PACAR ONLINEKU MENGIRIM PULUHAN JUTA RUPIAH KEPADAKU SETIAP HARI
DI HARI PERTAMAKU MAGANG, AKU TANPA SENGAJA MEMUTAR PESAN SUARA BERISI KATA-KATA, “SAYANG, AKU KANGEN KAMU,” DI DEPAN SELURUH KARYAWAN PERUSAHAAN.
BARU SAAT KETUA DIREKSI PERLAHAN MENOLEH KE ARAHKU, AKU MENYADARI…
HIDUPKU SUDAH TAMAT.
Saat sedang menyajikan secangkir kopi di sebuah kafe kecil di kawasan Makati, ponselku tiba-tiba bergetar berkali-kali.
Pacar onlineku mengirim pesan.
— Jadi anak baik hari ini, ya. Belajar yang rajin. Jangan tergoda mahasiswa ganteng di Manila.
— Aku sudah tua, tidak bisa bersaing dengan para cowok muda tampan itu.
— Kalau ada yang kamu mau, bilang saja. Aku sanggup menghidupimu.
Bersamaan dengan itu, masuk transfer sebesar 88.888 peso Filipina.
Di kolom catatan tertulis:
“Untuk memenuhi keinginan si baby.”
Aku terdiam di belakang meja kasir.
Teman kerjaku menyenggol lenganku.
— Eh, Uyên, pacar misteriusmu itu lagi?
Aku buru-buru mematikan layar ponsel, tetapi tidak bisa menahan senyum.
Ya ampun…
Ternyata benar-benar ada pacar seperti ini di dunia?
Yang isinya hanya perhatian, kasih sayang, dan transfer uang?
—
01
Namaku Gia Uyên.
Aku mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas di Quezon City.
Kalau bulan ini aku tidak mendapatkan tempat magang, kelulusanku akan tertunda satu tahun.
Namun bagi gadis dari Cebu seperti diriku, masuk ke perusahaan besar di Manila tanpa uang maupun koneksi hampir mustahil.
Pagi hari aku kuliah.
Malam hari aku bekerja di kafe.
Dini hari aku menerima pekerjaan editing untuk membayar uang kuliah.
Dan di masa paling sulit dalam hidupku itulah aku mengenalnya.
Nama akunnya:
“Ares_77”
Foto profilnya hanya memperlihatkan punggung seorang pria berbaju polo hitam.
Tidak ada wajah.
Tidak ada unggahan.
Tidak pernah memamerkan kehidupan pribadinya.
Bahkan video call selalu ditolaknya.
Namun dia sangat baik.
Saat pertama kali aku mengeluh kelelahan karena harus kuliah dan bekerja sekaligus, hanya sepuluh menit kemudian, 20.000 peso langsung masuk ke rekeningku.
Dia mengirim pesan:
— Jangan sampai kelaparan.
Sejak saat itu, setiap kali aku kekurangan uang, seolah-olah dia selalu tahu bahkan sebelum aku mengatakannya.
Namun semakin lama, aku semakin curiga.
Suatu hari sahabatku bertanya:
— Kamu tidak takut?
— Bagaimana kalau dia penipu atau om-om mesum?
Aku juga pernah memikirkan hal itu.
Sampai suatu malam.
Aku tidak sengaja mendengar suaranya.
Dalam.
Sedikit serak.
Terdengar sangat dewasa.
Hanya satu kalimat sederhana:
— Tidurlah lebih awal. Jangan begadang lagi.
Dan sepanjang malam, jantungku tidak berhenti berdebar.
Saat itulah aku benar-benar jatuh cinta.
Hari ini adalah hari pertamaku sebagai anak magang.
Aku masih belum memberitahunya.
Aku berencana menunggu sampai menerima gaji pertama sebelum bertemu dengannya.
Aku ingin membelikannya hadiah dari hasil kerja kerasku sendiri.
Saat berada di dalam lift gedung perusahaan di kawasan BGC, dia kembali mengirim pesan.
— Kamu sedang di luar?
— Latar belakangmu tidak terlihat seperti asrama.
Aku langsung gugup.
Apa dia sepeka itu?
Aku buru-buru mengarahkan kamera ke wajahku.
— Aku cuma keluar membeli beberapa barang.
— Sebentar lagi juga kembali ke kampus.
Balasannya datang sangat cepat.
— Jangan berbohong.
Dadaku langsung berdegup kencang.
Dan tepat saat itu—
“Ding.”
Pintu lift terbuka.
Aku buru-buru menyimpan ponsel dan berjalan keluar sambil menunduk.
Namun saat mengangkat kepala—
Aku langsung membeku.
Seluruh lantai kantor sunyi.
Semua karyawan menundukkan kepala.
Seorang pria dengan setelan jas hitam sedang berjalan dari ujung koridor.
Tubuhnya tinggi.
Bahunya lebar.
Cufflink perak di pergelangan tangannya memantulkan cahaya dingin kantor.
Para manajer yang berjalan di belakangnya tampak bahkan sulit bernapas.
Seseorang berbisik pelan:
— Chairman datang.
Aku buru-buru menyingkir ke pinggir.
Namun saat pria itu melewatiku—
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Dan suara seorang wanita terdengar nyaring di seluruh kantor.
— Sayang, hari ini aku baik sekali. Aku cuma suka kamu seorang~
Isi perutku langsung terasa jatuh.
Itu suaraku.
Pesan suara yang kukirim kepada pacar onlineku pagi tadi.
Seluruh suasana langsung membeku.
Mataku membelalak.
Dan pria itu…
Perlahan berhenti berjalan.
Lalu—
Di depan seluruh karyawan perusahaan terbesar di Manila—
Dia perlahan menoleh ke arahku.
Tatapannya tajam, berbahaya, namun terasa sangat familiar.
Kemudian dia mengangkat ponselnya dan melihat nama kontak di layar.

Sudut bibirnya terangkat perlahan.
— Akhirnya…
— Aku berhasil menangkapmu juga, good girl.
02
Seluruh ruangan mendadak sedingin es. Ratusan pasang mata kini tertuju padaku, lalu beralih ke pria yang paling ditakuti di seluruh gedung ini.
Chairman. Ketua direksi. Pemilik kerajaan bisnis tempatku magang.
Lututku lemas. Suaraku sendiri yang baru saja bergema dari ponsel mahal miliknya—manja, kekanak-kanakan, dan memanggilnya “sayang”—masih terngiang-ngiang di dinding koridor.
Pria itu berjalan mendekat. Setiap ketukan sepatu pantofelnya di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagiku. Ia berhenti tepat di hadapanku. Wangi parfum sandalwood yang mahal dan maskulin langsung menyergap indra penciumanku.
“Si… siapa namamu?” Manajer HRD yang berdiri di belakangnya bertanya dengan suara gemetar, wajahnya pucat pasi melihat ada anak magang yang “berani” mengganggu sang Chairman.
Sebelum aku sempat menjawab, Chairman mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar semua orang diam. Ia menunduk, menatap tag nama yang tersemat di kemeja kerjaku.
“Gia Uyên,” ucapnya lirih.
Suara itu.
Deep. Sedikit serak. Sangat dewasa.
Itu adalah suara yang sama yang kudengar di telepon genggamku setiap malam. Suara yang membuat jantungku berdebar tak karuan.
“Ikut ke ruanganku,” perintahnya datar, lalu berbalik arah tanpa menunggu jawabanku.
03
Di dalam ruang kerja lantai paling atas yang megah dan berdinding kaca besar, aku berdiri dengan jemari yang saling bertautan erat. Aku siap dipecat. Aku siap dikembalikan ke kampus dengan nilai gagal.
Pria itu melepas jas hitamnya, menyisakan polo hitam yang membungkus tubuh tegapnya. Saat ia membalikkan badan, mataku terbelalak.
Bahu lebar itu. Kemeja polo hitam itu.
Itu adalah pria yang sama dengan foto profil “Ares_77”.
“Jadi…” Ia berjalan mendekat, menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja jati yang besar. “Beli barang di dekat kampus, hm?”
Aku menggigit bibir bawahku, wajahku memerah sempurna karena malu. “Maaf… Maafkan saya, Sir. Saya tidak bermaksud membohongi Anda. Saya hanya… saya ingin memberikan kejutan setelah menerima gaji pertama.”
“Sir?” Pria itu menaikkan satu alisnya. Sudut bibirnya berkedut menahan tawa. “Tadi di koridor kamu memanggilku apa? ‘Sayang’?”
“I-itu…” Aku ingin sekali menghilang dari bumi saat ini juga.
Ia menghela napas pelan, lalu merogoh sakunya dan meletakkan ponselnya di atas meja. Layarnya menyala, menampilkan ruang obrolan kami. Di sana, namaku disimpan dengan nama: “My Good Girl”.
“Aku mencari tahu tentangmu sejak hari pertama kamu mendaftar magang di sini, Uyên,” katanya, suaranya melembut, kehilangan seluruh ketegasan yang tadi ia tunjukkan di depan karyawan. “Aku sengaja membiarkanmu masuk lewat jalur resmi karena aku tahu kamu gadis yang mandiri dan keras kepala. Tapi membohongiku tentang keberadaanmu? Itu curang.”
KESIMPULAN: Akhir yang Manis
Ternyata, Ares—atau nama aslinya, Nicholas Vance, sang taipan muda pemilik Vance Group—bukanlah om-om mesum seperti yang ditakutkan sahabatku. Dia adalah pria yang selama ini mengawasiku dari jauh, yang mengagumi kerja kerasku di kafe, dan menggunakan kedok “pacar online” serta transferan puluhan juta rupiah hanya agar aku tidak perlu kelaparan dan kelelahan mengejar mimpiku.
Hari itu, aku tidak dipecat.
Sebaliknya, sebuah pesan masuk lagi ke ponselku saat aku baru saja keluar dari ruangannya dengan wajah merona.
Ares_77: Kerja yang rajin di perusahaanku, Sayang. Nanti malam, jemput aku di ruangan ini. Kita kencan pertama secara resmi.
Di bawah pesan itu, sebuah notifikasi transferan bank kembali masuk. Kali ini jumlahnya dua kali lipat, dengan catatan baru:
“Uang jajan untuk anak magang kesayanganku.”
Hidupku memang sudah tamat—tamat sebagai gadis miskin yang kesepian, dan baru saja dimulai sebagai wanita paling bahagia di Manila.