Ketika syal merah yang salah kirim tiba di rumah, suamiku langsung merampasnya seolah aku baru saja memegang harta karun. Katanya itu hadiah untuk “teman satu paduan suara,” sementara putraku hanya menunduk menatap makanannya dan menegurku karena adobo yang kumasak terlalu asin. Malam itu, aku membuka aplikasi perbankanku dan menghentikan pensiun sebesar Rp8.400.000 yang selama ini diam-diam kugunakan untuk menghidupi keluarganya.**
## Bagian 1
Namaku Teresa Santos.
Usiaku enam puluh dua tahun.
Seorang guru SD pensiunan dari Quezon City.
Dulu aku berpikir, setelah pensiun hidupku akan menjadi lebih ringan.
Aku tidak perlu lagi bangun pukul empat pagi untuk memeriksa lembar ujian.
Tidak perlu berdiri seharian di ruang kelas yang panas.
Tidak perlu kehilangan suara karena terus mengajari anak-anak membaca setiap suku kata.
Aku membayangkan bisa pergi ke Baguio bersama suamiku untuk melihat kabut pagi.
Ke Cebu untuk menikmati hidangan laut.
Ke Palawan untuk menyaksikan laut biru seperti yang ada di kalender.
Tetapi pada tahun yang sama saat aku pensiun, menantuku Claudine melahirkan.
Putraku, Miguel, berkata bahwa biaya pengasuh anak terlalu mahal.
Claudine berkata akan lebih baik jika anak itu tumbuh dekat dengan neneknya.
Sementara suamiku Renato menepuk bahuku dan berkata,
“Cuma satu atau dua tahun. Kalau anaknya sudah agak besar, aku akan menebus semuanya. Kita akan jalan-jalan.”
Aku mempercayainya.
Lalu tiga tahun berlalu.
Aku tidak pernah pergi ke Baguio.
Tidak pernah pergi ke Cebu.
Tidak juga ke Palawan.
Setiap pagi aku pergi ke Pasar Kamuning.
Setiap sore aku menjemput Yani dari prasekolah.
Aku mencuci seragamnya dengan tangan karena Claudine bilang kainnya cepat rusak kalau dicuci mesin.
Akulah yang memasak.
Akulah yang membersihkan ruang tamu.
Akulah yang mencuci botol susu.
Akulah yang menjahit gorden.
Akulah yang mengingatkan Renato untuk minum obat tekanan darahnya.
Setiap kali pensiun GSIS masuk ke rekeningku, aku hanya menyisakan sedikit untuk membeli obat, lalu mengirim sekitar **Rp8.400.000** kepada Miguel untuk membantu cicilan kondominium kecil mereka di Pasig.
Kupikir itulah arti keluarga.
Sampai syal merah itu datang.
Hari itu hari Jumat.
Aku sedang memasak ayam adobo ketika bel rumah berbunyi.
Seorang kurir menyerahkan dua paket kepadaku.
Sebuah amplop besar dari sekolah lamaku.
Dan sebuah kotak hadiah berwarna krem dengan pita emas yang ditujukan kepada Renato Santos.
Aku meletakkannya di meja makan.
Ketika membuka amplop dari sekolah, tanganku sedikit bergetar.
Itu surat undangan.
Mereka mengundangku kembali untuk membantu program membaca bagi anak-anak yang kesulitan belajar.
Kepala sekolah baru, Bu Marianne, menulis dengan sangat sopan:
> “Bu Teresa, sekolah masih membutuhkan Ibu. Jika Ibu tidak ingin kembali mengajar penuh waktu, Ibu bisa bergabung dengan program relawan Balik-Guro di daerah yang kekurangan guru.”
Saat membaca surat itu, rasanya seperti ada cahaya kecil yang menyala di dalam dadaku.
Seolah ada jendela yang dibuka di ruangan yang sudah lama tertutup.
Aku belum selesai membaca ketika Renato keluar dari kamar.
Dia melihat kotak hadiah itu.
Wajahnya langsung berubah.
“Sudah kamu buka?”
Aku mengangkat kepala.
“Belum. Datangnya bersamaan dengan surat dari sekolah, jadi aku bawa masuk sekalian.”
Dia segera menghampiri dan merebut kotak itu dari tanganku.
Begitu cepat hingga tutupnya terlepas.
Di dalamnya ada syal merah anggur.
Tipis.
Lembut.
Dengan bordir bunga melati menggunakan benang perak.
Di bawahnya terdapat gaun renda merah.
Ukuran S.
Aku menatap gaun itu.
Lalu menatap diriku sendiri.
Sejak melahirkan Miguel, aku bahkan tidak muat ukuran M, apalagi S.
Renato buru-buru menutup kotak itu.
Namun tidak cukup cepat untuk menyembunyikan kartu kecil di dalamnya.
Tulisan tangan seorang wanita tampak lembut.
> “Renato, jangan lupa memakai barong putihmu malam ini. Aku ingin seluruh paroki melihat betapa serasinya kita.”
Udara di dapur tiba-tiba terasa berat.
Aku bertanya,
“Itu untuk siapa?”
Dia mengerutkan dahi, tampak kesal.
“Untuk Lorna. Teman paduan suaraku.”
Lorna.
Aku mengenal nama itu.
Lorna Reyes.
Seorang janda yang baru pindah ke paroki Santo Niño sekitar enam bulan lalu.
Tubuhnya kecil.
Kulitnya putih.
Rambutnya sedikit bergelombang.
Dia selalu mengenakan gaun berwarna terang dan berbicara seolah sedang berdoa.
Sejak Renato bergabung dengan paduan suara gereja, nama Lorna lebih sering disebut di rumah kami dibanding nama kerabat kami sendiri.
Lorna pandai memilih lagu.
Lorna hebat menyanyikan suara kedua.
Lorna mengerti musik.
Lorna berkelas.
Tidak seperti “orang-orang yang hanya berputar di dapur sepanjang hari.”
Aku pernah mendengar kalimat terakhir itu saat Renato mengira aku tidak berada di belakangnya.
Aku menatapnya.
“Hanya teman paduan suara, tapi perlu dibelikan gaun renda merah?”
Renato tersenyum dingin.
“Jangan berpikiran kotor. Paroki sedang mengadakan pertunjukan penggalangan dana. Kami perlu kostum. Kamu seharian bau minyak goreng, jadi kalau tidak mengerti seni, jangan menghakimi.”
Bau minyak goreng.
Aku menunduk melihat celemekku.
Ada noda kecap dari adobo yang sedang kumasak.
Sedikit tepung karena pagi tadi aku membuat pisang goreng untuk Yani.
Masih ada bekas yogurt yang ditumpahkan Claudine dan tidak dibersihkannya.
Tiga puluh delapan tahun menjadi istri.
Tiga tahun menjadi pengasuh gratis.
Dan pada akhirnya, yang tersisa dariku hanyalah seorang wanita yang “bau minyak goreng.”
Miguel keluar dari sudut kerjanya.
Dia mendengar semuanya.
Tetapi tidak bertanya apakah aku baik-baik saja.
Dia hanya duduk di meja makan, mencicipi adobo, lalu mengernyit.
“Ma, hari ini agak terlalu asin.”
Claudine menyusul sambil menggendong Yani.
Saat mendudukkan anak itu di kursi makan, dia berkata,
“Benar, Ma. Lain kali kurangi kecapnya. Tidak sehat untuk Yani kalau terlalu asin.”
Renato mengambil kotak hadiah itu.
Ponselnya menyala.
Aku melihat nama yang muncul di layar.
**Lorna.**
Dia langsung menutupi layar.
Tetapi aku sudah melihatnya.
Anehnya, hatiku tidak lagi terasa sakit seperti sebelumnya.
Hanya terasa dingin.
Dingin yang tenang.
Sambil memegang surat dari sekolah, aku menoleh kepada Miguel.
“Sekolah lamaku mengundangku kembali untuk membantu program membaca. Kalau aku menerimanya, aku hanya akan pergi beberapa hari dalam seminggu.”
Miguel meletakkan mangkuknya.
“Apa lagi itu, Ma?”
Aku terdiam.
Dia melanjutkan dengan nada antara menasihati dan menyalahkan.
“Ma, Ibu sudah pensiun. Istirahat saja yang benar. Di usia seperti sekarang, buat apa capek-capek lagi? Kami butuh Ibu di rumah. Siapa yang akan menjemput Yani? Siapa yang memasak? Siapa yang mengurus rumah?”
Claudine segera menimpali.
“Saya tidak bermaksud buruk, Ma, tapi kalau Ibu kembali mengajar, semua jadwal akan berantakan. Anak-anak zaman sekarang berbeda. Ibu sudah tua, mungkin tidak bisa mengikuti mereka lagi.”
Renato melirik jam tangannya.
“Aku ada latihan paduan suara. Aku pergi dulu.”
Setelah mengatakan itu, dia mengambil kotak hadiah dan ponselnya lalu keluar.
Tanpa penjelasan.
Tanpa menatapku.
Tanpa menanyakan isi surat yang sedang kupegang.
Pintu tertutup.
Beberapa detik kemudian, seluruh kondominium menjadi sunyi.
Miguel menghela napas.
“Ma, itu cuma satu-satunya hobi sehat Papa. Dia cuma nyanyi di gereja, bukan pergi ke bar. Jangan dibesar-besarkan.”
Aku menatap putraku.
Anak yang pernah terserang demam berdarah dan tidak pernah kulepas selama tiga malam.
Anak yang gagal ujian masuk perguruan tinggi dan membuatku menjual kalung pernikahanku demi membayar bimbingan belajar.
Anak yang saat menikah kubantu membeli motor pertama mereka dari tabunganku.
Kini dia duduk di depanku dan memintaku untuk tidak membesar-besarkan masalah.
Dengan pelan aku bertanya,
“Kalau Claudine membelikan pakaian untuk pria lain, mengobrol dengannya setiap hari, dan latihan bersama setiap hari, kamu juga tidak masalah?”
Miguel langsung mengernyit.
“Ma, perbandingannya aneh. Papa sudah tua.”
Aku tertawa kecil.
Jadi ketika seseorang sudah tua, perselingkuhan mendapat potongan harga.
Ketika seseorang sudah tua, menyakiti pasangan berubah menjadi “hobi sehat.”
Ketika seseorang sudah tua, pasangannya hanya harus diam.
Malam itu, setelah makan, Claudine meninggalkan setumpuk piring kotor di wastafel.
Sebelum masuk kamar, dia bahkan menyerahkan tasnya yang robek kepadaku.
“Ma, tolong jahitkan ya. Besok ada rapat orang tua murid. Tas ini lebih pantas dipakai.”
Sementara Miguel berteriak dari ambang pintu kamarnya,
“Ma, besok bikin bihun goreng ya. Aku sudah janji ke kantor mau bawa.”
Aku bertanya,
“Untuk berapa orang?”
“Hanya dua belas orang. Bikin banyak saja.”
Aku menatap dapur.
Wastafel.
Dan surat dari sekolah yang tergeletak di samping botol kecap ikan.
Entah kenapa, aku tidak ingin menangis lagi.
Pukul sepuluh malam, Renato masih belum pulang.
Aku masuk ke kamar untuk mengambil obat tekanan darahnya.
Tiba-tiba ponsel lamanya yang tertinggal di meja samping tempat tidur menyala.
Sebuah pesan muncul di layar kunci.
**Lorna:**
> “Jangan lupa janjimu malam ini. Setelah latihan, bilang saja pada Teresa kalau kamu tidur di rumah Miguel. Aku sudah memesan kamar dekat gereja.”
Aku hanya berdiri di sana cukup lama.
Di luar jendela terdengar suara jeepney dari jalan raya.

Di dapur, adobo sudah dingin.
Di atas meja, surat undangan dari sekolah masih terbuka.
Aku mengambil surat itu.
Dan kali ini, tidak ada lagi keraguan dalam diriku.
Aku berjalan ke meja makan, mengambil pulpen, lalu menandatangani surat dari Bu Marianne. Aku bersedia kembali mengajar.
Setelah itu, aku duduk di sofa ruang tamu yang remang-remang. Aku membuka aplikasi perbankan di ponselku. Di sana tertera jadwal transfer otomatis bulanan sebesar Rp8.400.000 ke rekening Miguel—uang yang selama tiga tahun ini dipotong langsung dari pensiun GSIS-ku demi kenyamanan hidup mereka.
Aku menekan tombol pembatalan.
Transfer otomatis dinonaktifkan.
Rasanya seperti melepas beban berton-ton dari pundakku. Aku tidak bermaksud menghukum mereka; aku hanya berhenti menjadi sandaran bagi orang-orang yang bahkan tidak sudi melihatku sebagai manusia.
Bagian 2
Keesokan paginya, dapur sedingin es. Tidak ada bau bawang goreng, tidak ada bihun pesanan Miguel, tidak ada piring yang dicuci.
Miguel keluar kamar dengan kemeja kantor yang kusut, sementara Claudine sibuk merias wajahnya. Begitu melihat meja makan kosong, dahi Miguel langsung berkerut.
“Ma? Bihun gorengnya mana? Aku sudah mau telat ke kantor,” protes Miguel sambil memeriksa panci-panci kosong.
Claudine juga ikut mengeluh, “Ma, tas saya belum dijahit? Aduh, saya pakai apa ke rapat sekolah?”
Aku duduk di kursi makan, mengenakan pakaian rapi yang sudah bertahun-tahun tidak kusentuh. Sebuah blus biru motif bunga dan sepatu pantofel yang nyaman. Di sampingku ada sebuah koper kecil.
“Mulai hari ini, aku tidak memasak, tidak mencuci, dan tidak menjahit untuk kalian lagi,” kataku tenang.
“Ma, Ibu bicara apa sih? Jangan kekanak-kanakan cuma karena masalah kemarin!” Miguel mulai meninggikan suara. “Kita ini keluarga, saling membantu itu wajar!”
“Saling membantu?” Aku menatap putra kandungku. “Selama tiga tahun, Rp8.400.000 dari uang pensiunku masuk ke rekeningmu setiap bulan untuk membayar cicilan kondominium ini. Berapa banyak yang kalian bantu untukku? Bahkan saat makan pun, kalian hanya tahu mengkritik masakanku terlalu asin.”
Wajah Miguel memucat. “Ma… Ibu mengungkit uang?”
“Aku baru saja membatalkan transfer otomatis itu. Mulai bulan ini, bayar cicilan kalian sendiri. Dan hari ini, aku pindah ke asrama relawan Balik-Guro di Rizal.”
Claudine langsung berteriak panik, “Ma! Kalau Ibu pergi, siapa yang menjaga Yani? Biaya pengasuh sekarang mahal sekali! Ibu egois!”
“Egois?” Aku berdiri, menarik koperku. “Tanyakan pada suamimu, siapa yang egois. rawatlah anakmu sendiri, Claudine. Aku sudah selesai membesarkan anak.”
Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Renato masuk dengan langkah gontai. Pakaian barong putihnya kusut, dan wajahnya tampak kelelahan setelah “latihan paduan suara” sepanjang malam.
Begitu melihat koperku, dia mendengus. “Mau drama apa lagi ini, Teresa? Baru ditinggal semalam saja sudah mau kabur?”
Aku tidak menjawabnya dengan makian. Aku hanya berjalan mendekat dan meletakkan ponsel lamanya yang tertinggal semalam tepat di atas dadanya. Layarnya sengaja kubiarkan menyala, menampilkan pesan dari Lorna tentang kamar hotel di dekat gereja.
Renato membeku. Seluruh keangkuhannya runtuh seketika. Bibirnya bergetar, mencoba mencari kebohongan baru. “Teresa, ini… ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Lorna hanya…”
“Simpan saja suaramu untuk bernyanyi dengan Lorna, Renato,” potongku, menatapnya tanpa setitik pun rasa benci yang tersisa. Hanya ada rasa hambar. “Surat cerai akan dikirim oleh pengacaraku minggu depan. Rumah ini atas nama kita berdua, jadi rumah ini akan dijual dan hasilnya dibagi dua. Kamu bisa memakai bagianmu untuk membelikan Lorna gaun renda merah lainnya.”
“Ma! Papa!” Miguel berteriak frustrasi, memegangi kepalanya saat menyadari dunianya yang nyaman sedang hancur berkeping-keping. Tanpa uang pensiunku dan tanpa kehadiranku sebagai pelayan gratis, hidup mereka yang rapuh akan segera runtuh.
Aku tidak menoleh lagi. Aku melangkah keluar dari kondominium itu, membiarkan pintu tertutup di belakangku.
Saat aku melangkah ke jalan raya, aroma udara pagi menyambutku. Bau asap jalanan, bau kopi dari warung sudut, dan entah bagaimana, bau kebebasan. Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Bu Marianne masuk:
“Kami menunggumu di sekolah, Bu Teresa. Anak-anak sangat bersemangat.”
Aku tersenyum tipis, menghirup napas dalam-dalam, dan melangkah maju. Di usia enam puluh dua tahun, hidupku yang sebenarnya baru saja dimulai.