Ibu mertuaku memaksaku menjaminkan kondominiunku tepat di pesta ulang tahunnya. Dia menamparku di depan seluruh keluarga besar, jadi aku menamparnya balik—sebelum memutar rekaman yang membuat mereka semua terdiam.
## Bagian 1
Musik karaoke masih menggema keras di balai warga ketika ibu mertuaku menyiramkan segelas air dingin tepat ke wajahku.
Air mengalir dari rambutku hingga ke leher.
Butiran es kecil meluncur di pipiku.
Dingin.
Tetapi itu bukan yang benar-benar membuat seluruh tubuhku membeku.
Yang lebih dingin adalah dokumen yang didorongnya ke hadapanku.
Di sana tertulis:
**“Persetujuan penggunaan unit kondominium di Pasig sebagai jaminan pinjaman.”**
Itu kondominiumnya milikku.
Aku membelinya sebelum menikah dengan Paolo.
Setiap rupiah untuk uang muka berasal dari lemburku di Makati, pekerjaan tambahan setiap akhir pekan, dan dua tahun hidup hemat sampai makan malamku sering hanya mi instan.
Namun pada ulang tahunnya yang ke-65, di depan lebih dari empat puluh kerabat, dia berkata seolah sedang memberi perintah biasa:
—Tandatangani saja. Keluarga sedang membutuhkan bantuan. Kamu menantu, harus tahu cara menyesuaikan diri.
Aku menoleh ke arah Paolo.
Dia duduk satu meja dariku, mengenakan polo putih dan memegang segelas bir.
Dia langsung mengalihkan pandangan.
Saat itulah aku mengerti.
Ini bukan ide yang muncul malam ini.
Mereka sudah merencanakannya sejak lama.
Mereka hanya memilih malam ini karena mengira aku akan malu di depan banyak orang dan akhirnya menyerah.
Pesta itu diadakan di sebuah balai warga di Cavite.
Di luar, bendera-bendera kecil merah, kuning, dan biru berkibar.
Di dalam, sepuluh meja bundar dipenuhi tamu.
Ada babi panggang di meja utama, mi goreng khas pesta, adobo, lumpia, dan aneka makanan penutup.
Aku yang membayar semuanya.
Sewa aula: **Rp3,6 juta.**
Makanan: **Rp23,4 juta.**
Kue ulang tahun tiga tingkat: **Rp2,8 juta.**
Bahkan gaun renda warna krem yang dikenakan ibu mertuaku kubeli sendiri secara online seminggu sebelumnya.
Tetapi ketika aku datang ke pesta, dia hanya memberiku satu tatapan singkat.
Sebaliknya, saat Joy, adik perempuan Paolo, masuk membawa buket mawar putih, wajah ibu mertuaku langsung berseri-seri.
—Anakku, kamu memang perhatian sekali. Kamu tahu bunga putih adalah favorit Mama.
Aku hanya berdiri diam di sudut ruangan.
Aku yang memesan buket itu.
Aku juga yang membayarnya.
Tetapi aku tidak mengatakan apa pun.
Aku sudah terbiasa.
Selama tiga tahun menjadi menantu, aku terbiasa melihat jerih payahku berubah menjadi pujian untuk orang lain.
Aku terbiasa tersenyum meski aku yang membayar, aku yang mengatur, aku yang begadang.
Aku sangat terbiasa.
Sampai malam itu.
Setelah beberapa putaran bir, para kerabat mulai melontarkan pertanyaan.
Seorang bibi berbaju merah membungkuk ke arahku.
—Mara, kalian sudah empat tahun menikah, kan? Kenapa belum punya anak? Jangan terlalu lama menunggu, makin tua perempuan makin sulit.
Aku tersenyum tipis.
—Kami masih membicarakannya.
Tiba-tiba ibu mertuaku meletakkan gelasnya.
—Masih membicarakannya? Karena yang dipikirkan hanya pekerjaan. Kalau perempuan hanya mengejar uang, rumah tangga jadi dingin. Suami juga bisa lelah.
Seluruh meja tertawa.
Aku menunduk dan mengambil makanan agar mereka tidak melihat wajahku.
Paolo tetap diam.
Dia memang selalu seperti itu.
Saat ibunya menyebutku mandul, dia diam.
Saat Joy meminjam uang dan tidak mengembalikannya, dia memintaku memaklumi.
Saat kakaknya gagal dalam bisnis, dia berkata kami adalah keluarga dan harus saling membantu.
Selalu aku yang mundur satu langkah.
Lalu satu langkah lagi.
Dan satu langkah lagi.
Sampai malam itu aku merasa tidak punya tempat lagi untuk mundur.
Saat tiba waktunya memotong kue ulang tahun, ibu mertuaku memanggilku ke panggung kecil di dekat mesin karaoke.
Dia memegang mikrofon dan tersenyum manis kepada para tamu.
—Hari ini aku berusia enam puluh lima tahun. Tidak ada harapan lain selain melihat anak-anakku hidup rukun dan saling menyayangi sebagai keluarga.
Semua orang bertepuk tangan.
Lalu dia menoleh kepadaku.
—Mara adalah menantu tertuaku. Dia bekerja di Manila dan berpenghasilan baik. Karena seluruh keluarga ada di sini malam ini, aku ingin dia membuat satu janji.
Aku menatap mikrofon di tangannya.
Perasaan tidak enak mulai memenuhi dadaku.
Dia memberi isyarat kepada Joy.
Joy langsung mengambil sebuah map dari tasnya.
Paolo berdiri, tetapi tidak mendekat.
Ibu mertuaku menyerahkan dokumen itu kepadaku.
—Kakak Paolo membutuhkan **Rp540 juta** untuk rute baru van angkutan menuju Tagaytay. Bank membutuhkan jaminan. Kondominiummu di Pasig hanya dibiarkan kosong. Tandatangani saja supaya bisa dipakai sementara oleh keluarga.
Seluruh aula mendadak sunyi.
Aku melihat dokumen itu.
Namaku sudah tercantum.
Nomor unit kondominium.
Detail sertifikat.
Bahkan nomor identitasku.
Jari-jariku langsung terasa dingin.
—Siapa yang memberikan informasi ini kepada kalian?
Ibu mertuaku mengernyit.
—Kenapa bertanya begitu? Kita keluarga. Apa ada yang kamu sembunyikan?
Aku menatap Paolo.
—Kamu yang memberikannya?
Dia menggigit bibir.
—Mara, jangan dibesar-besarkan. Ini hanya jaminan. Tidak akan ada yang hilang.
Aku tertawa pelan.
—Tidak ada yang hilang? Kalau pinjamannya gagal dibayar, bank akan mengambil kondominiunku. Dan kamu bilang tidak ada yang hilang?
Joy langsung menyela.
—Kak, cara bicaramu jelek sekali. Tidak ada yang mau merampas milikmu. Kamu sudah menjadi bagian keluarga ini, tapi masih bertingkah seperti orang luar.
Ibu mertuaku langsung menimpali.
—Benar. Kamu sudah masuk keluarga kami, tapi masih memisahkan diri. Sebenarnya kami ini apa bagimu?
Aku menatapnya lurus.
—Kondominium itu milikku. Aku membelinya sebelum menikah. Aku tidak akan menandatangani apa pun.
Senyumnya langsung menghilang.
Dia menurunkan mikrofon, tetapi suaranya tetap cukup keras untuk didengar seluruh aula.
—Coba ulangi.
Aku menjawab dengan jelas:
—Aku tidak akan menandatangani.
Hanya satu detik berlalu.
**Plak!**
Telapak tangannya mendarat keras di wajahku.
Di tengah lagu karaoke yang bahkan belum dimatikan.
Seluruh aula seperti berhenti bernapas.
Semua orang terdiam.
Dia menunjukku.
—Perempuan tidak tahu balas budi! Kamu hidup bersama keluarga kami, memakai nama keluarga kami, tapi untuk satu kondominium saja kamu tidak mau membantu? Siapa sebenarnya dirimu?
Aku mendengar bisik-bisik di sekelilingku.
—Menantu zaman sekarang memang keterlaluan.
—Kalau keluarga sedang membutuhkan, kenapa tidak membantu?
—Kalau sampai ditampar, pasti ada alasannya.
Aku kembali menoleh ke arah Paolo.
Dia berdiri di sana.
Tidak mendekat.
Tidak bertanya apakah aku baik-baik saja.
Dia hanya mengernyit, seolah akulah yang merusak ulang tahun ibunya.
Perlahan aku mengusap darah di sudut bibirku.
Aku melangkah maju dan mengambil mikrofon dari tangan ibu mertuaku.
Matanya membelalak.
—Apa yang mau kamu lakukan?
Aku menatapnya.
—Orang yang Anda tampar salah.
Aku mengangkat tanganku.
**Plak!**
Aku menamparnya balik tepat di depan kue ulang tahun tiga tingkat itu.
Lilin angka enam puluh lima bergetar.

Seluruh aula langsung sunyi.
Dan tepat pada saat itu, layar ponsel Paolo yang tergeletak di meja menyala.
Sebuah pesan baru dari Joy muncul di layar.
> Kak, tahan dulu Mara di sana sekitar sepuluh menit. Aku sudah menyuruh orang membuka kondominiumnya.
Ibu mertuaku memegangi pipinya yang memerah. Matanya membelalak tak percaya, sementara seluruh aula mendadak sunyi senyap, bahkan lagu karaoke yang berputar terasa samar. Sebelum Joy atau Paolo sempat berteriak membelanya, aku langsung menyambar ponsel Paolo dari atas meja terdekat.
Aku menatap layar yang menyala, membaca pesan Joy keras-keras ke mikrofon yang masih kupegang.
—“Kak, tahan dulu Mara di sana sekitar sepuluh menit. Aku sudah menyuruh orang membuka kondominiumnya.”
Suaraku menggema di setiap sudut aula melalui pengeras suara. Bisik-bisik yang tadi menyudutkanku langsung terhenti. Beberapa kerabat melongo, saling berpandangan.
Joy memucat seketika, sementara Paolo mencoba maju untuk merebut ponselnya kembali.
—Mara, kembalikan! Jangan bikin kekacauan di sini! —bentak Paolo.
Aku melangkah mundur, menjauh darinya, lalu merogoh ponselku sendiri dari saku. Aku menekan satu tombol. Sejak setengah jam lalu, sebelum ibu mertuaku memanggilku ke depan, aku menerima notifikasi dari aplikasi kamera keamanan (CCTV) pintar yang kupasang di kondominiunku di Pasig.
Aku menghubungkan ponselku ke sistem audio aula via Bluetooth—fasilitas karaoke yang kusewa ternyata sangat berguna malam ini.
—Kalian pikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di belakangku? —kataku, menatap lurus ke arah ibu mertuaku yang masih syok. —Kalian pikir aku bodoh?
Detik berikutnya, audio dari rekaman langsung CCTV kondominiunku berputar keras lewat speaker aula. Suara pintu yang dibuka paksa terdengar jelas, disusul suara berisik dua orang pria.
Suara Pria 1: “Cepat cari brankas atau lacak di mana dia menyimpan sertifikat aslinya. Ibunya Paolo bilang, kalau sertifikatnya ada, tanda tangan di surat jaminan itu bisa kita palsukan nanti kalau dia tetap menolak.”
Suara Pria 2: “Aman. Paolo sudah memberikan kode akses gerbang depan. Joy juga bilang kita punya waktu satu jam sebelum acara di Cavite selesai.”
Rekaman itu berhenti setelah aku menekan tombol matikan.
Seluruh aula seperti dihantam badai keheningan. Kerabat yang tadi mencelaku kini menundukkan kepala karena malu. Mereka menyadari bahwa mereka baru saja menjadi saksi—dan secara tidak langsung mendukung—sebuah rencana kriminal keluarga.
Joy gemetar hebat, air matanya mulai luruh karena panik.
—Itu… itu bukan aku! Mara, kamu memfitnah kami! —teriak Joy histeris.
Aku tersenyum tipis, mengusap sisa rasa perih di pipiku.
—Aku tidak perlu memfitnah pencuri, Joy. Polisi di Pasig sudah meluncur ke kondominiunku sepuluh menit yang lalu karena alarm sensor penyusup menyala. Orang-orang suruhanmu pasti sudah tertangkap sekarang. Dan rekaman ini? Ini akan menjadi bukti keterlibatanmu, Paolo, dan Ibu.
Paolo jatuh terduduk di kursinya, memegangi kepalanya yang mendadak pening. Wajahnya yang semula angkuh kini tampak sangat menyedihkan.
—Mara… tolong, jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan di rumah. Ini hari ulang tahun Mama… —ratap Paolo, suaranya parau.
Aku berjalan mendekati meja utama, menatap kue ulang tahun tiga tingkat yang kubayar dengan uang lemburku. Aku melepas cincin kawin emas di jari manisku, lalu menjatuhkannya tepat di atas lapisan krim kue tersebut.
—Tidak ada lagi kata ‘kita’, Paolo. Besok, pengacaraku akan mengurus gugatan cerai. Dan untuk semua biaya pesta malam ini… —Aku menoleh ke arah manajer balai warga yang berdiri di dekat pintu masuk. —Pak, saya batalkan pembayaran menggunakan kartu kredit saya. Silakan tagih langsung kepada pria berpolo putih di sana, atau wanita yang sedang berulang tahun ini.
Aku membalikkan badan, berjalan melewati deretan meja bundar dengan kepala tegak. Tidak ada satu pun kerabat yang berani menatap mataku.
Saat aku mendorong pintu keluar balai warga Cavite, angin malam yang sejuk menerpa wajahku. Pipiku masih terasa sedikit perih, tetapi dadaku terasa sangat lapang. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku merasa bebas.