Malam setelah pernikahan kami di Jakarta Selatan, keluarga suamiku meletakkan sebuah amplop abu-abu di depanku dan berkata, “Menantu keluarga Prasetyo tidak boleh memiliki uang sendiri.” Baru saja jemariku menyentuh gelang pernikahan, aku mendengar suara kunci diputar dari pintu belakang oleh suamiku. Mereka mengira aku memasuki rumah itu untuk tunduk. Mereka tidak tahu, di dalam tasku ada hasil verifikasi catatan sipil yang cukup untuk membuat seluruh keluarga mereka membeku.

BAGIAN 1: Amplop abu-abu di atas baki perak

Malam itu, sementara gema pesta pernikahan masih samar terdengar dari luar, aku akhirnya mengerti bahwa ternyata aku tidak sedang memasuki sebuah pernikahan.

Aku masuk ke dalam sebuah jebakan.

Namaku Maya Santoso, dua puluh delapan tahun, pemilik toko roti kecil di Jakarta Selatan dan kios kopi take-away di dekat Stasiun Sudirman.

Aku menikah dengan Adrian Prasetyo setelah sebelas bulan berpacaran.

Dulu, Adrian adalah tipe pria yang mampu membuat seluruh keluargaku tenang.

Kemeja putihnya selalu rapi.

Nada bicaranya lembut.

Ia selalu membukakan pintu mobil.

Ia tak pernah lupa mengirim pesan:

“Sudah makan?”

Ia tahu cara menyapa Tante Ratna dengan hormat hingga hati para orang tua luluh.

Saat pernikahan sipil kami di Jakarta Selatan pagi itu, ia bahkan menggenggam tanganku di depan semua orang dan berkata dengan lembut:

“Mulai hari ini, aku akan menjagamu.”

Dan aku mempercayainya.

Aku begitu mempercayainya, sehingga ketika ia berkata kami harus mampir ke rumah orang tuanya untuk makan malam sederhana sebagai tanda penerimaan resmi keluarga Prasetyo, aku sama sekali tidak curiga.

Rumah orang tuanya berada di sebuah gang tenang di Jakarta Selatan.

Gerbang besinya berwarna hijau tua, dan lampu Natal lama masih tergantung di depan pintu meski saat itu baru bulan Juni.

Di ruang tamu, patung Bunda Maria berdiri di rak kayu, di samping bunga plastik yang mulai pudar.

Aroma mi goreng, sate ayam, dan cairan pembersih lantai bercampur menjadi satu.

Aroma yang terasa akrab.

Tetapi entah mengapa, membuat dadaku sesak.

Ibu mertuaku, Maria Prasetyo, menyambutku dengan senyum lebar.

“Nak, masuklah. Mulai hari ini, rumah ini juga rumahmu.”

Ayah mertuaku, Hendra Prasetyo, duduk di kursi rotan terbesar sambil memegang penggaris kayu tua.

Ia bahkan tidak berdiri.

Hanya memandangiku dari kepala hingga kaki seperti sedang memeriksa sebuah barang.

Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa orang tua yang tegas adalah hal yang biasa.

Adrian meremas tanganku pelan.

“Jangan gugup. Papa memang agak serius.”

Aku mengangguk.

Makan malam itu terasa aneh.

Tak ada yang bertanya apakah aku lelah.

Tak ada yang membicarakan pernikahan.

Maria terus menambahkan makanan ke piring Adrian, sementara di depanku hanya ada segelas air dingin.

Setiap kali aku mencoba berbicara, Hendra akan mengetukkan penggarisnya ke meja.

Tok.

Pelan.

Tetapi cukup membuat semua orang langsung diam.

Setelah makan, aku berdiri untuk membantu membereskan meja.

Maria memegang tanganku.

“Tidak usah. Ada hal yang lebih penting yang harus dilakukan menantu baru malam ini.”

Aku menoleh kepada Adrian.

Ia tersenyum.

Namun itu bukan lagi senyum yang sama.

Tidak ada kelembutan.

Tidak ada kehangatan.

Yang tersisa hanyalah kepuasan tenang dari seseorang yang baru saja menutup pintu kandang.

Hendra mengangguk.

“Duduk.”

Aku duduk di kursi di hadapannya.

Maria mengambil sebuah baki perak dari lemari.

Di atasnya terdapat amplop abu-abu, sebuah pulpen biru, formulir cetak, dan kantong plastik kecil.

Di dalam kantong itu ada kartu ATM Adrian, kunci rumahnya, cincin pernikahan cadangan, dan secarik kertas berisi kata sandi Wi-Fi.

Aku belum mengerti.

Sampai Maria meletakkan tangannya di atas amplop itu dan berkata dengan suara pelan namun dingin:

“Keluarga Prasetyo punya aturan. Setiap menantu perempuan yang masuk ke rumah ini harus menyerahkan kartu ATM, surat kepemilikan, dan rekening bisnisnya kepada suami agar semuanya dikelola oleh laki-laki.”

Aku mengira aku salah dengar.

“Apa?”

Hendra memandangku seperti seorang anak yang tidak patuh.

“Jangan pura-pura tidak mengerti. Perempuan yang sudah menikah tidak boleh memiliki uang sendiri. Uang sendiri melahirkan pengkhianatan. Aset sendiri melahirkan kesombongan.”

Aku berkedip.

Ada sesuatu yang seolah retak di dalam dadaku.

Di sampingku, dengan sangat alami, Adrian menarik tasku mendekat.

“Berikan dulu kartumu. Besok aku temani ke bank. Toko roti, kios kopi, apartemen studio di Tebet, semuanya harus masuk ke pengelolaan bersama. Biar lebih praktis.”

Praktis?

Aku memandangi tangannya.

Tangan yang dulu membantuku memegang gaun pengantin saat turun dari mobil.

Tangan yang melindungiku dari hujan.

Tangan yang mengirim ribuan pesan manis.

Dan sekarang…

Tangan itu memegang dompetku seperti sebuah trofi.

Dengan tenang aku berkata:

“Tidak.”

Udara di ruang tamu langsung membeku.

Wajah Maria memerah.

Adrian menoleh ke arahku, dan senyumnya menghilang.

“Apa yang kamu katakan?”

“Aku bilang tidak. Rekening bisnisku milikku. Apartemenku milikku. Aku tidak akan menandatangani apa pun malam ini.”

Tok!

Hendra membanting penggaris kayunya ke meja.

“Menantu keluarga Prasetyo tidak boleh mengatakan tidak.”

Dan saat itu, aku akhirnya melihat dengan jelas.

Ini bukan ketegasan.

Ini adalah kebiasaan untuk menguasai orang lain yang sudah mengakar dalam darah keluarga ini.

Maria menunduk, meremas ujung blusnya.

Ia tahu ini salah.

Tetapi ia tidak akan menyelamatkanku.

Adrian berdiri dan menarik tirai jendela.

Di luar, suara kendaraan semakin menjauh.

Dan di dalam rumah…

Aku mendengar suara kunci diputar dari pintu belakang.

Klik.

Aku menoleh.

Adrian memasukkan kunci ke sakunya.

“Maya, jangan mempermalukanku di hari pernikahan kita.”

Aku berdiri.

“Aku ingin pulang.”

Ia tertawa.

Bukan tawa seorang suami.

Melainkan tawa seorang pemburu yang melihat mangsanya masih berpikir ada jalan keluar.

“Pulang ke mana? Sejak pagi tadi, kamu sudah menjadi istriku.”

Ia mendekat dan merebut tasku.

Aku menahannya.

Ia mencengkeram pergelangan tanganku begitu kuat hingga gelang pernikahan menggores kulitku.

“Buka dompetmu.”

Aku menatap matanya.

“Lepaskan aku.”

Dalam satu detik, wajahnya berubah buruk.

Topengnya jatuh tanpa peringatan.

Ia mengangkat tangannya.

Maria berdiri.

“Adrian!”

Namun Hendra berteriak:

“Duduk!”

Maria membeku karena teriakan itu.

Dan tepat ketika tangan Adrian hendak turun…

Aku mendengar detak jantungku sendiri.

Bukan panik.

Bukan tangisan.

Bukan permohonan.

Hanya dingin.

Dingin yang membuat semua suara di sekelilingku seolah menipis.

Aku mengangkat wajah.

Dan menunggu dia melangkah setengah detik lagi.

(Bagian selanjutnya aku tinggalkan di kolom komentar. Jika ingin membaca kelanjutannya, tekan “lihat semua komentar”.)

Tangan Adrian masih terangkat.

Tetapi sebelum telapak tangannya sempat menyentuh wajahku, aku berkata dengan suara pelan,

“Kalau kamu berani memukulku malam ini…”

“…seluruh keluarga Prasetyo akan berharap mereka tidak pernah mengenalku.”

Adrian berhenti.

Hendra berdiri.

“Berani sekali kamu mengancam kami!”

Aku perlahan menarik tasku ke arahku.

Lalu membuka resleting kecil di dalamnya.

Maria mendecak kesal.

“Sudah cukup sandiwaranya. Serahkan saja kartu ATM-mu.”

Tetapi yang kuambil bukan dompet.

Melainkan sebuah map bening.

Dan di bagian paling atasnya terdapat lembar verifikasi resmi dari Dukcapil.

Adrian tertawa.

“Mau menakut-nakuti kami dengan apa?”

Aku mengangkat mataku.

“Verifikasi data catatan sipil.”

Tak seorang pun mengerti.

Aku menarik napas panjang.

“Dua bulan sebelum pernikahan, aku meminta pengecekan data keluarga karena sedang mengurus hak waris dari mendiang ayahku.”

“Dan hasilnya…”

“…cukup menarik.”

Wajah Adrian mulai berubah.

Aku mengeluarkan lembar pertama.

Status pernikahan.

Nama: Adrian Prasetyo.

Status: Menikah.

Ruangan mendadak sunyi.

“Apa?” suara Maria bergetar.

Adrian membelalakkan mata.

“Itu tidak mungkin!”

Aku meletakkan dokumen kedua.

Akta nikah yang terdaftar tujuh tahun lalu.

Nama istrinya:

Nadia Wijaya.

Tanggal pernikahan.

Nomor registrasi.

Semuanya lengkap.

Wajah Adrian langsung pucat.

“Ma-Maya… dengarkan aku dulu…”

Aku tersenyum tipis.

“Dengar apa?”

“Bahwa suamiku ternyata sudah punya istri?”

“Bahwa pernikahan yang baru selesai pagi tadi bahkan tidak sah?”

Hendra mendadak memalingkan wajah.

Dan pada saat itu aku sadar.

Dia tahu.

Maria tahu.

Mereka semua tahu.

Hanya aku yang dijadikan mangsa.

Air mata Maria jatuh.

“Adrian bilang masalah itu sudah selesai…”

Aku menatapnya.

“Jadi Ibu tahu?”

Wanita itu langsung membungkam mulutnya sendiri.

Terlambat.

Semuanya sudah terlambat.

Adrian berlutut.

“Maya, aku mencintaimu.”

“Maya, aku bisa jelaskan.”

“Maya, tolong…”

Aku tertawa kecil.

Tawa yang bahkan terdengar asing di telingaku sendiri.

“Lucu sekali.”

“Tadi kalian ingin mengambil toko rotiku.”

“Kios kopiku.”

Apartemenku.

Seluruh tabunganku.

Bahkan kebebasanku.”

“Padahal pria yang kalian banggakan…”

“…bahkan bukan suamiku secara hukum.”

Tak ada seorang pun yang berani bicara.

Aku mengeluarkan dokumen terakhir.

Surat dari pengacaraku.

“Mulai besok pagi, saya akan mengajukan laporan atas pemalsuan status pernikahan, penipuan, serta percobaan penguasaan aset.”

Tubuh Hendra langsung lemas.

Penggaris kayu yang selama ini selalu diketukkannya ke meja jatuh ke lantai.

Tok.

Suara yang sama.

Tetapi kali ini…

Tidak ada seorang pun yang takut.

Adrian menangis.

Untuk pertama kalinya malam itu, pria yang selalu tampak sempurna itu menangis.

“Maya…”

“Aku salah…”

“Aku mohon…”

“Kita mulai dari awal.”

Aku memandang cincin di jariku.

Cincin yang beberapa jam lalu kupakai dengan penuh harapan.

Perlahan aku melepasnya.

Dan meletakkannya di telapak tangan Adrian.

“Tidak semua kesalahan diberi kesempatan kedua.”

“Dan tidak semua pengkhianatan bisa disebut cinta.”


Malam itu aku keluar dari rumah keluarga Prasetyo.

Dengan tasku.

Dengan harga diriku.

Dan dengan hati yang hancur.

Tetapi tidak kosong.

Karena untuk pertama kalinya sejak mengenal Adrian…

Aku memilih diriku sendiri.


Enam bulan kemudian.

Pengadilan membatalkan pernikahan kami.

Nadia Wijaya, istri sah yang selama bertahun-tahun ditinggalkan, akhirnya mendapatkan haknya.

Sementara Adrian kehilangan pekerjaannya.

Hendra terkena stroke ringan.

Dan rumah yang selama ini mereka banggakan terpaksa dijual untuk membayar utang serta biaya hukum.

Aku tidak pernah bersukacita atas kejatuhan mereka.

Karena dendam tidak pernah membuat hati menjadi tenang.


Dua tahun kemudian.

Toko rotiku berkembang menjadi empat cabang.

Kios kopi kecilku berubah menjadi sebuah merek yang dikenal banyak orang di Jakarta.

Suatu sore, saat hujan turun perlahan di luar toko, seorang pelanggan kecil berusia tujuh tahun memberikan sepotong kertas gambar kepadaku.

Di atasnya ada gambar seorang perempuan yang sedang tersenyum.

Dan tulisan dengan huruf yang masih miring:

“Kak Maya cantik kalau bahagia.”

Aku tertawa.

Dan tanpa sadar, air mataku jatuh.

Karena aku akhirnya mengerti sesuatu yang sangat mahal harganya.

Kadang-kadang…

Hari yang terlihat seperti akhir dari segalanya…

Ternyata hanyalah hari ketika Tuhan menyelamatkan kita dari orang-orang yang salah.

Dan malam ketika mereka mencoba mengambil seluruh hartaku…

Adalah malam ketika aku berhasil menyelamatkan seluruh hidupku.

Karena seorang wanita yang baik tidak dilahirkan untuk hidup dalam ketakutan.

Dan cinta yang meminta kita menyerahkan harga diri…

Bukanlah cinta.

Melainkan penjara yang dibungkus dengan cincin dan janji manis.