lalu berbisik:

— Suatu hari nanti, kamu akan menjadi kapten wanita terbaik di maskapai ini. Dan aku… akan selalu terbang bersamamu.

Saat itu, aku benar-benar percaya.

Percaya bahwa kami akan berjalan berdampingan selamanya.

Sampai wanita itu kembali.

Semua orang mengenalnya sebagai cinta masa kecil Rafael.

Setelah beberapa tahun bekerja di luar negeri, dia pulang dan menjadi kepala pramugari baru di kru kami.

Sejak saat itu, segalanya perlahan berubah.

Rafael sering mengantarnya pulang setelah acara kumpul kru.

Dia selalu membelanya dalam setiap diskusi.

Bahkan gelang edisi terbatas yang sudah lama kuinginkan ternyata dibelinya dua buah.

Satu untukku.

Dan satu lagi kulihat di pergelangan tangan wanita itu dalam unggahan media sosialnya.

Sampai sekarang aku masih mengingat jelas caption-nya.

“Kadang kamu harus tersesat lebih dulu untuk tahu siapa yang benar-benar paling memahami dirimu.”

Dadaku terasa sesak saat membacanya.

Tapi aku tidak menangis.

Aku juga tidak membuat keributan seperti yang mungkin dilakukan wanita lain.

Aku hanya diam-diam mengajukan permohonan pindah rute.

Aku bergabung dengan tim penerbangan internasional yang baru.

Sebuah rute yang berlawanan dengan rute Rafael.

Mulai sekarang… kami tidak akan pernah lagi berada di kokpit yang sama.

Hampir tengah malam ketika makan malam itu berakhir.

Semua orang pulang satu per satu.

Rafael mengikutiku sampai ke area parkir belakang restoran.

Angin malam berembus kencang.

Dia menarik kerah seragamnya lalu menatapku.

— Kamu masih marah karena kejadian itu?

Aku terdiam beberapa detik sebelum bertanya:

— Menurutmu… aku marah?

Dia tampak sedikit terkejut.

Mungkin karena dia tidak terbiasa melihatku setenang ini.

Dulu, aku selalu menjadi orang pertama yang mengalah setiap kali kami bertengkar.

Dia melangkah lebih dekat dan suaranya melembut.

— Kamu tidak perlu berpikir macam-macam. Dia hanya butuh teman beberapa hari ini karena baru kembali ke Indonesia.

Aku menatapnya lama.

Lalu perlahan mengeluarkan kartu identitas karyawan baruku dari tas.

Warnanya berbeda dengan kartu tim penerbanganku saat ini.

Barulah ekspresinya berubah.

— Apa itu?

— Surat mutasi.

Angin malam bertiup semakin kencang.

Aku bisa melihat wajahnya perlahan mengeras.

— Kamu pindah rute?

— Ya.

— Sejak kapan?

— Tiga hari yang lalu.

Tepat pada hari ketika dia mengunggah foto bersama mantannya.

Tangan Rafael langsung mengepal kuat hingga urat-uratnya terlihat jelas.

— Kenapa kamu tidak memberitahuku?

Aku tertawa pelan.

— Apa kamu pernah memberiku kesempatan untuk bicara?

Dia langsung terdiam.

Aku hendak pergi ketika tiba-tiba dia meraih pergelangan tanganku.

Untuk pertama kalinya, aku mendengar kepanikan dalam suaranya.

— Kalau kamu pergi… bagaimana kita bisa bertemu?

Aku melepaskan genggamannya perlahan.

— Sudah lama kita tidak berada di arah yang sama.

Dia tampak terguncang mendengar jawabanku.

Dan tepat pada saat itu, ponselku berdering.

Panggilan dari pusat operasi penerbangan.

Begitu kuangkat, staf di seberang langsung berkata:

— Kapten Mia, ada perubahan darurat untuk penerbangan internasional besok malam. Kapten yang ditugaskan mengalami masalah kesehatan, jadi Anda diminta sementara memimpin tim penerbangan tersebut.

Aku menjawab dengan tenang.

— Baik, saya mengerti.

Namun beberapa detik kemudian, staf itu menambahkan sesuatu.

Dan dalam sekejap… wajah pria yang berdiri di depanku langsung pucat.

— Satu hal lagi, Kapten. Kopilot yang akan dipindahkan untuk mendampingi Anda pada penerbangan internasional pertama adalah Kapten Rafael.

Bagian selanjutnya dari cerita ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca kelanjutan cerita secara lengkap…

Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir (ending) dari cerita tersebut:

Malam itu, keheningan di area parkir terasa begitu mencekam. Suara dari pengeras suara ponselku seolah memutus seluruh pasokan udara di sekitar kami.

Rafael menatapku dengan mata membelalak, napasnya memburu. Pria yang biasanya selalu tenang dan dipenuhi harga diri tinggi itu kini tampak seperti baru saja dijatuhkan dari ketinggian ribuan kaki tanpa parasut.

“Mia… kamu memimpin penerbangan internasional?” suaranya bergetar, serak dan penuh ketidakpercayaan. “Kamu sudah menjadi Kapten?”

Aku mematikan sambungan telepon, lalu memasukkan ponsel ke dalam saku mantelku. Aku menatapnya lurus, tanpa ada lagi binar cinta, tanpa ada lagi rasa hangat yang dulu selalu membakar dadaku. Hanya ada kekosongan yang dingin.

“Ya,” jawabku tenang. “Ujian simulator terakhirku keluar minggu lalu. Aku lulus sebagai Kapten penerbangan internasional.”

“Tapi kenapa… kenapa kamu tidak bilang? Dan kenapa kru operasi memasangkanku sebagai kopilotmu?” Rafael melangkah maju, mencoba meraih bahuku, namun aku mundur satu langkah. Jarak di antara kami kini terasa sejauh benua yang memisahkan rute penerbangan kami nantinya.

“Karena di rute internasional yang baru ini, maskapai kekurangan Kapten yang memiliki sertifikasi cuaca ekstrem, Rafael. Dan kamu…” aku menatap lencana di dadanya, “…adalah kopilot senior yang dijadwalkan untuk tes kenaikan pangkat bulan depan. Manajemen menganggap kita adalah kombinasi terbaik. Setidaknya, itu yang mereka tahu berdasarkan catatan profesional kita.”

“Mia, batalkan mutasimu. Aku mohon,” ucapnya tiba-tiba, suaranya parau, ego yang setinggi langit itu runtuh dalam sekejap. “Kita bisa bicara. Aku akan menjauh dari dia. Aku akan menghapus foto itu. Aku… aku tidak bisa membiarkanmu pergi ke rute sejauh itu sendirian.”

Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan rasa ikhlas untuk melepaskan.

“Kamu salah, Rafael. Aku tidak sendirian. Di dalam kokpit besok, aku adalah seniormu. Aku adalah Kaptenmu. Dan di luar kokpit… kita bukan siapa-siapa lagi.”

Dia terpaku di tempatnya berdiri, membeku di bawah guyuran angin malam yang kian menusuk.

Keesokan Malamnya: Penerbangan GA-012

Ruang pengarahan (briefing) sebelum penerbangan terasa begitu formal. Semua kru kabin sudah berkumpul, termasuk wanita itu—mantan kekasih Rafael yang kini menjabat sebagai kepala pramugari.

Ketika aku berjalan masuk dengan seragam Kapten bergaris empat di pundak, ruangan langsung senyap. Wanita itu tampak terkejut, wajahnya memucat saat melihat papan tugas. Di sana tertulis dengan jelas:

PIC (Pilot in Command): Capt. Mia Laurent FO (First Officer): Capt. Rafael Dirgantara

Wanita itu melirik Rafael yang duduk di sudut ruangan dengan kepala tertunduk, kehilangan seluruh karisma anggunnya yang biasa dia pamerkan di media sosial. Gelang edisi terbatas itu masih melingkar di pergelangan tangannya, tapi malam ini, gelang itu terlihat seperti lelucon yang tak lagi lucu.

Aku memulai briefing dengan profesionalisme tinggi, menjelaskan rute, perkiraan cuaca, dan prosedur darurat tanpa sekalipun melibatkan perasaan pribadi.

“Ada pertanyaan?” tanyaku tegas setelah selesai.

Semua kru menggeleng, termasuk sang kepala pramugari yang kini tidak berani menatap mataku.

“Baik. Mari kita lakukan penerbangan yang aman. Silakan menuju pesawat,” ucapku menutup sesi.

Di Dalam Kokpit: Ketinggian 35.000 Kaki

Mesin Boeing 777 menderu halus saat kami mencapai ketinggian jelajah di atas Samudra Hindia. Di dalam kokpit, hanya ada suara instrumen digital dan dengung angin di luar kaca.

Rafael, yang duduk di kursi sebelah kanan sebagai kopilotku, berulang kali melirikku. Matanya merah, menunjukkan bahwa dia tidak tidur semalaman.

“Mia…” panggilnya lirih saat lampu tanda sabuk pengaman sudah dimatikan. “Apakah benar-benar tidak ada kesempatan lagi? Tiga tahun kita bersama… apa semuanya hilang hanya karena satu foto dan kebodohanku?”

Aku tetap menatap lurus ke depan, memperhatikan layar radar cuaca.

“Rafael, saat kamu mengunggah foto itu ketika kita sedang perang dingin, kamu sedang menguji seberapa besar aku bisa bertahan dalam ketidakpastian. Kamu membiarkan wanita lain memakai gelang yang sama denganku, dan kamu membelanya di depan semua orang,” kataku, suaranya stabil tanpa emosi.

“Aku tidak pernah marah karena kamu bersamanya. Aku hanya sadar… bahwa tempatku bukan lagi di sisimu. Kamu selalu berpikir aku akan tetap menunggumu di tempat yang sama, tak peduli seberapa jauh kamu melangkah pergi. Tapi kamu lupa, Rafael…”

Aku menoleh, menatapnya untuk terakhir kali sebagai seorang wanita yang pernah mencintainya setengah mati.

“…aku juga seorang pilot. Aku tahu kapan harus mengubah rute ketika cuaca di depan sudah terlalu beracun untuk dilewati.”

Napas Rafael tertahan. Setetes air mata jatuh di pipinya, namun dia buru-buru menghapusnya karena peraturan penerbangan yang ketat. Dia tahu, di ketinggian ini, dia tidak boleh kehilangan fokus. Dia harus mematuhi setiap perintahku sebagai Kaptennya.

“Selesaikan penerbangan ini dengan baik, First Officer Rafael,” ucapku dingin, kembali memegang kendali penuh atas pesawat. “Ini adalah penerbangan pertama, sekaligus penerbangan terakhir kita bersama.”

Di bawah kegelapan malam dan hamparan bintang di atas awan, aku akhirnya melepaskan masa laluku sepenuhnya. Dia tidak lagi terbang bersamaku di arah yang sama. Aku telah terbang lebih tinggi, meninggalkan dia yang masih terjebak dalam penyesalan di daratan.