AKU MENUNGGUNYA SEMALAMAN DI RUMAH SAKIT.
TAPI WANITA YANG DIGENGGAM TANGANNYA SAAT KELUAR DARI RUANG IGD BUKANLAH AKU…**
Hampir enam jam aku duduk di kursi plastik dingin di lorong rumah sakit.
Tanganku masih gemetar karena rasa sakit akibat kecelakaan yang terjadi sore tadi.
Dokter memasang tujuh jahitan di lenganku.
Namun bukan dokter yang kutunggu.
Melainkan tunanganku, pria yang sebentar lagi akan menikah denganku.
Sebelum masuk ke ruang perawatan, aku meneleponnya lebih dari dua puluh kali.
Tidak satu pun panggilanku dijawab.
Menjelang tengah malam, akhirnya aku melihat sosoknya muncul di ujung lorong.
Jantungku sempat berdebar.
Namun pada detik berikutnya, rasanya seperti disiram air es.
Ada seorang wanita di sampingnya.
Mantan kekasihnya.
Jaket miliknya tersampir di bahu wanita itu.
Bahkan dia dengan hati-hati menopang siku wanita tersebut.
Seolah takut wanita itu terjatuh.
Sementara aku sudah berada di sini sejak sore.
Perbandaanku mulai memerah karena darah yang merembes.
Tetapi dia bahkan tidak menanyakan keadaanku.
Saat melihatku, dia hanya sedikit mengernyit.
— *Ternyata kamu masih di sini?*
Aku terdiam.
Beberapa saat kemudian aku tertawa pahit.
— *Memangnya kamu mengira aku akan pergi ke mana?*
Dia belum sempat menjawab ketika wanita di sampingnya berbicara.
— *Kak, jangan salah paham ya.*
— *Aku hanya mengalami serangan panik dan meneleponnya.*
— *Dia cuma mengantarku ke rumah sakit.*
Namun dia langsung menoleh kepada wanita itu dan menepuk bahunya dengan lembut.
— *Tidak apa-apa.*
— *Jangan khawatir.*
Tatapanku jatuh ke tangannya.
Tangan yang dulu menggenggamku saat melamarku.
Kini sedang menenangkan wanita lain.
Seorang perawat menghampiri kami.
— *Apakah Anda keluarga pasien?*
— *Kami membutuhkan tanda tangan untuk observasi tambahan malam ini.*
Aku bahkan belum sempat menjawab ketika dia berkata dengan dingin.
— *Saya bukan keluarganya.*
Suasana langsung hening.
Bahkan perawat itu tampak terkejut.
Aku menatap formulir di tanganku.
Dan pada saat itu, rasa sakit di lenganku terasa tidak penting lagi.
Karena hatiku jauh lebih sakit.
—
Keesokan harinya.
Aku keluar dari rumah sakit sendirian.
Dan pulang sendirian ke rumah yang seharusnya menjadi tempat tinggal kami setelah menikah.
Rumah itu hampir selesai ditata.
Gorden.
Lampu.
Perabotan.
Aku sendiri yang memilih semuanya.
Aku berdiri cukup lama di tengah ruang tamu.
Lalu mengambil ponsel.
Dan mengirim pesan kepada wedding organizer.
*”Tolong batalkan seluruh acara pernikahan.”*
Balasan datang dengan cepat.
*”Apakah Anda yakin, Bu?”*
Aku menatap foto prewedding kami yang terletak di atas meja.
Senyum bahagiaku dalam foto itu.
Kemudian aku mengetik satu kata.
*”Ya.”*
Sore itu juga.
Aku mulai berkemas.
Semua barangku kumasukkan ke dalam kardus.
Tepat saat itulah pintu terbuka.
Rafael masuk.
Di tangannya ada sebuah tas hadiah mahal.
Ketika melihat tumpukan kardus di ruang tamu, dia langsung mengernyit.
— *Apa lagi yang sedang kamu lakukan?*
Aku terus melipat pakaian.
Bahkan tidak menoleh.
— *Aku akan pergi.*
Dia tertawa sinis.
— *Hanya karena kejadian di rumah sakit?*
— *Umurmu berapa sih sampai ngambek seperti ini?*
Aku berhenti.
Lalu untuk pertama kalinya menatapnya langsung.
— *Menurutmu itu cuma masalah kecil?*
Kesabarannya langsung habis.
— *Bianca sedang mengalami masa sulit.*
— *Aku hanya membantu seorang teman lama.*
— *Bisakah kamu berhenti bersikap cemburu?*
Aku terdiam.
Lalu mengambil sebuah amplop dari laci.
Dan meletakkannya di atas meja.
— *Ini daftar tamu dari pihakku.*
— *Kamu tidak akan membutuhkannya lagi.*
Dia menatap amplop itu.
Wajahnya perlahan berubah.
— *Apa maksudmu?*
Aku tersenyum.
— *Persis seperti yang kamu pikirkan.*
Dia langsung berdiri.
— *Kamu mau membatalkan pernikahan?*
— *Karena hal sekecil itu?*
Aku tidak menjawab.
Aku hanya menarik koperku menuju pintu.
Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.
Aku melihat sedikit ketakutan di wajahnya.
—
Tiga hari berlalu.
Aku pindah ke sebuah apartemen kecil dekat tempat kerja.
Hidupku perlahan menjadi tenang.
Aku mengganti nomor telepon.
Dan memutus semua komunikasi dengan Rafael.
Sampai suatu malam.
Saat lembur di kantor.
Ponselku berdering dari nomor tak dikenal.
Aku ragu-ragu, tetapi tetap menjawab.
Seorang pria tua berbicara dari seberang sana.
— *Apakah ini Isabella Reyes?*
— *Saya pengacara kakek Rafael.*
Aku sedikit terkejut.
— *Apakah ada masalah?*
Dia terdiam sejenak.
Lalu berkata.
— *Beliau meninggal dunia pagi ini.*
— *Dan dalam surat wasiat terakhirnya…*
— *Bukan cucu laki-lakinya yang ditunjuk sebagai pewaris seluruh hartanya.*
Aku berkedip.
— *Apa maksud Anda?*
Pengacara itu menghela napas pelan.
— *Anda yang ditunjuk sebagai pewaris.*
Aku belum sempat berkata apa-apa.
Ketika dia melanjutkan.
— *Tetapi seseorang sedang berusaha mencuri salinan asli surat wasiat tersebut.*
— *Dan orang itu…*
— *Adalah Rafael.*
Seluruh tubuhku terasa dingin.
Dan tepat pada saat itu.
Aku mendengar suara dari arah pintu kantor.
**Klik.**
Seseorang sedang membuka pintu dengan kunci dari luar.
Aku perlahan menoleh.

Dan melihat sosok seorang pria yang sangat kukenal berdiri di ambang pintu.
Di tangannya.
Ada sebuah map hitam.
Map yang selama ini kukira telah hilang.
Rafael berdiri di sana, di bawah temaram lampu lorong kantor yang mulai sepi. Jasnya agak kusut, dan napasnya memburu pelan. Ketika matanya bertemu denganku, tidak ada lagi kilat kesombongan seperti saat dia meremehkan lukaku di rumah sakit. Yang ada hanyalah kepanikan yang berusaha dia tutupi dengan senyum sinisnya yang biasa.
Dia melangkah masuk, menutup pintu kayu itu dengan bunyi klik yang berat.
— Ternyata kamu di sini, Isabella. Baguslah, jadi aku tidak perlu repot-repot mencarimu ke seluruh kota.
Suaranya menggema di ruangan yang sunyi. Tangan kanannya mencengkeram map hitam itu lebih erat. Map yang berisi seluruh legalitas harta keluarga besarnya—aset yang seharusnya menyelamatkan bisnisnya yang diam-diam sedang berada di ambang kebangkrutan.
Aku perlahan menurunkan ponsel dari telingaku. Panggilan dari pengacara Kakek masih tersambung, mendengarkan setiap detail dari saku kemejaku.
— Bagaimana kamu bisa masuk, Rafael? tanyaku, berusaha menjaga suaraku agar tetap sedatar mungkin, meski jantungku berdegup kencang.
Dia mengangkat sebuah kunci duplikat dengan acuh tak acuh.
— Aku masih punya akses ke gedung ini, jangan lupa siapa yang membantumu mendapatkan posisi ini. Tapi itu tidak penting sekarang. Dia melangkah mendekati mejaku, melemparkan map hitam itu tepat di depanku. Tandatangani surat penolakan waris di dalam sana. Sekarang.
Aku menatap map itu, lalu beralih ke wajah pria yang hampir menjadi suamiku.
— Kakekmu baru saja meninggal tadi pagi, Rafael. Dan hal pertama yang kamu lakukan adalah memalsukan dokumen untuk merebut apa yang bukan hakmu?
— Hakku! potongnya dengan nada tinggi, matanya melebar penuh amarah. Aku cucu kandungnya! Orang tua itu sudah pikun karena penyakitnya. Kenapa dia harus memberikan semuanya kepadamu? Kepada wanita asing yang bahkan membatalkan pernikahan denganku?!
Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang membuat Rafael tersentak.
— Kakek tidak pikun, Rafael. Beliau tahu persis apa yang dia lakukan, kataku tenang. Beliau memberikan warisan itu kepadaku karena setahun lalu, saat perusahaanmu hampir hancur dan kamu sibuk berpesta dengan Bianca di Bali, akulah yang menemani Beliau di rumah sakit. Akulah yang menandatangani surat operasinya saat kamu tidak bisa dihubungi. Beliau tahu siapa yang tulus, dan siapa yang hanya mengincar uangnya.
Wajah Rafael perlahan berubah pias. Rahasianya terbongkar. Dia mengira Kakeknya tidak pernah menceritakan hal itu kepadaku.
— Aku tidak peduli, desisnya, melangkah maju hingga jarak kami hanya terhalang meja kerja. Jika kamu tidak menandatanganinya, aku akan memastikan hidupmu tidak akan pernah tenang, Isabella. Kamu tahu apa yang bisa kulakukan.
Tepat ketika dia mengulurkan tangan untuk mencengkeram lenganku—lengan yang jahitannya baru saja mengering—pintu utama kantor terbuka dengan kasar.
Tiga orang pria tegap berseragam polisi masuk, diikuti oleh seorang pria tua berjas rapi yang kukenal sebagai pengacara Kakek.
— Tuan Rafael, panggil pengacara itu dengan suara tegas. Telepon saya dengan Nona Isabella masih terhubung sejak tadi. Seluruh ucapan, ancaman, dan pengakuan Anda tentang pemalsuan dokumen telah direkam secara resmi sebagai bukti hukum.
Rafael mematung. Tangannya menggantung di udara. Dia menoleh ke belakang, menatap para petugas kepolisian yang kini berjalan mendekat dengan borgol di tangan mereka.
— Isabella, tunggu… ini bisa dibicarakan, suaranya mendadak bergetar, berubah menjadi memohon. Ketakutan yang sesungguhnya kini terpancar jelas di matanya. Tolong, Bianca sedang sakit, aku tidak bisa masuk penjara sekarang…
Aku mundur selangkah, menatapnya tanpa ada lagi rasa cinta, cemburu, ataupun benci. Yang tersisa hanyalah rasa hambar.
— Kemarin di rumah sakit, kamu bilang kamu bukan keluargaku, kataku perlahan, meniru kalimat dingin yang dia ucapkan malam itu. Jadi hari ini… apa yang terjadi padamu, bukan lagi urusanku.
Petugas polisi maju dan mencengkeram kedua lengan Rafael, membawanya keluar dari ruangan. Dia sempat memberontak, meneriakkan namaku, namun suaranya perlahan menghilang di ujung koridor yang sunyi.
Aku menghela napas panjang, merosot di kursi kerjaku. Rasa sakit di hatiku yang telah kutahan sejak malam itu akhirnya menguap sepenuhnya, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa.
Malam itu, di dalam kantor yang sepi, aku menyadari satu hal. Kehilangan pria seperti Rafael bukanlah sebuah tragedi. Itu adalah cara semesta menyelamatkanku, tepat sebelum aku melangkah ke dalam neraka yang salah.