SUAMIKU TERPOTRET MEMELUK BEST FRIEND-KU DI BORACAY, DAN DIA BILANG: “MAAF, SALAH KIRIM”

Bagian 1 — Foto yang Masuk Pukul 23:47

Pukul 23:47 malam, ponselku menyala.

Pengirim: Camille.

Sahabatku selama dua belas tahun.

Dari masa kami masih berseragam putih-biru di Jakarta, naik mikrolet bersama menuju kampus, hingga bekerja di perusahaan logistik yang sama di kawasan Sudirman, aku percaya Camille adalah orang yang paling mengerti hidupku.

Sampai malam itu.

Sebuah foto masuk.

Di sana: Boracay, Filipina.

Langit oranye-merah saat matahari terbenam. Laut tenang. Angin menggerakkan rambut panjang Camille yang memakai gaun putih.

Dan di belakangnya…

suamiku.

Enzo Pratama.

Kemeja linen kremnya terbuka dua kancing. Tangannya melingkar di pinggang Camille.

Sangat dekat.

Terlalu dekat untuk disebut “foto biasa”.

Angle kamera sempurna.

Cahaya sunset jatuh tepat di wajah mereka.

Seolah foto itu direncanakan, bukan kebetulan.

Tidak sampai sepuluh detik, Camille mengirim pesan lagi.

“Aduh, salah kirim ya. Jangan berpikir macam-macam.”

Aku menatap layar.

Tidak berkedip.

Tidak menangis.

Tidak panik.

Aku hanya memperbesar foto itu.

Dan di pergelangan tangan Camille…

ada gelang perak kecil.

Huruf “E” terukir di sana.

Gelang yang kubeli sendiri untuk Enzo pada ulang tahun pernikahan kami.

Katanya hilang.

Katanya tidak tahu di mana.

Ternyata tidak hilang.

Hanya berpindah tangan.

Aku membalas pesan Camille:

“Terima kasih. Itu bagian yang selama ini kurang dariku.”

Lalu aku membuka Facebook.

Aku tidak langsung mengunggah foto penuh.

Aku crop wajah mereka.

Tangan Enzo di pinggangnya.

Gelang di pergelangan Camille.

Dan laut di belakang mereka.

Caption-ku singkat:

“Katanya sedang meeting klien di Cebu. Tapi foto ini di Boracay. Katanya sahabat. Tapi memakai gelang anniversary suamiku. Silakan tebak cerita sebenarnya. Hadiahnya buffet di BGC.”

Aku tekan “post”.

Lalu aku mematikan ponsel.

Dan tidur.

Tidur paling nyenyak dalam tiga tahun terakhir.


Pagi hari pukul 07:18.

Ponselku meledak.

238 panggilan tak terjawab.

Lebih dari 600 pesan.

Notifikasi Facebook merah penuh.

Enzo paling banyak menelepon.

Camille paling banyak mengirim pesan.

Ibu mertuaku, Teresa Pratama, mengirim voice note paling keras.

Belum sempat kubuka semuanya, telepon dari ibuku masuk.

“Alya! Kamu di mana? Keluarga suamimu ada di depan rumah!”

Aku duduk tegak.

“Siapa?”

“Mereka marah-marah! Bilang kamu mempermalukan Enzo! Menghancurkan reputasi keluarga mereka!”

Aku menatap jendela apartemenku di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Langit cerah.

“Ma, jangan buka gerbang.”

“Tapi mereka menggedor-gedor! Tetangga sudah keluar!”

“Panggil security. Kalau perlu, lapor ke RT.”

Telepon terputus.

Tak lama kemudian, Enzo menelepon.

Aku tidak menjawab.

Pesannya masuk bertubi-tubi:

“Althea, hapus postingan itu.”

“Sekarang semua orang di kantor tahu.”

“Kamu mau menghancurkan karierku?”

“Mama sampai tekanan darahnya naik karena kamu.”

“Camille menangis semalaman.”

Lalu berubah:

“Thea, dengarkan aku dulu.”

“Itu hanya foto grup.”

“Kami tidak punya hubungan apa pun.”

Aku membaca semuanya.

Tidak marah.

Tidak sakit.

Hanya lelah.

Enam pesan voice note dari Camille masuk.

Suara tangisnya pecah.

“Thea, aku salah kirim. Sumpah.”

“Itu harusnya ke grup kantor.”

“Jangan diperbesar.”

“Enzo sedang stres.”

“Aku tidak akan pernah mengkhianatimu.”

Aku hapus semuanya.


Jam 08:30.

Aku sudah di kantor.

Lantai 19, gedung kaca di Sudirman.

Begitu masuk, ruangan langsung hening.

Semua orang pura-pura bekerja.

Tapi aku tahu.

Mereka sudah melihat postingan itu.

Aku meletakkan tas, menyalakan laptop.

Email masuk:

Operations Director

Subjek:
“Rapat darurat: Biaya proyek Boracay — pukul 10.00.”

Aku tersenyum kecil.

Jadi ini?

Mereka pikir ini hanya drama rumah tangga.

Mereka tidak tahu…

aku sudah menunggu momen ini selama tiga bulan.

Dan sekarang…

momen itu baru saja dimulai.

Bagian 2 — Yang Ternyata Sudah Kusiapkan Sejak Lama

Pukul 10:00 pagi, ruang rapat lantai 19 penuh.

Enzo duduk di ujung meja, wajahnya tegang.

Di sebelahnya, Camille tidak berani menatap siapa pun.

Dan di depan mereka…

aku.

Tanpa ekspresi.

Tanpa suara gemetar.

Hanya satu map tebal di tanganku.

“Rapat ini tentang apa sebenarnya?” tanya Enzo.

Aku membuka laptop.

Layar menyala.

Satu per satu file muncul.

“Boracay project expense report.”

“Client itinerary.”

“Hotel booking logs.”

“Private villa reservation.”

Enzo mengerutkan kening.

“Kenapa ini ada di sini?”

Aku menatapnya.

“Karena tidak ada meeting klien di Cebu.”

Ruangan langsung hening.

Camille menunduk.

Aku lanjutkan.

“Dan tidak ada client trip selama tiga hari.”

“Yang ada hanya… perjalanan pribadi yang dibiayai perusahaan.”

Bisik-bisik mulai terdengar di ruangan.

Enzo berdiri sedikit.

“Althea, ini bukan seperti yang kamu pikirkan.”

Aku tersenyum kecil.

“Oh ya?”

Aku klik layar berikutnya.

Transfer dana perusahaan.

Rp 480 juta.

Rp 320 juta.

Rp 610 juta.

Semua mengarah ke satu nama vendor:

Boracay Lux Events Management.

Dan di bawahnya…

foto yang sama.

Enzo.

Camille.

Sunset.

Pelukan.

Ruangan mulai gaduh.

Direktur keuangan langsung berdiri.

“Itu dana operasional!”

“Siapa yang approve ini?!”

Semua mata perlahan mengarah ke Enzo.

Dan untuk pertama kalinya…

dia tidak punya jawaban.


Aku menutup laptop.

“Enzo,” kataku pelan.

“Kamu bilang aku terlalu emosional semalam.”

“Kamu bilang aku menghancurkan kariermu.”

Aku berjalan mendekatinya.

“Padahal aku hanya memposting satu foto.”

Aku berhenti di depannya.

“Tapi kamu…”

“sudah menghancurkan semuanya sejak tiga bulan lalu.”

Camille mulai menangis.

“Althea… aku bisa jelaskan…”

Aku menatapnya.

“Tidak perlu.”

“Aku sudah tahu semuanya.”

“Dari awal.”

Ruangan langsung sunyi.

Enzo menatapku.

“Apa maksudmu?”

Aku mengeluarkan satu dokumen terakhir.

Audit internal.

Yang sudah kutandatangani diam-diam dua bulan lalu.

“Semua transaksi kalian…”

“sudah kuikuti sejak pertama kali kalian mulai ‘meeting klien’.”

Wajah Enzo pucat.

“Jadi kamu… sudah tahu?”

Aku mengangguk.

“Sejak awal.”

“Dan kamu tetap diam?” suaranya bergetar.

Aku tersenyum tipis.

“Aku tidak diam.”

“Aku hanya menunggu kalian selesai menggali kuburan kalian sendiri.”


Sore itu.

Kabar menyebar cepat.

Enzo diberhentikan dari jabatannya.

Camille diskors tanpa batas waktu.

Kasus audit perusahaan dibuka.

Rp 1,4 miliar dana operasional ditemukan disalahgunakan.

Dan aku?

Aku tidak menangis.

Tidak berteriak.

Tidak menghancurkan apa pun.

Aku hanya berdiri di balkon kantor, memandang Jakarta yang panas dan sibuk.

Teleponku bergetar.

Enzo.

Aku jawab.

“Alya… tolong… kita bisa mulai dari awal lagi…”

Aku diam sebentar.

Lalu berkata pelan:

“Enzo.”

“Kamu tidak kehilangan aku kemarin.”

“Kamu kehilangan aku sejak pertama kali kamu memilih berbohong.”

Sunyi.

“Dan Camille?”

Aku tersenyum kecil.

“Dia bukan yang menghancurkan rumah tangga kita.”

“Dia hanya orang yang membantu menunjukkan bahwa rumah itu sudah retak sejak lama.”

Aku memutuskan sambungan.

Dan untuk pertama kalinya…

namaku tidak lagi terikat pada seseorang yang tidak tahu cara menjaganya.


Tiga bulan kemudian.

Perusahaan restrukturisasi total.

Aku dipromosikan menjadi Head of Operations Asia.

Camille mengundurkan diri.

Enzo keluar dari perusahaan.

Tidak ada lagi “kita”.

Hanya hidup yang berjalan masing-masing.

Suatu malam, ponselku berbunyi lagi.

Nomor tidak dikenal.

Pesan singkat:

“Kalau waktu bisa diulang, aku tidak akan pergi ke Boracay itu.”

Aku membaca pesan itu lama.

Lalu hanya menjawab:

“Bukan Boracay yang merusak semuanya.”

“Keputusanmu yang melakukannya.”

Aku mematikan ponsel.

Dan di balik kaca apartemenku yang tinggi di Jakarta…

aku akhirnya mengerti satu hal sederhana:

Bukan semua pengkhianatan datang dengan suara keras.

Beberapa datang dalam bentuk foto indah di sunset…

yang dikirim oleh orang yang kita pikir tidak akan pernah menusuk dari belakang.