Posted in

TIBA-TIBA BIBIKU MENGIRIMIKU SEPEDA MOTOR BARU SETELAH DELAPAN TAHUN TANPA KABAR.AKU MERASA ADA YANG TIDAK BERES, JADI AKU MENOLAKNYA.AKU TAK MENYANGKA KEPUTUSAN ITULAH YANG MENYELAMATKANKU DARI SEBUAH RENCANA YANG SUDAH DISIAPKAN SEJAK LAMA…**

TIBA-TIBA BIBIKU MENGIRIMIKU SEPEDA MOTOR BARU SETELAH DELAPAN TAHUN TANPA KABAR.
AKU MERASA ADA YANG TIDAK BERES, JADI AKU MENOLAKNYA.
AKU TAK MENYANGKA KEPUTUSAN ITULAH YANG MENYELAMATKANKU DARI SEBUAH RENCANA YANG SUDAH DISIAPKAN SEJAK LAMA…**

Aku baru saja pulang dari shift malam ketika menerima telepon dari satpam apartemen sewaanku.

*”Bu Angela? Ada sepeda motor baru yang dikirim untuk Ibu di lobi. Katanya pembayaran dilakukan saat barang diterima.”*

Aku terdiam sambil melepas sepatu.

*”Sepeda motor?”*

*”Iya, Bu. Nilainya lebih dari 180 juta rupiah. Mereka bilang sudah berbicara dengan keluarga Ibu.”*

Aku berpikir beberapa detik.

*”Tolong ditolak saja.”*

Satpam terdengar terkejut.

*”Yakin, Bu? Katanya itu hadiah untuk Ibu.”*

*”Saya yakin.”*

Setelah menutup telepon, aku duduk di kursi plastik tua di apartemen kecil sewaanku yang luasnya bahkan tidak sampai tiga puluh meter persegi.

Kipas angin di langit-langit berputar pelan sambil mengeluarkan suara berdecit yang sudah akrab di telingaku.

Di sudut ruangan masih ada beberapa kardus dari kepindahanku yang terakhir.

Hidupku sederhana.

Tidak ada yang istimewa.

Jadi bagaimana mungkin aku percaya ada seseorang yang tiba-tiba menghadiahiku sepeda motor seharga tabungan bertahun-tahun?

Ponselku kembali berdering.

Nomornya tidak kukenal.

Aku mengangkatnya.

*”Angela, ini Bibi Lourdes.”*

Suaranya terdengar ramah.

Tetapi bagiku, suara itu terasa seperti suara orang asing.

Karena sudah delapan tahun dia tidak pernah menelepon.

Sejak ibuku meninggal.

*”Ada perlu apa, Bi?”*

*”Kenapa kamu menolak sepeda motornya?”*

*”Saya tidak membutuhkannya.”*

*”Astaga, Angela. Aku dan Paman Ramon menghabiskan seminggu memilih motor itu untukmu.”*

Aku tersenyum.

Tetapi tanpa sedikit pun rasa senang.

Delapan tahun yang lalu.

Saat ibuku dirawat di rumah sakit.

Aku pernah menelepon Bibi Lourdes.

Aku hanya ingin meminjam uang untuk biaya pengobatan.

Namun dia menolak.

Katanya mereka juga sedang kesulitan keuangan.

Beberapa minggu kemudian, aku melihat pesta ulang tahun mewah anaknya, Joshua, di sebuah resor mahal melalui media sosial.

Saat itulah aku mengerti.

Bukan karena mereka tidak punya uang.

Aku hanya tidak cukup penting untuk dibantu.

*”Bi, kalau itu benar-benar hadiah, kenapa saya yang harus membayar biaya pengirimannya?”*

Dia terdiam.

Lalu tertawa kaku.

*”Ah… itu hanya prosedur.”*

*”Benarkah?”*

*”Tentu saja.”*

*”Jadi kalau saya membayarnya, uangnya langsung diganti?”*

*”Tentu.”*

Aku menatap keluar jendela.

Langit mulai gelap.

Lampu-lampu gedung di sekitarku mulai menyala.

Aku teringat semua tahun ketika aku berjuang sendirian di kota ini.

Tidak ada yang membantu.

Tidak ada yang menanyakan kabarku.

Tidak ada yang peduli.

Sampai hari ini.

Ketika tiba-tiba muncul hadiah mahal.

*”Bibi.”*

Kataku pelan.

*”Sebenarnya apa yang ingin Bibi minta?”*

Hening.

Beberapa detik kemudian dia menghela napas.

*”Angela, kamu memang pintar.”*

Aku memejamkan mata.

Aku sudah tahu.

*”Apa itu?”*

*”Sepupumu, Joshua, akan pindah ke kota.”*

*”Dia sudah lulus kuliah?”*

*”Sudah.”*

*”Lalu?”*

*”Kami berharap dia bisa tinggal sementara di tempatmu.”*

Aku tertawa keras.

Apartemenku bahkan hampir tidak cukup untuk diriku sendiri.

Satu tempat tidur.

Satu meja.

Dapur kecil.

Tetapi mereka ingin menambahkan satu orang dewasa lagi di sana.

*”Bi, tidak ada ruang.”*

*”Cari apartemen yang lebih besar.”*

*”Dengan uang dari mana?”*

*”Kamu sudah lama bekerja di kota itu, bukan?”*

Aku tidak tahu harus marah atau tertawa.

Di mata mereka.

Uangku bukan milikku.

Lelahku tidak berarti apa-apa.

Jika mereka membutuhkan sesuatu.

Akulah yang harus mengalah.

Akulah yang harus berkorban.

*”Maaf.”*

*”Saya tidak bisa.”*

Nada suaranya langsung berubah.

*”Angela!”*

*”Apa kamu lupa siapa yang membantu membesarkan ibumu?”*

*”Apa kamu lupa bahwa kami satu-satunya keluarga yang tersisa?”*

*”Delapan tahun kami selalu memikirkanmu!”*

*”Dan sekarang, untuk bantuan kecil saja kamu menolak?”*

Dadaku terasa sesak.

Delapan tahun.

Tanpa telepon.

Tanpa pesan.

Tanpa kunjungan.

Tetapi sekarang mereka mengaku selalu memikirkanku.

*”Bibi.”*

*”Saya harus berangkat kerja.”*

*”Dan keputusan saya sudah bulat.”*

Aku menutup telepon.

Kupikir semuanya selesai.

Namun keesokan paginya, ketika keluar dari lift, aku langsung tertegun.

Banyak orang berdiri di depan apartemenku.

Ada Bibi Lourdes.

Ada Paman Ramon.

Dan ada Joshua, sepupuku yang hampir tidak kukenal lagi.

Bersama mereka ada dua orang yang memegang ponsel sambil merekam.

Begitu melihatku, Bibi Lourdes langsung menangis.

*”Angela! Akhirnya kamu pulang juga!”*

Aku membeku di tempat.

Satu per satu tetangga mulai mengintip keluar.

Beberapa bahkan mulai merekam.

Paman Ramon berbicara keras.

*”Tetangga sekalian, silakan nilai sendiri!”*

*”Kami menempuh perjalanan semalaman untuk menemui keponakan kami!”*

*”Kami bahkan membawakan hadiah mahal!”*

*”Tetapi dia bukan hanya menolaknya, dia juga tidak mau menerima sepupunya tinggal sementara!”*

Bisik-bisik mulai terdengar dari segala arah.

Aku bahkan belum sempat menjawab.

Joshua sudah melangkah maju.

Dia menatapku dari atas sampai bawah dengan penuh penghinaan.

Lalu mengarahkan ponselnya ke wajahku.

Ternyata dia sedang melakukan siaran langsung.

Dan jumlah penontonnya terus bertambah.

Dia menyeringai.

*”Kak Angela.”*

*”Coba katakan di depan semua orang.”*

*”Apa sebenarnya yang kamu takutkan?”*

*”Kenapa kamu tidak mau menerimaku tinggal di sini?”*

Aku hendak membuka mulut untuk menjawab.

Namun aku tiba-tiba berhenti.

Karena melihat sebuah gambar di layar ponselnya.

Dalam sekejap.

Darahku terasa berhenti mengalir.

Karena di siaran langsung itu.

Ada foto sertifikat apartemenku.

Dan nama yang tercantum sebagai pemilik…

Di layar ponsel Joshua yang sedang menyiarkan siaran langsung itu, terpampang selembar dokumen digital dengan kop resmi Badan Pertanahan. Di sana tertulis jelas: Sertifikat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun.

Dan nama pemilik yang tertera di sana adalah: Joshua Pratama.

Lengkap dengan nomor unit apartemen tempat aku berdiri saat ini.

Lututku lemas. Jantungku berdetak begitu kencang hingga telingaku berdenging. Bagaimana mungkin? Apartemen ini adalah milik mendiang ibuku, yang dibelinya dengan uang santunan pensiun sebelum beliau jatuh sakit. Selama delapan tahun ini, aku mengira sertifikat aslinya hilang dalam tumpukan dokumen medis Ibu di rumah sakit. Karena itulah aku terpaksa membayar biaya sewa bulanan yang kukira disetorkan ke pihak pengelola gedung sebagai biaya pemeliharaan beralih fungsi.

Namun melihat senyum licik di wajah Paman Ramon dan tangis palsu Bibi Lourdes, potongan teka-teki jahat itu mendadak menyatu.

“Kamu terkejut, Angela?” Joshua menurunkan ponselnya sedikit, namun kameranya tetap menyorot wajahku yang pucat pasi. Penonton siaran langsungnya di media sosial terus melonjak, dipenuhi komentar yang memaki-makiku sebagai keponakan durhaka.

“K-kenapa nama kamu yang ada di sana?” suaraku bergetar, menahan amarah yang membakar dada.

Paman Ramon melangkah maju, membusungkan dadanya dengan angkuh di depan para tetangga yang menonton. “Delapan tahun lalu, sebelum ibumu meninggal, dia menandatangani surat hibah rumah ini kepada Joshua sebagai jaminan utang biaya rumah sakit yang pernah kami berikan! Kami sengaja membiarkanmu tinggal di sini gratis selama delapan tahun sebagai bentuk kebaikan kami!”

Bohong. Ibu tidak pernah berutang pada mereka. Ibu meninggal dalam kondisi menahan sakit karena mereka menolak meminjamkan uang.

Bibi Lourdes menghapus air mata palsunya, menatapku dengan pandangan penuh kemenangan. “Kami mengirimkan sepeda motor itu sebagai ‘hadiah’ sekaligus umpan, Angela. Sesuai hukum, kalau kamu menerima motor itu dan menandatangani resi pengirimannya yang sudah kami selipkan dokumen Surat Pernyataan Penyerahan Sukarela aset ini, kamu tidak akan bisa menuntut kami di pengadilan. Tapi karena kamu menolaknya, kami terpaksa datang langsung untuk mengusirmu!”

“Joshua sudah mau menikah, dan apartemen atas namanya ini akan dia pakai. Keluar kamu dari sini!” bentak Paman Ramon kasar.

Mereka sudah merencanakan ini sejak lama. Menungguku menyetujui “hadiah” motor itu, atau menjebakku lewat siaran langsung agar aku terlihat seperti penjahat di mata publik, sehingga mereka bisa mengusirku tanpa perlawanan.

Tetapi mereka melakukan satu kesalahan fatal. Mereka terlalu meremehkanku, dan mereka terlalu percaya diri dengan dokumen palsu mereka.

Aku menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungku. Aku merogoh tas kerjaku, mengeluarkan ponselku sendiri, dan menyalakan speaker untuk sebuah panggilan yang baru saja masuk beberapa menit lalu—panggilan otomatis dari firma hukum tempatku bekerja sebagai asisten paralegal selama tiga tahun terakhir.

“Halo, Angela?” suara tegas seorang pria paruh baya terdengar dari ponselku. Itu adalah Pak Baskoro, pengacara senior sekaligus bosku. “Tim kami baru saja selesai memverifikasi database pusat. Surat hibah yang dibawa kerabatmu itu terdaftar dengan nomor registrasi palsu. Notaris yang tertera di sana sudah dicabut izinnya sejak sepuluh tahun lalu.”

Suasana di koridor apartemen mendadak senyap. Senyum di wajah Paman Ramon membeku.

Pak Baskoro melanjutkan dengan suara yang menggema melalui loudspeaker, “Ibumu menaruh sertifikat asli apartemen itu di safe deposit box bank atas namamu sejak delapan tahun lalu, Angela. Dokumen yang mereka pegang adalah hasil pemalsuan tanda tangan. Petugas kepolisian dari Polres Jakarta Selatan sudah dalam perjalanan ke lokasi atas laporan pemalsuan dokumen otentik dan percobaan penipuan.”

Wajah Joshua langsung berubah pias. Jarinya gemetar di atas layar ponsel, dan sedetik kemudian dia langsung mematikan siaran langsungnya dengan panik.

“I-ini pasti salah paham! Kami cuma…” Bibi Lourdes tergagap, wajahnya yang tadi penuh air mata drama kini dipenuhi ketakutan yang nyata.

Tepat pada saat itu, pintu lift di ujung lorong terbuka. Tiga orang polisi berseragam bersama pihak manajemen apartemen berjalan cepat ke arah kami. Para tetangga yang tadinya berbisik menuduhku, kini berbalik menatap sinis ke arah keluarga bibiku.

Aku melangkah maju, menatap Bibi Lourdes dan Paman Ramon yang mulai melangkah mundur, mencoba mencari jalan kabur yang sudah tertutup oleh para petugas.

“Delapan tahun lalu kalian membiarkan ibuku meninggal tanpa bantuan,” kataku dengan suara dingin namun mantap. “Dan hari ini, sepeda motor yang kalian kirim bukan menyelamatkanku karena nilainya, tapi karena intuisi untuk menolaknya telah membongkar semua busuknya hati kalian.”

Saat polisi memborgol tangan Paman Ramon dan Joshua di depan mataku, aku tahu aku tidak lagi sendirian. Warisan terakhir ibuku aman, dan rencana jahat yang mereka susun selama delapan tahun hancur berantakan hanya dalam waktu satu pagi.

**Bukan namaku.**