Posted in

SUAMIKU SELALU BILANG DIA TIDAK PERNAH MENGGUNAKAN FACEBOOK

SUAMIKU SELALU BILANG DIA TIDAK PERNAH MENGGUNAKAN FACEBOOK

Sampai akun palsuku menemukan sebuah postingan yang dipasang di bagian atas profilnya selama tiga tahun.

Dan wanita dalam foto itu…

Adalah sahabat terbaikku sendiri.

Setelah mulai bekerja di Makati, aku terpaksa membuat akun Facebook kedua.

Di Filipina, jika sudah lama bekerja di dunia korporat, pasti akan mengerti alasannya.

Atasan.

Klien.

Rekan bisnis.

Teman kantor.

Semua ingin berteman di Facebook.

Tapi aku tidak suka mencampur urusan pekerjaan dengan kehidupan pribadiku.

Karena itu aku membuat akun cadangan khusus untuk urusan kerja.

Aku tidak pernah menyangka akun itulah yang akan menghancurkan empat tahun pernikahanku.

Malam itu, tanpa sengaja aku mencari nama suamiku — Adrian Villanueva.

Pria yang selama ini selalu berkata kepadaku:

— Aku tidak suka Facebook.

— Pria dewasa tidak perlu memamerkan kehidupan pribadinya di media sosial.

Namun ternyata sepuluh postingan terbarunya terbuka untuk publik.

Dan yang paling atas, yang dipasang sebagai postingan pin…

Adalah foto dirinya bersama sahabatku, Camille.

Mereka berpelukan di bawah kembang api di Resorts World Manila.

Camille bersandar di bahunya, sementara Adrian menatapnya dengan tatapan yang sudah kutunggu selama empat tahun, tetapi tak pernah kuterima.

Hanya ada satu caption:

“Finally found my peace.”

Tanganku langsung gemetar.

Ponselku hampir jatuh ke lantai.

Aku segera membuka profil Camille.

Sepuluh menit yang lalu, dia baru saja mengunggah postingan.

Sembilan foto.

Dan semuanya bersama Adrian.

Makan malam di rooftop bar kawasan BGC.

Liburan ke Universal Studios Singapore.

Kursi business class.

Gelang Disney pasangan.

Bahkan ada video singkat.

Dalam video itu, Adrian berlutut untuk mengikat tali sepatu Camille di Bandara Changi.

Caption yang ditulis Camille membuatku semakin membeku.

“Memang beda kalau pergi business trip dengan pria dewasa. Dua hari kerja, lima hari romansa. Ternyata princess treatment itu nyata~”

Dan hari ini…

Tepat hari ketika Adrian mengatakan bahwa perjalanan bisnisnya di Singapura telah selesai.

Saat itu juga muncul notifikasi Messenger darinya.

“Masih bangun, sayang? Aku baru mendarat.”

Ada foto yang dilampirkan.

Gantungan kunci LinaBell berwarna merah muda.

“Aku melihat ini dan langsung teringat padamu.”

Aku tertawa.

Tertawa sambil air mata mengalir.

Tiga tahun hubungan.

Empat tahun pernikahan.

Tapi ternyata aku tidak pernah menjadi wanita yang dia banggakan di depan dunia.

Wanita yang dipasang di bagian atas profilnya…

Adalah sahabat terbaikku sendiri.

01

Aku menggunakan akun utamaku untuk kembali melihat Facebook Adrian.

Tidak ada apa-apa.

Kosong.

Bukan karena aku diblokir.

Melainkan karena selama bertahun-tahun dia terus mengatakan bahwa dia tidak pernah mengunggah apa pun.

Saat kami baru menikah, aku pernah manja kepadanya.

— Bisakah kamu mengunggah foto pernikahan kita?

Dia hanya tersenyum dan memelukku.

— Kamu lucu sekali.

— Waktu itu kami sedang mencari investor untuk perusahaan.

— Kalau postinganku penuh soal cinta, nanti klien menganggapku tidak profesional.

Aku mempercayainya.

Selama empat tahun.

Setiap kali melihat pria lain dengan bangga memamerkan istrinya di media sosial, aku selalu meyakinkan diri sendiri.

“Adrian memang tidak suka media sosial.”

Namun sekarang…

Aku baru menyadari.

Dia bukan tidak suka mengunggah foto.

Dia hanya tidak ingin menunjukkan aku kepada dunia.

Tiba-tiba Camille mengirim pesan.

“Celineeeee! Lihat gelang pasangan kami!”

Foto gelang Disney.

Satu di tangannya.

Satu di tangan Adrian.

Aku membeku menatap layar.

Kalau dulu…

Mungkin aku akan ikut bahagia melihatnya tersenyum.

Karena aku menganggapnya seperti adik kandung sendiri.

Rumah kami dulu saling berhadapan di Quezon City.

Ibunya meninggal saat dia masih kecil.

Ayahnya seorang pemabuk.

Setiap kali dipukuli ayahnya, dia akan mengetuk pintu rumahku tengah malam sambil memeluk bantal.

Akulah yang membersihkan lukanya.

Akulah yang membagi makananku dengannya.

Akulah yang begadang mengajarinya belajar.

Ketika dia gagal dalam ujian masuk universitas, dia menangis sampai hampir pingsan.

Aku memeluknya saat itu.

— Hidupmu tidak berakhir di sini.

— Masih banyak jalan menuju kesuksesan.

Beberapa tahun kemudian, ayahnya meninggal karena alkohol.

Dia meneleponku saat hujan deras.

Menangis sampai hampir tidak bisa bernapas.

— Kak Celine… aku tidak punya keluarga lagi…

Akulah yang membawanya ke Manila.

Akulah yang mencarikannya pekerjaan.

Dan akulah yang memperkenalkannya kepada Adrian.

Saat pertama kali bertemu, Adrian bahkan berkata:

— Kasihan sekali sahabatmu.

— Mari kita bantu dia semampu kita.

Aku tidak pernah menyangka…

Dua orang yang paling kucintai…

Justru akan menjadi orang pertama yang menghancurkan hatiku.

“Klik.”

Pintu terbuka.

Adrian pulang.

Dia masih mengenakan polo abu-abu yang kusetrika sendiri sebelum keberangkatannya.

Di koper miliknya tergantung boneka rubah Disney berwarna oranye.

Persis sama dengan yang ada di foto Camille.

Dia berhenti saat melihatku.

Mungkin karena untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun…

Aku tidak berlari menyambutnya.

Aku tidak bertanya apakah dia lelah.

Aku juga tidak membantunya membawa barang.

Dia berjalan mendekat dan duduk di sampingku.

— Sayang, ada apa?

Aku tidak menjawab.

Aku hanya menatap gantungan kunci di kopernya.

Dia langsung tersenyum.

— Oh, yang ini?

— Ada rekan kerja yang suka Disney, dia titip beli.

Aku bertanya pelan.

— Camille?

Selama satu detik dia terdiam.

Namun segera tertawa.

— Apa yang kamu pikirkan?

— Dia sahabatmu, kan?

Setelah itu dia bahkan menunduk untuk mencium rambutku seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun aku merasa mual setiap detiknya.

Perlahan aku membuka ponsel.

Lalu menunjukkan video dirinya yang sedang berlutut mengikat tali sepatu Camille.

Seluruh ruang tamu langsung membeku.

Senyum di wajah Adrian menghilang.

Butuh waktu lama sebelum akhirnya dia berkata:

— Dengarkan aku dulu… aku bisa menjelaskan…

Tepat saat itu ponselnya berdering.

Dan aku melihat jelas nama penelepon di layar.

“Baby Camille 

❤️

Aku menggenggam ponselku semakin erat.

Sementara Adrian…

Wajahnya langsung pucat pasi.

02

Ponsel di atas meja terus bergetar, memecah kesunyian malam yang mencekam. Nama “Baby Camille” berkedip-kedip, seolah mengejek kebodohanku selama empat tahun ini.

Adrian menatap ponselnya, lalu menatapku. Tangannya gemetar saat mencoba meraih jemariku, namun aku langsung menarik tanganku menjauh dengan rasa jijik yang teramat sangat.

“Angkat,” kataku, suaraku terdengar begitu dingin, bahkan aku sendiri hampir tidak mengenalinya.

“Celine, ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” Adrian mencoba membela diri, suaranya naik satu oktav. “Camille sedang tidak stabil. Beberapa bulan lalu dia hampir bunuh diri karena stres pekerjaan. Aku… aku hanya mencoba menemaninya sebagai kakak. Foto dan video itu… itu hanya caranya untuk membuat mantan pacarnya cemburu!”

Mendengar kebohongan yang begitu murah, air mataku yang sejak tadi kutahan akhirnya runtuh. Tapi kali ini, bukan karena sedih. Melainkan karena kemarahan yang membakar dada.

“Kakak?” Aku tertawa getir. “Kakak mana yang mengunggah foto pelukan di Resorts World Manila dengan caption ‘Finally found my peace’? Kakak mana yang membelikan tiket business class dan gelang pasangan Disney untuk adiknya, sementara istrinya sendiri di rumah selalu diberi tahu bahwa suaminya sedang menghemat uang untuk masa depan?”

Adrian bungkam. Wajahnya yang biasa tenang kini pias, kehilangan semua kata-kata fungsionalnya sebagai seorang pengusaha sukses.

Sebelum dia sempat bersuara lagi, aku merebut ponselnya yang masih berdering. Aku menggeser tombol hijau, lalu menyalakan speakerphone.

“Ian! Kamu sudah sampai rumah?” Suara Camille terdengar manja dari seberang telepon, sama sekali tidak terdengar seperti orang yang depresi. “Gelang Disney-ku tertinggal di dalam mobilmu. Tolong simpan, ya. Jangan sampai si bodoh Celine melihatnya, bisa gawat kalau nenek sihir itu curiga~”

Dunia seolah berhenti berputar. Si bodoh Celine. Nenek sihir. Itu adalah sebutan dari gadis yang kubawa dari keterpurukan di Cebu. Gadis yang kubersihkan lukanya saat dipukuli ayahnya. Gadis yang kuanggap sebagai adik kandungku sendiri.

03

Adrian langsung merebut ponsel itu dan mematikannya dengan panik. “Celine, dia cuma bercanda! Dia tidak bermaksud—”

“Cukup, Adrian.” Aku berdiri, menatapnya lurus-lurus. Rasa mual yang sejak tadi kutahan kini berganti dengan ketegasan yang mutlak. “Kita cerai.”

“Cerai?!” Adrian terbelalak. “Hanya karena salah paham di media sosial ini kamu mau menghancurkan pernikahan kita? Celine, pikirkan reputasiku! Pikirkan apa kata orang tua kita!”

“Kamu yang menghancurkannya sejak tiga tahun lalu, saat kamu memutuskan untuk menyembunyikan status pernikahan kita demi menjaga perasaan Camille,” kataku pelan namun tajam. “Kamu bilang kamu tidak ingin mengunggah tentang aku karena takut terlihat tidak profesional di mata investor? Tapi kamu tidak takut terlihat tidak profesional saat memamerkan liburan mewah bersama sahabat dari istrimu sendiri?”

Aku berjalan ke kamar, mengambil koper yang sudah kusiapkan sejak aku melihat postingan Facebook itu di kantor tadi. Aku tidak membawa banyak barang, hanya pakaian penting dan dokumen-dokumen pribadi. Rumah ini, barang-barang mewah di dalamnya, semuanya terasa beracun bagiku.

Saat aku berjalan menuju pintu keluar, Adrian menahan lenganku. Matanya mulai berkaca-kaca, entah karena menyesal atau karena takut kehilangan reputasinya yang sempurna. “Celine, jangan pergi. Aku mohon. Aku akan menghapus akun itu. Aku akan memutus kontak dengan Camille. Aku mencintaimu…”

Aku menepis tangannya dengan perlahan, namun penuh penekanan.

“Kamu tidak pernah mencintaiku, Adrian. Kamu hanya mencintai pelayan gratisan yang mengurus rumahmu, menyetrika bajumu, dan merawatmu tanpa pernah menuntut untuk diakui,” kataku, menatap wajah pria yang pernah sangat kupuja itu untuk terakhir kalinya. “Sekarang, pergilah ke Facebook-mu. Umumkan kepada dunia bahwa kamu sudah lajang. Bukankah itu kebebasan yang selama ini kamu cari?”

KESIMPULAN: Awal yang Baru

Malam itu, aku meninggalkan rumah di Makati tanpa menoleh ke belakang. Aku memblokir nomor Adrian dan Camille malam itu juga.

Keesokan harinya, lewat pengacara yang kusewa, aku mengirimkan surat gugatan cerai beserta seluruh bukti perselingkuhan digital yang sudah kuunduh dari akun palsuku. Di Filipina, proses pembatalan pernikahan memang tidak mudah, tetapi dengan bukti perzinaan yang begitu telanjang di media sosial, aku memastikan Adrian dan Camille akan membayar mahal untuk reputasi mereka.

Dua minggu kemudian, aku menggunakan akun Facebook utamaku—yang selama empat tahun ini bersih dari drama kehidupan. Aku mengunggah foto pertamaku di sebuah kafe terbuka di El Nido, Palawan, menikmati matahari terbenam dengan secangkir kopi di tangan.

Tanpa cincin pernikahan di jari manisku.

Aku menulis satu caption singkat:

“Finally found my real peace.”

Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku tidak lagi bersembunyi di balik bayang-bayang pria yang salah. Aku telah mengambil kembali hidupku, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menghapusnya dari dunia.