Posted in

Saya melamar sebagai pengasuh rumah tangga untuk sebuah keluarga kaya dengan gaji tahunan sebesar Rp175 juta.

Saya melamar sebagai pengasuh rumah tangga untuk sebuah keluarga kaya dengan gaji tahunan sebesar **Rp175 juta**.

Mansion itu berada di dalam kompleks perumahan elite dengan keamanan sangat ketat. Banyak satpam berjaga di luar gerbang. Saat agen mengantar saya masuk, dia berbisik mengingatkan:

“Bu Tran, keluarga ini bukan keluarga biasa. Anda harus benar-benar waspada.”

Saya hanya mengangguk tanpa menjawab.

Sang nyonya rumah, Elena Santos, sedang duduk di sofa ruang tamu.

Tubuhnya sangat kurus hingga gaun tidur sutra putih yang dikenakannya tampak kebesaran. Wajahnya sangat cantik, tetapi matanya kosong dan menyeramkan, seperti bola kaca yang tertutup debu, seolah sudah kehilangan seluruh semangat hidup.

Di atas meja tergeletak resume saya.

Sangat sederhana, hampir kosong.

Selain nama saya, hanya ada satu kalimat:

**“Sepuluh tahun pengalaman sebagai housekeeper kelas premium.”**

Elena bahkan tidak melihat resume itu.

Dia hanya menatap saya lurus dan mengajukan satu pertanyaan:

“Mertua saya, adik ipar saya, dan semua kerabat suami saya… mereka bekerja sama untuk menindas saya.”

“Kalau saya mempekerjakan Anda, apa yang akan Anda lakukan?”

Suaranya sangat pelan.

Seperti suara seseorang yang sedang tenggelam dan meminta pertolongan terakhir.

Agen di samping saya tampak gelisah. Dia terus mengedipkan mata dan berbisik:

“Katakan sesuatu yang bagus!”

Saya mengabaikannya.

Saya sedikit membungkuk ke depan dan menatap langsung mata Elena.

“Bagaimana mereka menindas Anda?”

“Apakah mereka mengucilkan Anda dengan kata-kata? Mengambil uang Anda? Atau bekerja sama dengan suami Anda agar Anda tidak punya suara di rumah ini?”

Pupil mata Elena mengecil.

Jelas dia tidak menyangka saya akan bertanya sejelas itu.

Saya melanjutkan:

“Masalah yang berbeda membutuhkan cara penyelesaian yang berbeda.”

“Jadi apa yang akan saya lakukan… tidak bergantung pada saya.”

Saya berhenti beberapa detik lalu berkata perlahan:

“Melainkan bergantung pada Anda, Bu Elena.”

“Saya hanya ingin tahu… sejauh mana Anda ingin saya bertindak?”

Kata-kata itu seperti kunci yang akhirnya cocok dengan gembok yang telah lama berkarat di hatinya.

Mata yang tadi kosong kini menunjukkan sedikit cahaya.

Elena menatap saya lama, seolah sedang memastikan sesuatu.

Lalu dia mengambil ponselnya.

“Pengacara Ramos, segera bawa kontrak kerja tingkat tertinggi ke sini. Masa kontraknya sepuluh tahun.”

Agen di samping saya sampai ternganga karena kaget.

Setelah kontrak ditandatangani, Elena langsung menyuruh agen itu pergi.

Tinggal kami berdua di ruang tamu.

Dia melepas gelang Cartier dari pergelangan tangannya dan melemparkannya ke atas meja.

Suara logam yang membentur kaca terdengar jelas.

“Uang muka.”

“Kalau masih kurang, bilang saja.”

Saya tidak menyentuh gelang itu.

“Bu Elena, jasa saya tidak dibayar per tahun.”

“Saya akan pergi setelah masalah Anda selesai.”

“Kontrak ini hanya untuk memberi Anda rasa tenang.”

Elena terdiam.

Lalu dia tersenyum pahit.

“Anda memang berbeda dari mereka.”

Dia tidak tahu…

Saya sebenarnya bukan pengasuh rumah tangga.

Nama saya An-An Tran.

Saya adalah pendiri sebuah perusahaan manajemen krisis pribadi.

Pekerjaan kami adalah masuk ke keluarga target dengan berbagai identitas dan menyelesaikan berbagai “masalah keluarga” yang tidak dapat diselesaikan oleh hukum atau cara biasa.

Singkatnya…

Saya ahli dalam membereskan kekacauan keluarga orang lain.

“Jadi, dari mana kita mulai?”

Tanya Elena dengan cemas.

“Jangan terburu-buru.”

Saya melihat sekeliling mansion.

Rumah ini sangat besar.

Dekorasinya mewah.

Namun terasa dingin, seolah tidak ada kehidupan di dalamnya.

“Biarkan saya mengamati dulu.”

“Selama seminggu ke depan, jalani hidup seperti biasa. Jangan melakukan hal yang berbeda.”

Kekecewaan terlihat di matanya, tetapi dia tetap mengangguk.

Kamar saya berada di sudut lantai dua, jauh dari kamar utama.

Tidak besar.

Namun bersih.

Saya meletakkan koper saya.

Hal pertama yang saya lakukan bukan membereskan kamar, melainkan memasang beberapa penerima sinyal kecil di tempat-tempat tersembunyi.

Selama tiga hari berikutnya, saya memainkan peran sebagai pengasuh rumah tangga biasa dengan sempurna.

Membersihkan rumah.

Memasak.

Dan tetap diam.

Suami Elena bernama Rafael Santos.

Di luar, dia tampak ramah dan sopan.

Dia pulang tepat waktu setiap hari, tetapi hampir tidak pernah berbicara dengan istrinya. Bahkan saat makan, dia lebih banyak diam.

Tatapannya kepada Elena sangat rumit.

Ada sedikit rasa kasihan.

Tetapi yang lebih dominan adalah kelelahan dan ketidakpedulian.

Di rumah ini, “penguasa” yang sebenarnya adalah ibu mertuanya.

Doña Remedios.

Dia datang setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu.

Saat pertama kali melihat saya, dia menatap saya dari ujung kepala sampai kaki seperti sedang memeriksa barang dagangan.

“Elena, ini pengasuh yang kamu pekerjakan?”

“Kelihatannya cukup mampu.”

“Berapa gajinya setiap bulan?”

Pertanyaan itu ditujukan kepada saya, tetapi dia bahkan tidak menunggu Elena menjawab.

Dia langsung memerintah saya:

“Di rumah ini, dengarkan saya saja.”

“Elena masih muda, dia belum mengerti apa-apa.”

Tangan Elena memutih karena mengepal terlalu kuat.

Namun dia tidak berkata apa-apa.

Saya menunduk dan menjawab dengan patuh:

“Baik, Doña.”

Doña Remedios langsung terlihat puas.

Dia berjalan berkeliling rumah seperti ratu di wilayah kekuasaannya sendiri, lalu berhenti di depan lemari pajangan di ruang tamu.

Ada ruang kosong di rak yang masih menyisakan lapisan debu tipis.

Dia menghela napas.

“Elena, gelang giok ini akan saya simpan dulu untukmu.”

“Terlalu berharga untuk ditaruh sembarangan. Nanti bisa rusak.”

Wajah Elena langsung pucat.

Saya melihat Rafael sedikit mengernyit.

Namun sesaat kemudian ekspresi itu hilang, dan dia kembali menutupi wajahnya dengan koran seolah tidak mendengar apa pun.

Doña Remedios melanjutkan:

“Nanti kalau kamu sudah lebih dewasa, saya akan mengembalikannya.”

“Saya melakukan ini demi kebaikanmu.”

Setelah mengatakan itu, dia duduk di sofa bersama adik ipar Elena, Letty, sambil menunggu saya menyajikan buah.

Letty, yang berusia sekitar dua puluhan, berpakaian sangat mencolok. Sambil memakan melon, dia berkata manja:

“Kak, aku melihat tas yang sangat aku suka.”

“Aku cuma kurang sekitar Rp20 juta.”

Rafael menurunkan korannya.

“Bukankah bulan lalu aku sudah memberimu Rp50 juta?”

“Itu habis untuk membayar kartu kredit.”

Letty cemberut.

“Tolonglah, Kak.”

“Lagipula Kak Elena sangat kaya, masa tidak mau mendukung aku?”

“Kita kan keluarga, ya tidak?”

Setelah mengatakan itu, dia melirik Elena dengan senyum mengejek.

Tubuh Elena sedikit gemetar.

Saya melihat semuanya.

Malam itu, setelah semua orang pergi, saya mengetuk pintu kamarnya.

Elena sedang duduk di depan meja rias.

Saya mendekat dan bertanya pelan:

“Apakah gelang giok itu benar-benar penting?”

Air mata langsung mengalir dari matanya.

“Itu peninggalan nenek saya…”

“Berapa nilainya?”

“Saat dibeli dulu, sekitar Rp80 juta.”

“Hanya Rp80 juta untuk gelang itu,” Elena terisak, menyeka air matanya dengan kasar. “Tapi bagi saya, nilainya tak terhingga. Itu satu-satunya barang yang membuat saya merasa masih memiliki keluarga yang menyayangi saya. Mereka… mereka perlahan-lahan menguliti harga diri saya, An-An.”

Saya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menandakan bahwa mangsa telah masuk ke dalam perangkap yang salah.

“Uang Rp80 juta, tas Rp20 juta, dan uang bulanan Rp50 juta,” saya menggumam, menghitung angka-angka itu di dalam kepala. “Bu Elena, dalam dunia manajemen krisis, kami tidak hanya menghentikan penindasan. Kami menghancurkan fondasi tempat para penindas itu berdiri. Apakah Anda siap?”

Elena mendongak, matanya yang semula layu kini memancarkan api kecil yang siap membakar. “Lakukan apa saja. Asal mereka tahu rasa.”

Tahap 1: Memutus Rantai Pasokan

Keesokan harinya adalah hari Sabtu—hari kunjungan Doña Remedios. Namun, Jumat malam sebelumnya, saya sudah meretas sistem mutasi rekening perusahaan keluarga Santos melalui alat yang saya pasang di ruang kerja Rafael.

Saat sarapan pagi, Rafael menerima telepon darurat dari akuntan perusahaannya. Wajahnya mendadak pucat pasi.

“Ada apa, Rafael?” tanya Elena, berakting dengan sangat tenang sesuai instruksi saya.

“Ada pemeriksaan pajak mendadak dari pusat… semua rekening operasional dan pribadi milikku dibekukan sementara untuk audit,” bisik Rafael berkeringat dingin.

Tentu saja itu bukan audit sungguhan, melainkan manipulasi data yang dikirimkan oleh tim siber saya ke sistem internal bank mereka, menciptakan kepanikan palsu yang membutuhkan waktu satu minggu untuk diselesaikan.

Tepat jam sepuluh pagi, Letty datang dengan wajah merengut, langsung menuntut uang Rp20 juta yang dijanjikan Rafael.

“Aku tidak punya uang cash sekarang, Letty! Rekeningku dibekukan!” bentak Rafael yang stres berat.

Letty terkejut, lalu menoleh pada Elena dengan sinis. “Kak Elena kan punya tabungan pribadi? Pinjam dulu dong!”

Sebelum Elena menjawab, saya melangkah maju sambil membawa nampan teh, lalu dengan sengaja menjatuhkan secangkir teh hangat ke arah tas bermerek milik Letty.

“Ah! Maaf, Nona Letty! Saya tidak sengaja!” seru saya panik (yang tentu saja palsu).

“Heii! Apa-apaan kamu! Tas mahal ini—” Letty menjerit hysteris, namun saat dia membuka tasnya untuk menyelamatkan isinya, beberapa lembar tagihan utang kasino ilegal jatuh berserakan di lantai.

Rafael memungut lembaran itu. Matanya membelalak melihat angka utang adiknya yang mencapai Rp500 juta.

“Jadi uang Rp50 juta bulan lalu bukan untuk kartu kredit, tapi untuk judi?!” raung Rafael. Pertengkaran hebat pun pecah. Letty menangis bersimpuh, sementara Rafael menolak membantunya. Umpan pertama berhasil.

Tahap 2: Menjerat Sang Ratu

Sore harinya, Doña Remedios datang dengan anggun, tidak tahu menahu tentang badai yang menimpa anak-anaknya. Di pergelangan tangannya, melingkar gelang giok milik nenek Elena.

“Ada apa dengan wajah kalian? Mengapa tegang sekali?” tanya Doña Remedios ketus.

Saya berjalan mendekatinya dengan sangat patuh, membawa sebuah kotak beludru hitam yang mewah. “Doña Remedios, maaf menyela. Kemarin Bu Elena menerima hadiah ini dari seorang kolektor barang antik di Hong Kong. Karena Bu Elena merasa belum cukup dewasa untuk menyimpannya, dia ingin Doña yang merawatnya.”

Saya membuka kotak itu. Di dalamnya terbaring sebuah gelang giok yang identik dengan yang dipakai Doña Remedios, namun dengan gurat warna hijau yang jauh lebih pekat dan memukau.

Mata tua Doña Remedios langsung berbinar serakah. “Ini… giok jenis Imperial Jade! Harganya bisa miliaran!”

“Benar, Doña. Tapi kolektor itu bilang, giok ini hanya akan memancarkan aura keberuntungan jika disandingkan dengan giok pasangannya. Jika dipakai bersamaan, pemiliknya akan awet muda,” hasut saya dengan nada mistis yang sangat meyakinkan.

Tanpa berpikir panjang, Doña Remedios langsung melepas gelang giok tua milik nenek Elena, melemparnya ke atas meja seperti sampah, dan merebut gelang baru di dalam kotak untuk dipasang di kedua tangannya.

“Bagus, Elena. Akhirnya kamu tahu cara berbakti,” ujar Doña Remedios sombong.

Dia tidak tahu bahwa gelang “miliaran” itu adalah replika sintetis berkualitas tinggi yang diproduksi tim saya dalam waktu 24 jam, lengkap dengan pelacak GPS mikro dan bahan kimia khusus yang akan menimbulkan reaksi gatal-gatal hebat dalam waktu dua jam jika terkena keringat.

Elena mengambil kembali gelang asli neneknya dari meja, meremasnya erat dengan air mata kemenangan yang tertahan.

Tahap 3: Skakmat

Malam harinya, bom terakhir diledakkan.

Saat makan malam bersama, Doña Remedios mulai menggaruk-garuk pergelangan tangannya hingga memerah dan lecet. Di saat yang sama, tablet di meja Rafael berbunyi. Sebuah email anonim masuk, berisi rekaman suara rahasia.

Rafael membukanya dengan speaker keras.

“Ibu tenang saja, Rafael itu bodoh. Dia mengira Elena mandul karena penyakit, padahal aku yang terus memasukkan obat pencegah kehamilan ke dalam vitaminnya setiap bulan. Selama mereka tidak punya anak, seluruh harta warisan Santos akan jatuh ke tangan kita saat Rafael mati nanti…”

Itu adalah suara Letty dan Doña Remedios yang terekam oleh penyadap yang saya pasang di ruang tamu beberapa hari lalu.

Suasana ruang makan langsung sedingin es.

Rafael menatap ibu dan adiknya dengan pandangan tidak percaya dan muak yang teramat sangat. Pengorbanan dan rasa lelahnya selama ini dibalas dengan pengkhianatan keji oleh darah dagingnya sendiri.

“Keluar,” bisik Rafael, suaranya bergetar hebat. “KELUAR DARI RUMAHKU!”

Doña Remedios yang menahan gatal luar biasa dan Letty yang menangis histeris akhirnya diusir malam itu juga oleh para satpam kompleks—satpam yang sama yang dulu memastikan mereka masuk dengan terhormat. Rafael juga menyatakan akan mencabut seluruh fasilitas dan saham mereka di perusahaan.

Akhir Cerita

Dua hari kemudian, suasana mansion terasa berbeda. Hangat, lega, dan bernyawa.

Rafael terduduk di ruang tamu, meminta maaf bersimpuh di hadapan Elena atas ketidarpeduliannya selama ini. Dia berjanji akan membawa Elena pindah jauh dari jangkauan keluarganya untuk memulai hidup baru.

Saya berdiri di ambang pintu dengan koper di tangan. Tugas saya selesai lebih cepat dari seminggu.

Elena berjalan menghampiri saya di halaman depan, mengantar saya menuju mobil agen yang sudah menunggu. Wajahnya kini merona, matanya bersinar terang dan penuh kehidupan.

Dia menyodorkan sebuah amplop tebal beserta gelang Cartier yang tempo hari sempat saya tolak.

“Ini untuk jasamu, An-An. Dan… terima kasih telah mengembalikan hidupku,” ucapnya tulus.

Saya menerima amplop itu, namun mengembalikan gelang Cartier-nya sambil tersenyum.

“Simpan saja gelangnya, Bu Elena. Gunakan itu untuk menghiasi hidup baru Anda.”

Saya masuk ke dalam mobil. Saat mobil bergerak membelah gerbang kompleks elite yang ketat itu, saya melihat ke kaca spion. Elena berdiri tegak, melambaikan tangan dengan senyuman seorang pemenang.

Saya membuka tablet saya, menghapus profil keluarga Santos dari daftar target, dan membuka berkas baru yang dikirimkan oleh sekretaris saya.

Target Baru: Keluarga pebisnis properti di Jakarta.

Masalah: Perebutan harta gono-gini dengan metode mistis.

Identitas Baru: Guru les privat matematika.

Saya menyandarkan kepala ke kursi, tersenyum tipis. Pekerjaan membersihkan kekacauan orang kaya memang selalu menyenangkan.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.