Posted in

AKU MEMBAWA ANAKKU UNTUK MENDAFTAR SEKOLAH, DAN DI SANALAH AKU BARU TAHU SELAMA DELAPAN TAHUN AKU HANYA DIANGGAP ISTRI DALAM UCAPAN SAJA. NAMA AYAH DI AKTA KELAHIRANNYA KOSONG, SEMENTARA PRIA ITU SEDANG MEMAKAI BARONG DAN BERSIAP MENIKAHI SEORANG PERAWAT MUDA DI TENGAH BARANGAY.

AKU MEMBAWA ANAKKU UNTUK MENDAFTAR SEKOLAH, DAN DI SANALAH AKU BARU TAHU SELAMA DELAPAN TAHUN AKU HANYA DIANGGAP ISTRI DALAM UCAPAN SAJA. NAMA AYAH DI AKTA KELAHIRANNYA KOSONG, SEMENTARA PRIA ITU SEDANG MEMAKAI BARONG DAN BERSIAP MENIKAHI SEORANG PERAWAT MUDA DI TENGAH BARANGAY.

BAGIAN 1

Pagi itu, aku menarik sisa saldo sebesar ₱9.800 dari kartu payroll milik Renato, lalu membawa putri kami ke sekolah dasar negeri di sebuah kota pesisir di Cebu.

Usianya baru tujuh tahun.

Dia memeluk erat tas lamanya yang sudut-sudutnya sudah usang, lalu berulang kali mendongak kepadaku.

— Bu, hari ini aku akhirnya bisa memakai seragam sekolah sungguhan?

Aku mengusap rambutnya dan memaksa diri untuk tersenyum.

— Ya. Mulai hari ini, Sofia Ibu resmi menjadi murid sekolah.

Aku sudah menunggu hari itu sangat lama.

Selama delapan tahun, aku berjualan banana cue di depan gereja, menerima cucian dari tetangga, dan merawat ayah mertua yang terkena stroke hingga tidak bisa bangun dari tempat tidur.

Renato selalu berkata bahwa dia bekerja sebagai teknisi medis di sebuah klinik kota.

Katanya gajinya tidak besar, dan dia sering ikut misi kesehatan ke pulau-pulau terpencil.

Setiap bulan, dia hanya mengirim ₱6.000 kepadaku.

Dia selalu berkata:

— Kamu hanya di rumah. Hanya mengurus anak dan merawat Ayahku. Uang itu sebenarnya kamu habiskan untuk apa?

Aku mempercayainya.

Aku percaya sampai-sampai ketika seluruh tempat tidur ayahnya kotor, aku begadang semalaman untuk membersihkannya.

Aku percaya sampai-sampai ketika Sofia demam, aku menggendongnya ke pusat kesehatan barangay dan mengantre di sana, karena Renato melarangku membawanya ke klinik swasta tempat dia bekerja.

Katanya biaya di sana mahal.

Katanya orang miskin seperti kami tidak perlu bergaya.

Namun hari itu, saat petugas sekolah membuka dokumen Sofia, dia tiba-tiba terdiam.

— Bu Marisol, akta kelahiran PSA anak ini belum lengkap. Tidak ada nama maupun tanda tangan ayahnya.

Aku berkedip bingung.

— Tidak mungkin. Suami saya yang mengurus semua itu saat dia baru lahir.

Petugas itu memutar layar komputer ke arahku.

Nama ibu: Marisol Dela Cruz.

Nama ayah: kosong.

Status sipil ibu: lajang.

Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam dadaku.

Awalnya kupikir aku salah melihat.

Sambil memeluk map berisi dokumen, aku berlari menuju kantor catatan sipil kota.

Wanita di loket memeriksa data cukup lama sebelum akhirnya menatapku dengan rasa iba.

— Bu, kami tidak memiliki catatan pernikahan antara Ibu dan Renato Villanueva.

Aku berpegangan pada tepi meja.

— Kami sudah menikah delapan tahun. Kami menikah di gereja. Ada pastor, ada resepsi, ada keluarga yang hadir.

Dia menghela napas panjang.

— Kalau hanya menikah di gereja tetapi dokumennya tidak pernah didaftarkan ke catatan sipil, maka pernikahan itu tidak tercatat secara hukum. Dalam sistem kami, Renato masih berstatus lajang.

Aku hanya berdiri di sana.

Seluruh tubuhku terasa dingin.

Delapan tahun aku hidup sebagai istri.

Tetapi di atas kertas, aku hanyalah seorang perempuan tanpa hak apa pun.

Bahkan anak yang kulahirkan ternyata tidak pernah dia akui sebagai anaknya dalam akta kelahiran.

Aku bahkan belum sempat menelan rasa malu itu ketika ponsel petugas berbunyi.

Saat berbicara dengan seseorang di telepon, dia tidak sadar aku mendengar ucapannya.

— Ya, nanti siang ada registrasi pernikahan di Barangay San Isidro. Mempelai pria Renato Villanueva. Mempelai wanita Angela Reyes, perawat dari tim misi kesehatan pulau.

Duniaku seolah runtuh saat itu juga.

Renato akan menikahi wanita lain.

Sore ini.

Dan secara hukum, dia bebas melakukannya karena statusnya memang masih lajang.

Aku tidak menangis.

Aku hanya pulang ke rumah, mengunci kamar, lalu mengambil kotak besi yang kusimpan di bawah tempat tidur.

Di dalamnya ada kuitansi obat ayahnya, kuitansi popok dewasa, catatan utang susu Sofia, serta buku tulis tempat aku mencatat setiap hari saat membersihkan tubuh ayahnya, memberinya makan, mengganti seprai, dan merawat luka baringnya.

Aku juga memasukkan akta kelahiran Sofia ke dalam kotak itu.

Lalu aku mendorong kursi roda ayah mertuaku keluar dari kamar.

Mulutnya sudah miring akibat stroke, tetapi matanya masih jelas dan sadar.

Aku membungkuk dan berkata pelan:

— Ayah, hari ini saya akan membawa Ayah ke pernikahan putra Ayah.

Matanya membelalak.

Setetes air mata mengalir di pipinya yang hampir tidak bisa bergerak lagi.

Tepat saat itu, sebuah becak motor berhenti di depan gerbang.

Seorang kurir menyerahkan amplop merah dengan tulisan emas kepadaku.

Undangan pernikahan.

Nama mempelai pria: Renato Villanueva.

Nama mempelai wanita: Angela Reyes.

Di bagian paling bawah tertulis jelas:

“Kami dengan hormat mengundang Ny. Marisol Dela Cruz, pengasuh keluarga, untuk turut merayakan hari bahagia kami.”

Aku menatap lama kata-kata “pengasuh keluarga” itu.

Lalu aku tertawa.

BAGIAN 2 (TAMAT)

Kata-kata “pengasuh keluarga” di atas kertas undangan berlapis emas itu membakar sisa-sisa kesabaranku yang telah kukubur selama delapan tahun. Selama ini, alasan Renato menyembunyikan pernikahan kami dan mengosongkan nama ayah di akta kelahiran Sofia bukan karena kelalaian, melainkan rencana matang untuk membuang kami setelah tenagaku habis terkuras.

Aku memakaikan gaun putih terbaik yang dimiliki Sofia, lalu aku sendiri mengenakan pakaian terbaik yang kupunya. Kami mendorong kursi roda Ayah mertuaku menuju aula serbaguna Barangay San Isidro, tempat resepsi itu digelar.

Saat kami tiba, halaman barangay sudah dipenuhi mobil-mobil mewah dan hiasan bunga melati yang harum. Musik romantis mengalun indah dari pengeras suara. Di tengah panggung, Renato tampak begitu gagah mengenakan barong sulaman tangan yang mahal. Di sampingnya, seorang wanita muda berwajah cantik dengan gaun pengantin putih—Angela, sang perawat muda—tersenyum dengan sangat anggun.

Ibu mertuaku yang sedang berbincang dengan keluarga pengantin wanita langsung membelalak kaget begitu melihatku mendorong kursi roda suaminya masuk ke tengah aula.

“Marisol?! Kenapa kamu membawa suamiku ke sini?!” Ibu mertuaku berlari menghampiriku, suaranya berbisik penuh amarah. “Aku mengundangmu sebagai pengasuh agar kamu menjaga suamiku di rumah, bukan malah membawanya ke sini dan merusak hari bahagia Renato!”

“Hari bahagia?” Aku tertawa, suaraku sengaja kubuat lantang hingga beberapa tamu undangan di barisan belakang mulai menoleh. “Bagaimana mungkin sebagai ‘pengasuh yang berbakti’, aku melewatkan pernikahan pria yang selama delapan tahun ini kuurus ayahnya siang dan malam tanpa digaji sepeser pun?”

Mendengar keributan itu, Renato menoleh dari atas panggung. Wajahnya yang tadinya berseri langsung pucat pasi. Dia bergegas turun, mencoba mencengkeram lenganku untuk menarikku keluar. “Marisol! Jangan gila! Masuk ke dalam mobil sekarang, bawa Ayah pulang!”

“Lepaskan tanganmu, Renato,” kataku dengan nada sedatar es. Aku menghempaskan tangannya, lalu berjalan mantap menuju tengah panggung, tepat di hadapan Angela dan orang tuanya yang merupakan tokoh terpandang di barangay tersebut.

Angela mengerutkan kening, menatapku dengan bingung. “Siapa wanita ini, Renato? Dan kenapa dia membawa ayahmu yang sedang sakit?”

“Dia… dia hanya pengasuh yang kami sewa untuk merawat Ayah,” bohong Renato, suaranya gemetar hebat saat keringat dingin mulai membasahi barong-nya.

“Pengasuh?” Aku tersenyum lebar, lalu membuka kotak besi yang kubawa. Aku mengangkat dokumen akta kelahiran Sofia yang bagian ayahnya dikosongkan, lalu melemparkannya tepat ke depan wajah Angela.

“Saya adalah wanita yang dinikahi pria ini di gereja delapan tahun lalu. Saya adalah wanita yang melahirkan putrinya, namun sengaja dia kosongkan nama ayahnya di akta kelahiran agar dia bisa tetap berstatus lajang di catatan sipil dan menikahimu hari ini!”

Bisik-bisik langsung meledak hebat di seluruh aula barangay. Beberapa staf catatan sipil dan kepala barangay yang hadir sebagai saksi pernikahan langsung berdiri dari kursi mereka.

“Renato! Apa ini benar?!” Ayah Angela, seorang pensiunan pejabat, berdiri dengan wajah merah padam karena murka.

“Tidak, Ayah! Dia bohong! Dia hanya terobsesi padaku!” Renato berteriak panik.

“Obsesi?” Aku mengambil buku tulis tebal dari dalam kotak besi, buku yang mencatat setiap sendok makanan, setiap popok, dan setiap obat yang kuberikan kepada ayahnya selama bertahun-tahun. “Jika aku hanya pengasuh, tunjukkan kontrak kerjaku! Tunjukkan slip gaji di mana kamu membayarku lebih dari ₱6.000 sebulan untuk menghidupi tiga kepala!”

Tepat pada saat itu, sebuah suara erangan yang berat terdengar dari kursi roda. Ayah mertuaku, yang selama ini hanya bisa diam karena stroke, tiba-tiba menggerakkan tangan kirinya yang sehat. Dengan sisa-sisa kekuatannya, dia menunjuk lurus ke arah Renato, air mata mengalir deras dari matanya yang memerah.

Mulutnya yang miring terbuka, mengeluarkan suara terbata-bata namun jelas: “A-Anak… d-durhaka…”

Dua kata dari pria tua yang sekarat itu bagaikan ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati bagi reputasi Renato. Aula barangay mendadak sunyi senyap. Seluruh keluarga besar Angela langsung berdiri dengan wajah penuh kejijikan.

Plak!

Angela menampar wajah Renato dengan sangat keras hingga hiasan rambut pengantinnya terlepas. “Penipu! Kamu bilang kamu lajang dan berdedikasi pada misi kesehatan! Ternyata kamu menelantarkan darah dagingmu sendiri dan memperlakukan istrimu seperti budak!”

“Angela, dengarkan aku—”

“Pernikahan ini batal!” Ayah Angela berteriak, lalu memerintahkan para penjaga untuk menyeret Renato keluar dari aula. Tidak hanya itu, kepala barangay yang berada di sana langsung melangkah maju. “Tuan Renato Villanueva, tindakan Anda memalsukan status sipil untuk melakukan pernikahan ganda adalah pelanggaran berat. Petugas kami akan membawa Anda ke kantor polisi sekarang juga.”

Ibu mertuaku langsung lemas dan jatuh pingsan di lantai, sementara Renato menangis meraung-raung saat borgol besi mengunci pergelangan tangan barong-nya yang mewah. Dia menatapku dengan tatapan memohon, namun aku hanya membalasnya dengan senyuman dingin.

Aku berlutut di samping Sofia, memeluk putri kecilku yang menatap ayahnya diseret polisi tanpa rasa takut sedikit pun.

“Ayo kita pergi, Sofia,” bisikku lembut di telinganya. “Mulai hari ini, Ibu akan mengurus akta kelahiran barumu. Nama ayahmu akan tetap kosong, bukan karena kita miskin atau dibuang, tetapi karena kamu memang tidak butuh nama seorang pengecut untuk tumbuh menjadi orang hebat.”

Aku mendorong kursi roda Ayah mertuaku keluar dari aula barangay yang kini hancur berantakan. Kami melangkah menuju masa depan yang baru, meninggalkan Renato yang harus membayar setiap tetes keringat dan air mata yang dicurinya dari hidup kami di balik jeruji besi.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.