Posted in

Aku baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutku masih basah, air menetes di bahuku, dan tubuhku hanya terbungkus handuk ketika aku mendengar suara “klik” yang sangat pelan dari ruang tamu.

Aku baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutku masih basah, air menetes di bahuku, dan tubuhku hanya terbungkus handuk ketika aku mendengar suara “klik” yang sangat pelan dari ruang tamu.

Awalnya kupikir itu hanya suara angin.

Namun beberapa detik kemudian… aku mendengar suara sandal yang diseret perlahan di atas lantai.

Jantungku langsung berdegup kencang.

Baru dua hari aku tinggal di kondominium ini di Bonifacio Global City, Taguig. Kardus-kardus pindahan masih berserakan di lantai, bahkan wifi pun belum terpasang.

Mustahil ada orang lain di dalam.

Aku melangkah keluar.

Dan seketika membeku di tempat.

Di tengah ruang tamu berdiri seorang wanita paruh baya membelakangiku. Ia mengenakan piyama berwarna merah muda, dan sandal yang dipakainya—

adalah sandal yang baru kubeli pagi tadi di minimarket bawah gedung.

Dia sedang membuka… kulkasku.

Saat mendengar langkahku, ia menoleh.

Mata kami bertemu.

Sebelum aku sempat berkata apa pun, dia lebih dulu berbicara. Keningnya berkerut saat menatapku dari atas sampai bawah, suaranya penuh penilaian:

—Kamu penyewa baru di sini? Kamu perempuan, tapi berpakaian seperti itu di rumah… tidak malu? Banyak pria di gedung ini, seharusnya kamu lebih hati-hati.

Aku terdiam selama dua detik.

Rasanya seperti dipukul di kepala.

—…Siapa Anda?

Dia menutup kulkas seolah-olah itu miliknya sendiri.

—Saya tinggal di unit 15C. Nama saya Marites Santos.

Dia menunjuk ke arah balkon.

—Dulu saat unit ini kosong, saya sering membukanya supaya udaranya berganti. Bahkan masih ada beberapa barang saya di luar sana. Tiba-tiba kamu pindah tanpa memberi tahu, sampai-sampai saya sempat mengira saya masuk ke unit yang salah.

Aku menoleh ke arah pintu.

Pintunya sedikit terbuka.

Tidak ada tanda-tanda pembobolan.

Artinya… kunci.

Punggungku langsung terasa dingin.

Aku menyewa unit ini langsung dari pemiliknya, Carlo Rivera. Dia dengan jelas mengatakan bahwa hanya ada satu set kunci, dan semuanya sudah diberikan kepadaku.

Kalau begitu…

Dari mana wanita ini mendapatkan kunci?

Saat aku masih memikirkannya, dia terus berbicara seolah-olah berniat baik:

—Kardus-kardus di balkon itu jangan dipindahkan, itu milik saya. Dan rak sepatu di lorong biarkan saja di sana, semua penghuni menggunakannya. Kamu tinggal sendiri, jangan membesar-besarkan masalah. Harus bisa hidup rukun dengan tetangga.

Aku tertawa kecil.

Bukan karena itu lucu.

Tapi karena aku sudah sangat marah.

Seorang asing.

Menggunakan kunciku untuk masuk.

Memakai sandalku.

Membuka kulkasku.

Berdiri di ruang tamuku.

Dan sekarang malah mengajariku cara hidup.

Aku mengambil ponsel dari meja, menyalakan kamera video, lalu mengarahkannya ke wajahnya.

—Coba ulangi lagi apa yang baru saja Anda katakan.

Ekspresinya langsung berubah.

—Apa yang kamu lakukan?!

—Merekam video. Supaya ada bukti.

Aku mengencangkan handukku dan menatapnya tanpa berkedip.

—Dari siapa Anda mendapatkan kunci itu? Rumah siapa yang Anda masuki? Dan menurut Anda, Anda sedang berbicara kepada siapa?

Suaranya meninggi:

—Sikap apa itu?! Saya cuma memberi nasihat, malah direkam?! Dulu pemilik unit ini tidak seperti ini—

Aku langsung menekan tombol panggil.

—Halo, saya ingin melaporkan seseorang yang masuk ke unit saya tanpa izin. Orangnya masih berada di sini sekarang.

—Kamu sudah gila?!

Dia mencoba mendekat.

Aku mundur dan mendorong sebuah bangku kecil ke antara kami.

—Satu langkah lagi, saya juga akan melaporkan percobaan pencurian ponsel saya.

Dia langsung berhenti.

Dan pada saat itu—

Terdengar suara seorang pria dari luar…

—sebuah suara bariton yang terengah-engah, disusul deru langkah kaki yang terburu-buru mendekati pintu unitku yang setengah terbuka.

“Tante Marites! Dios mio, Tante! Apa yang Tante lakukan di sini?!”

Seorang pria jangkung dengan kemeja flanel yang lengannya digulung setengah tiang muncul di ambang pintu. Napasnya memburu, wajahnya pucat pasi penuh keringat.

Carlo Rivera. Pemilik unit ini.

Aku tidak menurunkan ponselku. Kameraku kini menangkap dua objek sekaligus: wanita paruh baya yang mendadak salah tingkah, dan Carlo yang tampak seperti orang yang baru saja tertangkap basah melakukan kejahatan besar.

“Carlo! Bagus kamu datang!” Marites langsung merubah suaranya menjadi lengkingan penuh drama, menunjuk-nunjuk ke arahku. “Lihat penyewa barumu ini! Tidak sopan sekali! Tante cuma mau mengecek unit seperti biasa, dia malah merekam Tante dan mengancam panggil polisi!”

Carlo tidak mendengarkan tantenya. Tatapannya beralih kepadaku—atau lebih tepatnya, ke arah kamera ponselku yang masih menyala merah, merekam setiap gerak-gerik mereka. Pria itu menelan ludah dengan susah payah.

“Jen… tolong turunkan ponselmu dulu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik,” kata Carlo, suaranya gemetar, berusaha terdengar sefirasat mungkin meski matanya memancarkan kepanikan murni.

“Bicarakan baik-baik?” Aku terkekeh sinis, melangkah mundur agar tetap berada dalam jarak aman di balik bangku pembatas. “Carlo, kamu bilang padaku dua hari lalu kalau hanya ada satu set kunci untuk unit ini, dan semuanya sudah ada di tanganku. Jadi, bisa tolong jelaskan kenapa ‘Tante’ Marites-mu ini bisa masuk ke unitku seolah-olah ini dapur rumahnya sendiri?”

Carlo membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar.

“Dan Anda,” aku mengarahkan lensa kamera tepat ke wajah Marites yang mulai memerah menahan malu dan amarah. “Anda bilang masuk untuk ‘mengganti udara’? Memakai sandalku, membuka kulkasku, dan menguliahi caraku berpakaian di unit yang sudah kubayar lunas? Itu namanya penyusupan. Trespassing.”

“Carlo! Kamu dengar sendiri kan bagaimana dia bicara pada orang tua?!” Marites berteriak histeris, mencoba mencari pembelaan. “Tante ini tantemu! Hak Tante untuk tahu siapa yang tinggal di properti keluarga kita!”

Properti keluarga. Dua kata itu membuat sekat di kepalaku berdenting.

Aku menatap Carlo dengan kilatan amarah yang semakin menyala. “Properti keluarga? Carlo, di kontrak tertulis dengan jelas bahwa unit ini milik pribadimu. Kamu tidak pernah bilang kalau unit ini dikelola bersama keluargamu yang… tidak punya konsep privasi.”

“Jen, maaf… sungguh, aku minta maaf,” Carlo maju satu langkah, tangannya terangkat memberi gestur menenangkan. “Tante Marites memang memegang kunci duplikat lama sejak sebelum unit ini direnovasi. Aku… aku lupa memintanya kembali. Aku bersumpah tidak tahu dia akan datang hari ini.”

“Kamu bohong, Carlo,” kataku dingin. “Kamu tidak lupa. Kamu sengaja membiarkannya, atau kamu terlalu takut pada tantemu sampai mengorbankan keamanan penyewamu.”

Tiba-tiba, suara dari seberang teleponku—yang sejak tadi masih tersambung dengan pihak manajemen gedung dan sekuriti—berbunyi nyaring melalui loudspeaker:

“Halo, Ibu? Petugas keamanan dan dua polisi patroli BGC sudah berada di dalam lift menuju lantai lima belas Anda. Mohon tetap tenang, kami akan segera sampai.”

Mendengar kata ‘polisi’, wajah Marites langsung berubah dari angkuh menjadi panik luar biasa. Ia menatap Carlo, lalu menatapku dengan mata membelalak.

“Kamu… kamu benar-benar memanggil polisi hanya karena masalah sepele begini?!” suara Marites mencicit. Dia buru-buru melepas sandal minimarket yang dipakainya dengan kasar, menendangnya ke sudut ruangan, lalu mencoba melangkah menuju pintu keluar.

“Jangan bergerak satu langkah pun dari ruangan ini,” ujarku, suaraku mengalun tenang namun penuh ancaman. “Pintu keluar ada di belakangku. Kalau Anda mencoba menerobos, saya tidak akan segan-segan menambahkan pasal tindakan kekerasan fisik di depan polisi.”

Marites membeku di tempat. Wajahnya yang tadi penuh penilaian kini pucat pasi, sementara Carlo hanya bisa meremas rambutnya dengan frustrasi, menyadari bahwa reputasi unit kondominiumnya—dan mungkin nama baik keluarganya di Bonifacio Global City—baru saja hancur berantakan di tangan seorang penyewa yang salah mereka remehkan.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.