Angela masih gemetar memegang hasil medisnya.
Dokter menatapnya serius.
“Minuman harian… apakah ada sesuatu yang selalu kamu konsumsi?”
Angela menelan ludah.
“Kopi…”
Suaranya hampir tidak terdengar.
“Kopi yang diberikan Sofia… dari suaminya.”
Seketika ruangan berubah tegang.
Sofia langsung membeku.
Marco, suaminya, yang berdiri di belakangnya, tidak bergerak sama sekali.
Namun tatapannya berubah.
Lebih dingin.
Lebih tajam.
Dokter membuka kembali hasil laboratorium Angela.
“Kerusakan ginjal awal terlihat jelas.”
“Gangguan hormon dan pola tidur ekstrem.”
“Dan ada zat stimulan dengan dosis tidak normal.”
Sofia merasa napasnya terhenti.
“Zat apa itu?” tanyanya pelan.
Dokter ragu.
“Seperti campuran farmasi yang tidak seharusnya dikonsumsi rutin tanpa pengawasan medis.”
Keheningan jatuh.
Hanya suara AC yang terdengar.
Sofia menoleh ke Marco.
“Marco… jelaskan.”
Marco tersenyum tipis.
Tapi kali ini bukan senyum hangat seperti dulu.
Lebih seperti… pengakuan yang ditahan lama.
“Kalian terlalu membesar-besarkan kopi,” katanya pelan.
Angela tiba-tiba menangis.
“Saya… saya hanya minum itu setiap hari…”
Dokter mengangkat tablet.
“Dan ini yang paling mengkhawatirkan.”
Di layar terlihat analisis kimia kopi tersebut.
Ada catatan kecil:
“Efek akumulatif. Dampak berbeda tergantung metabolisme pengguna.”
Sofia langsung pucat.
“Akumulatif…?”
Dokter mengangguk.
“Artinya efeknya tidak sama pada setiap orang.”
Semua mata tertuju pada Angela.
Marco akhirnya melangkah maju.
Dan untuk pertama kalinya, suaranya berubah dingin.
“Kopi itu tidak pernah dibuat untuk dibagi.”
Sofia mundur satu langkah.
“Apa maksudmu?”
Marco menatapnya lama.
Lalu berkata pelan:
“Karena targetnya bukan kamu.”
Ruangan langsung hening total.
Angela menangis tersedu.
“Jadi selama ini… aku?”
Marco tidak menjawab.
Tapi keheningan itu sudah cukup sebagai jawaban.
Sofia merasa dunia runtuh.
“Kenapa… kamu melakukan ini?” suaranya bergetar.
Marco hanya menatapnya.
“Karena kamu terlalu percaya semua orang di sekitarmu.”
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
Petugas medis masuk.
“Pasien perlu observasi segera. Kami akan melibatkan pihak berwenang.”
Marco tidak melawan.
Tidak panik.
Hanya diam.
Seolah semuanya sudah sesuai rencana sejak awal.
Di luar rumah sakit di Jakarta itu, sirene mulai terdengar.
Dan untuk pertama kalinya dalam setahun…
Sofia Reyes menyadari bahwa setiap pagi yang penuh “cinta” itu bukan hadiah.
Tapi sesuatu yang perlahan membongkar hidupnya dari dalam.

Tiga hari setelah kejadian di rumah sakit di Jakarta, suasana kantor tempat Sofia bekerja benar-benar berubah.
Angela masih dirawat intensif di Jakarta General Hospital. Kondisinya stabil, tapi dokter belum berani memastikan dampak jangka panjang pada ginjalnya.
Sementara itu, Marco telah ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Tidak ada lagi senyum tenang di wajahnya.
Hanya diam.
Diam yang terlalu rapi… untuk seseorang yang katanya tidak bersalah.
PENYELIDIKAN
Hasil forensik akhirnya keluar.
Kopi yang selama ini dibuat Marco mengandung campuran stimulan sintetis dosis rendah yang jika dikonsumsi sendiri tidak langsung berbahaya.
Namun jika dikonsumsi secara terus-menerus dalam jangka panjang, efeknya bisa berbeda pada setiap orang:
- Pada Sofia: insomnia kronis, tetapi metabolisme tetap stabil
- Pada Angela: kerusakan organ yang lebih cepat karena reaksi tubuh yang berbeda
Dan yang paling mengejutkan…
Ada pola.
Sangat jelas.
Seseorang sedang mengamati siapa yang meminum kopi itu.
Detektif dari unit kriminal di Jakarta menutup mapnya perlahan.
“Ini bukan kecelakaan medis.”
“Ini percobaan terarah.”
PERTEMUAN TERAKHIR
Sofia akhirnya dipanggil untuk bertemu Marco di ruang tahanan.
Ruang itu dingin.
Tidak ada kopi.
Tidak ada aroma rumah.
Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan.
“Kenapa?” tanya Sofia akhirnya.
Suaranya tidak lagi marah.
Hanya kosong.
“Kenapa kamu melakukan ini?”
Marco menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya, dia tidak mencoba tersenyum.
“Karena kamu selalu berbagi semuanya,” katanya pelan.
“Termasuk hal yang seharusnya tidak kamu bagi.”
Sofia mengernyit.
“Angela tidak bersalah.”
Marco mengangguk kecil.
“Aku tahu.”
Hening.
“Aku tidak berniat menyakitinya seperti itu,” lanjut Marco akhirnya.
“Tapi kamu… selalu memberikan apa pun yang kubuat.”
“Dan aku harus memastikan… siapa yang paling rentan.”
Sofia merasa tubuhnya dingin.
“Jadi ini… eksperimen?”
Marco tidak menjawab.
Tapi diamnya lebih jujur daripada kata apa pun.
EPILOG — KOPI TERAKHIR
Beberapa bulan kemudian, Marco dijatuhi hukuman.
Kasusnya ditangani sebagai percobaan berbahaya dengan korban berlapis.
Sofia tidak pernah kembali minum kopi buatannya lagi.
Tidak pernah.
Di suatu pagi yang tenang di Jakarta, Sofia duduk di meja kantornya.
Di depannya ada cangkir kopi.
Kosong.
Hanya aroma biasa dari mesin kantor.
Angela sudah kembali bekerja, lebih hati-hati, lebih pelan, tapi selamat.
Sofia menatap cangkir itu lama.
Lalu berkata pelan pada dirinya sendiri:
“Kadang… yang kita anggap cinta, ternyata hanya cara lain untuk dikendalikan.”
Dan untuk pertama kalinya setelah semuanya berakhir…
Sofia tidak lagi minum kopi buatan siapa pun.
Hanya air putih.
Sederhana.
Tapi benar-benar miliknya sendiri.