Posted in

Dua Hari Setelah Menerima Surat Cerai, Aku Menghentikan Uang Bulanan Rp70 Juta untuk Mantan Ibu Mertua yang Suka Menindas—Dan di Depan Seluruh Penghuni Apartemen, Terbongkar Siapa yang Selama Ini Berbohong, Merebut, dan Hidup dari Uang Wanita yang Mereka Anggap Lemah

Dua Hari Setelah Menerima Surat Cerai, Aku Menghentikan Uang Bulanan Rp70 Juta untuk Mantan Ibu Mertua yang Suka Menindas—Dan di Depan Seluruh Penghuni Apartemen, Terbongkar Siapa yang Selama Ini Berbohong, Merebut, dan Hidup dari Uang Wanita yang Mereka Anggap Lemah

Dua hari setelah menerima surat cerai, aku menghentikan tunjangan bulanan sebesar Rp70 juta untuk mantan ibu mertuaku.

Tanpa tangisan.

Tanpa perpisahan.

Hanya satu panggilan ke bank, dan seluruh kemewahan mereka berakhir.

Namaku Serena Wijaya, tiga puluh empat tahun, pemilik perusahaan desain interior di Jakarta Selatan, dan selama sepuluh tahun aku menjadi istri Marco Santoso—pria yang keluarganya percaya telah menghidupiku.

Padahal, selama ini akulah yang diam-diam membayar semuanya.

Kartu ATM, buku tabungan, bahkan PIN rekening Bu Corina, ibu Marco, akulah yang menyerahkannya.

Bukan karena kewajiban.

Melainkan karena dulu aku percaya, jika kau mencintai seorang pria, kau juga harus menerima keluarganya.

Ternyata aku salah.

Dalam perjanjian perceraian, tidak ada satu kalimat pun yang menyatakan bahwa aku harus membiayai ibunya.

Tidak ada pula yang mengatakan aku harus membayar obat-obatan, salon, malam-malam kasino, dan “donasi kelompok doa bulanan” Bu Corina yang lebih sering berubah menjadi tas-tas mewah daripada kegiatan gereja.

Maka pagi itu aku hanya berkata kepada manajer bank:

“Hentikan semua transfer otomatis.”

“Efektif mulai hari ini, Bu?”

“Ya. Sekarang.”

Setelah menutup telepon, aku tersenyum.

Di atas meja ruang tamu apartemen baruku di kawasan Sudirman Central Business District, tergeletak map merah berisi surat perceraian dan pembagian aset.

Kopiku sudah dingin.

Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku bisa bernapas lega.

Marco?

Dia sedang sibuk di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan, menemani Bianca, wanita simpanannya yang sedang hamil.

Ya.

Wanita simpanan.

Dan karena perempuan itu mengandung anaknya, Marco tiba-tiba berubah menjadi pria sempurna.

Antar-jemput.

Vitamin.

Perawat pribadi.

Kamar VIP.

Semua yang tidak pernah ia lakukan untukku, ia lakukan untuk perempuan itu.

Namun ibunya sendiri?

Ia lupakan.

Tanggung jawab?

Ia buang.

Keluarga?

Hanya dipakai saat menguntungkan.

Sore itu, Messenger-ku meledak.

Puluhan pesan suara dari Marco.

“Serena, apa yang kamu lakukan?”

“Mana uang Mama?”

“Bukannya Rp70 juta setiap bulan?”

“Kamu mau dia kelaparan? Kamu sudah tidak punya hati?”

Aku tertawa kecil sambil melihat layar ponsel.

Tidak punya hati?

Untuk keluarga yang memanggilku wanita mandul saat reuni keluarga?

Untuk ibu mertua yang mengatakan aku pembawa sial karena tidak bisa memberikan cucu?

Untuk pria yang memakai uangku sambil membuatku merasa tidak berguna?

Aku tidak menjawab.

Aku hanya membuka jendela dan mendengarkan hiruk pikuk Jakarta di bawah.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak takut pada kesunyian.

Malamnya, Marco menelepon.

Pukul 22.46.

Aku membiarkannya berdering cukup lama sebelum mengangkat.

“Serena, kamu sudah gila?” bentaknya pelan. “Sedikit rasa kemanusiaan, dong! Itu ibuku! Bagaimana dia hidup kalau kamu menghentikan uangnya?”

Aku tahu Bianca sedang tidur di sebelahnya.

Dengan tenang aku menjawab.

“Bukankah kamu anaknya?”

Marco terdiam.

“Kalau kamu mampu membayar kamar VIP untuk selingkuhanmu, kamu juga mampu membeli beras untuk ibumu.”

Lalu aku menutup telepon.

Keesokan paginya, bukan Marco yang datang lebih dulu.

Melainkan Bu Corina.

Pukul tujuh pagi, ketukan keras menggema di pintu apartemenku.

Ketika kubuka, ia berdiri di lorong dengan rambut berantakan, pakaian kusut, membawa rosario tua dan tas mahal yang dulu kubelikan.

Begitu melihatku, ia langsung berlutut.

“Serena, Nak, kasihanilah aku!”

Beberapa tetangga langsung membuka pintu.

“Tolong kembalikan uang bulananku. Itu satu-satunya sumber hidupku.”

“Bu Corina,” kataku tenang, “saya sudah bukan istri anak Ibu.”

Ia menangis semakin keras.

“Bagaimana aku makan? Bagaimana dengan obatku? Bagaimana dengan rumah?”

Pintu unit sebelah terbuka.

Beberapa orang mulai berbisik.

“Bukannya anaknya kaya?”

“Kenapa mantan menantu yang membiayai?”

“Itu Marco yang punya perempuan hamil itu, ya?”

Wajah Bu Corina memerah.

Namun ia tetap memegang kakiku seperti adegan sinetron.

“Nak, aku mencintaimu seperti anak kandung.”

Aku tertawa.

Tidak keras.

Tetapi cukup untuk didengar semua orang.

“Mencintai?”

“Anda yang mengatakan kepada seluruh keluarga bahwa aku bukan wanita seutuhnya karena tidak bisa hamil.”

“Anda yang selalu melaporkanku kepada Marco setiap kali aku bekerja lembur, seolah mencari uang adalah dosa.”

“Anda yang mengatakan bahwa gajiku seharusnya diserahkan kepada anak Anda karena dia laki-laki.”

Lorong apartemen mendadak sunyi.

“Setiap bulan saat aku memberikan uang kepada Anda, apakah Anda melihatku sebagai anak?”

“Atau hanya sebagai mesin ATM?”

Matanya membelalak.

“Kurang ajar!” bisiknya. “Kamu berani melawan sekarang karena punya uang!”

“Tidak,” jawabku tenang.

“Aku berani melawan sekarang karena aku tidak punya alasan lagi untuk diam.”

Tepat saat itu, pintu lift terbuka.

Marco keluar.

Di satu tangan ada koper.

Di tangan lainnya beberapa kantong berisi buah, vitamin, dan perlengkapan bayi impor.

Bianca berjalan di sampingnya, mengenakan pakaian putih dan wajah pucat yang dibuat-buat.

Mereka semua membeku.

“Mama?” tanya Marco.

“Serena? Ada apa ini?”

Bu Corina langsung berlari kepadanya sambil menangis.

“Nak! Dia menghentikan uang pensiunku! Dia juga menjual rumah kita! Aku harus tinggal di mana sekarang?”

Marco menatapku penuh amarah.

“Itu rumah kita, Serena!”

“Bukan.”

“Itu rumahku.”

Wajahnya membeku.

“Uang untuk membeli rumah itu berasal dari orang tuaku.”

“Dan karena kalian terlalu nyaman hidup mewah, kalian lupa melihat atas nama siapa sertifikatnya.”

Aku mengambil map merah dari dalam apartemen.

Kubuka tepat di depan mereka.

Dan di halaman pertama…

Ada dokumen yang tidak hanya akan menghancurkan rumah mereka.

Tetapi juga menghancurkan seluruh nama baik Marco.

BAGIAN 2

Ketik “YES” dan tekan “Like” agar kami mengunggah kelanjutan kisah lengkapnya. Terima kasih. 

Dokumen itu adalah Surat Perjanjian Utang-Piutang dan Jaminan Aset atas nama Marco Santoso.

Seluruh penghuni apartemen yang sejak tadi menonton di lorong mencondongkan badan, mencoba melihat lembaran kertas yang kupegang. Beberapa tetangga bahkan sudah mengeluarkan ponsel mereka, merekam drama nyata yang jauh lebih panas dari tayangan televisi.

“Sertifikat rumah di Pondok Indah itu memang atas nama ibumu, Marco,” kataku, suaranya menggema jernih di lorong apartemen yang sunyi. “Tapi tiga tahun lalu, perusahaan logistikmu yang hampir bangkrut itu berutang kepada perusahaanku sebesar Rp4,5 miliar. Tebak apa yang kamu jaminkan saat itu?”

Aku membalik halaman dokumen ke bagian tanda tangan dan cap jempol. Di sana tertera nama Marco Santoso dan Corina Santoso sebagai penjamin.

“Rumah itu sudah disita oleh perusahaanku sejak dua bulan lalu karena kamu tidak pernah membayar cicilannya satu peso pun. Selama ini aku diam dan membiarkan ibumu tinggal di sana karena aku masih menghargai status kita sebagai suami istri. Tapi sekarang? Setelah surat cerai ini keluar, batas toleransiku sudah habis.”

Bu Corina menjerit histeris, menatap anaknya dengan mata membelalak. “Marco! Apa-apaan ini?! Kamu menggadaikan rumah Mama?! Kamu bilang istrimu yang mandul ini yang mandek memberikan uang?!”

“Ma… bukan begitu, Ma… Serena, tolong jangan sekarang,” bisik Marco, wajahnya mendadak seputih kain kafan. Ia mencoba maju untuk merebut dokumen itu, tetapi aku langsung mundur satu langkah masuk ke ambang pintuku.

Bianca, yang sejak tadi berdiri memasang wajah pucat dan rapuh, mencoba angkat bicara dengan suara bergetar. “Mbak Serena, tolong berhati besarlah sedikit. Aku sedang hamil anak Marco. Bagaimanapun, anak ini adalah keponakan mantan ibu mertuamu. Apa Mbak tega membiarkan calon cucu Bu Corina lahir tanpa rumah?”

Aku menatap Bianca dari ujung kepala sampai ujung kaki. Senyuman dingin terukir di wajahku.

“Anak yang ada di kandunganmu itu adalah urusanmu dan Marco, Bianca. Bukan urusanku, apalagi urusan dompetku,” jawabku tajam. “Dan berbicara tentang kehamilan…”

Aku mengeluarkan selembar kertas lain dari dalam map merah. Sebuah laporan medis resmi dari rumah sakit reproduksi ternama di Jakarta Pusat.

“Kalian selalu menyebutku wanita mandul pembawa sial, bukan? Bu Corina selalu mencaci maki aku di depan seluruh keluarga besar Santoso karena tidak bisa memberikan cucu.” Aku mengarahkan kertas hasil laboratorium itu tepat ke wajah Marco. “Dua tahun lalu, kita melakukan pemeriksaan kesuburan secara diam-diam. Ini hasilnya, Marco. Hasilnya menyatakan bahwa akulah yang subur, sementara kamu memiliki azoospermia—kamu mandul secara biologis.”

Keheningan total menyelimuti lorong apartemen. Detik itu juga, napas semua orang seolah berhenti.

Bu Corina menatap putranya dengan syok berat, sementara Marco gemetar hebat, tidak berani menatap mata ibunya maupun mata wanita di sebelahnya.

Aku menoleh perlahan ke arah Bianca, yang wajah pucatnya kini bukan lagi buatan, melainkan ketakutan yang nyata. “Jadi, Bianca… jika Marco mandul secara medis, anak siapa yang sebenarnya sedang kamu kandung di dalam perutmu itu? Dan demi anak pria lain itu, Marco rela menceraikan istri yang selama sepuluh tahun membiayai seluruh hidupnya?”

“T-tidak… itu tidak mungkin! Dokter itu pasti salah!” Bianca berteriak histeris, tas belanjaan perlengkapan bayi impor di tangannya jatuh berserakan di lantai lorong.

“Bianca… apa maksudnya ini?” suara Bu Corina meninggi, ia berbalik dan mencengkeram lengan Bianca dengan kasar. “Anak siapa yang kamu kandung?! Kamu bilang ini anak Marco! Kamu bilang anak ini yang akan meneruskan darah keluarga Santoso!”

“Mama, jangan dengarkan Serena! Dia memfitnahku karena dia cemburu!” Marco berteriak panik, mencoba menutupi kebohongannya yang runtuh berantakan di depan umum.

“Fitnah? Silakan bawa hasil laboratorium ini ke pengadilan, Marco. Semua bukti ini sudah masuk ke dalam berkas gugatan cerai kita,” kataku sambil menutup map merah dengan bunyi ketukan yang tegas. “Hari ini, kalian tidak hanya kehilangan rumah, kehilangan Rp70 juta per bulan, dan kehilangan harga diri. Kalian juga mendapatkan kebenaran yang selama ini kalian takuti.”

Aku menatap mereka bertiga untuk terakhir kalinya—seorang mantan suami yang tidak berguna, mantan ibu mertua yang parasit, dan seorang wanita simpanan yang terjebak dalam kebohongannya sendiri. Mereka kini saling berteriak dan menyalahkan satu sama lain di koridor apartemen, ditonton dan direkam oleh belasan tetangga.

“Satpam apartemen akan datang dalam tiga menit untuk mengusir kalian dari lorong ini,” kataku tenang. “Selamat menjalani hidup miskin yang baru, Marco. Mulai hari ini, bayar harga kesombonganmu sendiri.”

Aku menutup pintu apartemenku dengan rapat, mengunci dunia luar yang penuh racun itu di balik punggungku. Aku berjalan menuju balkon, menghirup udara Sudirman yang segar, dan meminum kopiku yang kini terasa sangat manis.

Pembalasan dendam terbaik bagi wanita yang mereka anggap lemah bukanlah dengan membalas pukulan, melainkan dengan menarik kembali semua fasilitas yang membuat mereka merasa kuat. Ketika topeng kemewahan mereka dilepas, mereka tidak lebih dari sekadar sekumpulan orang serakah yang hancur oleh kebodohan mereka sendiri.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.