Mereka memaksaku menyerahkan beasiswa yang telah kuperjuangkan seumur hidup hanya agar bisa diberikan kepada adik perempuan angkatku.
Tetapi ketika aku benar-benar setuju untuk pergi diam-diam dan berhenti memperebutkannya…
tiga kakak laki-lakiku justru seperti kehilangan akal dan mengunci pintu kamarku sepanjang malam.
Empat tahun setelah aku diterima kembali oleh keluarga kaya ini, adik angkatku kembali mendorongku ke jurang.
Hanya karena dia menangis dan berkata ingin masuk ke akademi seni paling bergengsi di kota.
Ketiga kakakku langsung memaksaku menyerahkan beasiswa yang telah kuperjuangkan selama sepuluh tahun.
“Jantung Angela lemah sejak kecil. Apa kamu tidak bisa mengalah sekali saja?”
Kak Gabriel mencengkeram pergelangan tanganku erat di depan seluruh keluarga.
“Beasiswa itu tidak sepenting itu untukmu.”
Aku tertawa kecil sambil menatap tangannya yang hampir membuat kulitku memerah.
“Tidak penting?”
“Itu satu-satunya masa depan yang tersisa untukku.”
Kak Marco yang bersandar di sofa membuka ponselnya tanpa ekspresi.
“Kalau kamu tidak berhenti bersikap dramatis, aku akan membekukan semua rekening yang kamu gunakan.”
Sedangkan Kak Rafael…
langsung melempar kontrak beasiswaku ke dalam perapian.
Api segera melalap setiap sudut kertas itu.
“Itu cuma beasiswa.”
“Jangan buat Angela menangis.”
Aku hanya menatap api yang perlahan membakar mimpiku.
Kontrak itu…
adalah hasil dari tak terhitung malam tanpa tidur.
Satu-satunya jalan bagiku untuk meninggalkan rumah ini.
Namun di mata mereka—
semua itu tidak ada artinya dibandingkan satu tetes air mata adik angkat mereka.
Tiba-tiba komentar-komentar muncul di hadapanku.
【Aaaa! Tiga kakak obsesif itu mulai lagi!】
【Mereka memang tidak ingin female lead pergi!】
【Mereka membakar kontraknya karena takut kehilangan dia!】
【Tangan Kak Rafael sampai gemetar saat membakarnya, jelas dia juga terluka!】
Aku hanya tersenyum pahit membaca semua itu.
Sudah tiga tahun.
Setiap kali aku ditindas.
Setiap kali aku dipaksa mengalah.
Komentar-komentar itu selalu mengatakan hal yang sama—
“Mereka sebenarnya sangat mencintaimu.”
Cinta?
Cinta macam apa yang terus-menerus menghancurkan masa depanku?
Aku mengalihkan pandangan dari abu kontrak itu.
“Baiklah.”
“Aku tidak akan pergi.”
“Kalian puas sekarang?”
Seluruh ruang keluarga mendadak hening.
Kak Gabriel tampak tertegun.
Dia menatapku tajam seolah ingin memastikan apa yang baru saja kudengar.
“Kamu serius?”
Aku mengangguk.
“Ya.”
“Aku menyerah.”
Entah kenapa—
setelah aku mengucapkan itu, mereka justru terlihat semakin marah.
Kak Marco langsung berdiri.
“Lalu sekarang apa rencanamu?”
Aku terlalu lelah untuk berdebat.
“Bukankah ini yang kalian inginkan?”
“Sekarang aku sudah menuruti kalian.”
“Kenapa malah kalian yang marah?”
Mata Angela langsung memerah.
Dia berjalan ke arah Kak Gabriel dan menarik lengan bajunya.
“Kak… jangan marahi Kakak…”
“Ini semua salahku…”
“Aku seharusnya tidak meminta masuk akademi itu…”
Kak Rafael segera memeluknya.
“Kamu tidak salah apa pun.”
“Dia saja yang egois.”
Lalu dia menatapku dengan dingin.
“Kalau kamu benar-benar tahu diri, mulai besok pindahlah ke rumah tamu.”
“Akhir-akhir ini Angela sulit tidur.”
“Dokter bilang dia tidak boleh stres.”
“Jadi mulai sekarang, jangan muncul lagi di depannya.”
Aku menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk.
“Baik.”
Dan saat itu—
bahkan Kak Rafael ikut terdiam.
Karena biasanya, aku seharusnya menangis.
Membantah.
Memohon.
Tetapi malam ini…
aku terlalu tenang hingga terasa menakutkan.
Aku berbalik dan naik ke kamar.
Langkah kaki berat segera mengikuti.
Kak Gabriel menghalangi pintu.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Beres-beres.”
“Bukankah aku sudah setuju pindah ke rumah tamu?”
Dia menatap koper di kakiku dan wajahnya semakin gelap.
“Tidak ada yang mengizinkanmu meninggalkan rumah ini.”
Aku tertawa kecil.
“Aneh sekali.”
“Bukankah kalian sendiri yang ingin menyingkirkanku?”
Kak Marco juga datang.
Dia bersandar di kusen pintu sambil menatapku dingin.
“Kamu menggunakan trik pergi lagi untuk memanipulasi kami?”
“Aku tidak memanipulasi siapa pun.”
“Aku hanya lelah.”
Aku terus memasukkan barang-barang ke dalam koper.
Sampai tiba-tiba Kak Rafael masuk.
Di tangannya ada sebuah kotak musik tua.
Peninggalan terakhir dari ibu kandungku sebelum meninggal.
“Kamu ingin pergi?”
Dia tersenyum dingin.
“Kalau begitu, jangan bawa apa pun yang berasal dari rumah ini.”
Detik berikutnya—
dia membanting kotak musik itu ke lantai.
CRASH!
Kotak itu hancur berkeping-keping.
Melodi yang rusak menggema di kamar yang sunyi.
Aku membeku beberapa saat.
Lalu perlahan berlutut untuk memungut pecahannya.
Jariku terluka.
Darah mulai mengalir.
Tetapi aku tidak merasakan sakit sama sekali.
Sementara itu, komentar-komentar meledak.
【OMG! Kak Rafael sudah menyesal!】
【Dia hanya tidak ingin female lead pergi!】
【Lihat tangan Kak Gabriel gemetar!】
【Peluk dia sekarang juga!!!】
Aku menatap darah yang mengalir di tanganku.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun—
aku tertawa pahit.
Kenapa mereka selalu harus menyakitiku terlebih dahulu…
sebelum berpura-pura ikut terluka?
Tiba-tiba ponsel di luar kamar berdering.
Kak Marco yang menjawab.
Aku tidak tahu apa yang dikatakan orang di seberang sana—
tetapi wajahnya langsung berubah.
“Apa?”
“Kapalnya sudah merapat malam ini?”
Saat mendengar itu—
tanganku langsung terasa dingin.
Kapal itu…
adalah rencana rahasiaku untuk meninggalkan negara ini malam ini juga.
Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.
Tetapi sekarang—
Kak Marco perlahan menoleh ke arahku.
Tatapannya sangat dingin.

“Jadi kamu benar-benar berencana kabur?”
Udara di seluruh ruangan terasa berat.
Tangan Kak Gabriel terkepal erat.
Kak Rafael langsung mengunci pintu kamar.
Dan aku—
untuk pertama kalinya…
melihat betapa menakutkannya mereka ketika putus asa ingin menghentikanku.
Seolah…
mereka akan mengurungku seumur hidup.
Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir (ending) dari cerita tersebut:
Suara kunci pintu yang berputar terdengar begitu nyaring di dalam kamar yang sunyi. Kak Rafael berdiri di depan pintu dengan napas memburu, kedua tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di lantai, melodi rusak dari kotak musik ibu kandungku perlahan-lahan mati, menyisakan keheningan yang mencekam.
“Buka pintunya,” kataku lirih. Tanganku yang terluka masih memegang pecahan kayu, membiarkan darah segar menetes ke atas karpet berbulu putih.
“Tidak akan,” desis Kak Gabriel. Dia melangkah mendekat, bayangannya yang tinggi besar seolah menenggelamkanku. “Kamu merencanakan ini semua, kan? Berpura-pura menyerah, berpura-pura mengalah pada Angela, hanya agar kami lengah dan kamu bisa kabur ke luar negeri?”
Kak Marco berjalan mendekat sambil menggenggam ponselnya erat-erat. “Kapal kargo pribadi milik keluarga eksekutif luar negeri. Seseorang di sana telah memalsukan identitasmu dan menyiapkan paspor baru. Jika temanku di bea cukai tidak memberi tahu malam ini, kamu sudah menghilang besok pagi, bukan?”
Aku menatap mereka bertiga satu per satu. Wajah-wajah yang selama empat tahun ini selalu memandangku dengan hinaan, kini dipenuhi oleh kepanikan yang luar biasa.
Di hadapanku, rentetan komentar kembali bermunculan dengan cepat.
【Lihat! Mereka benar-benar ketakutan kehilangan dia!】 【Kak Gabriel kelihatan mau menangis, dia frustrasi karena female lead tidak mau mendengarkannya lagi!】 【Tolong jangan pergi, mereka melakukan ini karena mereka tidak tahu cara mengekspresikan rasa sayang mereka!】
Sayang? Aku ingin tertawa kencang, namun yang keluar dari tenggorokanku hanyalah suara bisikan yang serak.
“Kalian membakar beasiswaku. Kalian menghancurkan satu-satunya peninggalan ibuku. Kalian mengusirku ke rumah tamu demi Angela,” aku berdiri perlahan, membiarkan pecahan kotak musik itu jatuh dari genggamanku. “Lalu sekarang, saat aku memutuskan untuk mengabulkan keinginan kalian dan pergi dari hidup kalian… kenapa kalian bersikap seolah-olah aku yang bersalah?”
“Karena kamu adalah adik kami!” bentak Kak Rafael, suaranya naik satu oktav. Tapi ada getaran aneh di sana—getaran ketakutan. “Kamu tidak boleh pergi ke tempat yang tidak bisa kami jangkau!”
“Aku bukan adik kalian. Adik kalian hanya Angela,” kataku datar.
Kak Gabriel mencoba meraih tanganku yang berdarah, wajahnya mendadak melunak penuh kecemasan yang terlambat. “Tanganmu… tanganmu berdarah. Biarkan Kakak mengobatinya. Jangan egois, kami melakukan semua ini agar kamu tetap di rumah ini, tetap aman di bawah perlindungan kami—”
“Cukup!” aku memotong kalimatnya dengan tegas.
Untuk pertama kalinya, aku menatap mereka tanpa ada lagi rasa takut, rasa bersalah, atau keinginan untuk dicintai. Tatapanku benar-benar kosong.
“Kalian tidak ingin aku pergi bukan karena kalian mencintaiku. Kalian hanya tidak tahan kehilangan kendali atas diriku. Kalian butuh aku di rumah ini sebagai samsat emosi, sebagai bayang-bayang agar Angela bisa terlihat seperti malaikat yang sempurna,” aku melangkah mundur hingga punggungku membentur jendela kaca besar di belakangku. “Tapi malam ini, permainan kalian selesai.”
Melihat arah tatapanku yang beralih ke jendela, wajah Kak Marco langsung pucat pasi. “Jangan bodoh! Ini lantai dua!”
“Buka pintunya, atau aku melompat,” ancamku tenang.
“Kamu tidak akan berani,” sahut Kak Rafael dengan suara gemetar, melangkah maju untuk menangkapku.
Namun, sebelum tangannya menyentuh selembar pun pakaianku, terdengar suara klakson mobil yang sangat nyaring dari arah gerbang luar mansion. Bukan hanya satu, melainkan tiga mobil hitam besar berlogo diplomatik.
Detik berikutnya, ponsel Kak Marco kembali berdering. Kali ini, panggilan itu dari kepala keamanan mansion. Kak Marco mengangkatnya dengan tangan gemetar, dan suara di seberang sana terdengar sangat panik hingga bisa didengar oleh kami semua.
“Tuan Muda! Ada rombongan dari Kedutaan Besar dan perwakilan dari Royal Academy of Arts di luar! Mereka membawa perintah resmi dan pengacara. Mereka bilang… mereka datang untuk menjemput aset berharga negara mereka, Nona Muda yang memenangkan beasiswa penuh langsung dari komite pusat!”
Mendengar itu, ketiga kakakku membeku.
Aku tersenyum tipis, menatap mereka yang kini tampak begitu kecil dan tak berdaya.
“Kalian pikir, kontrak yang kalian bakar di perapian tadi adalah satu-satunya bukti?” tanyaku retoris. “Itu hanya salinan cetak. Akademi Seni itu tidak memilihku karena skema beasiswa lokal yang bisa dibeli dengan uang keluarga kalian. Mereka memilihku karena aku memenangkan kompetisi internasional atas namaku sendiri. Mereka yang mencariku, bukan aku yang memohon pada mereka.”
Pintu kamar tiba-tiba digedor dengan keras dari luar. Suara kepala pelayan terdengar panik, “Tuan Muda Gabriel! Buka pintunya! Orang-orang dari kedutaan memaksa masuk, mereka bilang jika Nona Muda disekap, ini akan menjadi insiden diplomatik!”
Kak Gabriel menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tangannya yang tadinya mencengkeramku erat, kini menggantung lemas di udara. “Jadi… kamu benar-benar sudah merencanakan untuk memotong semua hubungan dengan kami?”
“Ya,” jawabku singkat. “Empat tahun lalu, kalian menjemputku dari panti asuhan hanya untuk menjadikanku bayang-bayang. Mulai malam ini, aku akan kembali ke tempat di mana aku bisa bersinar.”
Aku berjalan melewati mereka. Kali ini, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menahan langkahku. Ketakutan akan kehancuran nama baik keluarga, dan kesadaran bahwa mereka telah benar-benar menghancurkan hati adik kandung mereka sendiri, membuat mereka lumpuh di tempat.
Kak Rafael jatuh terduduk di lantai, tepat di sebelah pecahan kotak musik yang hancur. Dia mencoba memungut pecahan itu, namun terlambat—darahku telah menodai kayu yang rusak itu sepenuhnya.
Saat aku membuka pintu kamar, Angela berdiri di lorong dengan wajah pucat dan tubuh gemetar. Dia tidak lagi menangis, karena dia tahu, trik air matanya tidak akan pernah bisa menghentikan mobil-mobil diplomatik yang menungguku di bawah.
Aku menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, menatap ketiga kakak laki-lakiku yang kini tampak begitu hancur di dalam kamar yang gelap.
Komentar di hadapanku meledak untuk terakhir kalinya, namun kali ini nadanya berubah penuh penyesalan.
【Mereka benar-benar kehilangan dia selamanya…】 【Penyesalan seumur hidup baru saja dimulai untuk tiga kakak itu.】 【Female lead, terbanglah yang tinggi dan jangan pernah menoleh ke belakang!】
Aku tersenyum, melangkah turun ke lantai bawah menuju pintu gerbang yang terbuka lebar. Di luar, lampu-lampu mobil penjemputku bersinar terang, menyambut masa depanku yang baru.
Di belakangku, mansion megah itu terasa seperti penjara kuno yang dingin, meninggalkan tiga pria yang harus hidup seumur hidup dalam bayang-bayang penyesalan yang mereka ciptakan sendiri.