DIA DIUSIR OLEH SUAMINYA YANG SEORANG CEO DEMI MENYELAMATKAN BINTANG BARU PERUSAHAAN—TETAPI SAAT IA MENJUAL 60% SAHAMNYA, SATU NAMA MUNCUL DAN DUNIA MEREKA SEMUA RUNTUH

“Lia Prasetya, apa yang sudah kamu lakukan pada perusahaanku?”

Suara Marco Santoso hampir meledak dari seberang telepon. Ia bukan lagi CEO dingin dan arogan yang dulu bisa membuat seluruh ruang rapat terdiam hanya dengan satu tatapan.

Kini, suaranya bergetar.

Karena ia telah kehilangan kendali atas Bintang Media Group.

Dan akulah penyebabnya.

Aku bersandar di sofa suite hotel di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, memegang ponsel di satu tangan dan berkas perceraian di tangan lainnya.

Sepuluh hari.

Sepuluh hari sejak aku meninggalkan rumah kami.

Sepuluh hari sejak dia mencopotku dari jabatan.

Sepuluh hari sejak dia membiarkan wanita lain menginjak-injak namaku.

Dalam sepuluh hari itu, tak ada satu pun telepon darinya.

Dia tidak bertanya apakah aku sudah makan.

Dia tidak bertanya di mana aku tidur.

Dia tidak bertanya mengapa aku pergi.

Baru sekarang dia menelepon.

Karena saham.

“Kamu benar-benar menjual enam puluh persen sahammu?” teriaknya. “Apa kamu sadar aku sudah tidak lagi mengendalikan Bintang Media?”

Aku menatap halaman terakhir berkas perceraian yang sudah ditandatangani.

Lalu aku tersenyum.

“Marco, sepertinya kamu menelepon orang yang salah.”

Ia terdiam.

Dengan tenang aku berkata,

“Aku hanya mantan karyawan yang kamu pecat sendiri. Kepada siapa Bintang Media jatuh, apa hubungannya denganku?”

“Lia!”

Ia berusaha menahan emosinya. Aku mengenal nada itu.

Itu suara Marco saat ia tidak ingin mengakui bahwa dirinya sedang takut.

“Ini bukan waktunya untuk bersikap kekanak-kanakan! Katakan padaku siapa yang membeli saham itu!”

“Kamu ingin tahu?”

Aku perlahan menutup map di depanku.

“Tanyakan pada Denise.”

Dan sebelum ia sempat menjawab, aku memutuskan sambungan.

Lalu memblokir nomornya.


Sepuluh hari sebelumnya, kami berada di lantai tertinggi kantor pusat Bintang Media Group di Jakarta.

Meja konferensi panjang.

AC dingin.

Dan seluruh ruangan sunyi.

Marco duduk di tengah, mengenakan setelan hitamnya, masih tampak seperti raja di kerajaannya sendiri.

Di sampingnya duduk Denise Wijaya.

Mantan asistennya yang dulu justru aku sendiri yang melatih.

Ia mengenakan blazer putih hadiah dariku saat pertama kali dipromosikan.

Matanya merah.

Tangannya memeluk map tebal.

“Kak Lia,” katanya dengan suara bergetar, “aku tidak pernah ingin semuanya sampai seperti ini.”

Aku hampir tersenyum.

Karena setiap kali Denise menangis…

selalu ada orang yang percaya padanya.

Marco mendorong sebuah map ke hadapanku.

“Berdasarkan keputusan dewan direksi, kamu diberhentikan dari jabatan Chief Operations Officer Bintang Media Group, efektif mulai hari ini.”

Aku memandangnya.

“Kenapa?”

Ia tidak berani menatapku.

Denise yang menjawab.

“Ada dana proyek Garuda Digital sebesar Rp30 miliar yang hilang. Dan kamu adalah orang terakhir yang menyetujui pencairannya.”

Beberapa anggota direksi mengalihkan pandangan.

Ada yang menghela napas.

Ada pula yang tampak menunggu drama.

Aku menatap Marco.

“Kamu percaya padanya?”

Marco mengerutkan kening.

“Buktinya ada di sini. Ini bukan soal percaya atau tidak.”

“Jadi kamu bahkan tidak mau menyelidikinya?”

“Lia,” katanya dingin, “jangan mempersulit semuanya.”

Aku tertawa pelan.

Tiga tahun lalu, saat Bintang Media hampir bangkrut, aku menggadaikan tanah warisan ibuku di Bandung demi melunasi utang perusahaan.

Dua tahun lalu, ketika Marco ingin memperbesar divisi artis, aku tidak tidur selama tiga malam untuk menyusun proposal.

Setahun lalu, saat tak seorang pun memperhatikan Denise, akulah yang mengajarinya cara menghadapi klien, berbicara kepada media, dan bertahan di industri yang penuh ular.

Dan sekarang…

ular itu duduk di samping suamiku sendiri.

Aku menutup map itu.

“Baiklah.”

Marco terlihat terkejut.

Mungkin ia mengira aku akan menangis.

Mungkin ia mengira aku akan berlutut.

Mungkin ia mengira aku akan diam seperti biasanya demi menjaga keluarga, perusahaan, dan namanya.

Namun aku hanya berdiri.

“Selamat,” kataku tenang.

“Semoga masa depan kalian semakin cerah, CEO Marco Santoso dan Wakil Presiden baru Denise Wijaya.”

Saat aku keluar dari ruang rapat, Denise mengejarku.

“Kak Lia,” katanya lirih, “jangan salahkan Marco. Dia hanya melakukan ini demi perusahaan.”

Aku berhenti.

“Denise.”

Matanya langsung memerah.

“Berhenti berakting.”

Wajahnya memucat.

“Semua yang sudah kamu ambil dariku…”

bisikku pelan,

“…akan kuambil kembali. Satu per satu.”


Ketika aku pulang ke apartemen kami di Sudirman Residence, foto pernikahan kami masih tergantung di dekat pintu masuk.

Di foto itu, Marco menggenggam tanganku.

Dulu ia berkata aku akan menjadi Ny. Santoso selamanya.

Aku mengambil koper dan mulai membereskan pakaian.

Belum sampai tiga puluh menit, pintu terbuka.

Marco masuk.

Dan di belakangnya…

Denise.

Dengan tas hadiah berwarna merah muda di tangannya.

Melihat koporku, ia langsung bersembunyi di belakang Marco.

“Kak Lia, aku tidak bermaksud datang. Marco hanya menyuruhku mengambil file proyek.”

Aku mengabaikannya.

Aku memandang Marco.

“Kamu pergi?” tanyanya.

“Ya.”

“Haruskah semuanya sampai seperti ini?”

“Bukankah kamu sendiri yang mengusirku?”

“Perusahaan adalah perusahaan. Keluarga adalah keluarga.”

Dan saat itulah…

sisa rasa hormatku padanya benar-benar hancur.

“Kamu memberikan jabatanku, proyekku, dan harga diriku kepada wanita itu.”

“Lalu kamu masih berani mengatakan kita tetap keluarga?”

Denise melangkah maju.

“Kak Lia, jangan bilang seperti itu. Marco juga sangat stres akhir-akhir ini—”

“Diam!”

Ia langsung menangis.

Marco mengerutkan wajah dan berdiri melindunginya.

“Cukup! Dia tidak melakukan kesalahan apa pun padamu.”

“Benarkah?”

Aku mendekati Denise.

“Waktu aku menggantikanmu minum alkohol saat makan malam dengan klien dan aku sampai dirawat di rumah sakit karena pendarahan lambung, apa yang kamu katakan padaku?”

Denise tak berani menatapku.

Aku sendiri yang menjawab.

“Kamu bilang, ‘Kak Lia, suatu hari aku akan membalas semua kebaikanmu.’”

Aku mengangguk.

“Dan ternyata kamu memang cepat membalasnya.”

Aku meninggalkan surat perceraian di atas rak sepatu.

“Tandatangani. Kirim ke pengacaraku.”

Mata Marco membelalak.

“Kamu ingin mengakhiri pernikahan kita?”

Bukankah itu yang sudah lama kalian inginkan?”

Aku menarik koperku.

Marco memegang gagangnya.

“Lia, jangan lakukan sesuatu yang akan kamu sesali.”

Aku menatap tangannya.

“Bukan aku yang akan menyesal.”

Malam itu, aku pindah ke hotel.

Keesokan harinya, tak ada telepon dari Marco.

Hanya pesan dari Denise.

“Kak Lia, jangan salah paham pada kami. Aku hanya ingin membantu Marco.”

Aku hanya membalas dua kata.

“Pertanggungjawabkan itu.”

Pada hari kesepuluh, aku melihat berita di televisi.

Judul besarnya berbunyi:

“Marco Santoso dan Wakil Presiden Baru Denise Wijaya Membawa Bintang Media Memasuki Era Baru.”

Dalam foto itu, Denise tersenyum sambil memandang Marco.

Sementara Marco sedang menunduk memperbaiki mikrofon.

Aku mematikan televisi.

Lalu menelepon nomor yang sudah lama tidak kugunakan.

“Nico?”

Pria di seberang sana terdiam sesaat.

“Lia?”

“Akhirnya kamu menelepon.”

“Tolong aku.”

“Katakan.”

“Jual seluruh enam puluh persen sahamku di Bintang Media.”

Ia terdiam.

“Kamu yakin?”

“Ya.”

“Marco tahu?”

“Dia tidak pantas tahu.”

Nico Ramadhan tertawa pelan.

“Baik. Tiga hari.”

“Kalau bisa lebih cepat.”

“Lia,” katanya pelan.

“Kalau kita lakukan ini…”

“kamu tidak akan punya hubungan apa pun lagi dengan Bintang Media.”

Aku memandang bingkai foto pernikahan yang retak di atas meja.

“Sebenarnya…”

“aku sudah lama tidak menjadi bagian dari tempat itu.”

Tiga hari kemudian, email dari Nico masuk.

Aku membukanya.

Dan satu kalimat langsung membuatku terpaku.

Buyer Representative: Denise Wijaya.

PART 2 read more in comments 👇👇

Aku menatap layar laptop itu cukup lama.

Nama pembeli: Denise Wijaya.

Aku tidak kaget.

Aku hanya… menghela napas kecil.

“Jadi dia benar-benar masuk ke perangkap itu,” gumamku pelan.

Nico menelepon beberapa menit kemudian.

“Lia… transaksi sudah selesai. Enam puluh persen saham resmi berpindah tangan.”

“Dan sesuai struktur pembelian yang mereka ajukan, Marco dan Denise menggunakan gabungan pinjaman bank dan investor bayangan. Mereka pikir mereka membeli kendali penuh Bintang Media.”

Aku tersenyum tipis.

“Padahal mereka hanya membeli bom waktu.”


Dua tahun sebelumnya.

Tidak ada yang tahu bahwa sebelum aku “diusir” dari perusahaan itu…

aku sudah membangun perusahaan baru secara diam-diam.

Aurora Creative Network.

Semua kontrak eksklusif artis besar yang dulu berada di bawah Bintang Media…

perlahan aku pindahkan.

Semua klien internasional…

aku amankan.

Dan yang paling penting…

aku tidak pernah benar-benar meninggalkan sistem internal perusahaan lama.

Aku hanya berhenti terlihat.


Hari ini.

Konferensi pers besar diadakan di Hotel Indonesia Kempinski.

Marco berdiri di podium, di samping Denise.

Sorotan kamera tidak berhenti.

“Ini adalah era baru Bintang Media!” suara Marco terdengar penuh kemenangan.

Denise tersenyum manis di sampingnya.

“Dan kami siap membawa perusahaan ini ke level internasional.”

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Namun di belakang panggung…

telepon-telepon mulai bergetar.

Satu per satu.

Investor menarik diri.

Kontrak artis utama dibatalkan.

Platform streaming yang mereka banggakan…

kehilangan lisensi distribusi dalam hitungan menit.

Seorang staf berlari panik ke panggung.

“Pak Marco! Kita kehilangan semua kontrak utama!”

“Investor keluar semua!”

“Nilai saham jatuh lebih dari 40%!”

Suasana berubah kacau.

Denise memucat.

“Apa maksudnya ini…?”

Marco menatap layar ponselnya.

Satu email masuk.

Dari Aurora Creative Network.

Isi singkat:

“Selamat datang di industri nyata.”


Di sisi lain kota Jakarta.

Aku duduk di kantor baruku.

Gedung Aurora menyala tenang di malam hari.

Nico berdiri di sampingku.

“Jadi ini akhirnya?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Tidak.”

“Ini baru awal.”


Tiga hari kemudian.

Kantor Bintang Media resmi diguncang investigasi keuangan.

Nama Denise muncul dalam laporan audit.

Transfer dana Rp30 miliar proyek Garuda Digital…

tidak pernah hilang.

Ia dialihkan ke rekening perusahaan cangkang yang ia sendiri daftarkan.

Marco membaca laporan itu dengan tangan gemetar.

“Denise…”

Ia menatap wanita itu di ruang rapat.

“Kenapa?”

Denise menangis.

“Aku hanya ingin… kita punya perusahaan sendiri…”

“Tanpa Lia…”

PLAK!

Tamparan Marco memecah ruangan.

Semua orang terdiam.

Marco tidak marah.

Ia hanya… hancur.

“Bukan Lia yang menghancurkan kita.”

“Kaulah.”


Malam itu.

Marco datang ke apartemenku.

Dia berdiri lama di depan pintu.

Tidak lagi memakai jas mahal.

Hanya pria yang terlihat lelah.

“Lia…”

Aku membuka pintu.

Tanpa emosi.

Dia menunduk.

“Aku salah.”

“Aku kehilangan semuanya.”

Aku menatapnya lama.

Lalu berkata pelan:

“Kamu tidak kehilangan semuanya, Marco.”

“Kamu hanya kehilangan orang yang selama ini membuatmu berdiri.”

Dia mengangkat kepala.

Matanya merah.

“Aku bisa memperbaiki semuanya.”

Aku menggeleng.

“Tidak semua hal bisa diperbaiki.”

Aku menyerahkan map di tanganku.

“Perceraian sudah final.”

Dia menerima map itu dengan tangan gemetar.

“Jadi ini akhir kita?”

Aku tersenyum kecil.

“Tidak.”

“Ini akhir dari versi diriku yang selalu memaafkan tanpa dihargai.”

Aku menutup pintu.

Pelan.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama…

aku merasa bebas.


Enam bulan kemudian.

Bintang Media resmi diakuisisi oleh Aurora Creative Network.

Marco mengundurkan diri dari semua jabatan publik.

Denise menghilang dari industri.

Dan aku…

berdiri di panggung konferensi internasional di Singapura.

Reporter bertanya:

“Bu Lia, apa pelajaran terbesar dari perjalanan Anda?”

Aku tersenyum tenang.

“Jangan pernah menyerahkan hidupmu kepada orang yang hanya melihat nilaimu saat kamu berguna.”

Sorak tepuk tangan memenuhi ruangan.

Di barisan belakang…

seorang pria berdiri diam.

Marco.

Untuk sesaat, mata kami bertemu.

Tidak ada lagi cinta.

Tidak ada lagi kebencian.

Hanya masa lalu yang sudah selesai.

Aku mengangguk kecil.

Lalu berbalik.

Karena beberapa orang datang ke hidup kita…

bukan untuk tinggal.

Tapi untuk memastikan kita akhirnya belajar…

bagaimana cara pergi tanpa hancur.